ABOUT ME

ABOUT ME
Bab 7. Cemburu?



Pagi pagi Sabrina itu sudah bergulat dengan peralatan dapur. Dia ingin membuat nasi goreng, tapi kali ini nasi goreng sepesial untuk seseorang.


Nasi goreng akhirnya selesai juga, dia menyajikan nya di tempat makan berwarna pink.


Mulutnya itu terangkat ke atas membentuk senyuman. "Udah selesai, sekarang aku tinggal mandi terus berangkat deh!" ucap Sabrina.


Dia berlari kecil menuju ke kamarnya. Mamahnya masuk ke dalam dapur, dan melihat anaknya itu berlarian. Dia tidak memikirkan nya, dan mengambil air minum.


Duduk di meja makan, dan terheran heran. Anaknya itu pagi pagi sudah membuat nasi goreng, dan nasi goreng yang berada di tempat makan itu ada dua. Yang satu untuk siapa?


Balik lagi ke perempuan ini. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Sabrina langsung memakai seragamnya. Berjalan ke arah kaca dan mengepang rambutnya itu.


Mengambil kaca mata yang berada di atas meja dan memakainya. Sudah selesai, Sabrina langsung turun ke bawah dan tak lupa dia mengambil hoodie milik Vano.


"Ini buat siapa sayang? Kok kamu buat dua?" tanya mamahnya.


Sabrina yang baru saja masuk ke dalam dapur itu langsung menatap ke arah mamahnya yang sedang duduk di kursi. "Oh ini yang satu buat teman Sabrina mah, dan yang satunya lagi buat Sabrina." jawab Sabrina sambil tersenyum tipis.


"Ah yang bener? Itu buat temen apa temen?" tanya mamahnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Sabrina yang diledek itu mengerutkan dahinya, "Ini buat temen Sabrina kok mah." menjeda ucapannya sebentar. "Calon pacar mah." lanjutnya dalam hati.


"Iya iya mamah percaya, eh iya kamu berangkat bareng mamah ya? Sekalian mamah mau ke kantor." ajak mamah Sabrina panggil saja, Tanti.


"Em. Tap-"


"Mamah tunggu di depan ya." potong Tanti langsung berjalan meninggalkan anaknya.


Sabrina langsung mengambil tote bag dalam tasnya, dan memasukan dua nasi goreng itu ke dalamnya. Setelah selesai dia berlari kecil keluar rumah. Sepertinya mamahnya itu akan memarahinya jika ia terlalu lambat.


                              *******


"Belajar yang rajin ya sayang ya, jangan lupa kenalin ke mamah cowok kamu itu." setelah menjahili anaknya Tanti langsung melajukan mobilnya meninggalkan anaknya yang berada di depan gerbang sekolah dengan menekuk mukanya.


"Kalau bisa Sabrina bawa pulang mah, yang satu ini cowoknya itu kayaknya enggak suka sama Sabrina deh." gumam Sabrina.


Tak lama dia telah sampai ke dalam kelasnya Sabrina langsung menundukkan pantatnya ke kursi. Dia mengambil nasi goreng dan hoodie milik Vano.


Sabrina berjalan ke arah tempat duduk Vano yang berada di pojok dengan kedua tangannya itu membawa barang.


Dia meletakkan nasi goreng dan hoodie itu ke atas meja Vano. Setelah itu Sabrina langsung duduk kembali ke kursinya. Dan kelas sudah mulai ramai, dia melihat Vano berjalan ke arah kelas.


Matanya itu tak henti henti nya menatap ke arah Vano. Sabrina melihat Vano sedang mengambil nasi goreng yang ia letakan di meja.


Dahinya berkerut saat melihat Vano keluar kelas dengan membawa nasi goreng itu. Menghela nafasnya gusar, ia tahu nasi goreng nya pasti akan dibuang oleh Vano, dia sudah menduga nya dari awal.


Tak lama, bel masuk itu terdengar jelas ke indra pendengaran mereka. Semua murid yang sedang berada di koridor atau sedang tidak berada dikelas langsung berhamburan masuk ke dalam kelas. Termasuk Vano.


