
Sabrina sedari tadi tak berhenti tersenyum. Menatap ke arah tote bag yang sedang ia bawa. Ah, dia jadi tidak sabar untuk memberikannya ke laki laki itu.
"Mah, Sabrina berangkat dulu ya, assalamu'alaikum." pamit Sabrina kepada Mamahnya itu.
Tanti yang sedang menonton televisi menoleh ke arah anaknya, "wa'alaikumsalam, hati hati ya nak."
Sabrina menganggukkan kepala. Gadis itu keluar dari pelataran rumah dan berjalan menuju halte yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Setelah sampai, dia langsung duduk di kursi yang ada di sana. Sambil menunggu bus datang, Sabrina memilih untuk bermain handphone.
Tetapi, ditunggu demi tunggu bus itu tidak datang juga. Sabrina mendesah lesu, mengedarkan pandangannya ke jalanan.
Melirik ke arah arloji yang berada di pergelangan tangannya. Ternyata, sekarang jam menunjukkan pukul 06. 50. Dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Ia memejamkan matanya sebentar, semoga aja ada ada malaikat penolong.
Tin tin
Sabrina membuka matanya, menatap ke atau sumber suara. "Vano?" celetuk Sabrina sambil mengangkat kedua alisnya.
"Naik." ucap Vano.
"Gapapa Van, aku nebeng kamu? Kalau kamu keberatan sih ga usah juga gapapa kok."
"Buruan Naik! Gak liat lo sekarang jam berapa?!" ucap Vano dengan nada suara yang sedikit tinggi.
Buru buru Sabrina berjalan ke arah Vano, dia langsung naik ke atas motor itu. "Udah Van."
"Pegangan, gue mau ngebut!"
Sabrina menganggukkan kepala, dengan hati hati dia memegang jaket milik laki laki itu, "ayo Van."
Tanpa aba aba, laki laki tersebut langsung melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata rata. Sabrina hanya bisa memejamkan matanya dan berdoa dalam hati.
Sesampainya disekolah, ternyata gerbang sudah tertutup.
"Vano, ini gimana?" tanya Sabrina bingung.
Vano tidak menjawab, dia malah melajukan motornya itu ke belakang sekolah. Dan di sini lah mereka berdua, berada di belakang sekolah yang dimana terdapat tembok yang menjulang tinggi didepannya.
"Van, kita mau manjat?" tanya Sabrina sambil menatap ke arah Vano.
Vano menganggukkan kepala, dia berjongkok di depan tembok. Menoleh ke arah belakang, "buruan naik."
"Aku takut Van."
"Lo mau naik apa gue tinggal disini sendiri?"
Sabrina menghela nafasnya panjang, mau tak mau dia harus naik di atas pundak milik laki laki itu.
Tote bag itu ia genggam dengan sangat erat, dan mulai lah Sabrina naik di atas pundak milik Vano.
Setelah itu Vano berdiri dan membuat jantung Sabrina berdegup dengan sangat cepat. Dia sangat takut dengan namanya ketinggian.
"Cepet lo naik langsung lompat." ujar Vano.
Dengan berat hati, Sabrina mengangkat kakinya itu untuk mencapai tembok. Dan yah dengan sekuat tenaganya, akhirnya sekarang dia sudah duduk di atas tembok.
Kemudian disusul oleh Vano. Laki laki itu dengan lihainya memanjat tembok, setelah sampai di atas, Vano langsung loncat turun kebawah.
"Buruan loncat!" perintah Vano.
"Aku takut Van, nanti kalau kaki ku patah gimana?" ucap Sabrina, seluruh badannya itu sudah gemetaran.
"Ganti sama kaki kambing! Buruan turun!" celetuk Vano dengan asal.
Sabrina mendengus sebal mendengar ucapan dari Vano. Menghela nafasnya panjang, tanpa lama Sabrina langsung meloncat.
Dan..... Kenapa dia tidak merasakan sakit? Sabrina membuka matanya dan mendongak ke atas, dia bisa melihat dari dekat wajah ganteng milik Vano.
"Ehem." Vano berdeham.
Sabrina membuyarkan lamunannya, dia langsung berdiri dan menjadi salah tingkah. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menatap ke arah Vano.
"Em.. Sekali lagi makasih ya Van."
"Ya." jawab Vano kemudian berjalan meninggalkan Sabrina sendiri di taman belakang sekolah.
Bibir Sabrina melengkung ke atas membentuk senyuman, dan berjalan menuju kelasnya dengan hati yang berbunga bunga.
Sesampainya di kelas, Sabrina langsung mendudukkan pantatnya di kursi. Untung saja, guru pengampu belum datang ke kelas nya.
