
"Gue anter ya pulangnya?" ucap Reva.
"Aku enggak mau ngerepotin kamu Rev, aku bisa kok naik angkot. Lagian kamu juga butuh istirahat juga kan."
Reva menghela nafasnya panjang, dan menatap ke arah Vano yang berjalan ke arah mereka, "Vano! Lo peka dikit bisa apa enggak sih, tuh si Sabrina tebengin sampai depan rumah!" ucap Reva.
Sabrina tersenyum kikuk, "Eh eh enggak kok, lagian tadi aku juga udah nebeng Vano sampai ke rumah kamu, aku gak enak," dia menjeda ucapannya sebentar. "Ya udah aku duluan ya Rev, Van." setelah berpamitan Sabrina langsung berjalan cepat keluar dari gerbang.
"Ck. Van lo peka dikit bisa apa engga sih? Kasian tuh Sabrina, pulang sendirian udah sore mana mendung lagi." kesal Reva sambil menatap kepergian Sabrina.
"Lah, dia yang mau pulang sendirian. Ya udah gue bisa apa." jawab Vano.
"Ah bodoamat deh terserah lo!" Reva langsung berjalan masuk ke rumah dan menutup pintunya.
Sedangkan Vano hanya mengangkat bahunya tak acuh.
*******
Sabrina berjalan di trotoar sambil bersenandung kecil. Dia menatap ke atas, awan sudah mendung. Tiba tiba dia merasakan air menetes di pipi mulusnya.
Tangannya mengadah sampai ke bahunya, "Aduh, mana gerimis!" ucap Sabrina, dia langsung berlari kecil menuju ke halte yang berada di depannya.
Dia duduk di halte sambil mengedarkan pandangannya. Karena mendung dan gerimis, awan menjadi gelap. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, hanya ada satu atau dua saja yang lewat. Ia takut jika ada orang jahat mengganggunya.
Menggelengkan kepalanya cepat, ia langsung menepis pikiran buruknya. Lebih baik dia membaca novel nya sampai menunggu hujan itu reda.
Beberapa menit kemudian, ia merasakan ada air yang menetes di lengan bajunya. Sabrina membenarkan kacamata nya yang miring sebelah. Lanjut, melirik ke arah sebelah kiri.
Dia terkejut, karena di samping nya itu terdapat laki laki yang tak lain adalah Vano sedang memeras bajunya yang basah akibat terkena hujan.
Sabrina sedikit bergeser, sekarang suasana menjadi canggung. Novel yang sedang dibaca itu ia masukan kembali ke tasnya.
"V-vano?" ucap Sabrina memulai pembicaraan.
"Hem?" jawab Vano tanpa mengalihkan wajahnya menatap ke arah seorang yang memanggilnya.
"Kok hujan-hujanan? Enggak pakai mantol?" tanya Sabrina.
"Enggak, emang kenapa?" tanya balik Vano.
"Gapapa kok cuma nanya aja." Sabrina tersenyum tipis sambil menatap ke arah Vano.
Dari arah barat, motor itu melaju dengan sangat kencang. Tepat di depan halte itu terdapat genangan air. Alhasil baju milik Sabrina basah akibat terkena genangan air itu.
Sabrina berdiri dan melihat sang pelaku yang sudah pergi, "HEI! ENGGAK BISA APA BAWA MOTORNYA PELAN PELAN!" teriak nya dengan nada kesal.
Menghela nafasnya panjang dan duduk kembali di kursi panjang itu. "Aduh, bajuku basah." gumamnya, tangannya itu membersihkan baju yang terkena air hujan yang tercampur tanah.
"Di marahin apa enggak ya, pasti di marahin sih. Haishhh, terus aku harus gimana?"
Vano mengambil jaket yang berada di tasnya. Setelah itu menatap ke arah Sabrina. "Pakai." ucap Vano, tangannya itu menyodorkan jaket ke arah Sabrina yang sedang misuh misuh sendiri.
