
2 tahun yang lalu
"Beneran kamu mau berangkat sendiri?" tanya wanita yang lagi duduk di sofa ruang tamu dengan kedua tangan kanannya itu memegang koran yang sedang ia baca.
"Iya mah. Ya udah Sabrina berangkat dulu ya?" pamit Sabrina yang diangguki oleh Mamahnya itu.
Sabrina, gadis dengan rambut yang dikepang menjadi dua dan kacamata yang bertengger di hidungnya itu keluar dari rumah setelah berpamitan kepada ibunya. Dia berjalan menuju garasi untuk mengambil sepeda kesayangannya itu. Sepeda itu ia dapat dari Ayahnya disaat ulang tahunnya yang ke- 16.
Dia mengayuh sepeda nya itu keluar dari pelataran rumah. Melewati jalan raya yang banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Sabrina sampai di depan gerbang sekolahnya itu. Masuk ke dalam halaman sekolah dan memarkirkan sepeda nya di parkiran yang sudah di sediakan. Dia turun dan menstandarkan sepedanya. Melepas helem yang ia kenakan dan meletakkan nya di keranjang depan sepedanya.
Sabrina membenarkan kacamata nya yang sedikit miring. Setelah itu ia berjalan menuju ke arah kelasnya dengan diam dan menundukkan kepala.
Di koridor banyak sekali yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Karena merasa risih, Sabrina menambah kecepatan berjalan nya itu.
Setelah sampai di depan kelasnya X IPA 1, ia masuk dan duduk di paling belakang pojok kanan dekat tembok. Melirik ke arah jam yang berada di pergelangan tangan, ternyata sekarang jam menunjukkan pukul 06. 50. Kurang sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi, ia gunakan untuk melanjutkan membaca novel yang ia beli kemarin di toko buku.
Karena terlalu asik dengan novel yang ia baca, Sabrina tidak mengetahui jika Guru pengampu sudah datang.
"Selamat pagi anak anak!" ucap Pak Arif.
"Selamat pagi Pak!" jawab satu kelas secara kompak, kecuali Sabrina dan seseorang yang berada di bangku pojok kiri yang masih kosong.
Pak Arif mengedarkan pandangannya, matanya itu tertuju ke arah Sabrina yang sedang asik membaca novel, dan berkata, "Itu kamu yang baca novel, sudahi dulu. Sekarang pelajaran nya bapak. Kamu boleh lanjut nanti pas istirahat."
Sabrina itu dengan cepat cepat langsung menyimpan novel itu ke tasnya. Ia mengambil buku juga bolpoin di tasnya dan meletakkan nya di atas meja.
"Baik, sekarang kita akan me-"
"Maaf Pak saya telat!" potong pemuda laki laki itu di depan pintu kelas.
Sabrina refleks melirik ke arah pintu, ia melihat laki laki dengan gaya rambut di belah tengah itu sedang bernafas yang terengah-engah dan keringat yang membasahi pelipisnya, mungkin laki laki itu baru saja menjalani hukuman karena terlambat.
"Silakan duduk di kursi kamu." jawab Pak Arif.
Laki laki itu mengangguk dah berjalan ke arah tempat duduk kosong yang berada di pojok kiri dekat dengan tembok.
Sedari tadi Sabrina masih menatap laki laki itu. Sampai sampai tak sadar laki laki itu juga menatap balik ke arah Sabrina. Ia terkejut dan langsung memutuskan kontak matanya dengan orang itu. Sabrina menatap ke depan ke arah Pak Arif yang sedang menerangkan, dan sesekali ia melirik ke arah laki laki tersebut.
"Hukum Newton dua berbunyi, dan contoh penerapan nya," Pak Arif menjeda ucapannya. "Ada yang bisa menjawab?" tanya nya.
Sabrina mengedarkan pandangannya itu ke seluruh kelas,tetapi tidak ada yang menjawabnya. Lantas ia mengangkat tangan kanannya ke atas, "Saya Pak!" ucap Sabrina.
"Baik silakan kamu jawab."
"Sangat benar. Sekarang kita ke hukum Newton yang ketiga, kamu laki laki yang paling belakang pojok sendiri, coba sebutkan bunyi hukum Newton tiga." ucap Pak Arif.
"Saya Pak?" tanya laki laki itu dengan ogah ogah an.
"Iya, siapa nama kamu? Bapak lupa." tanya balik Pak Arif.
"Vano." jawabnya.
"Baik nak Vano, silakan jawab pertanyaan yang bapak berikan tadi."
Laki laki bernama Vano itu menghela nafasnya panjang, "Hukum Newton tiga berbunyi, Jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, maka benda B akan mengerjakan gaya pada benda A, yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan. Contohnya adalah memukul tembok." jawab Vano.
"Udah ganteng, tinggi, pinter lagi. Idaman aku banget ini mah." gumam Sabrina dalam hati dengan mata yang masih tertuju kepada laki laki bernama Vano.
"Baik Bap- eh sudah bel istirahat ya?" tanya Pak Arif yang diangguki satu kelas, "ya sudah sampai di sini dulu pertemuan kita, jangan lupa pelajari lagi apa yang baru saja Bapak sampaikan agar kalian lebih paham. Terimakasih." ucap Pak Arif langsung berjalan meninggalkan kelas.
Sabrina mempunyai ide, dia memasukkan alat tulisnya itu ke tas terlebih dahulu. Setelah itu dia beranjak dari kursi dan berjalan ke arah laki laki yang duduk di pojok, yang tak lain adalah Vano.
"Hai, Vano aku Sabrina, boleh kenalan apa enggak?" ucap Sabrina mengawali percakapan.
Vano yang sedang asik bermain game itu tidak menggubris ucapan dari Sabrina. Dia malah semakin fokus terhadap game nya itu, mengabaikan orang yang sedang duduk di depannya dengan raut muka kesal.
"Van-"
"Kenapa sih?" potong Vano dengan cepat.
"Gapapa hehehe, aku cuma mau kenalan aja kok. Kenalin, aku Sabrina semoga kita bisa jadi temen baik ya." ucap Sabrina sambil mengulurkan tangannya ke arah Vano.
"Di sini, ada musuh anjir!" teriak Vano sambil menatap ke layar handphone nya.
Sabrina menggigit bibir bawahnya, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Laki laki di depannya itu seperti nya sedang pura pura tidak dengar ucapannya.
Menghela nafasnya dan berdiri, "Ya udah aku mau ke balik ke bangku dulu ya Van." setelah mengucapkan itu Sabrina langsung berjalan ke arah tempat duduknya. Sampai, dia duduk manis dah mengambil novel yang sempat ia tunda tadi.
Vano kenapa enggak balas ucapan aku ya? Ya seenggaknya kan jawab iya atau oke,aku Vano gitu, tadi kok malah jawab apa sih. Tapi gapapa lah ya soalnya ini kan baru pertama kali, mungkin kalau kebiasaan Vano bakal mau temenan sama aku, batin Sabrina sambil tersenyum.
Dia membuka lembaran selanjutnya, membaca novel itu dengan sesekali melirik ke arah samping kiri. Tempat duduk laki laki itu berada.
Sejak saat itu Sabrina gencar sekali mendekati Vano. Walaupun Vano tidak menggubris akan keberadaan nya, tetapi Sabrina tidak akan menyerah akan hal itu. Huh, semoga saja dia bisa mencairkan es batu itu, Gibran Elvano Keenandra.