
..."Aku hanya ingin cinta. Apakah itu permintaan yang sulit?"...
...🌞🌞🌞...
Hyunseok sudah berdiri di depan rumah Yeoreum. Mereka akan pergi bersama-sama untu latihan drama. Namun, sebelum itu, mereka akan membeli es krim di *minimarket *dengan rumah. Ini permintaan Yeoreum sebagai bentuk perayaan persahabatan mereka yang kembali akur. Yeoreum sudah berjanji pada dirinya untuk melupakan kejadian-kejadian kemarin. Dia terlalu bodoh untuk mengorbankan persahabatannya hanya karena Hyunseok tidka membelanya dengan kata 'cantik'. Meski, tetap ganjalan itu ada, Yeoreum ingin hidup lebih tenang.
"Maaf, tadi aku harus sarapan masakan Ibu dulu," kata Yeoreum saat menghampiri Hyunseok.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang. Kita masih punya waktu satu jam sebelum latihan."
Dengan senyum merekah, Yeoreum pun pergi bersama Hyunseok. Mereka berbincang sepanjang jalan menuju minimarket. Begitu sampai *minimarket *Yeoreum langsung berjalan ke arah kulkas es krim. Dia mengambil 2 es krim cokelat dan 2 es krim stroberi. Setelah itu, dia ke area tempat manisan berada. Dia mengambil tiga bungkus dan langsung memasukkan ke keranjang. Belum cukup, saat melihat etalase snack, Yeoreum langsung mengmbil bungkus makanan ringan yang paling besar dan dua batang cokelat, setelah itu dia pergi ke kasir.
"Apakah Nona ingin menambah donut cokelat? Kami sedang ada promosi diskon. Jika Nona membeli dua buah, akan gratis dua lagi," kata si penjaga kasir.
Yeoreum menatap Hyunseok yang sudah berdiri di belakangnya. "Kau mau donat?"
Melihat senyum Yeoreum, Hyunseok pun tersenyum. "Ambil saja. Harga donutnya juga murah."
Yeoreum segera membayar belanjaannya. Si penjaga kasir tampak tersenyum ramah. "Akan saya panaskan dulu donatnya. Nona dan pacar Nona bisa menunggu di kursi sana."
Si penjaga kasar menunjuk area dekat alat pembuat kopi. Di sana memang ada meja dan kursi untuk orang-orang yang ingin makan di minimarket ini, karena mereka juga menjual makanan yang tinggal dipanaskan dengan microwave.
"A-ah ... dia bukan pacar saya," kata Yeoreum kaku. Namun, pipinya memanas saat mendengar hal itu. Bagaimana si penjaga kasir bisa berpikir bahwa Hyunseok pacarnya?
Penjaga kasir itu memberikan kembalian pada Yeoreum, lalu berkata, "Dia pasti sangat menyayangi Nona. Percayalah, dia menyukai Nona. Apalagi, dia tampan. Jangan sia-siakan."
Yeoreum salah tingkah. Dia melihat ke arah Hyunseok, takut kalau lelaki itu malu, karena hubungan mereka memang tidak menjurus ke hal romantis. Namun, Hyunseok terlihat santai. Tangannya masuk ke kantong celana dan melihat-lihat etalase makanan dekat kasir. Dia seolah-olah tidak mendengar obrolan Yeoreum. Padahal, Yeoreum yakin Hyunseok bisa mendengar perkataan si wanita penjaga kasir.
"Sudah selesai?" tanya Hyunseok. "Ayo, ada dua kursi kosong di sana."
Hyunseok berjalan lebih dahulu. Yeoreum menyusul. Namun, lelaki yang mengatre di belakangnya mengeluarkan kata yang menusuk Yeoreum.
"Hya, Wanita Tua! Apa yang kau pikirkan? Mana mungkin lelaki tampan seperti dia menyukai gadis mirip babi ini? Lihat saja makanan yang dia beli! Jangan memberi mimpi indah pada gadis sepertinya."
Hyunseok menghentikan langkah, dia berbalik lalu mendekati lelaki yang mengatai Yeoreum.
"Gadis sepertinya? Memang dia kenapa, heoh? Dia cantik. Dan kalaupun dia pacarku, itu bukan urusanmu!" ucap Hyunseok, menekan setiap kata yang dia ucapkan.
"Hya! Kau menantangku?!"
Hyunseok sudah bersiap saat lelaki yang menghina Yeoreum hendak melayangkan satu pukulan. Namun, dengan cepat Yeoreum menarik Hyunseok.
