A Lovely Happiness In Summer

A Lovely Happiness In Summer
#7 Kekecewaan



..."Aku tidak boleh gagal. Tidak!"...


...🌞🌞🌞...


Yeoreum sudah lupa sejak kapan dia jadi sering memandang timbangan berat badan. Hari ini, sudah lima kali dia mengukur berat badan. Padahal, dia sudah berusaha disiplin makan dan olahraga, tetapi kenapa berat badannya justru bertambah? Dalam satu bulan ini tidak terlalu banyak perubahan pada berat ban Yeoreum. Hal ini begitu mengusik Yeoreum. Terlebih, sekarang Hyunseok menjadi susah dihubungi. Dalam sebulan ini pria itu sudah absen mengawasi pola diet dan olahraganya. Seusai kelas, Hyunseok akan langsung buru-buru pergi dengan alasan akan mengajar. Tentu, Yeoreum memaklumi. Namun, dalam keadaan seperti ini, dia ingin mendapat dukungan dari Hyunseok. Yeoreum tidak tahu harus bercerita pada siapa karena teman kepercayaannya hanya lelaki itu.


"Aku tidak boleh gagal. Tidak!" jerit Yeoreum. Gadis itu pun membuka internet. Dia mencoba mencari solusi sendiri. Audisi pemeran utama tinggal sebulan lagi dan dia harus sudah berada di berat badan ideal saat itu. Pola dietnya yang sekarang tidak menghasilkan apa-apa dan itu membuat Yeoreum frustrasi.


Saat sedang berselancar di dunia maya, dia menemukan web yang menjual obat pelangsing dan menjamin dapat menurunkan berat badan 20 kilogram dalam dua minggu. Dia juga melihat tips-tips diet yang diberikan. Sangat berbeda dengan pola makan yang Hyunseok berikan.


"Segelas susu dan sebuah pisang," gumam Yeoreum. Yeoreum merasa ini adalah titik baliknya lagi. Tanpa berpikir panjang, dia langsung membeli obat pelangsing tersebut. Agar tidak ketahuan sang ibu, Yeoreum memilih pengambilan paket sendiri. Jika ibunya sampai tahu, Yeoreum pasti tidak akan selamat.


Setelah melakukan pembayaran, Yeoreum bersiap-siap. Paketnya bisa diambil dalam waktu dua jam dari saat dia memesan. Gadis itu ingin mengunjungi Hyunseok terlebih dahulu sembari menikmati semilir angin musim gugur.


Yeoreum berusaha menghubungi Hyunseok melalui telepon. Untungnya, kali ini lelaki itu menjawab.


"Hai, apa kau sedang ada di studio tari?" tanya Yeoreum kala mendengar suara lagu yang terputar dari seberang telepon. Suara itu mulai menghilang karena Hyunseok beranjak ke luar.


"Ah ... Yeoreum. Maaf, aku sedang ada di studio. Ada apa?"


"Tidak, aku hanya ingin mengunjungimu. Apa boleh?"


Hyunseok tertegun, dia sampai lupa kalau Yeoreum tengah menunggu jawabannya.


"Halo, Hyunseok. Halo?" ucap Yeoreum.


"Eoh ... ya. Kau bisa ke sini. Aku selesai mengajar jam delapan."


Senyum terbit dari wajah Yeoreum. Gadis itu segera mengmbil jaketnya selepas mematikan telepon. Dia memoles wajahnya dengan krim, bedak, perona pipi, dan lipstik pink muda. Yeoreum memilih baju berwarna earth tone agar selaras dengan suasana musim gugur kali ini.


Membutuhkan waktu 25 menit menggunakan bus, akhirnya Yeoreum sampai di studio. Saat dia datang, sudah ada Hyunseok di depan studio. Yeoreum berlari kecil menghampiri.


"Kenapa kau di sini?" tanya Yeoreum.


"Tentu saja aku menunggumu."


"Bukankah kau harusnya kembali mengajar?" tanya Yeoreum bingung.


"Aku menyuruh mereka untuk menghafalkan gerakan selama 45 menit. Jadi aku bisa meninggalkan mereka."


Yeoreum tertawa, menyikut lengan Hyunseok. "Dasar curang!"


Hyunseok menanggapi dengan tawa yang sama lebarnya. Dia pun mengajak Yeoreum masuk studio. Mereka melewati lorong, lalu menaiki tangga di sisi kiri. Ruangan latihan ternyata berada di lantai dua. Sambil berjalan mereka pun berbincang.


"Akhir-akhir ini kau sangat sibuk," ujar Yeoreum.


