ABOUT ME

ABOUT ME
Bab 2. Bola Basket



"SAB, SABRINA TUNGGUIN GUE!" teriak gadis dengan rambut sebahu itu berlarian menuju ke arah seseorang yang ia panggil.


Sang empu yang di panggil itu menghentikan langkah kakinya, membalikkan badannya dan menatap ke arah sahabat nya. "Jangan teriak teriak Rev, tau gak sih kamu itu ganggu yang lagi belajar di dalem." ujar Sabrina.


Elmira Revalina Putri, kerap di panggil Reva adalah sahabat Sabrina dari kelas 10. Di saat semua tidak ada yang mau berteman dengan Sabrina, tetapi tidak dengan perempuan ini.


Reva menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menyengir, "Makanya jangan suka ninggalin atuh, kan gue takut kalau di kamar mandi sendirian." jelas Reva.


"Kamu sih ganti baju aja lama banget ya udah aku tinggal." Sabrina menjeda ucapannya sebentar, "nih liat jam berapa? Aku enggak mau telat pelajaran olahraga, dihukum lari 20 lapangan emang mau?"


Reva menutup kedua telinga menggunakan telapak tangannya, "Udah udah ceramah nya nanti dulu, kalau lo banyak bicara yang ada kita bakal telat!"


"Ya udah ayo." ajak Sabrina yang di angguki oleh Reva.


Setelah kembali ke kelas untuk meletakkan baju, mereka berdua langsung berjalan menuju ke lapangan yang sudah ramai oleh murid murid kelasnya dan juga kelas sebelas.


"Sab ini dicampur sama kelas 11?" tanya Reva.


"Kayaknya iya sih, aku juga gak tau. Tapi menurut aku sih yes." jawab Sabrina sambil melihat ke arah sekeliling nya.


Prittt


Pak Deni atau guru olahraga itu membunyikan peluit, semua murid yang sedang sibuk dengan kegiatan nya masing masing langsung berlari menuju ke arah sumber suara itu berada.


"Ayo ke sana." ajak Reva menarik pergelangan tangan milik Sabrina.


Semua murid yang mengikuti olahraga itu membuat barisan. Dan Sabrina serta Reva memilih berbaris di depan.


"Baik, sebelum olahraga ini dimulai, kita berdoa dalam hati menurut agama masing masing. Berdoa di mulai." ucap Pak Deni, semua langsung menundukkan kepala dan hening.


"Selesai." Pak Deni mengedarkan pandangannya, "ok sekarang  kita akan bermain bola basket, pada pertemuan sebelumnya Bapak sudah memberikan materi dan contoh bermain bola basket. Coba Bapak tanya lagi agar apakah kalian mengingat atau tidak. Apa sih yang kalian ketahui tentang bola basket? Siapa yang bisa jawab bisa tunjuk tangan."


"Saya Pak!" teriak laki laki yang berada barisan paling belakang, "Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan." lanjutnya.


"Panas banget ya Sab." gerutu Reva.


"Enggak papa Reva, jam jam segini malah bagus buat berjemur. Enggak bakal hitam kok, malah kita dapat vitamin." jawab Sabrina.


"Ok sekarang Bapak akan bagi tim, kalian kelas sebelas dan dua belas akan bermain basket."


"Baik Pak!"


"Karena saya ada acara, jadi yang perempuan terserah kalian mau olahraga apa, dan nanti kalau sudah bel istirahat bunyi kalian boleh istirahat, bapak tinggal dulu." ucap Pak Deni langsung pergi meninggalkan lapangan.


"Hayuk Sab kita duduk di sana!" ajak Reva sambil menunjuk ke bawah pohon yang rindang itu.


"Kita enggak olahraga Rev? Kan kata Pak Den-"


Lantas mereka berdua langsung duduk di sana sambil melihat anak laki laki yang sedang bermain basket. Mata Sabrina tak henti hentinya menatap laki laki yang selama ini ia suka. Mendribel bola dengan sangat keren, dan berkali kali menyetak poin. Sudut bibirnya itu melengkung ke atas membentuk senyuman.


