
...“Bukankah itu terlalu jahat? Aku kira di klub ini tidak ada tindakan diskriminasi. Ternyata ….”...
...🌞🌞🌞...
Audisi dimulai. Setiap peserta memiliki jadwal yang berbeda sehingga tidak saling bertemu. Yeoreum mendapatkan urutan terakhir. Sambil menanti, Yeoreum memandangi bekal yang dibuatkan sang ibu; salad sayur dengan dressing minyak zaitun dan dada ayam panggang. Ibunya bilang makanan ini dibuat agar Yeoreum bisa berhasil audisi.
Melihat usaha ibunya tentu membuat Yeoreum tidak tega. Pada akhirnya, dia memakan salad itu meski hanya setengah porsi.
“Maafkan aku, Ibu,” ucap Yeoreum lirih saat membuang sisa makanan ke tempat sampah.
Minggu ini Yeoreum kembali berhasil menurunkan berat badannya. Sepuluh kilogram tercatat menghilang dari timbangan digital. Namun, hal yang mengganggu Yeoreum sekarang adalah sisa-sisa kulit yang dahulu ditempati lemak. Dia banyak membaca bahwa orang yang dahulu obesitas memang akan memiliki sisa kulit saat menurunkan berat badan—dan satu-satunya cara menghilangkan adalah dengan operasi.
Untuk saat ini, Yeoreum belum memikirkan opsi operasi, karena baginya berat badan sekarang masih jauh dari
kata sempurna. Dia ingin mencapai tujuan utama itu terlebih dahulu. Maka, seusai membuang sisa salad-nya, Yeoreum kembali meminum obat pelangsing, kemudian kembali menunggu di kursi yang telah disusun di depan ruang teater. Sambil menunggu panggilan, dia mencoba untuk mengulang-ulang adegan naskah pemeran utama dari pementasan sebelumnya.
Tidak lama, Kyungmin keluar dan memanggil Yeoreum. “Ayo, masuk. Kami sudah siap.”
Yeoreum beranjak dan bisa melihat meja pasang dengan empat orang manusia berada di seberang panggung. Tiga orang adalah seniornya di klub drama, termasuk Kyungmin. Namun, satu lagi adalah sosok yang tidak gadis itu duga: Jung Jungwoo. Saat diminta naik panggung, perhatian Yeoreum tidka lepas dari pria itu. Sungguh penampilan Jungwoo akan membuat siapa saja terkesima. Lengan kemeja pria itu dilipat hingga siku dengan dua buah kancing atas yang terbuka. Yeoreum melihat bahwa badan Jungwoo bisa dikategorikan atletis. Dibandingkan menjadi agen pencari bakat, mungkin seharusnya Jungwoo yang menjadi talent. Visualnya sudah lebih dari cukup untuk membuat pria itu menjadi bintang televisi ternama.
“Halo! Kau Han … Yeoreum-ssi?” ucap Jungwoo memecah lamunan Yeoreum. “Namanya yang cantik, seperti orangnya.”
Perkataan itu praktis membuat Yeoreum merona. Kata ‘cantik’ selalu bisa jadi obat meningkatkan semangat dan
kepercayaan diri Yeoreum. Gadis itu langsung membungkuk hormat dan kembali memperkenalkan diri.
“Saya Han Yeoreum, mahasiswi jurusan teater, semester 4. Saya harap saya bisa mendapatkan peran utama ini,” ucapnya dengan lugas.
“Aku sangat suka dengan semangatmu,” sahut Jungwoo. “Kalau begitu kita mulai saja. Coba kau buka halaman 32 set 8A. Bisakah kau deskripsikan apa yang kau bayangkan tentang adegan itu?”
Yeoreum melakukan hal yang diperintahkan Jungwoo. Di sana tertulis adegan saat sosok Heo Yeonwoo mulai
menyadari bahwa dia jatuh cinta dengan Raja Lee Hwon. Yeoreum kira dia akan mendapati adegan menangis ataupun adegan-adegan yang menguras emosi. Namun, sebisa mungkin Yeoreum membayangkan hal menyenangkan dan sosok pertama yang terlintas di kepalanya adalah Jung Hyunseok.
Yeoreum mulai menceritakan deskripsi jatuh cinta seperti saat dia berpandangan dengan Hyunseok, cara debar
jantungnya bekerja, cara setiap sentuhan kecil mereka bisa membuat badannya panas dingin. Dan hal paling penting adalah tatapan mata mereka yang berbicara. Diam tanpa harus mengucap kata, tetapi bisa mentransfer pikiran dan perasaan masing-masing.
Usai mengucapkan hal tersebut, satu ruangan itu pun hening, menanti Yeoreum yang masih diam. Karena Yeoreum pun kini menyadari bahwa sebenarnya ada rasa lebih di antara mereka berdua. Namun, keraguan juga seketika menghampiri. Apakah itu hanya imaji dari harapa Yeoreum atau benar adanya Hyunseok juga memikirkan hal yang sama dengannya?
“Yeoreum-ssi …,” panggil Kyungmin. “Apakah penjelasanmu sudah selesai?”
“Ah, ya. Maaf,” ucap Yeoreum seraya mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu coba sekarang kau peragakan apa yang kau sudah sampaikan.”
Yeoreum menarik napas, lalu mengembuskan dan memulai aktingnya. Di kepalanya sekarang ada Hyunseok yang
berperan sebagai Raja Lee Hwon. Semua terasa begitu indah. Yeoreum telah bertransformasi, masuk menjadi karakter. Begitu selesai, tepuk tangan heboh Jungwoo berhasil mengejutkannya.
“Ini yang kucari,” ucap Jungwoo.
Juri lain saling pandang, tetapi mereka pun ikut berdiri seperti Jungwoo dan memberikan tepuk tangan.
