
Namaku Lyon, usiaku 16 tahun. Aku adalah diriku, diriku yang asli. Tunggu, apakah aku benar-benar diriku? Entahlah, aku pun tidak tahu.
...***...
BIP BIP BIP
Aku terbangun, mendengar suara alarm yang mengganggu tidurku. Aku mematikannya dan segera beranjak dari tempat tidurku. Aku segera pergi ke kamar mandi dan melakukan kegiatan pagiku. Mungkin menurut kalian, aku ini orang yang normal dengan kehidupan normal. Tapi jawabannya adalah salah, aku tak seperti itu. Namaku Rion, dan aku adalah diriku yang lain.
Setelah selesai dengan semua urusanku di kamar mandi, aku segera turun ke bawah untuk pergi sarapan. Di lantai bawah, Tante Risa menyapaku dengan senyuman lembut.
Aku duduk di meja makan di antara Om Adit dan sepupuku Varel. Jika kalian bertanya di mana orangtuaku sekarang, jawabannya adalah mereka sudah pergi. Sekarang orangtuaku berada di surga. Mereka meninggal karena kejadian aneh yang tak dapat aku jelaskan.
Tak lama kemudian, Tante Risa menyiapkan sarapan di atas meja dan kami semua makan bersama-sama. Aku memakan sarapanku sembari melamun.
Terkadang, pernahkah kau berpikir ada apa di dunia ini? Apakah hanya ada manusia, hewan, dan tumbuhan saja? Apakah tidak ada makhluk lain di dunia ini? Apakah semua yang ada di sekitar ku ini hanyalah ilusi? Entahlah, hidup ini memang penuh dengan misteri.
Setelah sarapanku selesai, aku menunggu Varel dan Om Adit agar selesai makan terlebih dahulu. Aku melirik ke arah Varel, sifatnya pagi ini cuek. Yah, dia memang selalu seperti itu. Sifat Varel seringkali berubah-rubah. Terkadang ia terlihat merasa senang, lalu beberapa jam kemudian sifatnya berubah menjadi orang yang cengeng ataupun orang yang pemarah, dan begitu pun seterusnya.
Aku tidak tau apa yang di pikirkan oleh Varel, sifatnya selalu saja seperti itu. Misterius dan tidak mudah untuk ditebak. Terkadang, aku curiga kalau dia mempunyai sindrom BPD.
Aku, Varel, dan Om Adit berjalan masuk ke dalam mobil. Om Adit yang menyetir, Varel duduk di sampingnya, dan aku duduk di kursi belakang.
Dari kursi belakang, aku dapat melihat dan mendengar Om Adit dan Varel yang sedang berbincang-bincang. Tapi entah apa yang mereka bicarakan.
Aku terdiam lalu menatap keluar jendela. Aku melihat refleksi dari wajahku. Kemudian mata sebelah kiriku bersinar, tetapi warnya bukan warna kuning keemasan mataku. Mataku bersinar dengan warna biru laut.
Aku terperanjat. Spontan aku memegang mata kiriku dan menutupnya. Mataku membulat, kemudian aku melepaskan tanganku lagi dari mataku. Hilang, cahayanya menghilang.
Kemudian Varel menatap ke arahku dengan tatapan bingung. "Kau kenapa Ly?" Tanya Varel, nadanya terdengar dingin.
...***...
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang lambat laun semakin ramai. Aku melirik kesana kemari melihat betapa banyaknya murid di sekolah ini. Aku terus berjalan ke kelasku, sampai aku melihat sesuatu yang janggal di tangga.
Apa itu? Aku berjalan mendekati makhluk aneh itu. Makhluk aneh berbalik dan menatapku. Ia memiliki mata yang berwarna ungu lilac. Kemudian matanya memancarkan cahaya yang sangat terang. Aku menatapnya lekat-lekat.
"Akhirnya aku menemukanmu." Ujarnya dan aku merasa pandanganku menjadi kabur.
Aku membuka mataku perlahan. Di sini gelap. Dan aku tak dapat melihat apapun selain kegelapan.
GREP!
Aku merasa seseorang memegang pundakku. Aku berbalik, dan aku kembali melihat mata ungu lilacnya yang bercahaya dalam gelap.
"Uhhmm..." sosok aneh itu menciumku, aku rasa. Aku berusaha untuk mendorong tubuhnya secara perlahan. Tetapi, ia memegang kepalaku dan memperdalam ciumannya.
"Haaaahh... haaah..." aku mengambil nafas ketika ia melepaskan ciumannya. Sial, kakiku gemetar. Aku memegangi tubuhnya.
"S... siapa kau?!" Aku bertanya dengan nada galak.
"Kau akan mengetahuinya nanti, Rion." Jawabnya.
...******...
T.B.C
A/N : Ehem ehem, author bikin cerita baru lagi nich. Karena My Partner sekitaran 1-2 chap lagi mau tamat. Okeh itu aja sekian terimagaji.