
..."Kau tahu? Monyet saja bisa bergelantungan di sana."...
...🌞🌞🌞...
Di depan kaca tampak gadis dengan bertelanjang dada. Hanya tinggal pakaian dalam yang dia tanggalkan. Maka, Yeoreum pun melepas ****** ********. Tidak ada sehelai benang yang melekat di tubuh itu.
Yeoreum tertawa, tetapi air mata terus mengalir di kedua belah pipinya.
"Kenapa kau harua hidup di sana?" ucap Yeoreum lirih. "Aku benci padamu!"
Gadis itu menggerakkan telunjuknya di depan kaca, berhenti pada bagian bawah lengannya dengan lemak yang bergelantung.
"Kau tahu? Monyet saja bisa bergelantungan di sana," ucap Yeoreun dengan nada yang sangat miris.
Kembali tangannya bergerak dan berhenti di bagian perut. "Kenapa dia harus tersimpan di sana? Babi saja pasti malas melihat tubuhmu, Yeoreum-ah!"
Lagi, Yeoreum tertawa dan memindahkan tangannya ke bagian paha. "Ya, Tuhan. Kalau ini daging ayam, kau akan dikirka ayam suntik!"
Yeoreum tidak kuasa lagi menahan beban tubuhnya. Dia tersungkur, meringkukdan melipat kaki. Dia menangis sejadi-jadinya.
Kini dia paham mengapa semua orang memandang dirinya begitu menjijikkan. Kini dia paham mengapa orang-orang tidak pernah melihat keahliannya. Karena memang dirinya sangat menakutkan!
Yeoreum mendongak, menatap ke sisi kiri. Ada tas jinjingnya yang terburai isinya. Paket obat pelangsing yang telah dia pesan. Dia segera mengambil dan membuka. Pil berwarna putih itu terlihat menakjubkan di mata Yeoreum.
Sebelum meminum, Yeoreum meminum obat itu, dia menunjuk kembali refleksi dirinya di kaca dan berkata, "Aku akan membunuhmu!"
Yeoreum tidak menghitung berapa pil yang dia tenggak. Dia langsung memasukkan mulit, lalu mengambil botol air agar pil-pil itu segera meluncur melewati kerongkongannya.
Dari balik pintu, Saerin mengetuk pintu. "Yeoreum-ah, apa kau sudah makan?"
Yeoreum tersenyum tipis, menghapus air matanya. Dia berjalan ke dekat pintu, tetapi sengaka tidak membuka. Dengan lembut dia berkata, "Sudah, Bu. Aku makan bersama Hyunseok."
Saerin tersenyum mendengarnya. "Besok kau kuliah pagi, kan? Akan Ibu siapkan bekal untuk besok."
Saerin melangkah dan Yeoreum berbalik menatap tempat tidurnya. Tentu dia tidak makan malam ini. Yeoreum tahu apa yang harus dia lakukan.
"Aku bukan Yeoreum yang sama lagi!" ucapnya, lalu menuju kasur dan menarik selimut.
"Selamat tidur, Han Yeoreum."
...🌞🌞🌞...
Begitu sampai kampus, Yeoreum langsung menuju kamar mandi. Dia masuk ke bilik toilet dan menyalakan air. Tadi pagi, sang ibu menyuruhnya sarapan. Maka, sekarang dia sedang menyodok-nyodok mulutnya agar dapat memuntahkan makanan.
Pahit. Itulah yang Yeoreum rasakan saat mengeluarkan isi perutnya. Karena baru saja masuk, makanan itu belu tecerna dengan baik. Jadi, Yeoreum masih bisa melihat bagian-bagian dada ayam dan kentang yang keluar. Hidungnya basah dan terasa masam. Yeoreum segera keluar bilik dan menuju wastafel. Dia membasuh wajah. Hidungnya tampak merah dari pantulan kaca.
Yeoreum mengambil air putih dari tasnya, lalu meminum sedikit. Dia megeluarkan pil pelangsing dan meminum kembali dua butir.
Seusai memoles make-up,Yeoreum berjalan menuju kelas. Di kelas ternyata sudah ada Hyunseok. Lelaki itu menyediakan satu tempat kosong yang memang biasa dia 'jaga' untuk Yeoreum. Gadis itu terdiam dengan muka datar sesaat sebelum mengubah ekspresi dan memberikan senyum terlebarnya.
