
Bel pulang telah berbunyi 5 menit yang lalu. Sabrina masih berada di dalam kelasnya sambil mencatat materi yang berada di papan tulis. Semua orang sudah meninggalkan kelas, hanya tersisa ia dengan anak yang bertugas piket.
Melirik ke arah pergelangan tangannya, ternyata sekarang jam menunjukkan pukul 14.25, ia langsung menulis materi itu dengan cepat. Sabrina takut, jika ia pulang terlalu sore mamahnya itu akan khawatir.
Sekitar 10 menit kemudian Sabrina telah menyelesaikan mencatatnya itu. Dia langsung memasukkan alat tulis nya ke dalam tas, tak lupa novel miliknya.
Setelah semua selesai, dia berdiri dari tempat duduknya dah berjalan keluar dari kelas. Sabrina celingukan ke sana kemari ternyata tidak ada siapa siapa, sepi hanya ada dirinya sendiri.
Menutup pintu kelas setelah itu langkah kakinya berjalan menuju parkiran sekolah. Di parkiran Sabrina melirik ke arah sekelilingnya, perasaan dia meletakkan sepeda miliknya itu di dekat tembok, tetapi sekarang sepeda nya itu tidak ada.
"Haduh sepeda aku kemana, masa bisa jalan sendiri sih?" gumam Sabrina sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Orang iseng matinya enggak bakal di terima sama Tuhan." geram Sabrina sambil menghentak hentakan kakinya.
"Hai, kenapa lo belom pulang?" tanya seorang laki laki itu.
Sabrina yang sedang menggerutu itu langsung mendongakkan kepala, melihat orang yang berada di depannya. Dia membenarkan kaca matanya yang sedikit miring. "O-oh itu aku lagi cari sepeda aku." jawab Sabrina gagu.
Laki laki itu mengerutkan dahinya, "Emang sepeda lo kemana?"
"Kalau aku tau ya udah aku cari, tapi dari tadi enggak ada. Emang nyebelin banget orang yang udah nyembunyiin sepeda aku." Sabrina mendengus kesal.
"Gue bantu cariin deh, siapa tau ketemu."
Sabrina menganggukkan kepala, "Oh ya nama kamu siapa sih?" tanya nya.
"Nama gue? Nama gue mahal. Lo mau bayar berapa emangnya?" jail laki laki itu sambil mengangkat alisnya.
"Ya udah kalau enggak mau kenalan juga enggak papa, enggak ngerugiin aku juga toh." jawab Sabrina acuh.
"Hahaha bercanda, gue Leonard William. Gue anak pindahan."
"Makanya kok aku enggak pernah liat muka kamu itu, ternyata anak pindahan toh Oh ya nama aku Sabrina."
"Namanya cantik kayak orangnya." celetuk Leon.
"Aduh mas, gombalnya enggak bisa yang berbobot sedikit apa? Aku gini gini pembaca novel lho, aku tau kriteria dan sifat cowok."
Leon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tersenyum kecut. "Tapi gue bukan raja gombal."
"Aku juga enggak nanya," Sabrina menjeda ucapannya sebentar. "Katanya mau bantu nyariin sepeda aku, kok kita dari tadi ngobrol mulu sih?"
"Ah iya iya, keasikan ngobrol sih." Leon tersenyum, reflek dia mendongak menatap ke pohon, ia terkejut. "Eh itu sepeda lo apa bukan?" tanya Leon sambil menunjuk ke atas pohon.
Sabrina membalikkan badannya dan menatap ke pohon, ia terkejut bukan main. "Iya itu sepeda aku, kok bisa ada disitu sih?" ucap Sabrina sambil berlari kecil menuju ke pohon tempat sepeda nya itu.
"Sama aja, kalau aku teriak teriak gak jelas sepeda aku gak bakal turun." Sabrina mendesah lesu.
Leon yang sedari tadi melihat cewek yang berada di depannya itu ngedumel tidak jelas hanya menggelengkan kepala. Ia berjalan ke arah pohon, melemparkan tasnya ke tanah dan dengan gesit dia memanjat pohon itu.
Sabrina melihat ke arah depan, "Leon ngapain?" tanya nya.
"Berak! Udah tau lagi manjat." jawab Leon sambil melihat ke bawah.
"Hati hati Leon!" teriak Sabrina.
"Lo minggir dulu Sab, daripada tubuh lo kena sepeda ini!" celetuk Leon yang diangguki oleh Sabrina.
Lantas Sabrina berjalan sedikit menjauh dari pohon itu, entah dia tidak mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Leon terhadap sepeda nya. Tetapi yang terpenting, sepeda miliknya itu bisa kembali kepadanya.
Brakkk
Sabrina meringis mendengar suara sepeda nya yang jatuh dari pohon. Lantas dengan cepat ia berlari kembali menuju kebawah pohon itu untuk melihat sepedanya yang sudah penyok. Setangnya itu sudah rusak, serta keranjang depan miliknya itu lepas.
"Maafin gue, nanti gue ganti sepeda lo." ucap Leon yang baru saja turun dari pohon.
Sabrina menggelengkan kepalanya, menghela nafasnya gusar. "Maafin Sabrina Pah." gumamnya.
"Ayo dah gue anterin pulang, udah sore juga." ajak Leon.