Guru pengampu datang dan langsung menjelaskan materi yang disampai bel istirahat pertama berbunyi. Mereka diperbolehkan untuk beristirahat, dan guru tersebut keluar dari kelas.


Apa aku tanya aja ya, batin Sabrina. 


Dia berjalan ke arah Vano yang sedang sibuk dengan handphone nya "Vano, tadi nasi goreng nya enak apa enggak? Itu aku buatin buat kamu, oh ya makasih ya buat hoodie nya, itu udah aku cuci."


Vano tidak menjawab, dia hanya mengangkat alisnya lalu berdiri dan keluar dari kelas.


Menghela nafasnya panjang. Langkah kakinya itu keluar dari kelas dan berjalan menuju tempat favorit nya, yaitu perpustakaan. Tetapi, saat di belokan, Sabrina dihadang oleh laki laki yang tak lain adalah Leon.


Sabrina tersenyum ramah, "ini, aku mau ke perpustakaan."


"Ngapain ke sana?"


"Masa gak tau sih, di perpustakaan ya baca buku lah Leon, masa jajan. Kalau jajan ya di kantin."


"Maksudnya, lo gak capek apa baca buku tiap hari?"


Sabrina menggelengkan kepala, "enggak kok, baca buku itu seru. Leon mau baca buku juga? Kalau iya ayo kita ke perpustakaan bareng."


"Hehehe enggak deh, gue mau ke kantin dulu. Bye!" ucap Leon langsung berlari menuju kantin. Sedangkan Sabrina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Setelah itu dia melanjutkan langkah nya itu ke perpustakaan.


Sabrina masuk ke dalam perpustakaan dan duduk di tempat favorit nya yang berada di pojok dekat dengan kaca.


Kondisi perpustakaan saat ini sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja. Itupun setelah meminjam buku langsung keluar.


Tetapi Sabrina tak mempermasalahkan, karena dia memang suka tempat yang sepi dan sunyi seperti saat ini.


Dia asik membaca sampai sampai tak sadar jika di samping nya itu terdapat laki laki yang membawa makanan.


"Hey, nih gue bawa roti sama susu strawberry."


"Eh Leon, ngagetin aja." Sabrina menatap tak sahabat ke arah laki laki yang berada di sampingnya yang tak lain adalah Leon.


"Hahaha maaf maaf, btw gue bawa roti sama susu nih buat lo. Di makan ya, gue tau dari tadi lo belom makan."


"Buat Le-"


"Udah terima aja, kalau gak gue marah nih."


Sabrina menganggukkan kepala, "eum, makasih ya Leon. Nanti uangnya aku ganti, soalnya aku gak bawa uang. Uangnya di tas."


"Alah gak usah diganti, kek sama siapa aja lo."


"Em sekali lagi makasih ya."


Leon mengangguk. Setelah itu ia berjalan menuju rak yang berisikan banyak sekali buku. Ada satu buku yang membuat Leon tertarik, tak berpikir lama ia ambil buku tersebut dan duduk kembali ke arah Sabrina.


Sabrina yang melihat Leon membawa buku itu langsung bertanya, "Leon baca buku apa?"


"Oh gue gak tau ini buku apaan, asal baca aja sih."


"Ouh." Sabrina hanya menganggukkan kepala.


"Maaf ya." Leon membersihkan selai yang berada di bawah bibir Sabrina dengan jempolnya.


Sedangkan Sabrina yang diperlakukan seperti itu langsung terkejut. Dan terbengong untuk beberapa saat.


"Heh! Kok malah bengong, tadi di ada selai di bawah bibir lo, btw maaf ya kalau gue lancang."


"Em, oke gapapa makasih ya."


Sabrina tersenyum ke arah Leon, dan begitu juga sebaliknya. Tetapi tidak dengan laki laki yang berada di depan pintu uks yang sedang menatap ke arah mereka berdua. Laki laki itu emosi dan langsung menendang tempat sampah yang berada di depannya, setelah itu pergi meninggalkan tempat ini.


"Eh itu suara apa?" tanya Sabrina. Leon mengangkat bahunya menandakan ia tidak tahu.