A Lovely Happiness In Summer

A Lovely Happiness In Summer
#1 Ketakutan



"Tidak ada pria yang kawakan, mapan, dan rupawan secara bersamaan. Kau hanya bisa memilih dua dari tiga, ingat itu!"


...🌞🌞🌞...


Lima menit lagi, audisi pemeran utama untuk drama festival musim panas Universitas Seni Hangang dimulai. Klub drama akan mementaskan The Moon That Embracess The Sun (Haereul Pumeun Dal), karya fiksi milik Jung Eun Gwol yang sudah Yeoreum baca hingga tujuh kali. Selain buku tersebut adalah favoritnya, gadis itu juga tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi pemeran utama. Riset adalah hal terpenting untuk menjadi aktris. Maka, hal itulah yang Yeoreum tanamkan di kepala semenjak membaca pengumuman audisi terbuka pentas drama tersebut.


Yeoreum membuka pintu aula tergesa-gesa. Tanpa persiapan matang—jelas—Yeoreum kehilangan keseimbangan tubuh karena menginjak unjuk roknya sendiri. Wajah gadis itu mencium mesra lantai. Cairan merah kental mengalir dari lubang hidungnya saat mencoba bangkit. Hyunseok yang sudah terlebih dahulu di dalam aula segera berlari ke arah sahabatnya.


“Han Yeoreum! Kau tidak apa-apa?”Hyunseok memberikan saputangan yang ada di kantong celananya. Namun, suara tawa tertahan mulai mendominasi ruangan. Yeoreum hanya menghela napas seraya menerima bantuan Hyunseok berdiri dan mengikuti lelaki itu. Gadis itu sadar sudah menjadi badut tertawaan teman-temannya.


Di tengah aula, kursi-kursi telah tersusun rapi membentuk kurva. Titik puncaknya menghadap langsung ke arah panggung pertunjukan. Hanya tersisa dua kursi kosong di daerah tengah dan Yeoreum tidak dapat memilih tempat. Padahal, dia sangat ingin menghindari Choi Yoora, gadis yang baru saja mengibas rambut sebelum Yeoreum duduk.


“Eoh, maaf. Rambutku tidak sengaja mengenai wajahmu. Aku tidak tahu kau akan duduk,” ujar Yoora sembari terkekeh-kekeh. Gadis itu memang tidak pernah menunjukkan sikap baik sejak hari pertama Yeoreum mengikuti klub drama. Dia tidak mengerti alasan pasti setiap perbuatan menyebalkan Yoora.


Hyunseok hampir saja membalas perkataan Yoora kalau saja Yeoreum tidak melarang dan menyuruhnya segera duduk. Setelah suasana lebih kondusif, seorang lelaki berdiri di pusat kurva.


“Selamat sore,” ucap Park Kyungmin, Ketua Klub Drama. Dia mengedarkan senyum sembari memegang salinan naskah. “Hari ini kita akan memilih pemeran utama wanita yang akan mendampingi Jung Hyunseok. Saya membebaskan siapa pun yang ingin mencoba.”


Para anggota saling menatap. Tampak keraguan dari raut muka mereka, menciptakan hening beberapa menit. Lalu, suara Yoora memecah perhatian.


“Aku mengajukan diri!”seru gadis itu.


Aula kembali ramai oleh bisik-bisik. Mereka persis anak itik yang bercuap-cuap karena lapar, tetapi tidak menemukan sang induk. Melihat kondisi tersebut, Kyungmin berdeham, menggebrak meja di depannya.


“Jadi, ada lagi yang ingin mencoba?”


Meski sedikit ragu, Yeoreum mengangkat tangan. Namun, perubahan ekspresi setara satu penggaris busur yang justru dia dapatkan. Gadis itu bisa mendengar anggota lain berdecak-decak seakan-akan tidak percaya.


Kyungmin kembali menenangkan anggota dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Namun, tidak ada jawaban, bahkan setelah putaran jarum pada jam tangannya telah melewati angka 12 lebih dari lima kali. Lelaki itu pun memutuskan audisi untuk Yoora dan Yeoreum saja.


