Alter Ego: Another Me {BL}

Alter Ego: Another Me {BL}
Chap 7 : Kehidupan yang Lalu



Aku membuka kedua mataku. Blaine melepaskan bibirnya. Dia tersenyum dan aku pun ikut tersenyum. Tunggu, senyuman ini sepertinya tidak asing.


RIIIINGGGG


Bel telah berbunyi, tanda seluruh siswa-siswi harus kembali ke kelasnya masing-masing. Aku beranjak berdiri, meninggalkan Blaine yang masih duduk di tempatnya.


Aku berlari secepat mungkin, berharap tidak terlambat kembali ke kelas.


Ceklek


Aku membuka pintu kelas. Syukurlah, aku masih sempat, guru Biologiku belum datang ke kelas. Aku masuk ke dalam kelas, kemudian berjalan ke arah tempat dudukku. Lalu aku mengambil buku Biologiku.


Kelas lambat-laun menjadi ramai. Semua orang kembali ke dalam kelas. Aku menghembuskan nafasku perlahan. Kemudian, secara tak sengaja, aku mendengar percakapan dua orang murid di belakangku.


"Apa kau tau? Konon katanya, sekolah ini sering mengalami kejadian misterius. Mulai dari kebakaran, pembunuhan, teror roof top sekolah dan lainnya." Ujar salah seorang siswi, kalau tidak salah namanya Rina.


Aku mendengarkan kalimat itu secara seksama.


"Hah? Beneran? Jangan mengada-ada deh. Kan jadi takut! Nanti kalau aku pindah sekolah gimana?" Tanya teman di sebelahnya.


"Ini beneran! Sekitar 20 tahun yang lalu, sekolah ini pernah mengalami sebuah musibah, kebakaran. Dan dua siswa yang meninggal di sekolah ini gentayangan!"


"Aish, udahlah... gak usah dibahas. Aku jadi takut tau!!"


"Hiss, penakut!"


Seketika aku terdiam. Dua? Apa maksudnya, dua hantu?


Krieet...


Suara derit pintu terdengar. Guru Biologi telah datang, dia adalah guru yang paling dihormati sekaligus paling ditakuti di sekolah ini.


"Selamat siang, anak-anak." Ujarnya, dingin. Atmosfer di dalam kelas seketika menjadi tegang. Seisi kelas seketika diam tak berkutik.


...***...


Aku tengah membaca novel di dalam kamarku, kemudian aku mendengar suara ketukan dari kaca cermin. Awalnya aku tak menghiraukannya, namun lama-kelamaan suara ketukan itu semakin cepat.


Aku menoleh kearah cerminku. Tak ada apapun disana. Aku beranjak dari tempat tidurku, kemudian mendekati cermin itu. Tidak ada apa-apa, sampai tiba-tiba sosok itu muncul.


"Blaine? Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku.


"Apa kau mengikutiku?" Tanyaku. Blaine mengangguk kemudian tidur di atas kasurku.


"Ahhh, memangnya kenapa? Kau kan sudah jadi pacarku, jadi tidak apa-apa kan kalau aku main sekali dua kali kesini?" Tanyanya. Aku bersungut sebal.


"Tapi kan aku belum mengatakan 'iya'!" Balasku, tidak mau kalah.


"Mau kau jawab 'iya' atau pun 'tidak' aku tidak peduli, mulai sekarang kau adalah pacarku." Katanya. Heh, sepertinya dia ingin ku bogem.


"Kau tidak bisa memutuskan seenak jidatmu! Sudahlah, pergi! Aku mau tidur!!" Seruku. Aku mendorong tubuh Blaine, ia tidak berkutik sama sekali.


"Tidur saja disini." Ujarnya, ia menunjuk-nunjuk dadanya.


"Gak." Balasku. Ah biarlah dia disana, aku akan duduk saja di kursi meja belajarku.


Blaine tiba-tiba memelukku dari belakang, aku pun menoleh.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Ayolah, jadilah pacarku! Sudah lama sekali aku menunggumu, sudah 20 tahun aku menantikan hari ini. Tapi kau malah menolak ku mentah-mentah." Ujarnya. Aku mendelikkan mataku.


"Dua puluh tahun? Umurku saja baru 16 tahun, jangan mengada-ada!" Kataku.


"Aku tau, tapi... kau tidak tau bahwa kau ini--" kalimatnya terhenti. Aku menatap heran wajahnya.


"Aku ini apa?" Tanyaku, penasaran.


"Kau ini... jika aku mengatakannya padamu, apa kau akan percaya padaku?" Tanyanya. Aku mengangguk, aku tak dapat menahan rasa penasaranku ini.


"Kau... kau adalah..." Blaine terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Ya... aku ini apa?" Tanyaku.


"Kau adalah, pacarku... saat aku masih hidup." Jawabnya.


Aku membulatkan mataku. Apa aku tidak salah dengar? Pacarnya... di kehidupan yang lalu?


...***...


T.B.C