
Aku dan Varel telah sampai di rumah. Varel pergi ke kamarnya dan aku juga pergi ke kamarku sendiri. Tante Risa tidak ada, mungkin dia sedang pergi berbelanja. Sedangkan Om Adit, dia masih berada di kantornya.
"Haahhh..." aku menghela nafasku perlahan.
Blaine, apakah dia adalah Blaine yang sama? Dan Rion, apakah aku ini reinkarnasi dari Rion? Aku kembali menghela nafasku. Situasi ini membuat kepalaku terasa pening.
Aku beranjak dari kasurku dan berjalan ke arah meja belajarku. Aku membuka buku sejarah. Pelajaran sejarah adalah mata pelajaran favoritku sejak dulu. Aku membuka halaman pertama, membacanya dari awal.
"Blaine Van Walter, bukankah itu nama orang Belanda?" Tanyaku kepada diriku sendiri. Sekilas, nama itu terdengar tak asing bagiku. Akan tetapi, Rion Fadh, nama "Rion" itu adalah nama Alter Ego milikku.
Aku menutup buku pelajaranku dan kembali ke kasur. Aku merebahkan tubuhku, menutup kedua mataku. Samar-samar, aku dapat melihat senyum seseorang. Wajahnya terlihat sangat tampan, dia tersenyum senang. Tanpa aku sadari, aku ikut tersenyum.
"Hiks..." aku menangis. Aku membuka mataku perlahan dan menyeka air mata yang terus keluar dari mataku. Lagi-lagi ini semua karena makhluk halus itu, Blaine.
Tok tok tok
Aku mendengar ketukan pintu dari luar kamarku. Cepat-cepat ku seka air mataku dan berusaha untuk bersikap normal.
Ceklek
"Tante Risa? Ada apa?" Tanyaku, aku tersenyum. Senyum tulus.
"Ayo kita makan dulu. Tante udah masak loh. Varel juga udah turun ke bawah." Kata Tante Risa. Aku mengangguk dan ikut turun ke bawah.
Aku duduk di kursi dekat Varel. Biar ku tebak, pasti saat ini dia sedang sensitif dan tak mau di ganggu.
Aku menyendokkan nasi ke piringku dan mengambil lauk yang telah di siapkan. Tante Risa tersenyum menatapku dan Varel.
"Apa sekolah kalian berjalan lancar?" Tanya Tante Risa.
"Lancar dan baik-baik saja." Jawabku dan Varel secara bersamaan.
"Jika kalian mendapatkan masalah, beritahu padaku ya." Kata Tante Risa. Kemudian, kami melanjutkan acara makan kami.
Setelah selesai makan, aku membawa piringku ke dapur dan mencucinya. Piring yang semulanya kotor menjadi bersih. Lalu aku menaruhnya di rak piring.
"Blaine dan Rion. Mereka sahabat kan? Atau mungkin mereka memang lebih dari sahabat? Bagaimana jika aku ini sebenarnya adalah reinkarnasi dari Rion?" Batinku. Pikiranku melayang ke mana-mana.
Aku menaiki tangga, hendak masuk ke dalam kamarku. Blaine, mungkin aku harus bertanya pada Blaine besok.
...***...
BIP BIP BIP
Alarmku berbunyi. Aku membuka mataku perlahan. Menguap, kemudian mematikan alarm itu. Aku merubah posisiku menjadi duduk, tengah mengumpulkan nyawa-nyawaku.
"Hoaamm..." aku menguap lagi, masih ngantuk. Aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan aktivitas pagiku.
...***...
"Shhht... Varel." Panggilku. Varel menoleh, melihat ke arahku.
"Kenapa Ly?" Tanya Varel. Sepertinya moodnya sedang bagus. Aku mendekatkan diriku padanya yang berada di kursi depan, aku membisikkan sesuatu.
"Apa kau bisa ikut denganku pada jam istirahat pertama?" Bisikku. Kemudian aku sedikit menjauh, membiarkan Varel untuk berpikir.
"Hmm oke, tapi kita mau kemana?" Tanya Varel.
"Perpustakaan." Jawabku.
Tak terasa, kami sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aku dan Varel turun dari mobil. Tak lupa, kami berpamitan kepada Om Adit.
"Semangat ya belajarnya." Kata Om Varel, dia menyemangati kami berdua. Aku mengangguk sedangkan Varel tersenyum tipis kepada Om Adit. Kemudian Om Adit melajukan mobilnya, membuatnya terlihat semakin kecil dan menjauh, menghilang.
"Ya udah Ly, aku ke kelas duluan yah." Ujar Varel. Ia berjalan duluan mendahuluiku.
"Semoga Blaine tau siapa sebenarnya Rion ini." Batinku.
Aku melangkahkan kakiku, memasuki gerbang sekolah. Aku berjalan melewati lorong yang ramai. Sepertinya aku berangkat sedikit siang dari biasanya. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku sampai ke kelasku.
Mata pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Inggris. Aku sudah terlebih dahulu mengeluarkan buku ku sebelum Pak Theo, guru Bahasa Inggris kami memasuki kelas.
Bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling aku benci. Aku sama sekali tidak mengerti apa arti dari semua kalimatnya. Terkadang aku ingin sekali membolos kelas, akan tetapi aku tidak ingin dicap nakal oleh para guru.
Ceklek
Seseorang membuka pintu. Akan tetapi orang itu bukanlah Pak Theo melainkan orang lain.
"Good morning, everyone." Ujarnya, aku tak mengerti apa artinya.
"Morning Miss." Balas semua orang serentak kecuali aku.
"Baiklah, hari ini Pak Theo absen. Jadi saya, Ms. Vania yang akan menggantikan dirinya." Kata wanita itu. Wajahnya terlihat cantik, mungkin ia masih mudah.
"Baik Miss!"
"Haaah..." aku menghela nafasku. Baiklah, sekarang aku harus bertahan selama satu jam kedepan di kelas ini.
...***...
T.B.C