ABOUT ME

ABOUT ME
Bab 5. Kerja Kelompok



"Kita mau ngerjain tugasnya di rumah siapa?" tanya Reva sambil melirik ke arah kelompoknya.


"Di rumah lo aja Rev, sekalian mau kenalan sama mertua." jawab Adi sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Idih, si najis! Yang mau sama lo itu siapa!" teriak Reva tangannya itu ia layangkan ke baju milik Adi.


"Aduh!" Adi meringis, menatap ke arah Reva dengan tatapan melasnya. "Ini namanya kdrt lho, kekerasan dalam rumah tangga. Lo enggak takut apa kena karma karena udah kdrt sama suamimu ini."


Reva melebarkan matanya, ekspresi nya itu seperti orang muntah, "Najis najis, semoga suami gue bukan lo! Soalnya lo itu gak cocok sama gue! Badan lo itu bau kemenyan tau gak?"


"Kalau badan gue bau kemenyan, berarti lo setannya dong?" celetuk Adi.


"Lo bisa diem apa enggak? Kalau enggak, sepatu gue ini bisa melayang sendiri lho!" kesal Reva.


Sabrina yang mendengarkan perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum kecil, "Hati hati lo, nanti kalian jodoh." timpalnya.


"What! Yang bener aja kalau kutil badak ini jodoh gue! Ya gak mungkin lah Sab! Ngadi ngadi lo."


"Kan jodoh enggak ada yang tau Rev, siapa tau beberapa tahun kemudian kamu nikah sama Adi, kan itu udah takdir Tuhan."


Reva memejamkan matanya, menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya,"Udah stop jangan bahas lagi oke? Sekarang yang kita bahas itu mau kemana kita ngerjain tugas kelompok nya? Di rumah gue, di cafe apa dimana?"


"Di rumah kamu aja, iya kan Vano, Adi?" ucap Sabrina yang diangguki oleh Adi, sedangkan Vano dia malah sibuk dengan handphone nya.


"Ya udah ayo di rumah gue aja. Eh bentar, gue nebeng sama siapa?" tanya Reva.


"Sama aa atuh neng. Sini, joknya khusus buat neng Reva." ucap Adi sambil menepuk jok motornya.


Reva memutar bola matanya malas, mau tak mau dia duduk di atas jok itu. Melirik ke arah Sabrina, "Lo nebeng sama Vano kan Sab?" tanya Reva.


"Em?" gumam Sabrina.


"Van, lo sama Sabrina ya?" ujar Reva, tetapi cowok itu tidak menjawab sama sekali.


"Eh, kalau Vano enggak mau juga gapapa kok. Nanti aku gampang, tinggal nunggu angkot aja. Tapi ke rumah kamu agak lama." ucap Sabrina tak enak hati.


Vano menghela nafasnya panjang dia naik ke atas motornya. Membalikkan badannya menatap ke arah Sabrina, "Naik!" perintah Vano.


"Beneran Van? Kalau kamu berat hati atau gimana, nanti aku naik angkot aja gap-"


"Gue bilang naik ya naik, lama banget!" Vano memotong ucapan milik Sabrina dengan raut wajah kesal.


Sabrina tersenyum kikuk, berjalan ke arah motor milik Vano dan menaikinya. "Udah Van." ucap Sabrina.


"Udah ayo buruan jalan!" teriak Reva sambil memukul lengan milik Adi.


"Iya iya sabar, jangan marah marah atuh. Nanti cantiknya hilang." jawab Adi, setelah itu melajukan motornya menuju ke rumah Reva.


Vano dan Sabrina itu mengikuti dari belakang.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah Reva hanya ada keheningan yang meliputi. Vano sibuk menatap ke arah depan, sedangkan Sabrina itu melirik ke arah sekeliling nya. Melihat kendaraan yang sedang berlalu lalang, sesekali dia melirik ke arah spion motor, di sana ia melihat rahang tegas milik Vano.


Lamunannya membuyar karena dahinya itu terbentur punggung milik Vano. Sabrina meringis sambil memijat keningnya, menatap sebal ke arah Vano dari spion motor. Sepertinya Vano juga sedang melirik sekilas ke arahnya dari spion motor miliknya.


"Lampu merah." celetuk Vano.


Sabrina mengerutkan dahinya, menatap ke atau depan. Ternyata lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Dia menganggukkan kepala, "Tapi baunya Vano enak banget, bikin candu tau." gumam nya tanpa sadar.


"Ngomong apaan lo?!" tanya Vano.


Sabrina melebarkan matanya, "Eh enggak enggak kok, tadi aku enggak bilang apa apa!" dia memukul jidatnya. "Bodoh banget kamu Sab!" ucapannya dalam hati.


Lampu berubah berwarna hijau, Vano pun melajukan motornya. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah milik Reva.


"Kenapa lama banget sih?" tanya Reva dengan raut wajah kesal, "Tau gak sih Sab, gue itu udah nunggu lama banget, mana berdua ama dia lagi."


"Maafin ya Rev kalau kamu nunggu lama, soalnya tadi ada lampu merah jadi kita agak telat" jawab Sabrina.


"Iya gapapa, ya udah ayo masuk!" ajak Reva sambil menarik pergelangan tangan milik Sabrina. Sedangkan dua cowok itu hanya mengikuti dari belakang.


... *******...


"Terus ini gimana? Gue enggak mudeng anjir, nasib punya otak bodoh! Coba aja kalau otak gue kayak Albert Einstein, semua tugas ini bakal gue kerjain send-" ucap Adi terpotong karena Reva melempar penghapus dan mengenai jidat.


Dia menatap Reva sambil mengelus jidatnya, "Kenapa sih?" ucap nya.


Reva memutar bola matanya malas, "Daripada lo banyak bacot, mending lo ambilin kita makanan."


"Dih, kan yang punya rumah lo? Kenapa lo nyuruh gue? Calon istri gue sangat sangat aneh." Adi menggelengkan kepalanya.


"Lo kalau ngomong calon istri di depan gue lagi, gue gak bakal segan segan buat lempar lo ke kandang singa gue!" ucap Reva sambil menunjuk ke arah Adi.


"Biar aku aja kalau Adi enggak mau, daripada kalian ribut mulu." Sabrina yang tadinya duduk itu langsung berdiri.


"Eh biar si Adi aja Sab, lo disini sama gue." Reva memegang pergelangan tangan milik Sabrina.


"Enggak papa, aku aja. Kalian duduk manis disini." setelah mengucapkan itu, Sabrina langsung berjalan ke arah kulkas yang berada di dapur.


"Kamar mandi sebelah mana?" tanya Vano sambil menatap ke arah Reva yang sedang menulis.


Reva mendongakkan kepala, "Oh, lo dari sini lurus terus ada dapur kan, lo tinggal belok kanan." jawab Reva yang diangguki oleh Vano. Laki laki itu langsung berjalan ke arah kamar mandi.


Sedangkan Sabrina, dia sedang berjongkok untuk mengambil makanan dan minuman di kulkas. Di tangan kanan dan kirinya itu sudah penuh dengan aneka makanan dan minuman.


Dia berdiri dan menutup pintu menggunakan kakinya. Membalikkan badan dan dia terkejut, tiba tiba di belakang nya itu terdapat Vano.


"Eh Van, kamu mau kemana?" tanya Sabrina.


"Kamar mandi." jawab Vano.


"Oh ya udah, aku duluan ke sana ya." ucap Sabrina dan berjalan ke arah teman temannya yang berada di ruang tamu itu. Vano tidak menjawab, dia langsung masuk ke kamar mandi.