Sabrina terkejut, mendongakkan kepala dan menatap ke arah Vano. "Eh, enggak usah Van, kamu pakai aja. Nanti kamu sakit. Aku mah gapapa, lagian basahnya sedikit kok."
"Pakai aja kenapa sih?!" kesal Vano.
"Iya iya." Sabrina menerima hoodie itu dari Vano dan langsung memakainya.
Sekarang tubuhnya itu terasa hangat karena sekarang ia memakai hoodie pemberian dari Vano. Dalam hatinya itu sudah gak karuan, apalagi wangi dari hoodie itu sangat sangat memabukkan.
Sekitar satu jam telah berlalu, hujan sudah mulai berhenti, hanya ada embun yang turun. Sabrina melirik ke arah Vano, laki laki itu berlari kecil meninggalkan halte.
Melirik ke arah arloji yang berada di pergelangan tangannya, jarum menunjukkan pukul setengah lima.
"Aduh, jam segini mana ada angkot lewat. Mau pesan taksi, handphone aku lowbat." Sabrina mendesah lesu.
Tin
Sabrina menatap ke arah depan, dia melihat Vano berhenti tepat di depannya, tapi kenapa anak itu balik lagi kesini? Apakah ada barang yang ketinggalan? Dia juga tidak mengetahui nya.
"Naik!" teriak Vano dari balik helem full face nya.
Sabrina mengernyitkan dahinya, menatap ke arah kanan dan kirinya. Kepada siapa Vano itu berbicara? Pasalnya tidak ada orang selain mereka berdua. Sabrina ingin menjawab tapi ia takut bukan untuk nya.
"Lo!" Vano menunjuk ke arah Sabrina, "Buruan naik budeg! Lama banget sih!" kesal Vano.
Sabrina ter lonjak kaget, ternyata Vano menyuruhnya naik ke atas motornya. Tetapi kenapa laki laki itu mengatainya budeg? Tidak bisakah laki laki itu berbicara dengan bahasa yang tidak akan menyinggung nya.
Tak mau mempersalahkan hal itu, Sabrina langsung berlari kecil menuju ke arah Vano. Sabrina naik ke motor, dan sang empu langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Tak lama motor yang mereka tunggangi masuk ke perumahan yang bisa di bilang cukup bagus. Sabrina turun dari motor, dia melepas hoodie yang ia pakai dan akan menyerahkan nya ke Vano, tetapi laki laki itu malah langsung melajukan motornya itu meninggalkan Sabrina yang berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Vano!" teriak Sabrina, tetapi sama saja. Laki laki tersebut sudah hilang dalam pandangannya.
Dia melihat hoodie yang berada di tangannya, otaknya itu tiba tiba memikirkan, kenapa Vano bisa tau alamat rumahnya? Padahal Sabrina tidak pernah memberitahukan nya kepada orang lain, kecuali sahabat nya.
"Kok aneh banget," Sabrina menjeda ucapannya sebentar. "Ah, mungkin Reva yang ngasih tau."
Setelah mengucapkan itu, Sabrina langsung masuk ke dalam rumahnya. Benar apa yang ada dipikirannya, dia melihat dari raut wajah mamahnya itu khawatir. Dan Sabrina langsung menjelaskan dari awal sampai akhir. Mamahnya itu hanya menganggukkan kepala dan menyuruh Sabrina untuk bersih bersih.
Sabrina berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia mulai membersihkan badannya. Setelah selesai, dia mengambil seragamnya yang kotor akibat kejadian tadi dan hoodie milik Vano itu di keranjang yang berada di kamar mandi.
Langkah kakinya itu turun dari tangga, dan berjalan ke arah kamar mandi yang berada di samping dapur. Sabrina berniat untuk mencuci seragam dan hoodie itu.
Senyumnya mengembang ketika mengingat kejadian tadi, perhatian kecil yang di berikan oleh Vano itu membuatnya salah tingkah.
Sabrina menganggukkan kepalanya, besok dia akan memberikan sesuatu untuk Vano, karena telah mengantarkan pulang, serta mengembalikan hoodie milik laki laki tersebut.