
..."Entah siapa yang pantas dia salahkan. Ayahnya yang pergi karena wanita lain, atau hati sang ibu yang berubah, atau Tuhan yang sudah lama tidak pernah dia percaya lagi, atau ... dirinya sendiri."...
...🌞🌞🌞...
“Hei, Anak ******! Mana uangku minggu ini!”
Teriakan itu menggema tepat setelah Yoora menutup pintu. Gadis itu belum sempat melepas atribut yang melekat pada tubuhnya seusai menerjang hujan. Dia baru saja menyelesaikan latihan. Menjadi trainee aktris di perusahaan besar tidaklah mudah. Namun, keuntungannya adalah BigStar memberikan uang setiap bulannya sebagai bagian dari talent agensi. Meski tidak besar, dapat memberikan Yoora sedikit napas untuk penghidupannya.
Hal berat yang harus Yoora jalani adalah mengikuti pelatihan akting, modeling, dan vokal, MC, dan macam-macam pelatihan lain untuk dapat memenuhi kriteria industri Korea Selatan. Hari ini adalah jadwal modeling. Pelatihan terberat menurut Yoora. Akan ada evaluasi fisik setiap minggunya dan Yoora pun menjalankan diet ketat. Dia belum makan sejak pagi dan dia hanya ingin ketenangan di rumah. Namun, semua adalah fana. Sosok wanita yang kini ada di hadapannya justru menyambut dengan cara lain; menarik rambutnya yang tergerai.
Bekas kulit-kulit kacang berceceran di lantai. Botol-botol soju kosong menyebar di atas meja makan. Yoora tahu sampah-sampah itu tertumpuk dua hari. Terakhir kali meninggalkan rumah, dia sudah memastikan tidak ada debu yang akan membangkitkan alerginya. Dua hari ini dia sengaja menginap di rumah teman trainee-nya karena muak dengan sang ibu.
Yoora memperhatikan wanita paruh baya itu saat tubuhnya dihempas ke lantai. Mata merah dan berair; kaus robek di beberapa titik; anak-anak rambut yang mencuat dari gelungan, kasar seperti kemoceng. Napasnya bahkan membuat Yoora enggan menghirup udara.
“Kenapa kau memblokir kartu kreditku? Kau benar-benar anak tidak tahu diri!” Wanita itu kembali menarik rambut Yoora. Yoora menjerit, berusaha melepas tangan yang seakan-akan ingin mencabut nyawanya saat itu juga. Beberapa helai rambut jatuh di atas lantai bersama teriakan yang berhasil melepaskan Yoora dari siksaan.
“Ya! Apa kau benar-benar ibuku?”
Wanita bernama Ahn Soohyun itu makin berapi-api, mengambil sapu yang ada di bawah meja. Tongkat kayu tersebut bergerak acak, mendarat tanpa belas kasih di atas tubuh Yoora.
“Seharusnya kau pergi saja bersama ayahmu yang berengsek itu! Hidup bersama ******-jalangnya yang menjijikkan!”
Muak dengan sumpah serapah yang dia dengar, Yoora mendorong sang ibu. Keadaan berbalik. Gadis itu berdiri, melihat ibunya tersungkur.
“Kau pikir, kau seorang ibu?” Yoora mendengkus. “Bahkan membuat bekal untukku saja kau tidak pernah! Apa kau tahu aku sekarang kelaparan?!”
Soohyun menatap tidak percaya. “Aku menyesal membiarkanmu hidup! Kau dan ayahmu hanya membawa luka untukku!”
Wanita itu berdiri, siap menampar Yoora. Namun, pergerakannya terhenti oleh cengkeraman kuat di pergelangan tangan. Sorot tajam bersama tarikan napas tidak teratur mengantar dingin ke seluruh tubuh Soohyun. Dengan nada rendahnya, Yoora berkata, “Berhenti mengancamku atau aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu melarat.”
