A Lovely Happiness In Summer

A Lovely Happiness In Summer
#5 Kegamangan



...“Jangan berikan belas kasih padaku! Kalau perlu berikan kata-kata menyakitkan. Aku akan membuang semua kekesalanku untuk mengurangi berat badan!”...


...🌞🌞🌞...


Riuh teriakan terdengar setelah bola melesak ke gawang. Yeoreum terengah-engah, berhenti di jalur tiga lintasan lari yang berdampingan dengan lapangan bola. Tiga puluh menit dan baru dua putaran yang bisa dia lakukan. Hyunseok berada di samping gadis itu. Wajahnya tanpa ekspresi bersama tangan yang melipat di depan dada.


“Kau menyerah di hari pertama?”


Kalimat Hyunseok membuat Yeoreum meneleng. “Hya! Apa kau tak ada rasa iba padaku? Aku sudah hampir mati!”


Hyunseok menggeleng-geleng. “Bahkan lumba-lumba saja ingatannya lebih baik darimu.”


Yeoreum menjungkit alis. Kerutan di keningnya bertahan selama beberapa detik. Lalu, ingatan saat berbincang dengan Hyunseok di telepon terlintas.


“Jangan berikan belas kasih padaku! Kalau perlu berikan kata-kata menyakitkan. Aku akan membuang semua


kekesalanku untuk mengurangi berat badan!”


Gadis itu sangat berapi-api, melupakan keadaan lawan bicara yang hanya tidur kurang dari dua jam.


Bola melambung keluar lapangan, bergulir mendekati kaki Yeoreum. Kesadaran sang gadis kembali. Dia memberikan bola itu pada anak lelaki yang menghampiri.


“Terima kasih, Nuna,” ucap si anak lelaki sembari membungkuk. Yeoreum hanya membalas dengan senyum.


Anak itu mengoper bola pada temannya dan Hyunseok berdeham.


“Satu menit lagi kau harus memulai putaran ketiga. Ini yang terakhir, jadi berusahalah yang terbaik.”


Yeoreum mengerecutkan bibir setelah melihat Hyunseok berlari meninggalkannya. Dia mendesah panjang,


mengikuti sang sahabat dari belakang. Lelaki itu menahan tenaga, menjaga jarak agar tidak terlalu jauh. Meski rasanya paru-paru Yeoreum selalu kehabisan ruang untuk menampung oksigen, tetapi dia berhasil menyelesaikan putaran terakhir.


Hyunseok memberikan sebotol air mineral Yeoreum. Dalam sekejap cairan itu habis. Mereka menepi, berselonjor di bawah tribun. Jalur lari masih ramai. Waktu siang yang lebih panjang membuat orang-orang senang berolahraga mendekati jam makan malam.


Hyunseok mengusap keringat dengan handuk kecil. Dia keluar dari stadion, lalu kembali dengan lembaran kertas penuh tulisan.


“Aku sudah membuat program khusus untuk dietmu.”


Yeoreum melongo saat kertas itu berada di tangannya. Jadwal olahraga angkat beban, kardio, dan menu makanan selama sebulan yang akan dia ulang-ulang selama program, membuat nyawa sang gadis seperti hantu Casper yang berkeliaran.


“Tidak ada nasi? Kau pasti ingin membunuhku!”


“Hya, kau hanya tidak makan nasi putih. Kita hanya mengganti karbohidratmu dengan ubi, kentang, dan nasi merah. Aku tidak membuatmu kelaparan sampai mati!”


"Tetap saja. Sebagai warga Korea Selatan, kita tidak hidup tanpa makan nasi putih."


Hyunseok berbicara dengan mulut mengatup rapat, sedikit mengalirkan hawa dingin di area


tengkuk Yeoreum. Terlihat lelaki itu menahan emosi.


“A-apa tidak ada hari spesial? Sehari saja makan nasi putih?” tanya Yeoreum hati-hati.


Hoseok menghela napas. “Kau ini suka membaca buku, tapi kenapa kau tidak melihat jadwal makan yang kuberikan sampai habis?”


