A Lovely Happiness In Summer

A Lovely Happiness In Summer
#2 Ketulusan



..."Katakan padaku, apa definisi cantik untukmu?"...


...🌞🌞🌞...


Hyunseok benci kebisuan Yeoreum. Selepas dari acara penulis Seonhwa gadis itu bagai patung. Hanya Hyunseok yang dapat membuatnya bergerak. Bahkan, ketika ditawari untuk makan ramyeon bersama, gadis itu menolak. Padahal, ramyeon adalah 'Dewa Makanan' yang tidak boleh ditolak, begitu ucap Yeoreum setiap kali mereka berencana makan bersama.


Hyunseok tahu pasti kata-kata dari gadis yang menghina Yeoreum menjadi penyebab gadis itu sunyi. Namun, biasanya Yeoreum akan cepat melupakan hal seperti ini dan kembali tertawa dengan candaan Hyunseok. Sayangnya, hingga mereka sampai di depan rumah Yeoreum, tidak ada lelucon yang membuat gadis itu mengangkat bibir.


"Sudah kubilang, lupakan kata-kata mereka. Kenapa kau seperti ini?" ucap Hyunseok dengan nada tidak sabaran.


Perlahan Yeoreum menghadap pada Hyunseok. Wajahnya datar, tetapi tersirat kemarahan dari kedua matanya.


"Katakan padaku, apa definisi cantik untukmu?" tanya Yeoreum.


Alis Hyunseok mengerut. Dia tidak menyangka pertanyaan itu yang justru keluar dari mulut Yeoreum.


"Kenapa? Kau tidak punya jawaban?" tanya Yeoreum lagi dengan nada sarkatis.


"Aku punya jawabannya, tapi apa itu sangat penting untukmu untuk mendengar jawabannya?"


"Sudah, jawab saja pertanyaanku, Jung Hyunseok!"


Nada meninggi Yeoreum membuat Hyunseok tersentak. Tidak pernah dia mendapati Yeoreum seemosional ini. Apakah kata-kata para gadis tadi benar-benar mengubah cara pandang Yeoreum?


"Bagiku kecantikan abadi adalah ketulusan menyayangi dan menghormati orang lain. Karena fisik kita akan selalu berubah."


Yeoreum tertawa sinis. "Ah ... begitukah? Jadi bagimu kecantikanku hanya datang dari 'menyayangi' dan 'menghormati' orang lain? Bukankah orang yang terus diinjak-injak juga bisa berubah menjadi penjahat paling kejam? Lalu, apa yang abadi?"


Kata-kata Yeoreum berhasil menaikkan bulu kuduk Hyunseok. Namun, lelaki itu pun tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Sepertinya, apa pun kata yang akan dia keluarkan untuk mempertahankan argumen akan ditolak mentah-mentah Yeoreum.


"Aku tidak mengerti denganmu hari ini. Sepertinya kau butuh istirahat."


Yeoreum diam. Dia pun melangkah meninggalkan Hyunseok tanpa mengucap pamit. Namun, dalam langkah itu dia terus bergumam, "Ya, kau tidak akan pernah mengerti diriku."


...🌞🌞🌞...


Yeoreum baru menyelesaikan kelas saat Kyungmin tiba-tiba berlari ke arahnya. Napas lelaki itu masih tersenga-sengal dan berusaha mengatur napas saat tiba di hadapan Yeoreum.


"Yeo-Yeoreum-ssi, a-apa ... kau sedang sibuk?" tanya Kyungmin.


"Ti-tidak. Ada yang bisa kubantu?"


"Aku ingin bicara denganmu dahulu. Bagaimana kalau kita bicara di sana?


Kyungmin menunjuk area di bagian tengah kampus. Tempat itu memang biasa digunakan para mahasiswa untuk duduk sambil menunggu mata kuliah berikutnya. Area tersebut berupa semen berbentuk lingkaran dengan tangga-tangganya dijadikan tempat duduk, sedangkan bagian paling bawah datar. Terdapat beberapa kursi dan panggung kecil berbentuk balok di bagian bawah tersebut. Panggung itu sering digunakan untuk orasi organisasi kampus ataupun tempat latihan bagi mahasiswa yang akan melakukan ujian praktik. Hal menyenangkan lainnya, area ini dikelilingi oleh pohon tinggi yang rimbun. Jadi, tidak perlu khawatir jika udara panas seperti sekarang. Mereka masih akan merasakan kesejukan.



Kyungmin dan Yeoreum pun duduk di area tangga yang kosong. Rambut panjang Yeoreum yang diikat kucir dua ikut berjingkat-jingkat saat Yeoreum menuruni tangga. Rasanya Yeorum seperti membawa karung beras setiap menuruni anak tangga. Napasnya kini yang tersengal-sengal. Kenapa juga seniornya ini harus memilih daerah tangga paling bawah?


Kyungmin sudah sampai bawah, dia lalu menghadap atas dan melihay Yeoreum. "Apa kau perlu bantuan?"


Yeoreum menggeleng. Dia pun berusaha untu dapat turun segera. Begitu sampai di tempat sang senior, Yeoreum langsung mendudukkan diri. Dia mengambil bekal air putih dari tas dan meminum dengan cepat.


Kyungmin lekas mengambil posisi di sebelah Yeoreum. "Maaf, sudah membuatmu repot."


"A-ah ... tidak, i-ini bukan salah Senior Kyungmin."


"Aku ingin berbicara soal pementasan teater klub kita."