"Selamat pagi," sapa Yeoreum dengan wajah ceria. "Kau sudah mengerjakan tugas mencari jurnal kemarin?"
Hyunseok bernapas lega karena Yeoreum bersikap wajar. Namun, tetap saja rasa penasaran mengusik dan membuat Hyunseok bertanya, "Kenapa kemarin kau langsung pergi tanpa pamit? Apa aku melakukan kesalahan?"
Yeoreum tengah fokus mengeluarkan buku, kini meneleng ke arah Hyunseok. Mata mereka beradu. Yeoreum berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.
"Ah, kemarin Ibu meneleponku. Ada barang yang harus aku ambil. Maaf pergi terburu-buru, aku takut mengganggumu."
Mata Hyunseok memicing. Setahu dia, ibu Yeoreum sangat jarang untuk menyuruh Yeoreum mengambil barang seperti itu karena ibu Yeoreum akan melakukan pesanan yang bisa langsung diantar ke rumah. Praktis untuk wanita karier seperti ibu Yeoreum.
"Tumben Ibu memintamu mengambil barangnya," ucap Hyunseok.
"Ya, Ibu salah memencet pesanan. Malah harus mengambil ke kantor ekspedisi. Karena aku sedang di luar, jadi Ibu meminta tolong padaku."
Hyunseok mengangguk. Alasan yang masuk akal.Kesalahan pembelian barang *online *pasti bisa terjadi, apalagi dalam keadaan buru-buru.
"Syukurlah. Kupikir kau marah padaku."
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku marah padamu," ucap Yeoreum dengan nada yang makin kecil. Dia lalu kembali menghadap papan tulis dan berpura-pura membuat catatan kuliah.
"Yeoreum-ah," panggil Hyunseok. "Apa kau ... akan ikut audisi teater bulan depan?"
Yeoreum berhenti menulis, masih dengan pandangan ke depan dia menjawab. "Tentu saja. Bukankah ini kesempatan emas?"
"Ya. Apa pun akan kulakukan. Bukankah setiap orang akan seperti itu untuk mengejar impiannya?" ucap Yeoreum seraya tersenyum menghadap Hyunseok. Lelaki itu jadi kikuk. Tentu dia tidak bisa menjawab karena dia sendiri tidka tahu apa arti 'impian' dalam hidup. Karena setelah ini, dia akan mengubur 'mimpi' demi menyelamatkan dirinya dan keluarga.
"Baguslah. Semoga kau berhasil."
Yeoreum mengangguk dan kembali fokus pada buku catatannya. Tanpa sepengetahuan Yeoreum, Hyunseok memperhatikan ransel Yeoreum yang masih belum tertutup sempurna. Tidak ada bekal kotak makan di sana. Ini sangat aneh. Padahal, hari ini jadwal Yeoreum hingga sore. Tidak mungkin ibu Yeoreum tidak menyiapkan bekal.
Namun, belum sempat membuka suara untuk bertanya, dosen telah memasuki kelas. Hyunseok pun mengurungkan diri untuk bertanya.
...🌞🌞🌞...
"Yeoreum, tunggu!" seru Hyunseok kala Yeoreum bersiap untuk keluar kelas. "Kau mau ke mana?"
"Ke perpustakaan," jawab Yeoreum.
"Untuk apa?"
"Mencari bahan tugas mata kuliah kita tadi."
Hyunseok mengangguk, meski ada kecurigaan besar dalam dirinya. "Kau tidak makan dulu?"
"Nanti saja, sebelum kelas kedua," balas Yeoreum. "Aku pergi dulu. samapi bertemu besok."
Yeoreum bergegas pergi tanpa menyediakan kesempatan Hyunseok untuk bertanya lagi. Pada saat yang sama, notifikasi pesan masuk. Jungwoo telah menanti kehadiran Hyunseok.
Sebenarnya, Hyunseok tidak ingin melihat wajah lelaki itu. Namun, hari ini adalah titik balik kehidupannya. Meninggalkan ruangan kelas, Hyunseok menuju halte dan menunggu di kursi. Cuaca mulai terasa dingin karena musim gugur mulai datang. Angin bertiup, menerbangkan dedaunan yang mulai berubah cokelat. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar dengan cepat, seakan-akan tidak ada lagi waktu bersantai. Kehidupan dewasa sungguh di luar dugaan Hyunseok. Hanya kegagalan demi kegagalan yang dia rasakan saat ini. Namun, di sisi lain dia dipaksa untu terus berlari, entah mengejar titik finis ke mana.