Telunjuk Hyunseok mengarah ke kerta yang dia beri pada Yeoreum. Pada minggu kedua dan keempat, hari Sabtu dan Minggu, tercantum nasi putih sebagai karbohidrat utama.


Yeoreum tersenyum canggung, membentuk kotak seraya menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Maaf ...."


Yeoreum kembali memeriksa jadwal tersebut. Sekarang, dia sudah selesai membaca saksama dna menyadari satu hal. "Tidak ada alkohol?”


“Kalau kau ingin dihina lagi seperti babi? Aku tidak masalah.”


Yeoreum mendesis, meniup poni yang mulai mendekati kelopak matanya. Ini adalah kata-kata Hyunseok yang paling menusuk, tetapi dia tidak marah sama sekali. Dia paham Hyunseok bisa bersuara seperti itu.


“Kau benar-benar memanfaatkan perkataanku semalam.”


Gadis itu kembali menggerutu, terlihat lucu. Hyunseok mengulum bibir, menahan tawa. Tangannya


bergerak ke kepala Yeoreum, mengacak-ngacak rambut sang gadis yang basah. Netra gelap mereka bertemu, tanpa kedip. Yeoreum terlalu terpana, tidak sadar Hyunseok sudah berdiri.


“Aku akan mengawasimu. Donwload aplikasi tracking kalori yang aku rekomendasikan di kertas itu. Kau harus memberikan laporan setiap harinya jumlah kalori yang kau makan padaku. Jangan coba-coba berbuat curang kalau kau masih ingin menjadi sahabatku!”


Tawa Hyunseok mengudara dan lamunan Yeoreum terhenti. Dia sadar lelaki itu tengah senang menggodanya. Dia memang tidak di posisi bagus, karena dia sendiri yang meminta Hyunseok jadi mentor. Yeoreum yang kesal pun mengejar langkah sang sahabat yang sudah berlari meninggalkannya.


...🌞🌞🌞...


Yeoreum segera berlari dan mengucapkan terima kasih pada sang kurir.  Begitu kurir itu keluar, dia langsung membuka kotak paket tersebut. Barbel dengan berbagai ukuran, karpet yoga, baju olahraga, dan tali skipping sudah ada di depan mata. Gadis itu tersenyum senang dan mulai memindahkan ke kamarnya.


"Kau membeli semua ini?" tanya Saerin.


Yeoreum mengangguk, membawa barang-barangnya dengan susah payah. Saerin pun segera membantu sang putri.


"Kau benar-benar serius ingin menurunkan berat badan?"


"Ya, Bu. Aku membeli semua ini dnegan uang tabunganku. Aku ingin berubah lebih baik."


Sesampainya di kamar, Yeoreum menyerahkan kerta berisi jadwal menu makanan yang telah Hyunseok buatkan kepada sang ibu. "Bu, bisakah Ibu menyiapkan makan untukku sesuai dengan jadwal ini?"


Saerin membelalak begitu melihat menu-menu tersebut. Hampir semua menu yang ada bukanlah makanan favorit Yeoreum. Dada ayam rebus, salad sayur, hingga buah-buahan rendah gula.


Yeoreum kembali menatap sang ibu, menunggu jawaban. "Kenapa makanannya sedikit sekali?"


"Itu namanya defisit kalori, Bu. Ibu tidak usah khawatir. Hyunseok yang sudah membuatkan program. Dan gizi makanannya tidak akan membuatku kelapara. Ibu tahu, kan, Hyunseok sudah sering berolahraga. Dia pasti paham diet yang baik."


Saerin menghela napas pasrah. "Baiklah. Ibu akan berbelanja nanti untuk kebutuhan dietmu. Tapi, kalau kau merasa lapar, kau harus beri tahu Ibu, ya."


"Aku tidak akan kelaparan. Percayalah."


Saerin mengangguk, lalu dia berkata, "Kalau begitu Ibu ke supermarket dulu. Jaga rumah."


