ABOUT ME

ABOUT ME
Bab 9. Sepupu?



Sabrina berjalan ke arah dapur, dimana Mamahnya sedang sibuk dengan peralatan dapur. Setelah sampai di belakang Mamahnya, seringai kecil pun muncul di wajah gadis berkaca mata itu.


"Mah!" ucap Sabrina sambil memegang pundak Mamahnya.


Tanti yang terkejut, reflek memukul dan terkena ke anaknya itu. "Ina! Untung Mamah enggak punya riwayat sakit jantung!" kesalnya.


Sabrina yang mendengar omelan dari Mamahnya hanya menyengir seperti tiada dosa, "hehehe, btw Mamah lagi masak apa?" tanya Sabrina seraya melirik ke arah penggorengan itu.


"Mamah lagi masak rica rica," Tanti menjeda ucapannya sebentar, "oh ya, daripada kamu cuma diem dikamar, mending bantuin Mamah."


"Bantuin apa Mah?"


Tanti membuka lemari kecil yang berada di atasnya, dan mengambil secarik kertas, "ini kamu ke supermarket, beli semua yang udah Mamah list. Kalau udah langsung pulang, jangan main main."


Sabrina menerima kertas itu, dia menganggukkan kepala. "Iya Mah, uangnya mana?" ucap Sabrina sambil mengulurkan tangan.


Tanti merogoh saku celana, dan memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah ke anaknya.


"Kembaliannya buat Ina ya Mah." setelah mengucapkan itu, Sabrina langsung beranjak pergi meninggalkan Mamahnya.


Jarak antara supermarket dengan rumahnya itu tidak lah jauh, hanya sekitar beberapa menit saja untuk jalan kaki. Tinggal keluar dari perumahan, dan maju beberapa meter telah sampai di supermarket tersebut.


Sesampainya di supermarket, Sabrina mengambil keranjang yang ukurannya sedang untuk nanti membawa belanjaannya.


Satu persatu gadis itu mengambil barang barang yang tertulis di kertas tersebut. Beberapa menit kemudian, dia telah selesai dan Sabrina ingin memanjakan perutnya itu dengan cemilan.


Langkah kakinya langsung berjalan menuju ke rak yang berisi beraneka chiki dan juga minuman.


"Ah, untung belum habis." Sabrina dengan segera mengambil chiki kesukaannya sebelum ada orang lain yang mengambil.


Saat dia ingin mencari cemilan yang lain, tiba tiba Sabrina melihat seseorang yang menurutnya tidak asing.


Vano, iya kayak Vano batin Sabrina.


Dia mencoba mendekat ke arah laki laki yang sedang mengambil minuman. Dan tepat sampai di belakang tubuh laki laki tersebut, Sabrina menepuk pundaknya.


"Vano, kita ketemu di sini. Lagi beli apa Van?" tanya Sabrina basa basi.


"Gak liat?" jawab Vano dengan muka datarnya.


Sabrina mengangguk kecil, "kesininya cuma sendiri doang?"


"Menurut lo?" Vano langsung pergi meninggalkan Sabrina.


"Tunggu Van!" entah kenapa tiba tiba Sabrina mengejar laki laki itu dan memegang pergelangan tangannya.


Vano membalikkan badannya, "apaan?" tanyanya dengan raut wajah yang kesal.


"Van, kamu risih ya aku deketin terus selama ini?"


"Akhirnya lo sadar, selama ini otak lo kemana aja?"


"Tapi, bisa apa enggak kasih aku satu kesempatan lagi, nanti kalau aku udah capek, aku bakal nyerah dan gak bakal ganggu kamu lagi, seumur hidup."


"Terserah lo."


Sabrina menghela nafasnya panjang, dia menatap kepergian Vano dari supermarket ini. Tetapi, di saat pikirannya berkecamuk, tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.


Sabrina reflek membalikan badan, oh ternyata itu adalah Leon.


"Leon?" ucap Sabrina dengan alis yang terangkat.


Leon tersenyum tipis, "hai, maaf bikin lo kaget."


"Enggak kok, ngapain disini?" tanya Sabrina.


"Em tadi cuma nganterin sepupu belanja, eh gak sengaja liat lo, jadi gue samperin deh." jawab Leon.


Sabrina menganggukkan kepala, "ya udah aku ke kasir dulu ya." dia langsung berjalan menuju ke arah kasir.


Beberapa menit kemudian, setelah dia membayar belanjaannya di kasir, Sabrina langsung ingin pulang. Tetapi, langkahnya itu terhenti karena mendengar teriakan namanya.


"Kenapa Leon?" tanya Sabrina.


Leon berlari kecil ke arah Sabrina, "enggak papa, gue anterin yok?" ajaknya.