Menaiki bus, Hyunseok duduk sendiri. Karena bukan waktu jam kerja, tidak terlalu ramai orang di dalam bus. Hyunseok hanya terus memandangi jalanan yang dilewati bus hingga sampai di kafe tempat pertama kali bertemu dengan Jungwoo.
Seperti *de javu, *saat memasuki kafe, Jungwoo sudah duduk di meja yang menghadap ke pintu. Jas dan kemeja yang digunakan sama seperti saat pertama kali mereka berbicang dengan dua gelas kopi di depan kursi masing-masing.
"Silakan duduk," ucap Jungwoo saat Hyunseok datang.
Hyunseok melepas jaketnya dan menaruh di atas paha. Hal yang berbeda, di depan Hyunseok sekarang bukan es *americano, *melainkan americano panas.
"Musim gugur, tentu lebih enak minuman hangat, bukan?" ucap Jungwoo seperti mengerti isi pikiran Hyunseok.
"Aku bisa minum apa saja," sahut Hyunseok, lalu meminum americano tersebut. Hanya 1/4 gelas, lalu dia kembali fokus pada Jungwoo.
"Jadi, mana perjanjian yang harus kutandatangani?" tanya Hyunseok.
"Anak muda memang selalu tidak sabaran, ya," imbuh Jungwoo. Pria itu lalu mengeluarkan map dan memberikan pada Hyunseok.
"Bacalah. Aku tidak ingin dianggap penipu olehmu. Kau bisa pegang janjiku. Aku juga sudah menyediakan satu poin kosong yang bisa kau tulis sebagai syarat."
"Aku tidak perlu membacanya," jawab Hyunseok. "Aku tahu kau orang berkepentingan dan tidak akan berbohong."
Jungwoo menyeringai. "Kau membuatku tersanjung. Jadi, apa yang kau inginkan?"
Hyunseok menarik napas sebelum berkata, "aku yakin kau sudha tahu dari Senior Kyungmin bahwa pementasan drama kami akan dilakukan kembali. Bisakah kau menjadi juri untuk pementasan tersebut dan meloloskan Han Yeoreum sebagai pemeran utama wanita?"
Jungwoo sedikit terkejut, tetapi kemudian tersenyum. "Han Yeoreum? Siapa dia? Kekasihmu?"
"Hubungan kami bukan urusanmu. Kau hanya perlu meloloskan dia. Agar tidak ada kecurigaan perekrutanku, aku minta kau menawarkan kami berdua menjadi artis BigStar setelah pementasan."
"Hanya itu syarat darimu?" tanya Jungwoo. "Tapi, bukankah itu adalah nepotisme. Kupikir kau bukan orang yang suka hal seperti itu."
Jungwoo tertawa, mengalirkan nyeri di ulu hati Hyunseok. Hari ini Hyunseok memang berubah. Idealismenya runtuh karena keadaan. Uang mengubah sifat manusia dan kini Hyunseok mengerti hal tersebut. Di sisi lain, Hyunseok tidak ingin memberi luka pada Yeoreum. Dia tahu cara inilah yang bisa dia lakukan agar smeua orang bisa melihat potensi Yeoreum dan dengan cara ini pula, Yeoreum tidka akan curiga jika Hyunseok menerima tawaran menjadi artis BigStar. Dia bisa berpura-pura ikut dengan dalih menemani Yeoreum. Sama seperti dalih saat dia memilih jurusan teater.
"Tolong penuhi janjimu untuk membiayai seluruh pengobatan ibuku smapai aku bisa menghasilkan uang sendiri," ucap Hyunseok pelan.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," ujar Jungwoo. "Kau bisa tanda tangan di sini."
Hyunseok langsung mengambil pulpen yang diserahkan Jungwoo dan menandatangani surat perjanjian mereka. Seusai tanda tangan, dia siap-siap untuk pergi.
"Aku akan berbicara dengan Senior Kyungmin. Tolong terima penawaran dia nanti. Terima kasih."
Hyunseok membungkuk 90 derajat, lalu berbalik dan meninggalkan Jungwoo.
"Permainan akan segera dimulai," ucap Jungwoo.