“Coba kalian buka halaman 33, adegan keempat. Tunjukkan di panggung bagaimana interpretasi kalian terhadap adegan perpisahan Yeonwoo dan Raja Lee Hwon. Kalau kalian sudah siap, bisa langsung naik ke panggung.”


Yoora menyeringai, menatap remeh Yeoreum. Dia mendekatkan bibir ke telinga gadis itu dan berbisik, “Tidak ada yang menyukai gadis gendut sebagai pemeran utama,” lalu berjalan ke panggung.


Kata-kata itu bagai remote yang mematikan waktu di sekitar Yeoreum. Tepuk tangan serta sorak-sorai keberhasilan Yoora menyelesaikan adegan tidak lagi masuk ke alam sadarnya. Tangan Yeoreum bergetar setelah Yoora kembali duduk.


Hyunseok memperhatikan Yeoreum. Dia tahu gadis itu tidak akan bisa tampil dalam keadaan kalut. Dia pun menggenggam tangan sang gadis.


“Tutup matamu,” ucap Hyunseok. Lelaki itu menuntun Yeoreum untuk menenangkan diri. Bagai kerongkongan yang terisi dahaga, kelembutan Hyunseok berhasil mengurangi kekalutan Yeoreum. Genggaman tangan gadis itu mengendur dan Hyunseok tidak lagi merasakan getaran. Perlahan, Yeoreum membuka mata, lalu tersenyum tipis.


Hyunseok menepuk pundak Yeoreum sebelum naik ke panggung. Gadis itu begitu tenang merapalkan dialog Yeonwoo. Dia mengulur tangan dan semua orang meremang. Bayangan sosok Yeonwoo yang harus melepas tautan dari Raja Lee Hwon terbayang jelas. Tetes air mata serta getaran suara Yeoreum telah menghipnotis seisi ruangan. Tidak ada yang berani bersuara hingga dialog berakhir.


Hyunseok menjadi orang pertama yang berdiri dan memberikan tepuk tangan paling meriah. Satu per satu anggota mengikuti, meski dengan wajah ragu. Yeoreum sempat memaku, lalu sudut bibirnya terangkat saat melihat semua orang memberikan apresiasi untuknya.


“Seharusnya kita sudah tahu siapa yang pantas mendapat peran utama,” ujar Hyunseok. Intonasi sarkatis itu sengaja dia tujukan pada Yoora. Gadis itu berdecak-decak kesal. Namun, dia cukup mampu mengendalikan diri.


“Kau bukan juri di sini. Aku rasa Senior Kyungmin juga tidak bodoh untuk membuat drama kita dilirik banyak orang.”


Yeoreum turun dari panggung. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan terima kasih pada Hyunseok, dan lelaki itu mengangguk.


Lalu, perhatian anggota kini tertuju pada Kyungmin. Lelaki itu adalah penentu hasil audisi hari ini. Cukup lama Kyungmin berpikir, menatap dua gadis di hadapannya bergantian beberapa kali. Dia berdiskusi dengan senior klub drama lain. Setelah mencapai sepakat, dia pun bersuara.


“Yoora dan Yeoreum telah menampilkan kualitas di luar ekspekstasi kami. Tapi, kami memutuskan untuk memilih.”


Lelaki itu menahan sejenak perkatannya. Tangan Yeoreum mendadak berkeringat dingin bersama jantung yang beradu detak dengan jam tangannya. Dia sungguh berharap bisa mendapatkan peran utama ini.


“Yoora sebagai pemeran Yeonwoo,” ujar Kyungmin, mengakhiri teka-teki pemeran utama pementasa klub drama.


Tepuk tangan mengisi penuh aula, tetapi gertakan Hyunseok menghentikan semua.


“Apa kalian semua buta? Akting tanpa rasa seperti Yoora yang kalian pilih? Kalian pasti gila!”


Menolak pernyataan itu, Yoora berdiri, menatap nyalang Hyunseok. “Hya, Jung Hyunseok! Kau pikir kau siapa mengomentari aktingku?! Meski gadis itu temanmu, kau harus mengerti arti profesional. Senior sendiri yang memilihku. Lebih baik kau diam dan urus saja temanmu itu. Semoga ada hanbeok yang cocok untuknya!”


“Keterlaluan! Aku muak dengan klub ini. Aku berada di sini atas permintaan Yeoreum dan sekarang aku keluar!”