"Begitulah. Aku melatih trainee idol. Sebentar lagi akan ada evaluasi untuk penentuan line up  debut. Jadi, aku banyak meluangkan waktu untung mereka."


Yeoreum menganga. Dia baru tahu bahwa Hyunseok mengajar para trainee idol. "Idol? Hebat sekali."


Hyunseok hanya mengangguk kecil. "Seniorku dulu di klub tari adalah pelatih mereka. Jadi, aku diminta bantuan untuk menjadi asisten pelatih. Bayarannya juga lumayan."


Mendengar hal itu membuat Yeoreum merasa aneh. Hyunseok sangat jarang berbicara padanya perihal uang. Karena yang dia tahu, lelaki itu selalu melakukan hal yang dia suka tanpa memikirkan uang. Lagi pula, Hyunseok lahir dari keluarga berada dan harusnya uang bukan jadi prioritas Hyunseok mengajar, pikir Yeoreum.


"Jadi, kapan kau akan mengawasi dietku lagi?" tanya Yeoreum, berusaha mengganti topik pembicaraan.


Hyunseok berhenti melangkah tepat di sebuah ruangan. Dia memandnagi Yeoreum dari atas hingga bawah. "Kau ... terlihat hebat! Kau berubah banyak," ucap Hyunseok, lalu mengelus rambut hitam Yeoreum.


"Bohong! Berat badanku naik tiga kilo minggu ini?"


"Benarkah? Kau terlihat luar biasa. Kau hanya perlu sabar. Bukankah kau juga olahraga angkat beban? Mungkin saja itu berat otot," ucap Hyunseok berusaha menenangkan.


Yeoreum menghela napas. Bukan ini yang ingin dia dengar dari lelaki itu. Dia yakin tidak ada perubahan dalam dirinya. Hyunseok hanya ingin menghiburnya. Namun, rasa kesal tersebut tidak bisa Yeoreum utarakan karena saat dia hendak berbicara, pintu ruang latihan dibuka dari dalam. Seorang remaja perempuan datang menghampiri Hyunseok.


"Songsae-nim, kami sudah selesai menghafal gerakannya."


"Baiklah, kita akan mulai latihan lagi," jawab Hyunseok.


Lelaki itu kemudian mengajak Yeoreum masuk menuju sisik kiri ruangan. Di sana ada banyak ransel tersusun dan Yeoreum yakin itu adalah milik para trainee. Di dalam ruangan berukuran 16 x 12 meter tersebut terdapat banyak kaca yang digunakan para trainee untuk memperhatikan detail gerakan. Ada sekitar sepuluh trainee yang masih fokus berlatih. Ternyata, para trainee ini adalah calon anggota girl group.


Gadis yang memanggil Hyunseok tadi berlari kecil ke arah Yeoreum. Dia membuka salah satu ransel, lalu mengambil botol minum. Yeoreum memperhatikan gadis itu. Dia berlatih menggunakan crop top yang memperlihatkan perut rata. Yeoreum tertegun memandangi tubuh itu, tubuh impiannya.


Merasa diperhatikan, si gadis pun menoleh. Dia menatap bingung. "Nuna-nim, apa ada yang salah denganku?"


Yeoreum langsung tersadar. "A-ah ... tidak. Tidak ada."


"Fighting!" seru Yeoreum sambil menunjukkan tangannya yang mengepal memberi semangat.


"Apakah Nuna teman Hyunseok Songsae-nim?"


Yeoreum mengangguk. "Hyunseok Songsae-nim adalah idola kami. Dia sangat sabar dan ... tampan," ucap Sooyoung malu-malu.


Senyum Yeoreum seketika meredup. Dia memandangi Hyunseok yang tengah memegang tangan salah satu trainee sembari memperagakan gerakan. Gadis yang dibantu Hyunseok menggunakan celana training dengan tank top berwarna hitam. Terlihat sangat memesona, terlebih rambut hitamnya tergelung, menampakkan leher jenjang tanpa tertutup lipatan lemah di wajah seperti Yeoreum. Jika Hyunseok dan gadis itu menjadi pasangan, mereka akan jadi pasangan dengan visual yang memukau.


Yeoreum makin menyadari bahwa fisiknya sangat jauh dengan gadis-gadis itu. Mungkinkah ini menjadi alasan Hyunseok menghindarinya dan lebih memilih menghabiskan waktu di studio? Jika dia yang berada di sisi Hyunseok, hanya akan menurunkan derajat lelaki itu. Yeoreum benci fakta tersebut. Dia muak.


Tanpa berpamitan dan memang Hyunseok tidak memperhatikan, Yeoreum langsung berdiri meninggalkan ruangan. Dia tidak ingin melihat Hyunseok hari ini. Yeoreum hanya ingin mengurung diri di kamar.


