
Bel pulang sekolah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu, setelah piket Sabrina langsung berjalan keluar sekolah.
Mamahnya tidak bisa menjemput nya, alhasil sekarang dia berjalan kaki. Tetapi tak apa apa, dia malah senang jika berjalan kaki karena selain berolahraga kecil, ia juga ingin mengenang masa lalunya.
Dia berjalan di trotoar sambil bersenandung kecil. Di telinganya itu terdapat earphone, dia sedang mendengar lagu kesukaannya.
Sesampainya di halte Sabrina langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia menunggu bus sekitar 10 menit.
Setelah bus datang Sabrina langsung masuk dan duduk di kursi dekat dengan jendela. Tas yang berada di pundak itu ia lepas dan diletakan di pangkuannya.
Tiba tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya. Karena kepo dengan orang itu Sabrina pun melirik sedikit ke arah kiri.
Dan berapa terkejut nya dia saat mengetahui jika seseorang yang duduk disebelah nya itu Vano. Iya Vano!
Sabrina ingin menyapa tetapi entah kenapa ia tidak mempunyai keberanian. Dia melirik sekali lagi dan ternyata laki laki yang berada di sampingnya itu sedang memejamkan matanya sambil bersender di kursi.
Sabrina bisa menatap dengan leluasa wajah sang crush yang selama ini membuat hatinya berdetak tak karuan.
Wajah yang menurutnya seperti pangeran di negri dongeng itu sedang tertidur, ah semoga hari ini adalah hari yang lama agar ia bisa melihat wajah itu sampai ia bosan.
Semoga saja!
Menggelengkan kepala dan tersenyum kecil, otaknya itu sepertinya sudah rusak. Sabrina menghadap ke arah kaca bus, ia bisa melihat kendaran yang berlalu lalang.
Tiba tiba dia merasakan sesuatu dipundak sebelah kiri. Sabrina reflek melirik dan ternyata Vano sedang tertidur dengan kepala yang bersandar dipundak miliknya.
"Ya Tuhan jantung Sabrina kayak mau loncat." gumamnya.
Sabrina membuka tas dan mengambil handphone. Setelah itu ia buka kamera.
Dia harus memfoto momen ini karena kejadian ini sangat sadar dan laki laki yang berada di samping nya itu tidak tersadar.
Cekrek
Beberapa menit kemudian Sabrina sudah puas mengambil foto secara diam diam. Entah berapa banyak dia berfoto yang penting sekarang dia sangat senang sekali.
Tak lama bus yang ia tunggangi berhenti di halte, Sabrina ingin membangunkan Vano tetapi ia sungkan.
"Aku bangunin apa enggak ya?" tanya nya pada diri sendiri.
"Gapapa lah lagian pundak aku juga capek." Sabrina menatap ke arah Vano dan memberikan pukulan kecil ke paha milik Vano.
"Van bangun."
Vano yang terusik pun bangun dan langsung menegakkan badannya.
Sabrina yang melihat itu tersenyum tipis, dia berdiri dan berjalan ke arah depan. Membayar setelah itu turun dari bus.
Sabrina menatap ke atas, ternyata langit mulai mendung. Dia pun berjalan sedikit cepat agar sampai di rumahnya sebelum hujan tiba.
Tak tau kenapa dia mendengar suara langkah orang lain, bukan dirinya. Sabrina pun menengok ke arah belakang, betapa terkejut nya dia melihat Vano yang sedang berada di belakang nya.
"Kenapa Vano ngikutin aku ya? Apa rumahnya searah sama aku? Tapi gak mungkin juga sih, kalau rumahnya dekat sini pasti aku ya bakalan tau." gumam Sabrina dengan masih berjalan.
Apa dia bertanya saja?
Sabrina mengangguk kecil, dia memperlambat langkah kakinya sampai dia dan Vano jalan beriringan.
"Vano, Vano rumahnya dekat sini ya?" tanya Sabrina.
Vano menggelengkan kepalanya.
Sabrina mengerutkan dahinya, "Lha terus dimana? Motor kamu emang kenapa, tumben kamu tadi naik bus?"
