
..."Manusia itu harus realistis, kau yakin bisa menghidupi ibumu dengan passion?"...
...🌞🌞🌞...
Ponsel Hyunseok berdering. Sudah tiga kali benda pipih itu berbunyi, tetapi sengaja dia abaikan. Dia baru saja usai melatih di studio tari. Satu per satu muridnya datang, membungkuk 90 derajat padanya.
"Terima kasih, Sunbae-nim," ucap salah seorang murid lelaki.
Hyunseok tersenyum tipis, lalu ponsel yang sempat dia ubah ke mode kini bergetar. Nama yang sama. Lelaki itu menghela napas dan pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon.
"Halo, Hyunseok-ssi. Sepertinya kau sangat sibuk," ucap sosok di seberang telepon.
"Maaf, Jungwoo-nim. Saya baru selesai mengajar tari," balas Hyunseok.
"Ah ... begitu? Apakah setelah ini kau sibuk? Aku sedang berada di daerah dekat rumahmu. Mungkin kita bisa menikmati kopi bersama?"
Hyunseok terdiam sesaat, kemudia dia menjawab. "Baik, tunggu saya tiga puluh menit lagi di Coffee Arirang."
Selepas Jungwoo mengucapkan salam penutup, Hyunseok langsung mematikan panggilan telepon. Dia pergi ke kamar mandi dan segera berganti baju. Cofee Arirang adalah kafe yang berada di dekat rumah Hyunseok. Hanya butuh waktu 15 menit jika berjalan kaki dari studio tari My Beat ataupun dari rumahnya. Kafe tersebut memang berada di pertengahan area kota sehingga ramai.
Matahari belum tenggelam, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 Memang musim panas membuat siang lebih panjang dan Hyunseok sampai membawa bekal dua botol air minum. Dia emang tidak banyak membeli makanan di luar sekarang. Dia harus berhemat karena kondisi keuangan. Pertemuan di Coffee Arirang nanti, dia tidak berniat membeli apa pun. Dia harus menghemat sisa 50 ribu won di dompetnya.
Begitu membuka pintu kafe, dari arah meja dekat kasir yang menghadap pintu, sosok Jungwoo telah duduk. Dia melambaikan tangan pada Hyunseok selepas menaruh gelas americano dinginnya. Dia mempersilakan Hyunseok duduk dan ternyata sudah ada satu gelas kopi lagi untuk Hyunseok.
"Aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi kupesankan americano dingin juga. Tidak masalah, kan?" ucap Jungwoo dengan ramah.
Hyunseok tersenyum tipis. Untuk menghargai Jungwoo, dia meminum kopi tersebut, hanya sedikit, lalu kembali menaruh di meja.
"Akhir-akhir ini sepertinya sulit untuk menghubungimu, ya," kata Jungwoo.
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi sarat sindirian halus di dalamnya. Hyunseok sadar itu. "Maaf, Jungwoo-nim. Saya memang jarang memegang ponsel akhir-akhir ini."
"Ah, tadi kau bilang kau mengajar tari? Bukankah kau jurusan teater?"
"Saya ... memang suka menari."
Jungwoo mengangguk, lalu kembali menyeruput minumannya. "Kenapa kau tidak mencoba jadi aktor saja? Bukankah aku sudah menawarkan padamu waktu itu?"
Senyum Jungwoo menghadirkan dingin yang mengalir di tengkuk Hyunseok. Pria itu memang punya pesona kuat hingga membuat siapa saja yang berada di sekitarnya merasa terintimidasi.
"Entahlah. Saya tidak yakin aku bisa melakukannya," ucap Hyunseok berusaha jujur.
"Kau sudah membuktikan saat pementasan teater itu."
"Tapi, saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia ... akting," ucap Hyunseok dengan suara yang makin mengecil.
Jungwoo tertawa pelan. "Lalu, untuk apa kau masuk jurusan tetaer?"
