
Setelah puas "bermain-main" denganku, Blaine menghilang. Menyebalkan! Aku ingin sekali menampar wajahnya yang sok suci itu.
Aku memakai celanaku dan membuka kunci pintu toilet. Aku keluar dari toilet dan segera kembali ke kelasku.
Aku berjalan menyusuri lorong. Aku melihat masih banyak orang yang berlalu lalang. Aku memegang kepalaku yang terasa sedikit pusing. Meskipun merasa pusing, aku lebih memilih untuk kembali ke kelas.
Ceklek
Aku membuka pintu kelas. Kelas masih kosong. Mungkin mereka semua masih berada di kantin. Aku berjalan menuju tempat dudukku.
Aku membenamkan wajahku di atas meja. Kepalaku terasa pusing, bagian belakangku terasa sangat-sangat sakit. Aku ingin pulang.
Ketika aku mendongakkan kepalaku, aku melihat sekelilingku terbakar oleh api. Aku panik. Aku melihat ke kanan dan ke kiri.
Di sebelah kiriku ada jendela yang tertutup oleh gorden. Dan di sebelah kananku, aku melihat seseorang. Dia menangis, seperti pasrah pada nasibnya. Tunggu, bukankah aku sendirian di kelas?
"Hiks... B.. Blaine..." orang itu menangis, terisak, dan dia menyebutkan nama "Blaine." Aku sedikit terkejut, apakah dia salah satu hantu penasaran seperti Blaine? Atau mungkin dia adalah diriku di masa lalu?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kemudian aku mendekati orang itu. "Huaaa!!" Tangisannya semakin kencang. Aku menjauh beberapa langkah.
Aku celingak-celinguk, kobaran apinya semakin besar. Aku mulai panik. Ketika aku akan membantu orang itu, seseorang menggedor-gedor pintu.
"RION!" Teriaknya. Aku menoleh ke arah pintu, kemudian berjalan cepat ke arah pintu itu. Aku berusaha untuk membukanya. Tapi percuma saja, pintunya terkunci.
"Uhk, sial!" Umpatku.
"RION!! DIMANA KUNCINYA? ARGHHHHHHH!" Suaranya mulai terdengar marah dan kesal. Orang dibalik pintu itu mencoba untuk mendobrak pintunya.
"Blaine! Sudah biarkan saja dia! Kau hanya membahayakan nyawamu!" Aku mendengar suara lain.
"HUAAAA! PANAS!" Orang itu berteriak, aku menoleh. Astaga, tubuhnya mulai terbakar oleh api. Aku menelan ludahku sendiri. Mataku membulat dan tanganku gemetar hebat.
"Hiks... Blaine..." ujarnya sebelum akhirnya ia meninggal karena terbakar hidup-hidup. Aku menutup kedua mataku, tak tega melihatnya.
"Haaahh..." aku menahan nafasku. Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan.
Kemudian, aku memberanikan diri untuk membuka mataku. Hilang, semuanya hilang. Kobaran api dan orang yang terbakar itu menghilang. Aku terduduk, jatuh. Kakiku lemas, nafasku tidak teratur. Aku takut.
"R... Rion..." aku bergumam, menyebutkan nama itu. Bukankah itu nama Alter Ego milikku? Dan aku sempat mendengar seseorang menyebutkan nama itu kepada orang yang terbakar tadi.
Kemudian aku berpikir sejenak. Tunggu, bukankah aku adalah orang yang penakut selama ini? Lalu mengapa aku menjadi pemberani? Biasanya aku mengeluarkan Rion saat aku merasa takut. Dan tunggu, bukankah biasanya aku mencoba untuk mencari teman meskipun selalu gagal?! Tapi sekarang, aku seolah tidak peduli jika tak memiliki teman.
"Ugh!" Aku frustasi dengan sifatku sendiri. Sebenarnya aku yang asli itu siapa? Lyon atau Rion?