"Sudah, jangan bertengkar di sini. Semua orang melihat kita."
"Aku tidak peduli. Lelaki ini tidak punya adab!"
Kemudian si penjaga kasir melerai. "Kalau kau hanya ingin mencari masalah, keluar! Atau kulaporkan polisi karena kau memancing keributan."
Si lelaki berdecak, membuang ludah ke lantai. "Aku tidak akan sudi ke minimarket ini lagi!"
Lelaki itu keluar dan dengan sengaja menabrak bahu Hyunseok. Meski kesal, Hyunseok berusaha menahan emosi. Dia tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
Si penjaga kasih menghampiri Yeoreum. "Nona, maafkan lelaki tadi. Dia memang sering membuat keributan di sini. Mengambil barang dan membayar seenak hatinya. Tapi, aku tidak bisa memenjarakannya, karena istrinya sedang hamil tua. Aku tidak tega."
Yeoreum mengangguk kecil.
"Apa Tuan tidak apa-apa?" tanya si penjaga kasir.
"Tidak. Saya baik-baik saja."
"Syukurlah."
Penjaga kasir itu kemudian memanggil pengawas toko yang sedang menghitung barang-barang di etalase.
"Tolong kau ambilkan roti milik Nona tadi dan dua kotak susu."
Yeoreum mengerut. "Saya tidak memesan susu."
"Tidak apa-apa, Nona. Ini kompensasi karena orang tadi mengganggu Nona. Saya yang membayar."
Hyunseok langsung menggeleng dan mengeluarkan dompet. Dia tidak mungkin membiarkan si penjaga kasir yang membayar. Dia tahu gaji penjaga kasir tidaklah banyak.
"Jangan keluarkan uang Anda, Tuan," kata penjaga kasir itu. "Minimarket ini milik suami saya. Hanya saja, saya saya memang senang melayani orang-orang. Jadi saya sering menjadi kasir di sini."
Yeoreum dan Hyunseok membelalak. Mereka saling bertatapan, lalu melihat ke arah si wanita.
"Saya tahu, wajah saya tidak seperti orang kaya." Si Penjaga kasir itu tertawa. "Tenang saja, saya tidak akan miskin hanya karena memberi kalian dua kotak susu."
Pengawas toko kembali dan menyerahkan bungkusan milik Yeoreum. "Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami. Saya harap, Tuan bisa menjaga nona cantik ini. Kalian pasangan yang serasi."
Hyunseok dan Yeoreum membungkuk, lalu keluar minimarket. Mereka berjalan menuju halte bus untuk pergi ke kampus. Namun, mereka jadi canggung berkata-kata. Jadi, Yeoreum mengeluarkan susu pemberian si ibu penjaga kasir tadi dan memberikan pada Hyunseok.
"Ah ... terima kasih," balas Hyunseok.
Detak jantung Yeoreum seirama dengan langkahnya. Dia terus memikirkan perkataan ibu penjaga kasir tadi. Kenapa Hyunseok tidak membantah kalau mereka bukan sepasang kekasih?
"Hyunseok-ah ...," panggil Yeoreum.
"Hm."
"Apa ... benar aku cantik?" tanya Yeoreum.
Wajah gadis itu sudah menunduk. Dia begitu malu menanyakannya, tetapi dia ingin mendengar lagi Hyunseok mengatakan dirinya 'cantik'. Dia harap tadi pendengarannya sednag berfungsi dengan baik.
Hyunseok yang ditembak dengan pertanyaan tersebut langsung mengalihkan pandang. Dia takut Yeoreum melihat wajahnya yang merona. Perkataan tadi memang keluar spontan, tetapi itu adalah fakta dan kejujuran.
"Y-ya. Kau cantik."
Bus berhenti di depan halte. Jarak mereka dengan halte masih beberapa langkah. Namun, waktu terasa berhenti. Maka kali ini, Hyunseok biarkan bus itu berlalu, tetapi tangannya bergerak menggandeng Yeoreum dan berjalan mengikuti irama perasaan yang bergejolak di dada masing-masing.
...🌞🌞🌞...
"Aku pergi," ucap Yoora dang langsung pergi tanpa menatap wajah sang ibu.
"*Hya, *Anak ******! Mana sopan santunmu pad aorang tua?"
Yoora meringis menahan sakit saat rambutnya ditarik. Dia terus berusaha melepaskan jambakan itu, hingga akhirnya mendorong sang ibu.
"Hya, Wanita Tua! Kenapa setiap hari kau menjambakku!"