Sabrina yang sedang berjongkok itu mendongakkan kepalanya. "Aku bisa pulang sendiri kok. Kamu pulang duluan aja Leon." jawabnya lemas.
"Ya udah ayo!" Leon berjalan ke arah sepeda milik Sabrina. Sepeda itu sudah tidak bisa dijelaskan lagi, sudah rusak parah.
"Biar aku aja yang bawa. Kamu pasti capek." ucap Sabrina tangannya itu akan memegang setang sepedanya.
Leon melirik ke arah Sabrina, dengan cepat dia menepis tangan kecil milik cewek itu, "Udah lo tinggal jalan aja, ini biar gue yang urus."
Setelah itu hanya ada keheningan yang meliputi. Sabrina berjalan sesekali melirik ke arah samping, sedangkan Leon sedang menuntun sepeda milik Sabrina.
"Lo udah terbiasa diginiin?" ucap Leon memecah keheningan terjadi.
Sabrina melirik ke arah Leon, ia menganggukkan kepalanya. "Iya tapi kali ini yang paling fatal." jawabnya.
"Besok besok lagi kalau lo tau yang naruh sepeda lo di pohon, apa lo di bully ya di lawan aja."
"Sebenarnya aku sih mau lawan tap-"
"Tapi apa?" potong Leon.
"Tapi kayaknya sama aja, aku ngelawan sama enggak. Aku bakal tetap dibully sih, ya udah aku terima aja soalnya udah terbiasa." jawab Sabrina sambil tersenyum.
"Ck. Lo bodoh banget sih jadi orang." kesal Leon.
"Ya gimana ya, aku sebenarnya udah capek di bully terus. Tapi aku enggak papa kok, bentar lagi juga lulus toh. Kata mamah aku, kalau ada orang yang jahat atau enggak suka sama kita ya biarin aja, kita enggak usah balas, pasti nanti lama kelamaan orang itu bakal sadar kalau tindakan yang pernah dilakukan itu salah." ucap Sabrina panjang lebar.
Leon menganggukkan kepala, "Gue kira lo itu orangnya pendiem banget."
Sabrina yang mendengar itu tertawa kecil, "Sebenarnya aku orangnya pendiem kok, tapi enggak tau kenapa kalau sama kamu itu langsung ceplas ceplos. Kalau kamu enggak nyaman aku banyak omong bilang aja ya."
"Enggak gitu, gue malah seneng kalau bicara sama lo. Asik aja gitu." Leon menjeda ucapannya sebentar. "Omong omong, kenapa lo tadi pulangnya belakangan?" tanya nya.
"Oh tadi itu aku nulis materi dulu, ya jadi pulangnya agak belakangan." jawab Sabrina.
Leon menganggukkan kepala.
"Kamu udah berapa lama sekolah disini?" tanya Sabrina.
"Gue udah satu bulan kurang sedikit, eh tapi kok gue enggak pernah liat lo ya?" tanya Leon balik.
Sabrina tertawa kecil, "Aku itu orangnya pemalu, jarang keluar kelas apalagi ke kantin. Enggak tau malas aja sama keramaian, lebih enak sepi."
"Bisa dibilang introvert ya? Ya lo kan bisa ajak temen temen lo itu buat ke kantin."
"Aku itu enggak punya temen. Semua orang enggak mau temenan sama aku, eku juga enggak tau kenapa. Apa aku seburuk itu dimata mereka atau gimana aku juga enggak tau." Sabrina tersenyum kecil. "Tapi aku punya satu sahabat dari kelas sepuluh, pokoknya dia itu anaknya baik banget."
"Maaf ya gue gak ta-"
"Udah aku juga gapapa kok," Sabrina tersenyum tipis menatap ke arah Leon
Tak lama mereka berdua sampai di depan gerbang rumah bertingkat dua yang sangat elegan.
Langkah Sabrina berhenti, "Ini rumah aku. Makasih ya Leon udah bantuin aku, kalau enggak ada kamu, enggak tau aku bakal pulang kapan hahaha." ucap Sabrina sambil terkekeh diakhir kalimat nya.
"Tenang aja kok, nih sepeda lo." ucap Leon sambil menyerahkan sepeda milik gadis itu.
Sabrina menganggukkan kepala, dia menerima sepedanya. "Sekali lagi makasih ya."
Leon menganggukkan kepala, sebelum dia pergi tangannya itu merogoh saku celana dan mengambil handphone. "Gue boleh enggak minta nomor hp lo?" tanya Leon.
"Boleh." jawab Sabrina sambil mengambil handphone itu.
Dia mengetik nomornya itu ke handphone milik Leon, setelah selesai ia menyerahkan kembali handphone itu kepada pemiliknya.
"Ini udah." ucap Sabrina.
"Ok, thanks. Gue mau balik dulu ya." ucap Leon langsung berjalan pergi meninggalkan Sabrina yang masih berada di depan gerbang rumahnya.
Setelah Leon hilang dari pandangannya, Sabrina langsung membuka gerbang dah masuk ke dalam rumahnya.
Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang sedari tadi melihat interaksi nya dengan Leon. Orang itu memakai motor dengan memakai hoodie hitam dan helem untuk menutupi wajahnya.