Memori Hyunseok kembali ke masa saat pendaftaran kuliah, seperti CD yang diputarnya ke belakang. Adegan saat dia gagal masuk jurusan tari menghantam lagi. Semua jerih payahnya gagal karena tepat hari tes kemampuan tari, ibunya masuk rumah sakit. Depresi berat yang dialami semenjak kematian sang ayah membuat fisik ibu Hyunseok menurun. Hal yang bahkan tidak pernah dia ungkapkan pada Yeoreum juga. Dia berbohong, mengatakan bahwa dia gagal dalam tes kemampuan sehingga mendaftar pada jurusan tetaer agar dapat bersama Yeoreum. Namun, diam-diam Hyunseok masih ingin merajut mimpinya. Dia masih ingin menjadi penari profesional. Dalam desakan keuangan, akhrinya dia memutuskan menjadi pengajar tari. Berharap, ini menjadi langkahnya bisa merajut impian yang pernah terputus.
"Karena itu satu-satunya jurusan yang bisa kuambil."
Jungwoo mengangguk-angguk. "Dan kurasa menjadi aktor juga bisa jadi satu-satunya jalan untuk bisa membiayai ibumu, kan?"
Hyunseok membelalak. "Tu-tunggu! Dari mana Anda tahu?"
"Tidak sulit bagiku mencari tahu tentangmu," ucap Jungwoo santai.
Hyunseok menghela napas. Tentu saja pria dengan uang seperti Jungwoo bisa memiliki akses untuk mendapatkan apa pun yang dia mau.
"Hyunseok-ssi, dengarkan aku," kata Jungwoo menghentikan hening. "Manusia itu harus realistis, kau yakin bisa menghidupi ibumu dengan passion? Berapa uang yang kau hasilkan dari mengajar part time seperti itu?"
Kata itu sangat menusuk Hyunseok. Harus Hyunseok akui, uang yang dia terima tidak seberapa. Bahkan itu hanya cukup untuk menutupi uang keseharian Hyunseok. Namun, dia memiliki kebahagiaan saat bisa kembali menari. Itu yang membuat Hyunseok merasa hidup.
"Kalau kau bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu cepat, kau bisa segera merawat ibumu. Dan kalau kariermu sukses, kau bisa merambah bidang seni apa pun. Kau hanya perlu percaya dan bekerja sama yang baik denganku."
Hyunseok kembali terdiam. Pikirannya sekarang sudah terlalu penuh. "Akan saya pikirkan kembali," kata Hyunseok lirik.
"Baiklah," jawab Jungwoo. "Aku beri kesempatan kau untuk berpikir hingga akhir tahun ini. Kalau kau berubah pikiran sebelum waktu yang kupinta, nomorku selalu bisa kuhubungi."
Jungwoo bangkit, memakai kembali jas yang dia gantung di kursi, setelah itu pamit. "Sampai jumpa. Semoga ibumu sehat selalu."
Setelah kepergian Jungwoo\, Hyunseok hanya menatap kosong *americano-*nya yang masih tersisa setengah gelas.
...🌞🌞🌞...
Yeoreum sedang lari pagi, memasang perangkat jemala selama memutari kompleks perumahan. Dia menggunakan jaket olahraga agar lipatan lemak tubuhnya tidak terlihat. Meski rasanya seperti sauna, Yeoreum tetap bertahan.
Dia melewati melewati wanita tua itu yang sedang menyapu jalan di depan ruamh. Yeoreum pun tersenyum saat wanita itu terlebih dahulu menyapanya. Dia berjalan santai hingga ke rumah. Sang ibu sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan. Kecupan di pipi untuk ayahnya menjadi salam kedatangan. Dia tidak ikut duduk di meja makan, tujuan utamanya adalah timbangan di samping pintu kamar.
Yeoreum memejamkan mata, menggerakkan kaki ke atas timbangan. Jarum bergerak, berhenti pada angka 87. Gadis itu membelalak beberapa detik sebelum berteriak kegirangan.
“Yeoreum-ah, apa terjadi sesuatu padamu?” tanya sang ayah dari ruang makan.
“Ah, tidak! Aku baik-baik saja, Ayah!”
Gadis itu membekap mulut, menahan tawa. Dia berjingkrak pelan menuju kamar mandi, ingin segera berdandan.