"Heh Sab, lo ngapain senyum senyum sendiri?" tanya Reva sambil menyenggol bahu sang empu.


Sabrina membuyarkan lamunannya, melirik ke arah sahabatnya, "Enggak kok siapa juga yang senyum senyum." elaknya.


"Oh gue tau nih," Reva menjeda ucapannya sebentar, jari telunjuknya terangkat dan menunjuk ke salah satu laki laki yang sedang bermain basket. "Pasti lo lagi liat Vano kan?"


"Enggak Reva!" kekeh Sabrina.


"Ilih jangan bohong lo, gue itu tau lo bohong apa enggak. Orang mata lo dari tadi ngeliat ke arah Vano mulu. Apa? Mau ngelak? Tidak semudah itu ferguso."


Sabrina hanya mendengus kesal tertangkap basah, sedangkan Reva itu tertawa karena berhasil menjaili sahabat nya.


Tak kerasa setengah jam mereka hanya duduk di bawah pohon besar itu sambil menonton anak laki laki yang sedang bermain basket.


Sabrina berdiri dan membersihkan celana menggunakan tangannya, "Reva, ayo ke kantin. Bentar lagi bel istirahat mau bunyi toh?" ajak Sabrina.


"Ah bentar Sab, gue mager jalan nih. Kalau lo sahabat gue ya gendong lah." ucap Reva sambil membawa daun yang cukup besar untuk menjadi kipas.


Sabrina menghela nafasnya panjang, ia berdecak sebal lantaran sahabat nya itu selalu saja bilang mager. "Reva, kenapa sih mager terus? Ada ya orang jalan mager, olahraga mager, kalau nanti kita udah lulus terus kita cari kerja kamu bilang mager gitu?" Sabrina menggelengkan kepalanya, "Kalau kayak gini ya mana bisa sukses. Ayo ih, perut aku udah bunyi nih dari tadi."  ucap Sabrina panjang lebar dengan dahi yang mengkerut.


"Ya udah ayo ayo! Kuping gue udah mau pecah karena lo ngomong terus!" ucap Reva sambil menutup kupingnya.


Sabrina mengerucutkan bibirnya, dia berjalan meninggalkan Reva yang masih duduk di bawah pohon itu. Bodoamat, perutnya itu sekarang membutuhkan asupan makanan.


Sabrina berjalan melewati pojok lapangan, tangannya itu berada di dahi karena cahaya matahari itu sangat menyilaukan. Dia berjalan menunduk hingga tak sadar bola basket mengarah ke arahnya.


Reva yang melihat itu melebarkan matanya, "SABRINA AWAS!" teriaknya dengan melengking.


Sabrina yang tersadar akan bola basket mengarah ke arahnya, dia langsung berteriak dan menyilang kan kedua tangannya ke depan wajahnya. Tetapi beberapa menit kemudian, dia tidak merasakan apapun.


Dia membuka matanya, mendongak ke atas. Sabrina melihat laki laki yang berada di depannya itu dengan membawa bola basket yang akan mengenai nya tadi. Laki laki itu bernama Vano. Dari dekat laki laki itu tampannya berkali kali lipat. Jangkung nya yang naik turun serta keringat yang membasahi badannya itu menambah berkali kali lipat seksi nya.


"Bodoh!" ucap Vano langsung berjalan meninggalkan Sabrina yang masih mematung.


Reva langsung berlari menuju sahabatnya dan menangkup wajah Sabrina. "Lo gapapa kan? Gak ada yang sakit?" tanya Reva bertubi tubi.


Sabrina membuyarkan lamunannya, ia menggelengkan kepala. Kenapa dia memikirkan hal seperti itu?


"Hah? Aku enggak papa kok, nih kamu bisa lihat sendiri kan?" tanya Sabrina.


"Huh, untung tadi ada Vano yang nolongin lo, kalau enggak pasti kepala lo itu udah kena bola basket Sab." Reva menjeda ucapannya sebentar. "Ya udah kita ke kantin yok, gue juga udah laper!" ucap Reva langsung menarik pergelangan tangan milik Sabrina menuju kantin.