
Pagi hari telah tiba, Sabrina sudah siap untuk pergi ke sekolahnya. Perihal sepeda nya itu dia sudah bercerita dengan mamahnya. Tetapi dia berbohong, tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika ia bercerita dengan jujur, pasti mamahnya itu tidak akan pernah mengijinkan dia menggunakan sepeda miliknya lagi.
Sekarang Sabrina sedang berada di halte yang tak jauh dari rumahnya. Dia sedang menunggu bus. Karena bosan, ia mengeluarkan earphone nya dari tas miliknya.
Sabrina memakai earphone dan mencari lagu kesukaannya. Setelah itu ia menatap ke arah depan sambil menikmati musik yang ia dengar.
Beberapa menit kemudian, bus yang ia tunggu datang juga. Sabrina berdiri dan naik ke dalam bus itu. Dia duduk di dekat jendela dengan earphone yang masih berada di telinganya.
Sekitar 15 kemudian, bus yang ia tunggangi itu sampai di depan gerbang sekolahnya. Ia membayar terlebih dahulu, setelah itu turun dari bus tersebut dan berjalan masuk ke dalam halaman sekolah.
Di koridor dia berjalan dengan cepat, hingga tak sadar ada kaki di depannya yang menghalangi nya. Dan hasil dia terjatuh ke bawah dengan mengenaskan.
"Hahaha si cupu jatuh gaes!" ucap perempuan yang membuat Sabrina terjatuh.
"Kalian bisa apa enggak sih satu hari aja enggak usah gangguin dia? Manfaat nya apaan sih?" ucap Leon tiba tiba. Dia menundukkan kepala dan mengulurkan tangannya ke arah Sabrina. "Ayo berdiri."
Sabrina dengan ragu memegang tangan milik Leon, kemudian dia berdiri dan langsung berlari secepat mungkin menuju ke kelasnya.
"Awas kalau sekali lagi gue tau lo bully dia? Gue gak segan segan buat nyelakain lo." Leon menunjuk ke arah tiga perempuan yang berada didepannya secara bergantian, setelah itu dia pergi menuju ke kelasnya.
Sabrina dengan nafas yang sudah ngos-ngosan itu langsung mengambil air minum yang ia taru di tasnya. Dia menutup kembali tutup botol itu dan meletakkannya kembali ke tas.
Mengambil coklat yang berada di tas dan melirik ke arah tempat duduk Vano, ternyata laki laki itu belum berangkat. Sabrina menyobek kertas kecil dan menuliskan nya sesuatu dan menempelkan nya di coklat yang ia beli kemarin di supermarket.
Sabrina berdiri dari tempat duduknya, langkah kakinya itu berjalan ke arah meja Vano. Dia meletakkan coklat nya itu di atas meja milik Vano, setelah selesai dia kembali lagi ke tempat duduknya.
Satu persatu orang menempati tempat duduknya masing masing, dan sorot matanya itu melihat Vano yang akan masuk ke kelas.
Sabrina tersenyum tipis, tetapi tak tak lama senyuman nya itu luntur, lantaran coklat yang ada di meja itu di buang oleh Vano di tempat sampah yang berada di dalam kelas.
Sabrina menghela nafasnya panjang, "Apa Vano enggak suka coklat ya?" gumamnya.
"Ya udah deh, kalau enggak suka gapapa. Besok aku kasih yang lain aja." lanjutnya sambil tersenyum tipis.
"Idih kenapa lo senyum senyum sendiri? Pasti lo lagi ngeliatin babang Vano ya?" celetuk Reva yang tiba tiba berada di sampingnya.
"Eh jangan nuduh ya Rev, enggak baik tau. Oh ya kok kamu tiba tiba ada disini? Kapan kamu sampainya?" tanya Sabrina sambil menatap ke arah Reva.
Reva duduk di samping Sabrina, "Barusan sih, jalannya tadi macet jadi agak kesiangan." jawab nya.
Sabrina hanya menganggukkan kepala.
*******
"Ayo Sab ke kantin, gue laper nih!" rengek Reva sambil menggoyangkan pergelangan tangan milik Sabrina.
Sabrina menggelengkan kepala, "Kamu aja Sab, soalnya aku mau ke perpus, mau baca buku."