Yeoreum tersenyum. Berat badannya terlah berkurang 10 kilogram. Perjalanannya masih panjang, tetapi hal itu sudah bisa meningkat kepercayaan diri Yeoreum. Sekarang, dia pun mulai percaya diri untuk menggunakan riasan tipis saat berangkat ke kampus.
“Aku pasti bisa!” gumam Yeoreum. Gadis itu memoles bibir dengan lipstik sebelum keluar kamar.
Di dapur, sang ibu tengah menyiapkan kotak bekal. “Untuk sarapan dan makan siangmu. Hari ini kau boleh makan nasi putih.”
Saerin mengerling, memasukkan bekal itu ke tas Yeoreum. “Kau tidak berangkat dengan Hyunseok?”
Yeoreum menepuk jidat. Dia hampir lupa menelepon Hyunseok. Semalam, lelaki itu tidak membalas pesannya. Dia pikir Hyunseok kelelahan, jadi tidak sempat membalas. Dia juga tidak ingin mengganggu lelaki itu, jadi Yeoreum memutuskan bernagkat sendiri hari ini.
"Kelas kami berbeda hari ini, Bu," kata Yeoreum beralasan.
Saerin mengangguk. Lalu, Yeoreum memeluk dan mengecup kedua orang tuanya sebelum meninggalkan rumah. Sebelum kelas dimulai, akan ada rapat klub drama. Yeoreum tidak ingin telat. Perjalanan ke kampus pun dia habiskan sambil menyantap snack buah-buahan. Buah-buahan ini sangat membantu Yeoreum yang memang cepat lapar. Setidaknya, dia tetap dapat mengunyah makanan tanpa merasa bersalah.
Sesampainya di aula pertunjukan teater, Yeoreum mencari kursi. Seperti biasa, tempat duduk selalu diatur membentuk setengah lingkaran. Ruangan yang sebelumnya terisi cuap-cuap anggota, berubah sepi kala Yeoreum melangkah.
“Hya! Han Yeoreum! Kau terlihat lebih ... kurus!” ucap salah seorang gadis.
"Benarkah?" tanya Yeoreum malu-malu.
"Dan kau sekarang memakai lipstik? Siapa yang membuat kau berubah? Jung Hyunseok?" Gadis itu menaikturunkan alisnya, menggoda Yeoreum. Yeoreum membalas dengan tersipu-sipu.
"Ti-tidak ... aku hanya mencoba saja berdandan."
Si gadis mengangguk-angguk, lalu merapikan duduk saat sosok Kyungmin datang. Seluruh fokus anggota kini beralih pada Kyungmin. Namun, mata Yeoreum sempat melirik ke daerah tengah. Ada Yoora yang memandang tidak suka padanya seraya menyilangkan tangan, menatap tajam.
Semua mata terlihat antusis dengan pernyataan Kyungmin. "Pementasan kita mendapat apresiasi dari rektor. Pihak universitas memintaku untuk kembali mementaskan drama pada Festival Musim Semi Hangang. Bukan hanya alumni, dosen, dan mahasiswa Universitas Hangang yang akan menyaksikan penampilan kita, tapi masyarakat umum juga.”
Semua bersorak dan bertepuk tangan. Lalu, Kyungmin memberi kode untuk kembali tenang.
“Tapi, kita harus mengganti pemeran utama wanita.” Lelaki itu meminta Yoora berdiri, kemudian melanjutkan bicara. “Choi Yoora, telah mendapat kontrak dari BigStar Entertaiment dan akan memulai karier aktingnya pada libur musim dingin nanti.”
Aula bergemuruh. Ucapan selamat tumpang-tindih membanjiri Yoora. Namun, tidak sekali pun fokus gadis itu berpindah dari Yeoreum. Seringaiannya seakan-akan menjadi penanda kemenangan dalam permainan yang tidak jelas waktu memulainya.
Kyungmin mengembalikan atensi. "Untuk itu, aku akan mengadakan audisi terbuka untuk semua anggota perempuan yang ingin menjadi pemeran utama. Audisi akan diadakan bulan depan. Saat awal musim gugur. Jika kalian berminat, bisa langsung menghubungiku untuk mendaftar."