Yeoreum tersenyum dan membungkuk hormat. “Terima kasih.”
Dia berjalan kembali ke tengah panggung, menunggu instruksi selanjutnya dari para juri.
“Kau menampilkan hal yang luar biasa,” puji Kyungmin. “Kami akan berdiskusi, jadi kau bisa menunggu hasilnya
besok.”
Setelah dipersilakan ke luar ruangan, Yeoreum pun pamit pada seluruh juri. Tangannya penuh peluh. Dia pun
mengusap dengan sapu tangan yang baru saja dikeluarkan dari tas. Yeoreum bersyukur bisa membuat juri terpukau. Dia hanya perlu berharap bahwa tidak ada lagi halangan untuk bisa memenangkan audisi ini.
Di dalam ruangan, kini para juri sudah mengubah posisi. Mereka mengangkat kurrsi, melingkar, dan menjauh dari
meja. Namun, sepertinya Jungwoo tidak ingin berlama-lama. Dia langsung mengutarakan kata begitu setiap juri telah duduk dengan baik.
Kyungmin memandang kawan-kawannya yang lain. Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang berbeda.
“Kenapa?” tanya Jungwoo. “Jangan bilang kalian tidak ingin menjadikan dia pemeran utama.”
“Kenapa Anda menginginkan Yeoreum?” tanya Dahyun, salah satu senior klub drama, kekasih dari Kyungmin.
“Tentu saja karena aktingnya. Tidak ada yang setara dengan Yeoreum. Kita sepakat soal itu, kan?”
“Betul, tapi … apa Anda yakin dia bisa merepresentasikan kampus kita di depan khalayak umum?” sahut Jaemin, juri yang lain.
“Jangan bilang ini soal fisik Yeoreum,” ucap Jungwoo seraya menatap ketiga sosok di sekitarnya. “Bukankah itu
terlalu jahat? Aku kira di klub ini tidak ada tindakan diskriminasi. Ternyata—”
“Tapi, industri yang Anda jalani pun begitu, kan?” potong Jaemin.
“Kau benar. Tapi, kami tentu mengutamakan bakat. Hal bodoh menyia-nyiakan bakat seperti Yeoreum. Fisik
selalu bisa diubah. Bukankah Yeoreum yang sekarang lebih baik dari sebelumnya?”
Ketiga sosok tersebut mengangguk pelan.
“Anda benar,” ujar Kyungmin.
“Apa kalian pikir dia akan membiarkan fisiknya sama jika mendapat peran utama?”
Jungwoo menyeringai. Dia sudah berdiri dan bersiap pergi.
"Pementasan masih beberapa bulan lagi. Kalian pasti bisa mengatur agar dia sesuai dengan figur pemeran utama impian kalian." Jungwoo mengerling sebelum memakai kacamata hitamnya. “Untuk peran lain, aku serahkan pada kalian. Tapi, khusus peran Heo Yeonwoo, pastikan Yeoreum yang mendapatkannya.”
...🌞🌞🌞...
Memasuki gerbang kampus, tujuan utama Yeoreum adalah aula teater. Pengumuman pemeran Heo Yeonwoo sudah ditempel dan Yeoreum ingin menyaksikan sendiri hasilnya. Dia berusaha untuk berjalan secepat mungkin. Hingga tiba di depan mading teater, Yeoreum harus berdesak-desakan dengan orang-orang di sana. Yeoreum tidak menyangka akan seramai ini. Dia bisa mendengar reaksi ketidakpercayaan dari pengumuman tersebut.
“Itu benar dia yang jadi peran utamanya? Wah … mereka sangat berani,” ucap seorang lelaki yang Yeoreum tidak
tahu namanya karena berasal dari jurusan tari. Salah satu hal yang membuat Yeoreum minder lagi selain berat badan adalah tinggi badannya. Dengan tinggi 155 cm, sangat sulit baginya menembus pandangan dari badan-badan semampai di depannya.
Pada saat badannya bertubrukan dengan orang-orang itu, tiba-tiba Yeoreum merasakan tepukan dari arah belakang.
“Kau sudah melihatnya,” ucap sosok tersebut, yang tidak lain adalah Hyunseok.
Yeoreum menggeleng, kemudian Hyunseok membantu Yeoreum, membukakan jalan dari kerumunan orang. Akhirnya, Yeoreum bisa berada tepat di depan mading. Gadis itu masih menatap tidak percaya tulisan besar yang tercetak di sana.
...Pemeran Heo Yeonwoo: Han Yeoreum, Jurusan Teater, Semester 4...
Mata gadis itu berbinar, tetapi ada selipan air mata yang dia tahan agar tidak keluar. Dia segera berbalik dan menemukan Hyunseok yang tersenyum lebar.
“Selamat, Han Yeoreum,” ucap Hyunseok. Lelaki itu merentangkan tangan, lalu mengode Yeoreum untuk mendekat padanya. Yeoreum langsung memeluk lelaki itu dengan erat.
“Aku berhasil, Hyunseok-ah! Aku berhasil ….”
Meski menjadi tontonan banyak orang, kedua anak manusia itu tidak peduli, seakan-akan sekarang tidak ada orang yang berada di sekitar mereka. Yeoreum merasa tenang mencium aroma pinus yang menguar
dari leher Hyunseok. Dia merasakan kehangatan dan ketulusan dari pelukan Hyunseok.
“Kau hebat,” ucap Hyunseok seraya melepas pelukan.
“Kita akan bermain bersama!” seru Yeoreum dengan nada ceria.
“Tentu saja. Mari kita buat pementasan yang spektakuler.”
Dan, Yeoreum pun mengangguk dengan rekah senyum terlebarnya.