Melirik ke arah meja Vano, dan ternyata meja itu kosong. Mengerutkan dahinya, "kemana Vano?" gumam Sabrina.
"Bawa sini Rev." Sabrina merebut kembali tote bag tersebut.
Reva duduk di kursinya, "pelit banget sih lo," menjeda ucapannya sebentar, "pasti buat babang Vano ya? Ngaku aja lo, iya kan?" goda Reva sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Sok tau kamu Rev."
Reva memutar bola matanya malas, "dih emang bener kan itu buat babang Vano tersayang icikiwirrrrr." ucapnya seraya mencolek dagu milik Sabrina.
"Suttttt udah diem, tuh Pak Arif dateng."
...*******...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Semua orang sudah berhamburan keluar kelas. Kecuali tiga orang yang berbeda jenis kelamin itu.
"Sab, lo pulangnya naik sepeda apa naik taksi?" tanya Reva.
Sabrina menatap ke arah Reva, "em naik taksi sih, emang kenapa?" tanya Sabrina balik.
"Bareng gue aja ya? Ya ya ya? Pleaseee." ucap Reva dengan muka memohon.
"Emmm gimana ya Rev, sebenernya aku ada urusan sebentar. Jadi mohon maaf nih, enggak bisa bareng kamu. Kapan kapan aja ya?"
Reva yang mendengar itu pun mendesah lesu, "oh gitu ya? Ya udah deh, tapi besok lo harus bareng gue ya? Kalau kagak, gue marah sama lo, titik! Gue duluan bye!" setelah mengucapkan itu, Reva langsung pergi meninggalkan kelas.
Sabrina tersenyum tipis melihat tingkah dari sahabatnya itu. Dan sekarang, tinggal dua orang yang berada didalam kelas, dirinya dan juga, Vano.
Sabrina melirik ke arah Vano, dia melihat laki laki itu sepertinya akan pulang sekarang.
"Vano sebentar!" teriak Sabrina ke arah Vano yang sudah berada di pintu kelas.
Vano membalikkan badannya dan menatap ke arah Sabrina, "paan?" tanyanya.
Sabrina berlari kecil ke arah Vano, lalu dia memberikan tote bag itu ke laki laki tersebut, "selamat ulang tahun Van." ucap Sabrina sambil tersenyum manis.
Vano menatap datar gadis yang berada didepannya, "gak usah repot repot, buat lo aja."
"Kenapa kamu gak mau terima hadiah ini Van? Apa kamu gak suka?"
"Enggak kenapa?"
"Tapi Van, seenggaknya kamu ngehargain aku gitu. Gapapa kami benci sama kamu, gapapa kamu gak suka sama aku, tapi please tolong terima hadiah ini ya?
Revan menghela nafasnya gusar, dia langsung merebut tote bag itu dan berjalan meninggalkan Sabrina.
Begini ya, rasanya selalu ada tapi gak pernah dianggap. Padahal, tadi pagi dia telah dibuat salah tingkah oleh laki-laki itu. Tetapi, sekarang, malah dibuat sakit hati karena ucapannya.
"Ngelamun bae lo." ucap Leon tiba tiba.
Sabrina membuyarkan lamunannya, "eh Leon, ngagetin aja."
Leon tersenyum tipis, "mau pulang bareng?" ajak Leon.
"Aku naik taksi aja."
"Alah lama." Leon langsung menarik pergelangan tangan milik Sabrina menuju ke parkiran dimana tempat motor Leon berada.
Sampai diparkiran, Leon menyerahkan helem miliknya ke Sabrina. Gadis itu menerimanya dan menatap ke arah Leon.
"Terus kamu pakai apa?" tanya Sabrina.
"Alah gue kagak usah pakai juga gapapa, yang penting lo aman gue jadi tenang." ujar Leon sambil tersenyum tipis.
Sabrina tersenyum tipis, lalu memakai helem itu. Kemudian, gadis itu naik dan duduk di jok motor milik Leon.
"Udah siap?" tanya Leon.
Sabrina menganggukkan kepala, "udah."
Leon langsung melajukan motornya keluar dari halaman sekolah. Kecepatan motornya itu sedang, karena dia ingin menikmati suasana di sore hari dengan gadis yang sudah membuat jantung nya berdebar dengan sangat kencang.
"Oh ya, gimana tadi. Si Vano nerima kado dari lo apa kagak?" tanya Leon.
Sabrina menghela nafas, "ya gitu deh." jawab Sabrina dengan nada lesu.
Leon bisa melihat wajah gadis itu berubah menjadi lesu dari pantulan spion. "gue kagak diberi juga nih?"
"Emang Leon ulang tahunnya kapan?"
"Masih bulan besok sih hehehe."