"Ck," Reva berdecak dan menatap malas ke arah Sabrina. "Lo enggak bosen apa, tiap hari cuman baca buku doang?"
"Enggak deh Sab, gue mau ke kantin dulu ya!" potong Reva langsung berlari keluar kelas menuju ke kantin.
Sabrina tersenyum tipis, mengambil novel yang ia letakan di meja. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kelas menuju perpustakaan. Tetapi sebelum keluar dari kelas dia sedikit melirik ke arah Vano, laki laki itu sedang menidurkan kepalanya di meja.
Sesampainya di perpustakaan, Sabrina langsung masuk dan berjalan ke arah meja sudah dari dulu menjadi favorit nya.
Di perpustakaan hanya ada beberapa orang saja. Entah Sabrina juga tidak mengetahui, kenapa minta baca khususnya disekolah ini sangat rendah. Padahal menurut nya, membaca itu sangat menyenangkan. Bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui, banyak ilmu dan pelajaran yang kita dapat.
Bel masuk telah berbunyi. Lantas, Sabrina dengan cepat menutup bukunya yang ia baca itu dan berdiri meninggalkan perpustakaan.
Di kelas ia langsung duduk di kursinya, ia terkejut buku tulis miliknya itu sudah acak acakan dan parahnya lagi bukunya itu telah di robek.
Sabrina memejamkan matanya. Menghela nafasnya gusar, dia membereskan meja nya itu. Mengumpulkan robekan bukunya dan menjadikan nya satu. Dia berdiri membawa robekan itu, berjalan ke arah tempat sampah dan membuangnya.
Sabrina berjalan ke tempat duduk nya kembali. Dia mengedarkan pandangannya, siapa yang sudah merobek bukunya itu. "Huh. Yang sabar Sabrina." gumamnya.
"Ngapain lo Sab?" tanya Reva sambil membawa jajan yang ia beli dari kantin.
Sabrina menoleh ke arah Reva, "Enggak papa kok Rev." jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Ada yang ganggu lo lagi ya? Kalau ada mana orangnya, sini gue geprek!" ucap Reva dengan nafas yang sudah memburu.
"Enggak ada Reva, udah ah kamu duduk aja. Bentar lagi Pak Arif datang lho!" ujar Sabrina yang diangguki oleh Reva.
"Selamat siang anak anak! Maaf Bapak tidak bisa masuk ke kelas kalian hari ini, karena bapak buru buru karena ada acara yang sangat mendadak!" Pak Arif mengedarkan pandangannya. "Untuk itu sebagai gantinya, Bapak akan kasih kalian tugas. Ini tugasnya berkelompok. Kalian mengerjakan buku paket halaman 102 sampai 110 dan dikumpulkan besok jika ada pelajaran Bapak! Kelompok akan bapak pilih!"
"Ketua kelas maju ke depan!" perintah Pak Arif.
Dendi, ketua kelas itu berjalan ke depan menuju Pak Arif. "Iya kenapa Pak?" tanya Dendi.
"Ini kelompok sudah Bapak tulis di kertas ini, kamu tinggal mengumumkan nya ke teman teman kamu, kalau ada yang protes bilang ke Bapak nanti, nilai akan jadi taruhannya." ucap Pak Arif yang diangguki oleh Dendi.
"Baik, Bapak tinggal dulu ya! Jangan ramai!" setelah mengucapkan itu, Pak Arif langsung keluar dari kelas.
Dendi membacakan kelompok itu dengan sangat keras, hingga sekarang kelompok yang terakhir.
"Kelompok ke tujuh, Sabrina, Reva-"
"Kita satu kelompok!" girang Reva sambil memeluk Sabrina.
"Adi, dan Vano!" ucap Dendi.
Sabrina melirik ke arah Vano, dia melihat laki laki itu sedang ogah-ogahan mendengarkan kelompok yang di sebutkan oleh ketua kelas.
"Udah itu doang, eh bentar bentar! Kata Pak Arif kalau kalian enggak ada yang mau mikir cuma mau numpang nama doang, enggak bakal dapat nilai. Segitu dulu." ucap Dendi langsung berjalan menuju tempat duduknya kembali.