Kyungmin tersenyum saat para gadis mulai berbincang. Semua tentu ingin menjadi pemeran utama. Terlebih, setelah mendengar Yoora yang bisa menjadi aktris. Bagi Yeoreum, ini adalah kesempatan. Dia ingin 'memenangkan' pemeran utama kali ini.
"Sampai berjumpa audisi bulan depan. Selamat pagi," ucap Kyungmin dan membubarkan rapat hari.
Satu per satu anggota meninggalkan ruangan. Yeoreum sempat mencuri dengar obrolan lelaki berkemeja putih di dekatnya yang juga akan beranjak keluar.
“Seharusnya Hyunseok juga diterima di BigStar. Tapi, dia menolak.”
“Tahu dari mana kau? Jangan mengarang cerita,” balas temannya, lelaki berkemeja biru.
“Aku mendengar pembicaraan Kyungmin dan Hyunseok sebelum rapat. Senior Jungwoo menemui Hyunseok kemarin."
Yeoreum buru-buru memasang tas selempangnya dan keluar. Namun, sosok Yoora sudah bersandar di dinding sebelah pintu, sengaja menunggu sang gadis.
“Apa sekarang Han Yeoreum ingin tampil cantik sepertiku? Cih! Kau seperti wanita murahan dengan lipstik itu!”
Yeoreum mengepalkan tangan. "Bukan urusanmu!"
"Jangan kau pikir kau bisa sepertiku. Badan seperti babi itu tidak akan dilirik!"
"Aku tahu! Jadi sekarang lebih baik kau menyingkir dari hadapanku!" seru Yeoreum. Namun, Yoora dengan cepat menarik tas gadis itu, membuat kotak bekal Yeoreum terhambur.
Yoora tertegun melihat makanan Yeoreum berhamburan di lantai. “A-apa itu bekal buatan ibumu?”
“Apa pedulimu? Tolong, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi!” Yeoreum membereskan barang-barangnya. “Selamat berpesta dengan keberhasilanmu. Urus saja kehidupanmu sendiri dan jangan ganggu kehidupanku!”
Dari arah Yeoreum berjalan, Hyunseok datang. Bajunya basah, membuat gadis itu sedikit terkejut. “Apa aku terlambat rapat?”
Yeoreum mengangguk. Dia ingin cepat pergi. Dia segera menggandeng Hyunseok, meninggalkan Yoora yang menatap kosong ceceran makanan di lantai.
“Apa Yoora mengganggumu lagi?” tanya Hyunseok.
“Aku sudah bisa melawannya, seperti yang kau ajarkan.”
Hyunseok tertawa, mengusap poni Yeoreum. Gadis itu mengucir rambut satu, memperlihatkan lehernya untuk pertama kali. Hyunseok smepat kikuk menghadapi Yeoreum.
“A-aku tadi ada urusan sebentar, maaf lupa menghubungimu,” ucap lelaki itu.
Yoereum tersenyum tipis. Namun, ada hal yang masih mengganjal di pikirannya. Kenapa Hyunseok tidak bercerita padanya soal tawaran Senior Jungwoo?
Masih ada waktu lima menit sebelum kelas, tapi Yeoreum mengajak Hyunseok untuk segera duduk di kelas. Dia ingin berbicara serius. Rasa penasaran membuatnya tidak tahan untuk bertanya. “Apa kau juga mendapat tawaran dari BigStar seperti Yoora.”
Lelaki itu meneleng. “Siapa yang memberitahumu?”
“Aku hanya mendengar obrolan anggota klub drama. Kenapa kau menolaknya? Bukankah itu kesempatan yang bagus?”
Hyunseok menghela napas. Dia berpikir cukup lama, seakan-akan takut permen Hallowen yang tersimpan di kantong celananya diketahui.
“Itu hanya gosip. Tidak ada yang menawariku. Lagi pula aku juga tidak tertarik.”
Yeoreum menunduk, menatap kakinya yang mengambang. Dia baru sadar kakinya tidak begitu jenjang, sedang Hyunseok menapak dengan kukuh di lantai.
“Kau tidak berbohong padaku?” Gadis itu menghentikan sesaat ujarannya. “Maksudku ... kau tidak menolak tawaran itu karena aku, kan?”