Yeoreum menatap bingung seniornya.


"Kau jadi, kan, mengambil peran dayang-dayang?" tanya Kyungmin.


Yeoreum mengangguk.


"Lalu, bagaimana dengan Hyunseok? Apa kau sudah berbicara padanya."


"Soal itu ... kami belum be-belum mengobrol. Jadwa kelas kami berbeda."


Kyungmin mengangguk. "Tapi, apa kau bisa bertemu dengannya hari ini? Kumohon bantu kami. Waktu pementasan sebentar lagi. Akan sulit mencari pengganti Hyunseok sebagai pemeran utama. Dia yang terbaik di jurusan teater. Kau tahu, kan? Demi kesuksesan kita. Tolong bujuk Hyunseok. Aku tahu dia hanya luluh padamu."


Yeoreum menghela napas. Beginilah dirinya. Akan selalu jadi burung merpati penyampai pesan untuk Hyunseok. Entah itu dari senior ataupun junior yang sulit berbicara pada Hyunseok karena sifat lelaki itu. Terlalu keras kepala dan sulit ditembus.


"Akan kuusahakan," jawab Yeoreum.


"Terima kasih. Aku harap kau bisa membujuknya. Kau adalah pahlawan klub kita," kata Kyungmin, lalu tersenyum. "Oh, ya, aku ada kelas lagi setelah ini. Sabtu ini kita akan latihan. Aku tunggu kau dan Hyunseok datang."


Kyungmin melambaikan tangan dan bertepatan saat Kyungmin pergi, dari seberang tempat duduk Yeoreum yang berjarak 100 meter, Hyunsoek memperhatikan. Mereka bersitatap. Seperti saling mengirim sinyal, Yeoreum tetap duduk di tempatnya dan Hyunseok mendatangi gadis itu. Dia langsung mengambil tempat yang sebelumnya diduduki Kyungmin.


"Ada keperluan apa kau dan Senior Kyungmin?" tanya Hyunseok tanpa basa-basi.


"Pembicaraan soal klub drama."


"Tumben, Bukannya dia jarang berbicara denganmu."


"Ya, ini soal pementasan drama. Aku menerima tawaran sebagai dayang-dayang."


Hyunseok mengangguk. "Kalu itu memang membuatmu senang, lakukan saja."


"Dia juga menitipiku untuk bisa mengajakmu," kata Yeoreum.


"Aku sudah bilang, aku tidak ingin terlibat lagi."


Yeoreum menghela napas. "Bisakah kau membantuku sekali lagi? Permintaan mereka sangat membebaniku."


"Kalau kau memang merasa terbebani, tolak! Kenapa kau harus mengiakan semua permintaan orang?"


"Karena itu satu-satunya hal yang membuatku dihargai. Dan bisakah kau bekerja sama denganku untuk kali ini?"


Keduanya berpandangan. Ada emosi terpendam dari pancaran mata mereka masing-masing. Hyunseok merasa Yeoreum yang saat ini berada di depannya adalah Yeoreum yang berbeda. Kenapa bsia sahabatnya berubah hanya dalam hitungan jam?


"Aku tidak nyaman dengan keadaan kita sekarang," ucap Hyunseok jujur. "Aku ingin Yeoreum yang aku kenal kembali."


Sunyi. Angin berembus menerbangkan sehelai daun hijau yang jatuh tepat di depan Yeoreum. Gadis itu memandangi daun hijau tersebut. Mengapa hanya satu daun yang jatuh dan menjadi sendiri? Padahal daun tadi dipandang tinggi ketika berada di ranting, menjadi bagian pohon yang kukuh. Saat berada di tanah seperti ini, apakah daun itu menjadi berarti?


"Maafkan aku soal kemarin," kata Yeoreum memecah sunyi. "Aku ... hanya terbawa perasaan. Aku sedang lelah."


Hyunseok menoleh ke arah Yeoreum. Wajah teduh Yeoreum yang selalu membuat hatinya tenang kembali dia lihat. Hyunseok merasa lega. Dia langsung memeluk Yeoreum.


"Tolong jangan seperti ini lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Hyunseok.


"Hya, Jung Hyunseok! Lepaskan aku! Aku sulit bernapas!" seru Yeoreum.


Hyunseok tertawa terbahak-bahak dan segera melepaskan pelukan. Sebenarnya, Yeoreum senang ketika Hyunseok memeluknya. Semua kemarahannya lenyap. Hanya dia malu karena orang-orang sekitar melihat mereka. Itik buruk rupa apa pantas bersama seorang pengaeran. Yang lebih penting, dia tidak ingin Hyunseok merasakan debaran jantungnya yang tidak karuan.


"Kalau begitu ... apa aku mau kembali mengikuti pementasan drama?" tanya Yeoreum pelan.


Kini, Hyunseok yang menghela napas. Sebenarnya, ada alasan lain dia malas untuk kembali. Namun, dia tidak ingin memulai pertengkaran lagi dan membuat Yeoreum sedih.


"Baiklah, aku akan kembali," jawab Hyunseok.


"Benarkah?" Mata Yeoreum berbinar-binar.


"Tapi, kau harus janji satu hal padaku."


"Apa itu?" tanya Yeoreum.


"Berjanjilah untuk berani melawan jika siapa pun di klub drama menyakitimu."


Yeoreum diam sesaat, tetapi kemudian dia mengangguk pelan. Setelah itu, Hyunseok kembali memeluk erat gadis itu.