Alter Ego: Another Me {BL}

Alter Ego: Another Me {BL}
Chap 3 : Hantu Mesum



Kelas Matematika telah usai, dan aku melewatkan dua mata pelajaran. Dan ini semua karena Blaine! Andai saja pagi itu ia tidak muncul secara tiba-tiba, aku pasti hanya akan melewatkan satu mata pelajaran.


"Huffft..." aku menghela nafasku. Aku berjalan di lorong sekolah, hendak pergi ke perpustakaan.


Seingatku aku sudah setahun sekolah di sini, tetapi aku tidak pernah diganggu oleh mahkluk aneh itu. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu?


Aku melamun sepanjang perjalanan ke perpustakaan. Dan akhirnya aku sampai. Aku memasuki perpustakaan itu. Seperti biasa, kosong. Tidak ada orang sama sekali di dalan perpustakaan itu. Kebanyakan murid memilih untuk menghabiskan jam istirahatnya di kantin.


Aku pergi mencari buku novel dan aku pun tertarik dengan satu novel di salah satu rak buku. Aku berusaha untuk menggapainya akan tetapi rak itu terlalu tinggi.


"Sial... kenapa tubuhku ini sangat pendek?" Gumamku, kesal karena tinggi tubuhku ini tidak seperti anak laki-laki pada umumnya.


Tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan mengambilkan buku itu untukku.


"Terimaka-"


Chuu~


Seseorang mencium bibirku. Aku bergeming seketika. Itu Blaine! Blaine lah yang menciumku!


"Haaahh..." ia melepaskan ciumannya. Aku menampar pipinya, kesal. Tapi Blaine hanya terkekeh pelan.


"Apa kau marah padaku, huh?" Tanya Blaine, masih terkekeh.


"Cih! Tentu saja aku marah!" Jawabku. Aku akan pergi meninggalkannya, akan tetapi ia menahanku. Blaine memegang tanganku. Aku dapat merasakan genggaman dari tangan Blaine, dingin.


"Kamu mau kemana? Tetaplah di sini." Ujarnya. Aku diam sejenak, lalu menatap wajahnya. Dadaku kembali berdebar.


"A... aku ingin membaca di sana." Kataku. Aku menarik tangan Blaine. Aku duduk di tempat paling pojok dan Blaine duduk di sampingku.


"Kau tidak berubah ya." Kata Blaine tiba-tiba. Aku menoleh, menatap wajahnya.


"Tidak berubah? Apa maksudmu?" Tanyaku. Blaine tersenyum tipis, senyumnya menunjukkan rasa sakit yang teramat sangat sakit.


"Lamban laun, kau akan menemukan jawabannya." Kata Blaine, misterius.


Aku mengedip-ngedipkan mataku dan mengangkat alisku, tidak mengerti apa yang ia maksud. Aku memalingkan wajahku dan kembali fokus dengan buku yang aku pilih.


Aku membuka halaman pertama. Jujur aku merasa sangat risih dengan Blaine yang terus menatapku. Tapi aku berusaha untuk mengabaikan Blaine yang berada di sampingku.


Blaine memegang ujung rambutku. Aku menoleh, menatap Blaine yang tengah asyik memandangiku.


"Kau ini mau apa?" Tanyaku. Blaine tersenyum--- tidak lebih tepatnya menyeringai.


"Aku menginginkanmu." Bisiknya di telingaku. Secara spontan, aku menjauh dan memegangi telingaku. Wajahku terasa sangat panas, ku rasa wajahku ini kembali memerah.


"Ada apa Lyon? Kau bertanya kepadaku, apa mauku. Dan aku menjawab pertanyaanmu. Mengapa kau malah menjauh?" Tanya Blaine dengan santainya.


"Aku menginginkanmu Lyon." Kata Blaine, ia mendekatiku dan aku semakin menjauhinya.


"Lyon." Panggil Blaine. Aku hanya diam, tak ingin menanggapinya.


"Lyon." Panggilnya lagi. Aku tetap terus diam, karena jika aku meladeninya ia akan semakin berisik.


"Lyon, kumohon." Ucapnya sedikit menambahkan nada 'Ahhhh~' dalam kalimatnya.


Aku menutup bukuku. Beranjak berdiri, hendak meninggalkan hantu cabul itu. Dia ikut berdiri, mengikutiku. Aku menaruh buku di sembarang rak. Kemudian berlari, aku harap Blaine tidak mengikutiku.


"Haaahh... haaah..." aku mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Aku masuk ke dalam toilet dan menguncinya rapat-rapat. Berharap hantu cabul itu tidak dapat masuk.


"Hmmmphhh!" Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulutku dan memegang erat kedua tanganku.


"Apa kau tau? Aku ini hantu. Jadi, kau tak akan bisa lari dariku."


Suara ini, aku mengenalnya. Blaine.


"Sial aku lupa kalau dia ini hantu!" Batinku, meringis.


Blaine mulai membuka kancing bajuku perlahan. Ia menarik resleting celanaku dan melepas celanaku. Aku memberontak, tetapi tenaganya lebih besar dariku.


"Hmmphh...!" Dia mencium leherku dan memegang barang berhargaku. Tangannya mulai mengocok-ngocok sesuatu di sana. Kakiku lemas, gemetar. Aku mencoba untuk menyeimbangkan tubuhku.


"Ngh--"


Blaine melepas seluruh pakaianku. Tubuhku polos tak ada helai benang sama sekali. Blaine membalikkan tubuhku, membuat kami saling berhadapan.


Aku mencengkram dada Blaine, meremasnya dengan kuat. Jari tangan Blaine mulai masuk ke dalam holeku. Ia memainkan kedua jarinya di dalam sana. Rasanya sakit, tapi nikmat.


"Aahhh... ahhh... aaahhhh..." aku mendesah. Blaine mengangkat kepalaku dan mencium bibirku dengan lembut. Gerakan tangan dan jarinya semakin cepat, membuatku sampai pada batasanku.


"Aaaahhhhh~" aku mendesah nikmat. Blaine mengangkat wajahku mengecup bibirku dengan lembut lalu melepasnya.


"Haaahh... haaahh..." aku mengatur nafasku. Dan Blaine mengelus-elus kepalaku.


"Sepertinya kau menikmatinya." Kata Blaine. Ia menggodaku.


"Sialan." Ucapku, geram pada tingkahnya.


...***...


T.B.C