Suara Yeoreum menukik, hampir seperti bisikan. Tawa Hyunseok seketika meledak. Lelaki itu menggeser duduk, mengunci jelaga hitam si gadis.
“Impianku menjadi penari. Seandainya aku tertarik pada dunia akting, aku tidak akan menolak. Apa karena kau makin cantik, tingkat kepercayaan dirimu menjadi berlebihan seperti ini?”
Hyunseok kembali tertawa. Jaraknya dan Yeoreum makin menipis. Rona merah muncul di pipi sang gadis—bukan karena angin.
Hyunseok tertegun setelah menyadari kalimat terakhirnya mengantarkan kecanggungan. Dia sedikit menjauh. "Lebih baik kau fokus belajar. Dosen kita sudah datang."
...🌞🌞🌞...
“Ibu harus kontrol lagi minggu depan," ucap Jung Chaerin, adik Hyunseok.
Hyunseok menghela napas melihat tagihan rumah sakit yang diberikn Chaerin. Padahal, baru saja tadi pagi dia melunasi biaya tunggakan listrik.Belum lagi memikirkan pembayaran kuliah semester depan. Kepa Hyunseok serasa dihantam godam.
“Aku akan mencari uangnya, kau tidak usah khawatir,” ucap Hyunseok, lalu tersenyum. Netranya tampak layu. Cahaya lampu membiaskan cairan yang mulai mengumpul di bawah bola mata. Hyunseok memeluk sang adik erat.
“Aku akan menjual mobil kita. Kyungmin bilang dia mau membelinya.” Hyunseok tersenyum. “Setidaknya kita bisa hidup untuk dua bulan ke depan.”
“Kakak ....” Suara Chaerin terdengar lirih. “Mobil itu peninggalan ayah. Apa kau rela menjualnya?”
Angin menggerakkan tirai jendela. Cairan bening turun perlahan-lahan turun di pipi Chaerin.
“Aku janji padamu semua ini akan segera berlalu.” Hyunseok melepas dekapan. “Sebaiknya kau kembali ke kamar Ibu. Aku mau keluar membeli makan malam.”
Lelaki itu beranjak, mendekat ke arah pintu. Namun, langkahnya terhenti saat Chaerin memanggilnya. “Kak, apa kau mengenal Tuan Jeon Jungwoo?” tanya Chaerin.
Hyunseok sedikit terkejut. "Kau tahu dia dari siapa?"
"Tuan Jungwoo datang ke rumah sebelum Kakak pulang. Dia bilang, dia teman Kakak dan mengunjungi Ibu. Dia membawa banyak buah dan makanan, dan .... memberi uang. Kakak tidak usah membeli makanan."
Hyunseok langsung berbalik dan mendekat ke adiknya. "Kau menerima pemberian darinya?"
Wajah memerah Hyunseok membuat Chaerin sedikit takut. "I-iya ... apa aku sa-salah?"
Hyunseok menghela napas. Dia tidak ingin merasa berutang budi dengan Jungwoo. Dia tahu itu adalah bagian dari cara Jungwoo untuk memaksanya menjadi aktris di bawah naungan BigStar.
"Chaerin, dengarkan Kakak," ucap Hyunseok sambil memegang bahu sang adik. "Jangan pernah menerima uang atau pemberian barang dari siapa pun tanpa sepengetahuan Kakak.Berikan uang itu pada Kakak dan Kakak akan mengembalikan padanya."
Chaerin menggeleng. "Tapi, uang itu cukup untuk membayar terapi Ibu minggu depan. Kakak tidak harus menjual mobil kita!"
"Tidak! Kita harus mengembalikan uang itu!"
"Kenapa Kakak selalu seperti itu? Apa Kakak pikir uang mengajar menari saja sudah cukup? Kak, ada oran baik yang mau menolong kita, kenapa kita harus menolak? A—"
"Cukup, Chaerin! Kalau Kakak bilang kembalikan, lakukan! Dan jangan pernah menerima kedatangannya lagi di rumah ini!" ucap Hyunseok tegas, lalu meninggalkan sang adik yang telah berurai air mata.