"Pengen aja." jawab Vano.
"Oh ya udah... Eh hujan! Ayo Vano kamu mampir ke rumah aku aja ya."
Tanpa mendapat persetujuan dari Vano, Sabrina langsung menyeret laki laki tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya dengan berlari.
Vano yang ditarik pun sedikit terkejut, tetapi ia hanya diam saja dan mengikuti langkah kaki gadis itu.
Sampai di teras rumah, Sabrina langsung melepas sepatu dan begitu juga dengan Vano.
Sabrina masuk duluan ke dalam rumahnya dan disusul oleh Vano.
"Mah Sabrina pulang!" teriak Sabrina.
Mamahnya yang sedang berada di dapur langsung menghampiri anaknya, "kamu ini kebiasaan selalu aja teriak teriak, kalau rumah ini roboh gimana? Hahaha." ucap nya.
"Enggak gitu juga mah. Eum mah itu ada-"
"Pacar kamu?" potong Mamahnya itu dengan cepat.
Sabrina menggelengkan kepalanya. "Halo tante, saya Vano." Vano memperkenalkan diri.
"Nak Vano duduk dulu, mau minum apa?" tanya maman Tanti.
Vano menggelengkan kepala, "enggak usah Tan."
"Alah gapapa bentar ya tante buatin." Mamah Tanti langsung berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman.
Sabrina menatap ke arah Vano, "bentar ya Van, nunggu hujan reda terus pulang. Aku mau ke kamar aku dulu."
Sabrina berjalan ke arah kamarnya untuk bersih bersih karena badannya itu sangat lengket.
Sedangkan Vano, laki laki itu sedang melihat setiap sudut ruang tamu. Tak lama Mamah Tanti datang membawa minuman dan cemilan.
"Nih diminum ya nak, oh ya tante kaget lho ini baru pertama kali Sabrina bawa temen ke rumahnya. Ya kalau sahabat kecilnya itu tante udah bosen liatnya."
Vano yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.
"Hayo mamah lagi ngomongin Sabrina ya?" tanya Sabrina yang datang tiba tiba.
"Mau tau apa mau tau banget kamu?" ucap Mamah Tanti.
"Ih mamah gak asik banget." Sabrina mengerutkan bibirnya.
"Hahaha bercanda, ya udah ya mamah mau lanjut masaknya. Kalian berdua ngobrol dulu, oh ya kalau nanti malam masih juga hujan nanti nak Vano makan di sini ya."
Vano menganggukkan kepala, "iya tante."
Setelah itu Mamah Tanti berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Sabrina duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Dia melirik ke arah Vano yang sedang bermain handphone.
"Apa?" tanya Vano tiba tiba.
Sabrina yang tertangkap basah langsung menatap ke arah televisi, "enggak kok, btw Vano rumahnya dimana emang?"
"Jauh." jawab Vano.
Sabrina menganggukkan kepala setelah itu ia fokus menonton kartun.Sampai malam telah datang, hujan juga belum juga reda. Sekarang mereka bertiga sedang makan malam.
"Enak apa enggak masakan tante?" tanya Mamah Tanti.
Vano mengangguk, "enak kok tan." Mamah Tani tersenyum.
"Anak sendiri enggak ditanyain mah?" tanya Sabrina.
"Enggak, mamah bosen tanya sama kamu."
Sabrina mendengus sebal, bibirnya itu ia majukan.
Setelah selesai makan Vano langsung berpamitan untuk pulang. Hujan juga sudah reda.
"Tan saya pamit pulang." ucap Vano.
"Iya hati hati dijalan." ucap Mamah Tanti, "besok besok kesini lagi ya nak Vano."
Vano menganggukkan kepala, "iya tan." setelah itu mobil jemput milik Vano melesat pergi keluar gerbang.
"Cie cie anak mamah udah punya pacar nih. Kamu pilihnya enggak main main ya, sekali pacaran langsung dapat spek dewa." setelah menggoda anaknya Mamah Tanti langsung masuk ke dalam rumah.
Sabrina yang mendengar itu hanya tersenyum kikuk. Malu dan juga baper menjadi satu