Hening menyusup. Yoora memperbaiki bajunya, berjalan menuju kamar. Langkah gadis itu tertatih-tatih. Perih di sekujur tubuh dia abaikan, layaknya tiupan lilin ulang tahun sepuluh tahun lalu. Hanya ada cahaya redup dari dapur. Setiap langkah menuju kamar membangkitkan ingatan Yoora. Malam-malamnya pada masa kanak-kanak berhias mimpi buruk. Teriakan-teriakan sumbang dan suara wanita tersedu-sedu selalu mengganggu. Yoora akan berlari ke kamar sang ibu, mendapati seprai yang terlepas dari tempat tidur. Dia tidak pernah menemukan ayahnya.
Wajah Soohyun penuh luka lebam, tetapi masih tersenyum manis memeluk Yoora. Setiap gadis itu bertanya, sang ibu akan menjawab bahwa dia telah membangkitkan kemarahan ayahnya. "Semua salah Ibu," begitu ucapnya.
Namun, pada malam puncak musim dingin sepuluh tahun lalu, Yoora sadar bahwa teriakan-teriakan yang terdengar bukanlah mimpi. Dia menyaksikan langsung sabuk panjang yang menerjang tubuh ibunya.
“Pergi dengan ****** itu atau aku akan membuat hidup putrimu sengsara!”
Setelah kalimat itu berakhir, ayahnya keluar rumah dan tidak pernah kembali. Sabuknya masing tertinggal di kamar. Namun, objek penyalur siksaan itu beralih pada Yoora. Sejak saat itu, Soohyun berhenti menyiapkan kotak makan siang sang anak. Yoora hanya memandangi teman-temannya yang tertawa bertukar isi bekal dan membanggakan masakan ibu mereka. Makin bertambah dewasa, Yoora paham bahwa Soohyun benci karena dirinya tidak bisa lagi menjadi alasan sang ayah untuk tetap tinggal. Bahkan, menyiksanya pun tidak membuat pria itu muncul di depan pintu. Sungguh, dia ingin mengutuk, tetapi tidak tahu sasaran yang tepat.
Sampai di kamar, Yoora segera menutup pintu, terdiam cukup lama hingga tubuhnya merosot. Yoora meringkuk, menenggelamkan wajah di antara celah lututnya. Gerak bahunya mulai tidak teratur. Dia menggigit bibir hingga rasa besi mendominasi saliva. Entah siapa yang pantas dia salahkan. Ayahnya yang pergi karena wanita lain, atau hati sang ibu yang berubah, atau Tuhan yang sudah lama tidak pernah dia percaya lagi, atau ... dirinya sendiri.
Yoora menatap gunting di atas meja rias. Bibirnya mengurva dan mendekati meja. Setelah jemarinya menyentuh benda itu, dia mulai menggerakkan di atas lengan seraya berkata, “Mungkin, kau bisa menyembuhkan lukaku.”
...🌞🌞🌞...
Yeoreum tersenyum puas begitu melihat timbangan. Benar-benar obat pelangsing itu mujarab. Seminggu sebelum audisi, berat badan Yeoreum sudah turun sepuluh kilogram. Dia yakin jika berhasil lolos audiri, dia pasti dia akan mencapai berat badan ideal saat pementasan.
Sempat beberapa kali Yeoreum hampir kehilangan kesadaran karena menahan makan atau memuntahkan makanannya. Yeoreum diam-diam hanya mengonsumsi apel, pisang, dan susu setiap jam makan. Dia tidak pernah lagi memakan bekal sang ibu. Jika lapar, Yeoreum akan meminum air putih sebanyak mungkin. Dia tidak peduli walau harus bolak-balik ke kamar mandi. Dia juga membeli suplemen penguat agar tetap bisa menjalankan aktivitas. Memang sangat berat, tapi Yeoreum puas dengan hasil ini. Dia tidak akan berhenti hingga mencapai keinginannya.
Yeoreum bersiap-siap menuju kampus. Dia menggunakan sweater agar badannya lebih hangat. Tidak lupa membawa payung karena akhir-akhir ini sering hujan. Perjalanannya Yeoreum seperti biasa, menaiki bus, lalu turun di halte dekat kampus, dan kini berjalan di lorong menuju kelas.