"Kau—"
Yoora menghentikan tangan ibunya sebelum mendaratkan tamparan. "Ibu, aku lelah. Bisakah kau tidak mempersulit hidupku sehari saja?"
"Hya! Kau yang mempersulit hidupku! Kenapa wajahmu harus sama dengan ayahmu yang berengsek itu!"
Ibu Yoora berteriak-teriak, lalu mendorong Yoora hingga tersungkur. Wanita itu menggila. Yoora menatap penuh kebencian. Dia biarkan wanita itu, lalu mengambil tasnya dan segera keluar rumah.
Rumah adalah neraka. Dia benci menginjakkan kaki di sana. Dia menatap langit cerah hari ini. Ya, memang di luar rumahlah yang bisa membuat kehidupan Yoora menjadi cerah.
"Aku hanya ingin cinta. Apakah itu permintaan yang sulit?" gumamnya, lalu merapikan kembali rambut yang berantakan. Yoora harus terlihat sempurna dan tidak boleh lemah. Karena hanya itulah yang bisa membuatnya bertahan hidup.
...🌞🌞🌞...
"Yeoreum, bisa tolong kau belikan makanan dan minuman untuk teman-teman yang lain? Sebentar lagi, kita akan istirahat makan siang," ucap Kyungmin. "Ah, tolong pakai uangmu dulu, ya. Nanti akan diganti dengan kas klub."
Yeoreum tidak sempat menolak karena kini Kyungmin sudah kembali ke panggung dan memberikan pengarahan pada para pemain drama. Yeoreum hanya bisa menghela napas. Sejak mulai latihan, belum ada adegan yang membutuhkan kehadiran dayang-dayang. Karena hanya dirinya yang 'menganggur', maka para senior selalu menyuruhnya untuk bergerak ke sana kemari. Menyiapkan tatanan panggung, aksesori, ataupun mengambilkan makanan ringan. Bahkan, belanjaan dia di minimarket tadi sudah habis dimakan para senior.
Dengan langkah gontai, Yeoreum keluar aula. Dia berjalanan di koridor dan ternyata dari arah berlawanan, sang ibu, Lee Saerin, memanggil Yeoreum.
"Yeoreum-ah!" teriak sang ibu.
Saerin pun berlari dang menghampiri Yeoreum. "Hya! Kenapa kau tadi langsung pergi? Ibu sudah membuatkan bekal untukmu. Kau pasti sangat lelah, kan?"
Saerin mengambil saputangan dari tas jinjingnya dna mengelap keringat di dahi sang putri. "Kau pasti sudah bekerja keras. Bagaimana latihannya? Menyenangkan?"
Yeoreum tersenyum tipis. Dia tidak mungkin bercerita bahwa hari ini tidak ada satu adegan pun yang akan dia latih. Dia tidak ingin mengecewakan sang ibu.
Dari arah belakang keduanya, Yoora berjalan. Gadis itu melihat Yeoreum dengan tatapan tidak bersahabat.
"Ini ada daging panggang, sayur, semangka, nasi. Kau harus makan dengan baik supaya latihan hari ini bisa berjalan lancar. Habiskan atau Ibu akan menghukummu. Itu juga ada satu kotak lagi untuk Hyunseok, berikan padanya," ucap Saerin.
Merasa tidak enak karena Yoora, Yeoreum berkata, "Iya, Ibu. Sudah, habis ini aku harus latihan lagi. Ibu pulang saja."
"Ibu mau melihat kau dan Hyunseok, memangnya tidak boleh?"
"Bu-bukan begitu ... ini baru hari pertama. Tidak ada yang menyenangkan, Bu."
Saerin menghela napas. "Ya, sudah. Pastikan makananmu habis, ya. Ibu pulang dulu."
Saerin mencium kening sang putri, lalau pergi dan melewati Yoora. Gadis itu tetap memandang sini dan berlalu ke kamar mandi.
"Anak zaman sekarang memang tidak ada sopan santun," ucap Saerin yang hanya geleng-geleng melihat kelakuan Yoora. Padahal dia adalah orang tua dari temannya, kenapa tidak menyapanya?
Di sisi lain, Yoora sudah berada di kamar mandi. Dia membuka kerna wastafel dan mencuci mukanya dengan air. Tangannya mengepal, lalu meninju keramik wastafel. Rasa nyeri mengalir dari sela-sela tangannya. Namun, Yoora sudah kehilangan rasa sakit.
"Kenapa begitu banyak yang mencintainya," gumam Yoora dengan suara parau tertahan. "Aku membencimu, Han Yeoreum!"