A Lovely Happiness In Summer

A Lovely Happiness In Summer
#Prolog



..."Bahkan aku lebih berat dari seekor panda betina."...


...🌞🌞🌞...


“Cut!”


Dengan pengeras suara, sutradara berteriak. Dia bertepuk tangan setelah adegan di taman hiburan berhasil rampung.


“Kerja bagus! Segera berkemas, kita ke lokasi berikutnya.”


Seorang lelaki berlari setelah para kru membawa peralatan menuju tenda peristirahatan. Bayangan tubuhnya tepat di bawah kaki. Keringat mengalir, membasahi kulit kuning yang berubah kemerah-merahan. Lelaki itu memayungi gadis yang tengah mengipas-ngipas wajah. Dia melihat ponsel. Dalam satu jam lagi, ramalan cuaca mengabarkan suhu akan mencapai puncak tertinggi, 40,1 °C. Dia melirik seseorang di belakangnya, sosok dalam balutan kostum panda.


“Kita ke tenda saja. Aku bisa terbakar kalau terlalu lama berdiri di sini,” ucap sang gadis.


Si lelaki mengangguk, lalu pergi dengan perasaan ragu. Di sisi lain, sosok dalam balutan kostum panda membuka penutup tubuhnya. Peluh di sudut mata membuat penglihatannya sedikit berkunang-kunang. Dia menyeka wajah, menatap langit tanpa awan yang membuat matanya menyipit. Meski sedikit tertatih-tatih, dia masih bisa berjalan.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekelompok anak berlari ke arah kedai es krim, lima langkah di sebelah tenda. Dia melihat mereka berjingkrak-jingrak setelah lumeran es berhasil masuk ke mulut. Seorang anak lelaki datang menghampirinya, tertawa tanpa dosa.


“Nuna[1], kenapa kau gendut sekali? Pipimu seperti panda!”


Gadis itu mematung, menjatuhkan kostum kepala yang dia tenteng.


Kemudian, datanglah sesosok wanita menghampiri mereka, berbicara pada anak lelaki itu. “Kau tidak boleh seperti itu! Itu tidak sopan. Minta maaf sekarang!”


Wanita itu tersenyum canggung, lalu mengajak anaknya membungkuk bersama. “Maafkan anak saya.”


Sang gadis masih terdiam. Beberapa kali wanita itu memanggilnya, tetapi dia masih hanyut dalam hiruk pikuk obrolan pengunjung taman yang memenuhi pendengarannya. Kesadaran sang gadis kembali setelah si ibu


menyerahkan kostumnya yang sempat terjatuh.


“Sekali lagi, maafkan anak saya,” kata si ibu.


“Tidak apa-apa. Dia anak yang manis.” Sang gadis tersenyum. “Saya harus kembali ke tenda, kami


harus pindah lokasi syuting.”


Gadis itu pun meninggalkan anak lelaki dan ibu tersebut. Sayup-sayup dia bisa mendengar si ibu kembali berbicara.


Si gadis memejamkan mata. Panas merayap hingga ke ubun-ubunnya. Kata-kata itu bagai dengung serangga yang ingin segera dia musnahkan. Dengan langkah gontai, dia masuk tenda. Kostum-kostum berjajar di lemari gantung. Para kru bolak-balik membawa lampu tembak. Ada pula yang mulai membongkar sisi tenda bagian kanan. Seseorang menepuk pundak sang gadis setelah melepas seluruh kostumnya.


“Yeoreum-ah[2], kau baik-baik saja? Aku sudah khawatir padamu sejak tadi. Kau bisa bernapas


dalam kostum itu?” tanyanya sembari berbisik. Gadis itu mengangguk, lalu memasukkan kostum ke dalam kardus.


“Kau tahu, Hana, si artis baru sok terkenal itu benar-benar menyebalkan. Dia menyuruhku membeli es serut dan sekarang minta diganti dengan minuman soda. Aku bisa gila bekerja dengannya! Kalau bukan karena tugas kuliah, aku tidak akan mau menjadi babunya!” Jung Hyunseok—lelaki yang tengah berbincang dengan Yeoreum—kembali melanjutkan ujaran. “Sungguh aku ingin kau segera menjadi artis terkenal. Aku berjanji akan menjadi asistenmu seumur hidup!”


Yeoreum tersenyum tipis, lalu Hyunseok menyerahkan sekaleng minuman dingin. “Jangan sampai dehidrasi. Maaf, aku harus kembali pada Hana. Sampai jumpa.”


Yeoreum menatap punggung Hyunseok yang menjauh. Gadis itu berjalan, mendekati televisi di sebelah kaca rias setinggi tubuhnya. Pembawa acara mengabarkan berita penyelamatan panda betina yang sebulan lalu ditemukan sekarat di hutan karena perburuan liar. Si panda telah tumbuh sehat, bahkan beratnya mencapai 75 kilogram.


Berita tersebut seharusnya menyenangkan. Namun, berubah bagai kabar kematian di telinga Yeoreum. Seketika pandangannya beralih pada kaca rias. Refleksi seorang gadis bermuka bulat, berpinggul lebar dengan lemak menonjol pada perut dan paha membuat gadis itu mengepalkan tangan. Dia tertawa sumbang.


“Bahkan aku lebih berat dari seekor panda betina.”


Air mata mulai membanjiri wajah Yeoreum. Dia menangis tanpa suara. Telunjuknya mengarah ke cermin. Pantulan seorang gadis kurus yang memakai gaun merah terlihat begitu jelas. Jarinya mengikuti gerakan si gadis.


“Pinggang itu sangat kecil.” Yeoreum bergumam, lalu kembali menyusuri tubuh sang gadis hingga berhenti


pada tungkai. “Kaki jenjang yang cantik.”


Yeoreum terbahak-bahak, badannya merosot ke lantai hingga seisi tenda melihat. Namun, riuh rendah di sekitarnya sudah tidak berarti karena gadis itu menuli. Dia menatap kosong refleksi dirinya, melarutkan perih yang berganti benci.


“Aku ingin membunuhmu ....”


...🌞🌞🌞...


[1] Sebutan untuk kakak perempuan dari laki-laki yang lebih muda.


[2] Akhiran yang digunakan untuk memanggil akrab teman sebaya atau yang lebih muda sebagai bentuk percakapan informal. Imbuhan ini digunakan untuk memanggil nama dengan huruf akhir berupa konsonan.