Aku mengacak-acak rambutku karena frustasi. Lalu aku memilih untuk kembali ke tempat dudukku dan tidak memikirkan itu terlebih dahulu untuk saat ini.
...***...
KRIIIINGGG
Bayangan-bayangan tentang orang itu masih berada di dalam otakku. Aku bergidik ngeri, aku tak mau mengingatnya lagi!
Aku berjalan ke arah kelas Varel. Aku menunggunya, ia sedang merapikan buku-bukunya. Saat dia keluar dari kelas, dia tersenyum. Lihat, ini terjadi lagi. Dia selalu seperti ini! Sifatnya selalu berubah-ubah.
"Ayo kita pulang." Ujar Varel. Kemudian ia menggandeng tanganku. Saat ini ia kembali senang dan ceria. Biar ku tebak, mungkin beberapa jam lagi ia akan berubah sifat.
"Haaaahhh... astaga." Gumamku.
"Hmm? Apa?" Tanya Varel.
"Uhm, bukan apa-apa." Jawabku.
Kami pulang ke rumah dengan cara berjalan kaki. Aku melihat Varel yang masih saja tersenyum.
"Oh iya Ly!" Kata Varel tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, mendongak ke atas. Sial, kenapa dia tinggi sekali?
"Apa?" Tanyaku.
"Apa kau tau sesuatu tentang sekolah ini? Teman sekelas ku bercerita padaku, bahwa dulu sekolah ini pernah mengalami kebakaran!" Seru Varel. Wajahnya terlihat sangat serius.
Aku berhenti berjalan. Tubuhku tiba-tiba tak bisa bergerak. Lalu aku mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Ada apa Ly? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat." Tanya Varel. Aku tetap diam, tak menjawab pertanyaannya.
"Ly! Lyon!" Panggilnya. Varel menggoyang-goyangkan tubuhku. Kemudian aku menoleh ke arahnya.
"Bisa kau ceritakan?" Tanyaku. Varel tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Sekolah kita ini penuh dengan misteri Ly. Kejadian kebakaran ini sudah sekitar 20 tahun yang lalu. Sekarang ini kan tahun 2000, jadi kejadian itu sekitar tahun 1980-an." Kata Varel.
"Dan pada tahun itu, terjadi sebuah kebakaran yang menewaskan 53 siswa dan siswi. Dan ketika sekolah itu di evakuasi, ada 1 orang murid yang meninggal di dalam kelasnya dan ada juga satu orang yang meninggal di luar kelas." Lanjut Varel.
"Siapa nama mereka?" Tanyaku, memotong cerita Varel.
"Blaine Van Walter dan Rion Fadh." Jawab Varel. Aku terdiam. Aku memalingkan wajahku.
"Apa? Blaine dan Rion?!" Tanyaku. Aku mendekatkan wajahku pada wajah Varel. Varel mundur satu langkah ke belakang karena kaget.
"I... iya Blaine Van Walter dan Rion Fadh. Rumornya mereka itu sahabat, tetapi persahabatan mereka seperti sudah melewati batas. Dan saat kejadian kebakaran tersebut terjadi, Rion terkurung di dalam kelas, kelas yang kau tempati sekarang ini." Jawab Varel, menceritakan panjang lebar.
"Blaine yang mengetahui hal itupun segera bergegas untuk menyelamatkan Rion. Akan tetapi, Blaine tidak menemukan kunci ruang kelas itu. Awalnya teman Blaine sempat menyusulnya, akan tetapi Blaine tetap kekeuh untuk menyelamatkan Rion. Akhirnya mereka berdua terbakar. Rion terbakar di dalam kelas dan Blaine terbakar di luar kelas." Lanjutnya.
"Konon katanya, arwah Blaine dan Rion bergentayangan di sekolah kita. Khususnya di kelasmu itu, Lyon. Sekolah ini benar-benar penuh dengan misteri ya?" Kata Varel.
...***...
T.B.C