"Katanya tadi kamu sama sepupu, terus sekarang dimana? Dan makasih, aku mau jalan kaki aja." jawab Sabrina sopan.


"Sepupu gue kayaknya udah balik sih, gak tau juga sekarang dia ada dimana, mungkin udah pulang tuh anak," menjeda ucapannya sebentar, "ya udah ayo jalan aja, sekalian gue main main gitu ke rumah lo."


Leon menganggukkan kepala, "iya beneran, sini gue yang bawa." dia langsung merebut kantong kresek yang ada di tangan Sabrina.


"Eh jangan jangan."


"Ah udah gue aja yang bawa, ayo jalan."


Sabrina menghela nafasnya panjang, "ya udah deh, tapi beneran gapapa kamu yang bawa?"


"Iya gapapa, tenang aja."


"Ya udah ayo."


Mereka berdua berjalan di trotoar dengan sesekali tertawa karena lelucon dari salah satu mereka. Hingga tak sadar mereka telah sampai di rumah.


"Ayo masuk Leon. Tenang aja, Mamah aku enggak galak kok." ujar Sabrina.


Leon mengangguk, "beneran gue boleh masuk nih?"


"Ya boleh lah Leon, masa ada tamu gak boleh masuk, aneh aneh aja." ucap Sabrina sambil menggelengkan kepalanya kecil.


"Ya udah bentar gue mau lepas sepatu, lo duluan masuk aja gapapa."


Sabrina mengangguk, "oke." ucapnya lalu masuk ke dalam rumah.


Cepat cepat Leon melepas sepatunya itu dan berjalan cepat menyusul Sabrina.


"Kamu duduk dulu, oh ya sekalian, kamu mau minum apa?"


Leon menggelengkan kepala, "enggak usah Sab."


"Oh mau teh, bentar ya aku buatin." Sabrina langsung melangkah menuju ke dapur dengan tangan membawa kantong kresek belanjaan milik Mamahnya.


"Mah ini belanjaannya." Sabrina menyerahkan kantong itu kepada Mamahnya.


"Terimakasih ya sayang." ucap Tanti seraya menerima kantong tersebut.


"Sama sama Mah, oh ya di ruang tamu ada temen Ina."


Tanti menatap ke arah anaknya, "oh ya? Temen kamu itu udah dari tadi?" tanyanya.


"Enggak kok, barusan. Tadi Sabrina ketemu di supermarket Mah, terus dia katanya mau main ke rumah aku, ya udah sekalian."


"Oh gitu, sana kamu buatin minum, Mamah mau samperin temen kamu."


Sabrina menganggukkan kepala, dia melihat Mamahnya itu berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui temannya.


Setelah itu Sabrina langsung membuatkan teh untuk Leon. Tak lama, akhirnya teh selesai di buat dan Sabrina kembali ke ruang tamu.


Dia melihat kedua orang itu sedang berbincang dengan sesekali tertawa. Sabrina pun tersenyum kecil dan meletakkan gelas yang berisi teh tersebut di meja.


"Oh berarti Nak Leon ini murid baru ya? Udah berapa lama?" tanya Tanti.


"Udah sekitar satu bulan Tante. Dan baru baru ini kenal sama Sabrina." jawab Leon sambil melirik ke arah gadis yang masih membawa nampan di tangannya.


"Oalah gitu toh, ya udah diminum dulu tehnya, apa kamu mau ikut makan malam?" ajak Tanti.


"Eh eh enggak usah tante, habis ini saya mau pulang kok, kayaknya bentar lagi sepupu saya dateng."


"Oh ya udah kalau gitu tante ke dapur dulu ya," Tanti beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang tamu.


Sabrina duduk di sofa, "tadi ngobrol apa aja ke Mamah aku? Enggak yang aneh aneh kan?" tanya Sabrina dengan suara yang sedikit lirih.


"Enggak kok sans," Leon meminum teh itu sampai habis, "ya udah gue pulang dulu ya Sab, soalnya sepupu gue udah di depan."


"Yah buru buru, padahal kita belum ngobrol banyak. Ya udah deh, aku anterin sampai ke depan ya."


Leon menganggukkan kepala.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari rumah. Setelah selesai memakai sepatu, Leon langsung berjalan menuju ke arah gerbang yang di ikuti oleh Sabrina.


Di depan Sabrina sekarang, terdapat laki laki yang menaiki motor sport nya. Motor dan badan yang sepertinya tidak asing dimata nya.


"Ya udah Sab, gue pulang duluan ya." ujar Leon sambil menaiki motor tersebut.


Tetapi sebelum mereka pergi, dengan cepat Sabrina memegang pergelangan tangan milik laki laki yang berada di didepan.


"Kamu Leon kan?" tanya Sabrina dengan mata yang menyipit.