...🌞🌞🌞...


Hyunseok masih berada di depan studio tarinya sambil menelepon Yeoreum. Sayangnya, panggilan Hyunseok tidak diangkat. Lelaki itu menggeram frustrasi. Yeoreum pergi tanpa pamit dan ini bukanlah kebiasaan gadis itu. Pasti ada kesalahan yang dia lakukan hingga gadis itu tidak mau juga menerima panggilan.


Saat Hyunseok hendak melakukan panggilan lagi, tiba-tiba di hadapannya muncul sosok Jungwoo yang menghentikan mobil.


"Lama tidak bertemu," ucap Jungwoo.


Hyunseok langsung beranjak, tetapi Jungwoo dengan cepat keluar mobil dan mencegah.


"Tunggu!" seru Jungwoo. "Kenapa kau harus menghindariku?"


"Aku sudah mengatakan, aku tidak tertarik dengan penawaranmu."


Jungwoo menyeringai. "Tapi, setelah ini aku yakin kau akan berubah pikiran."


Jungwoo mengeluarkan sebuah kertas dari saku jasnya dan memberikan pada Hyunseok. Dengan cepat, Hyunseok membuka kertas tersebut. Betapa terkejutnya dia membaca isinya. Di dalam kertas itu tertera nama sang ibu yang telah melakukan cuci darah dan akan terjadwal kembali besok.


"Bohong! Kau pasti sengaja memalsukan ini semua, kan?" seru Hyunseok seraya melempar kertas tersebut.


"Untuk apa aku melakukannya? Adikmu yang memberiku kertas itu. Dia sengaja tidak menceritakan padamu karena tidak ingin membebanimu."


Memang selama sebulan ini segala urusan perawatan dan pemeriksaan sang ibu, Hyunseok serahkan pada Chaerin sehingga lelaki itu dapat fokus mencari uang. Chaerin selama ini pun selalu mengatakan hasil pemeriksaan sang ibu baik. Chaerin juga tidak pernah meminta uang tambahan mengenani cuci darah ini. Lalu bagaimana sang adik bisa membayar semua?


Pertanyaan yang hinggap itu perlahan terjawab saat Hyunseok melihat Jungwoo mengangguk. "Ya, adikmu datang padaku untuk meminta bantuan dana. Dia tidak pernah mengembalikan uang yang sempat kau suruh karena dia tahu uang itu sangat penting untuk ibumu."


Hyunseok tertegun. Ada hal apa lagi yang disembunyikan darinya?


"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Hyunseok dengan suara lirih.


"Karena aku butuh dirimu."


"Kau bisa mencari orang lain. Ada banyak talenta lain yang lebih bagus daripada diriku. Kenapa kau menginginkan diriku? Jawab!"


Jungwoo menggeleng. "Tidak ada yang sesempurna dirimu untuk menjalankan misiku."


Hyunseok mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti arah pembicaraan pria berusia pertengahan 30 tahun tersebut.


"Kau akan mengerti nanti. Yang terpenting kau setuju bekerja sama denganku, aku akan membantu seluruh biaya pengobatan ibumu."


Hyunseok terdiam. Kepalanya sudah berdenyut hebat dengan semua hal ini.


"Setelah kau sukses, kau bisa menggunakan uangmu sendiri," ucap Jungwoo. "Apa kau tega membunuh ibumu perlahan?"


"Cukup!" seru Hyunseok seraya mengepalkan tangan. Kata-kata itu begitu menghantam dirinya. Dia serasa seperti anak egois yang lebih mementingkan diri sendiri.


"Apa aku bisa memegang kata-katamu?" sambung Hyunseok.


"Tentu. Kalau kau perlu hitam di atas putih, aku akan menyediakannya."


Hyunseok memejamkan mata, lalu menarik napas. "Apa aku boleh mengajukan syarat jika aku menerima tawaranmu?"


Jungwoo tersenyum penuh arti, seakan-akan bisa menebak apa yang ada di kepala Hyunseok. "Tergantung permintaanmu. Tapi, selama itu tidak mengganggu rencanaku, mungkin akan kuizinkan."


Mengangguk paham, kemudian Hyunseok berkata dengan pasrah 'Aku setuju."


Jungwoo berjalan mendekat Hyunseok, menepuk pundak lelaki itu. "Besok temui aku di tempat kita pertama kali bertemu. Tuliskan syarat yang kau mau dan aku akan menambahkan dalam surat perjanjian kita. Setelah itu, aku akan mengirim uang untuk pengobatan ibu."


Sambil berjalan kembali ke mobil, Jungwoo berucap, "Terima kasih, Jung Hyunseok."