Ada hal yang berbeda, setiap orang yang dilalui Yeoreum akan tersenyum dan menyapanya. Seperti saat sekarang dia akan memasuki kelas, seorang gadis mendekatinya. "Hya, Yeoreum-ah! Lihatlah dirimu. Kau luar biasa. Apa rahasia dietmu?"
"Wah! Hebat sekali. Aku iri padamu. Kau terlihat makin cantik," kata gadis itu lagi.
Yeoreum hanya mengangguk, lalu berjalan mencari kursi kosong. Sebelum sampai di tempatnya, sudah ada Yoora yang terlihat akan berjalan ke luar. Sudah lama memang mereka tidak bertemu. Selain karena jadwal kuliah yang memang banyak berbeda, yang Yeoreum dengan kesibukan menjadi trainee aktris membuat Yeoreum sering absen kuliah.
"Kau pasti senang jadi pusat perhatian, kan?" ucap Yoora dingin.
"Ya, dan itu bukan urusanmu!"
Yeoreum berjalan dan sengaja menabrak bagu Yoora.
Yoora tersentak dan membalik badan, memberikan tatapan nyalang pada Yeoreum. "Hya! Kau pikir kau cantik? Beraninya kau menabrakku."
"Oh, maaf, Choi Yoora. Aku tidak melihatmu," ucap Yeoreum dengan santai.
"Badanmu yang besar memang menghalangi jalan!" seru Yoora dan bisa didengar satu kelas.
Semua orang kini memandang Yoora dengan tatapan tidak suka.
"Hya, Choi Yoora. Bisakah kau datang dan tidak mmebuat keributan? Kau selalu merendahkan Yeoreum. Kau pikir kecantikanmu bisa membuatmu hebat?" ucap gadis yang sebelumnya menyapa Yeoreum.
"Lama-lama kau sangat menjijikkan!" seru gadis lain yang duduk dua kursi di belakang Yeoreum.
Yoora terkejut. Kenapa semua orang kini balik menyerangnya? Dahulu, tidak ada yang akan membela Yeoreum. Yoora merasakan jantungnya berdenyut. Kenapa teman-temannya sekarang seperti ibunya?
Gadis itu langsung mengambil tasnya dan keluar. Saat berada di depan pintu, dia berpapasan dengan Hyunseok. Lelaki itu terkejut melihat air mata mengalir di pipi Yoora. Untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu begitu rapuh.
"Hei, kau kena—"
"Kau juga ingin menghinaku, kan? Pergi!"
Yoora mendorong tubuh Hyunseok dan berlari dengan cepat, sementara di kelas orang-orang sudah saling berbisik. Hyunseok langsung berjalan dan duduk di sebelah Yeoreum yang tersenyum riang.
"Ada apa dengan Yoora?" tanya Hyunseok.
"Aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba saja marah padaku karena banyak yang menyapaku."
Hyunseok mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak mengerti dengan persaingan di antara dua gadis ini.
"Sudahlah, tidak usah membicarakan dia," kata Yeoreum. "Oh, ya, menurutmu, bagaimana penampilanku hari ini?"
Hyunseok memandang wajah Yeoreum. Lemak di pipi gadis itumulai berkurang sehingga bentuk wajahnya mulai terlihat. Riasan natural hari ini dengan satu kuciran tinggi membuat penampilan Yeoreum sangat fresh. Mata cokelatnya yang natural selalu dapat membuat Hyunseok berdebar.
"Cantik," ucap Hyunseok dengan jujur.
Jantung Yeoreum berdegup kencang, bagai kuda yang tengah mengentak tanah. Tatapan mata Hyunseok berhasil mengunci kesadarannya. Yeoreum mulai mengerti bahwa perasaannya pada Hyunseok lebih dari seorang teman. Namun, dia tidak tahu bagaimana Hyunseok. Yeoreum takut bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Hyunseok selalu baik dengan semua orang dan dia sendiri tidak pernah mengungkapkan jika ada sosok gadis yang disukainya.
Dengan berat badannya yang sekarang, Yeoreum merasa belum pantas untuk bersanding dengan Hyunseok. Dia harus menjadi sempurna. Setelah itu, Yeoreum akan mencuri hati Hyunseok. Ya, itu impian baru Yeoreum.
...🌞🌞🌞...