
"Heh!? Apa maksudmu dengan... menghilang?!" Tanyaku.
"Ya... kau tau? Aku ini hantu penasaran, jadi jika aku tiba-tiba menghilang, itu artinya aku sudah menemukan apa yang aku inginkan. Jadi, bisa dibilang waktuku singkat." Jawabnya.
"Jadi, kau akan menghilang lagi?" Tanyaku.
Blaine mengangguk kemudian berkata, "Iya, jadi kita harus menghabiskan waktu bersama. Agar nanti kita mendapatkan kenangan yang indah." Jawabnya.
"Lalu kau akan menghilang disaat aku merasa nyaman gitu?" Tanyaku lagi.
"Mungkin saja." Jawab Blaine, diiringi dengan anggukan kepalanya.
Aku menatapnya. Apakah dia sedang bercanda? Tapi penjelasannya masuk akal. Aku yakin, dia pasti akan menghilang. Toh namanya juga arwah penasaran.
Cup!
Aku mengecup singkat bibirnya, kemudian membawa buku ku kembali ke meja belajar. Blaine memelukku dari belakang.
"Jika aku menghilang nanti, apa kau akan merindukanku?" Tanya Blaine padaku.
"Ehhmm... entahlah... mungkin tidak." Jawabku, dingin.
"Jika aku menghilang, tolong jangan lupakan aku dari hatimu, ya?" Ucapnya.
"Sepertinya, aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta lagi pada orang lain selain dirimu." Balasku.
.
.
.
8 hari telah berlalu. Hari ini adalah hari ujian yang tidak di tunggu-tunggu oleh semua orang. Aku fokus mengerjakan soal yang diberikan.
"Ugh... kenapa susah sekali sih?" Keluhku dalam hati.
Tak lama kemudian, aku berhasil mengerjakan semuanya. Sebagian ku kerjakan dengan bersungguh-sungguh, dan sebagian aku isi asal.
"Baiklah, waktu sudah habis. Selesai tidak selesai, kumpulkan!!" Ucap pengawas ujian.
Semua orang dikelas beranjak dari tempat duduknya begitu juga denganku. Aku menaruh kertasku di atas meja disusul dengan yang lain.
...***...
Aku berjalan menuju perpustakaan, bukan untuk membaca tetapi untuk tidur. Kepalaku terasa pening.
Aku meletakkan kepalaku di atas meja dan menutup kedua mataku.
Prok prok...
"Blaine?" Gumamku sembari mengucek-ucek mataku.
"Apa kau lelah?" Tanyanya.
"Hmmm, tidak juga. Aku hanya pusing." Jawabku, berusaha untuk tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa kau ingin lebih banyak tentangku?" Tanyanya.
"Gak." Jawabku singkat. Aku kembali membenamkan wajahku di atas meja dan mencoba untuk tidur.
"Jawab iya napa!" Serunya.
Aku bersungut sebal kemudian mengangkat kembali wajahku.
"Iya, aku mau tau." Ucapku. Blaine tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Kalau kau mau tau, tanya saja pada guru Matematika mu." Balasnya.
Aku sontak membulatkan mataku dan melirik kearahnya.
"Guru Matematika ku? Kenapa?" Tanyaku.
"Karena... dia adalah... kau akan mengetahuinya nanti. Nah, anggap saja ini salah satu permintaan terakhirku." Jawabnya, sok misterius. Kemudian Blaine menghilang secara tiba-tiba.
Aku celingak-celinguk mencari Blaine. Tapi percuma, dia sudah menghilang. Aku menghela kasar nafasku.
Tapi, aku juga penasaran soal guru Matematikaku, Ms. Aliya. Yang menjadi masalahnya adalah, bagaimana caraku mendekatinya? Ms. Aliya adalah guru Killer disekolah ini.
Dan... sebenarnya apa hubungannya semua ini dengan Ms. Aliya? Apakah Ms. Aliya juga terlibat dalam insiden dua puluh tahun yang lalu? Atau mungkin, dia adalah orang yang bersangkutan dengan Blaine?
Jika aku ingin dekat dengan Ms. Aliya, itu artinya aku harus meningkatkan nilai Matematika ku.
.
.
.
Jam istirahat pertama telah usai. Waktunya untuk ulangan PKN, salah satu pelajaran yang aku kuasai.
Aku berjalan masuk kedalam kelas. Aku mendudukkan diriku di atas kursi. Pengawas ujian masuk kedalam kelas, aku menelan ludahku.
Hawanya sangat menyeramkan, aku menelan ludahku lagi. Ujian PKN, dimulai...
...***...
T.B.C