
Di alam bawah sadarku, aku melihat anak yang seusia denganku, ia tampak sedang menunggu seseorang. Tapi, mengapa aku berpikir bahwa ia mirip sekali denganku? Bedanya, tubuhnya terlihat mungil dan matanya berwarna biru laut.
Aku juga dapat melihat seseorang menghampirinya. Ia bertubuh tinggi dan wajahnya terlihat tampan. Ia terlihat mirip dengan sosok bermata ungu lilac itu.
Laki-laki dengan mata ungu itu menggandeng tangan laki-laki yang satunya. Mereka terlihat mesra, seperti orang yang sedang berpacaran.
Pandanganku kembali kabur dan gelap, dan aku kembali. Aku kembali ke lorong sekolahku. Aku memegang kepalaku yang terasa sedikit pusing. Apa itu tadi? Mengapa aku melihat hal itu?
Aku berusaha untuk berpikir positif dan menepis semua pemikiran aneh yang ada di dalam otakku. Kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju kelasku.
...***...
Akhirnya aku sampai juga di kelas. Meski jalanku tertatih-tatih, aku dapat kembali ke kelas tepat waktu. Aku pun duduk di tempat duduk ku, paling belakang dan terpojok.
Aku tak memiliki teman di sini. Aku hanya tau nama mereka dan tidak berteman dengan mereka. Mengapa demikian? Entahlah, aku pun tak tahu.
Aku membuka buku catatanku karena guru Matematikaku sudah datang ke kelas, kami memanggilnya Ms. Aliya. Aliya, dia adalah guru sekaligus primadona di sekolah ini. Umurnya sudah lumayan tua, yaitu 32 tahun. Anehnya wajahnya tetap kencang dan mulus, tidak memiliki kerutan apapun.
"Baiklah anak-anak, kumpulkan PR Matematika kalian. Dan buka halaman 74, kerjakan nomor 1 sampai 10." Ujar Ms. Aliya. Wajahnya terlihat dingin dan datar, seperti tidak ingin menunjukkan ekspresi apapun.
Semua murid di dalam kelas gaduh. Ada yang sedang mencari buku PRnya, ada yang sedang cemas karena buku PRnya tertinggal, bahkan ada yang tidak mengerjakan PRnya sama sekali.
Sedangkan aku sedang meraba-raba isi tasku, mencari buku PR Matematikaku. Aku panik, karena aku tidak menemukannya sama sekali. Aku pun mengeluarkan semua buku dari dalam tasku.
"Cepat! Kumpulkan di meja ini!" Kata Ms. Aliya sembari membenarkan kacamatanya.
"Sial!" Umpatku. Aku tidak menemukan buku PR ku, mungkin tertinggal di rumah. Aku melirik ke depan, hampir dari setengah kelas ini sudah mengumpulkannya.
"Yang tidak mengerjakan silahkan keluar dari kelas ini! Atau push up 20 kali!" Ucap Ms. Aliya.
Aku menghela nafasku, menyesali kecerobohanku karena lupa untuk membawa buku PR itu. Mereka semua yang tidak mengerjakan PR memilih untuk push up 20 kali. Sedangkan aku memilih untuk keluar dari kelas.
Aku menunggu di depan kelas sembari berdiri tegak. Aku menghela nafasku dengan berat. Ini pertama kalinya aku di hukum karena tidak membawa buku PR.
"Haaahh... sial." Gumamku.
Aku menundukkan kepalaku. Tiba-tiba aku merasa bahwa aku pernah melalui ini sebelumnya. Padahal aku belum pernah dihukum sebelumnya.
Aku memegangi kepalaku yang kembali terasa sakit. Aku menutup mataku untuk menghilangkan rasa nyerinya. Dan ketika aku membuka mataku, seseorang berdiri di hadapanku.
"Hai." Sapanya. Aku pun mendongak untuk melihat wajahnya. Mata kami saling bertemu.
Mata itu, aku mengenalnya. Itu adalah mata sosok menyeramkan yang menggangguku sedari tadi.
"Uhh..." aku menyipitkan mataku. Menatap lekat setiap inci dari wajahnya. Mulai dari mata, hidung, pipi, dan bibirnya.
"Ada apa? Apa aku terlihat tampan?" Tanyanya.
"Ehehe." Dia tertawa pelan.
"Apa aku menakutimu?" Tanyanya lagi.
"Me... nakuti?"
"Iya. Apa aku semenyeramkan itu sampai-sampai kau harus menangis?" Tanyanya.
"Uhh... kau... mahkluk aneh itu!?" Ucapku, tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.
"Humm. Iya, maaf ya?" Ujarnya.
"Uhhh..." aku ber-huh. Aku tidak percaya sosok menyeramkan seperti itu berubah menjadi 'manusia' yang berwujud tampan dan manis.
"Err... maaf. Aku bilang maaf padamu loh. Apa kau tidak mau memaafkanku?" Tanyanya.
"Uhhh... iya! Iya aku maafkan!!" Aku terperanjat kaget, bahkan aku sedikit melompat.
"Uhm... siapa namamu?" Tanyanya. Ia memegang tengkuknya dan tatapannya berpaling.
"A... aku Lyon!" Jawabku.
"Uhm? Aku Blaine." Katanya. Kemudian, Blaine mengelus-elus kepalaku. Wajahku terasa panas dan jantungku berdebar sangat cepat.
"Eh? Wajahmu itu kenapa? Merah loh." Kata Blaine, menggodaku.
Wajahku rasanya semakin panas. Aku berpaling tidak ingin melihat wajahnya itu. Blaine, dia kembali menggodaku. Ia ingin menciumku tetapi aku menolaknya.
"Aku ingin menciummu! Boleh kan?" Tanya Blaine.
"Tidak! Tidak! Tidak!" Jawabku.
"Sekali saja. Aku janji tidak akan memasukkan lidahku." Kata Blaine, blak-blakan.
"B... bodoh! Aku bilang kan tidak mau!" Bentakku.
Aku mendorong pelan tubuh Blaine. Ia menyeringai.
"Baiklah, sampai bertemu lagi Lyon." Kata Blaine lalu mencium keningku. Blaine menghilang. Aku memegang wajahku saking malu. Semoga saja orang-orang di dalam kelas tidak mendengarku, ini sangat memalukan.
...***...
-T.B.C