Yeoreum tersenyum, kemudian mulai sibuk mengatur alat-alat olahraganya. Dia mengambil, lalu mulai menulis kata-kata penyemangat di sana. Setelah selesai, dia tempelkan kertas tersebut pada barbel 5 kilogram.


...Yeoreum akan menjadi aktris terkenal!...


"Aku pasti berhasil!" seru Yeoreum penuh semangat.


...🌞🌞🌞...


Seminggu berlalu. Bertepatan dengan berakhirnya libur musim panas. Hari pertama untuk semester baru. Tahun ini Hyunseok dan Yeoreum banyak mengambil mata kuliah yang sama.


Dalam perjalanan satu minggu ini, ternyata tidak semudah itu menjalankan diet. Rasanya, tubuh Yeoreum seperti dirobek-robek. Apalagi, jika jadwal latihan angkat beban untuk mengencangkan otot tubuh bagian bawahnya. Kalau dia tidak mengingat hinaan-hinaan yang pernah terlontar untuknya, Yeoreum sudah akan menyerah. Belum lagi rasa dada ayam dengan sedikit bumbu, benar-benar membuatnya ingin muntah.


Seperti saat ini, waktu makan siang dan menunggu kelas berikutnya. Hyunseok menemani karena mereka akan menjalani kelas yang sama, penulisan naskah lakon. Mata kuliah yang tidak terlalu disukai Yeoreum. Karena dia sendiri merasa tidak cocok berada di belakang layar. Namun, menjadi mahasiswa tetaer tidak hanya mempelajari pelakon yang baik di atas panggung, tetapi dia juga harus belajar mengenai hal-hal untuk membuat keutuhan suatu pagelaran, termasuk cara membuat naskah. Tentu saja itu bagian yang penting. Apa yang akan ditampilan aktris jika tidak ada naskah?


"Ibumu sangat baik mau membuatkan bekal untukku," kata Hyunseok.


"Aku selalu bersyukur memiliki ibu sepertinya."


Yeoreum mulai mengunyah dada ayamnya. Terasa seperti giginya nyaris rontok karena menguyah dada ayam itu terlalu lama. Namun, dia seperti kehilangan kemampuan merasa karena makan-makanan diet ini.


Hyunseok yang memperhatikan Yeoreum pun mengacak pelan rambut gadis itu.


"Tetap semangat. Aku tahu kau pasti bisa."


Yeoreum mengangguk, lalu meminum air putih untuk membantunya menelan makanan. Dia pun berganti memakan timun untuk memberi rasa berbeda di lidahnya. Setidaknya, timun berair dan lebih menyegarkan daripada dada ayam rebus.


"Yeoreum-ah," panggil Hyunseok. "Sabtu ini aku tidak bisa menemanimu lari," ucapnya.


"Kenapa?" tanya balik Yeoeum.


"Aku mulai part time mengajar tari di Studio Tari My Beat, di dekat rumahku. Kau tahu, kan?"


Yeoreum tahu tempat itu, tetapi dia tidak mengerti mengapa Hyunseok harus melakukan part time. Bukankan keluarga Hyunseok baik-baik saja? Mereka tinggal di rumah yang bagus. Setahu Yeoreum, ibu Hyunseok juga masih bekerja meskipun sang ayah sudah lama berpulang. Asuransi peninggalan ayah Hyunseok masih cukup untuk membiayai keluarga mereka hingga lulus kuliah.


"Kau ada masalah?" tanya Yeoreum.


Lelaki itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak. Aku hanya ingin mengajar menari. Kau tahu, kan, aku memang senang menari,"


Hyunseok memasang senyum yang membuat Yeoreum lebih lega. "Ah, tentu saja. Tidak masalah."


"Baiklah. Kau harus tetap mengirimkan video latihanmu. Aku tidak ingin kau curang!" ujar Hyunseok seraya melepas tawa.


"Hya, Jung Hyunseok! Kau benar-benar menyebalkan. Kau pikir aku sepicik itu?"


Hyunseok kembali tertawa, tetapi sudut matanya berair, dan Yeoreum sama sekali tidak menyadari itu.