Alter Ego: Another Me {BL}

Alter Ego: Another Me {BL}
Chap 10 : Aliya Van Walter



Ujian telah usai, kabar baiknya adalah aku merasa senang karena akhirnya dapat bernafas lega. Dan kabar buruknya adalah, aku mendapat nilai 92 dalam ulangan matematika.


Jika nilaiku segini, aku yakin Ms. Aliya tak akan melirikku. Karena Ms. Aliya hanya akan melirik murid yang mendapatkan nilai seratus, nilai yang paling sempurna.


"Haaah..." aku menghela kasar nafasku.


Bulan depan aku akan naik kelas, itu artinya aku harus menunggu satu bulan lagi untuk bisa bertemu dengan Ms. Aliya.


"Kenapa mukamu kusut begitu?" Tanya Blaine padaku. Aku menoleh malas kearahnya. Andai saja Blaine mau memberitahuku apa hubungannya dengan Ms. Aliya, pasti aku takkan seperti ini.


"Jangan tanya, pikir saja jawabannya sendiri." Jawabku.


"Hei, aku ini bertanya baik-baik. Ayolah, kamu kenapa?" Tanyanya lagi. Aku mengangkat malas kepalaku.


"Apa hubunganmu dengan guru Matematikaku?" Tanyaku.


Blaine tidak menjawab ku, ia hanya tersenyum jahil padaku. "Menurutmu?" Ujarnya seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Apakah dulu dia itu pacarmu?" Tanyaku dengan nada menginterogasi.


"Bukan bodoh." Jawabnya sembari menyentil pelan dahiku.


"Dia itu... adikku." Lanjutnya.


"Apa? Adik?" Tanyaku sembari mengelus-elus dahiku.


"Iya adikku, selisih umur kami empat tahun. Aku tak menyangka bahwa ia akan menjadi guru Matematika yang galak, padahal dia dulu sangat membenci pelajaran Matematika." Jawab Blaine sembari terkekeh pelan.


"Apa dia tau jika kau meninggal?" Tanyaku.


"Iya, sepertinya dia tau. Dan mungkin itu adalah penyebab mengapa ia menjadi galak seperti ini. Dulu aku sangat menyukai pelajaran matematika, sedangkan dia sangat membencinya." Jawabnya.


"Cih, kau pembawa sial ya ternyata." Ucapku, membalas perkataan Blaine.


"Hey! Itu bukan salahku tau!" Ucapnya, lalu kembali menyentil pelan dahiku.


"Aww..." aku meringis pelan, kembali mengusap-usap dahiku.


"Kenapa pula aku harus dekat dengannya? Dia itu galak tau!" Balasku.


"Tapi... bagaimana pun juga dia itu adikku. Kejadian dua puluh tahun lalu, tak ada yang ingin insiden itu terjadi, Lyon." Ucapnya. Blaine menjongkokkan tubuhnya, menyamakan tinggiku yang sedang duduk di kursi meja belajar.


"Aku mohon, lakukan ini. Demi diriku. Dulu, hanya Aliya yang mendukung hubungan kita berdua." Lanjutnya. Blaine memegang kedua tanganku.


"Hanya dia?" Tanyaku.


Blaine mengangguk. "Hanya dia. Percayalah, meski dari luar dia terlihat garang, tapi di dalam dia hangat dan lembut."


Aku menganggukkan kepalaku. "Baiklah, kita tunggu satu bulan lagi." Ucapku, tersenyum lembut kearahnya.


...***...


^^^Author's POV^^^


Pada tahun 80an, seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang dikepang, tengah bermain dengan kakaknya. Dia tersenyum sembari tertawa senang.


Aliya Van Walter, gadis cantik keturunan Belanda, adik dari Blaine Van Walter. Hidup gadis itu sederhana tetapi bahagia. Kata 'bahagia' itu menghilang sejak kakaknya meninggal.


Aliya tak dapat menerima kematian kakaknya, ia tak percaya bahwa kakaknya dan kekasih kakaknya akan meninggalkannya secepat itu. Sejak kejadian itu, Aliya selalu mengurung diri di dalam kamarnya.


Semua nilai mata pelajarannya meningkat drastis, khususnya pelajaran matematika. Bukan hanya nilai pelajaran saja yang berubah, sifat dan nada bicaranya pun ikut berubah. Dari sosok yang periang, menjadi sosok yang dingin.


Beberapa tahun telah berlalu semenjak insiden itu. Aliya memutuskan untuk menikah dengan orang yang dia cintai, hidupnya kembali bahagia. Tapi ia tetap merasa sedih karena saat menikah, kakaknya tak mendampinginya.


Aliya saat ini bekerja menjadi seorang guru Matematika di sekolah kakaknya dulu. Wajahnya yang tegas dan sifat dingin telah menjadi ciri khasnya. Tapi dibalik sifat dinginnya itu, ada sejuta kehangatan dalam hatinya.


...***...


T.B.C


A/N: Maaf kemaren gak up, authornya krisis ide >//<