Hyunseok menarik tangan Yeoreum meninggalkan aula yang dipenuhi teriakan Yoora dan wajah tercengang anggota.


...🌞🌞🌞...


Tidak ingin berjibaku sendiri dengan lautan manusia penguar aroma keringat, Yeoreum menggedor rumah Hyunseok sejak pukul 7.00 pagi. Meski harus berperang lebih dari 15 menit agar membuat lelaki itu tidak memeluk bantal kembali, Yeoreum akhirnya berhasil membawa Hyunseok duduk di kereta bawah tanah. Mereka sempat berdesak-desakan dengan penumpang lain. Setiap kali Yeoreum melewati kerumunan penumpang, dia harus mengucap maaf. Walau tidak mengeluarkan tenaga yang besar, melihat mereka terhuyung-huyung saat bertubrukan dengannya dan cukup membuat gadis itu merasa buruk.


Namun, sedikit kebaikan hadir dalam hidup Yeoreum: Jung Hyunseok.


Yeoreum benar-benar berterima kasih pada lelaki itu. Hyunseok terus menggenggam tangannya hingga mereka menemukan kursi kosong untuk duduk dengan nyaman.


Enam menit perjalanan dari Seocho berakhir di Stastiun Seolleung. Lalu, kedua anak muda itu melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum ke mal terbesar di distrik Gangnam. Perjuangan mereka berlajut dengan mengantre selama dua jam sepanjang 25 deretan toko sebelum berhasil masuk ke toko buku. So Seonhwa—penulis favorit Yeoreum—mengadakan bincang-bincang tentang karya fenomenalnya, Eternal Love.


Yeoreum bernapas lega begitu merasakan angin dari AC portabel menerbangkan rambut panjangnya. Gadis itu sengaja menepi sebentar ke sisi kiri pintu, menggerak-gerakkan kaus yang dia pakai, berharap angin buatan tersebut bisa menghilangkan peluh tubuhnya.


Hyunseok mengeluarkan sebotol air mineral dari ransel, meneguk cepat sebelum berpindah tangan ke Yeoreum.


“Aku tidak akan menemanimu datang ke acara seperti ini lagi!” seru Hyunseok berapi-api.


Yeoreum tertawa kecil, mengusap sisa air di sudut bibirnya selepas minum. Dia sudah terlalu sering mendengar keluhan yang sama. Namun, setiap saat pula sang sahabat akan menelan ludahnya sendiri.


“Hyunseok-ah,” panggil Yeoreum, “aku minta maaf soal kejadian audisi kemarin.”


Yeoreum mengembalikan minum Hyunseok, memperhatikan saksama lelaki itu.


“Mereka tidak bisa melihat talentamu. Aku tidak mau membuang waktu bekerja sama dengan orang-orang culas.”


Yeoreum terdiam sejenak, meresapi kata-kata Hyunseok sebelum berkata, “Kumohon pikirkan kembali keputusanmu. Apa kau tega merusak kerja keras tim hanya karena gadis sepertiku?"


Hyunseok meneleng cepat, menatap Yeoreum dengan aura mematikan.


"Han Yeoreum! Kau itu sahabatku. Mana mungkin aku membiarkan mereka merendahkanmu!"


"Tapi, mereka membutuhkanmu. Mereka menawariku jadi dayang-dayang Putri Yeonwoo. Itu juga tidak buruk. Aku tetap bisa menunjukkan talentaku dengan peran apa pun.”


Hyunseok menghela napas. Dia benci sikap pesimis dan pasrah Yeoreum. Namun, berdebat dengan gadis itu hanya akan menambah panas di ubun-ubun kepalanya.


“Sudahlah. Akan kupikirkan nanti,” kata Hyunseok mengakhiri diskusi mereka. Setelah itu, Hyunseok mengajak Yeoreum berjalan.


Daerah tengah toko disulap seperti studio acara bincang-bincang televisi. Panggung kecil dengan meja panjang telah siap, menghadap langsung pintu masuk. Beberapa wartawan dan juru kamera duduk rapi di barisan depan. Terakhir kali Yeoreum ke toko buku ini, daerah tengah berisi pajangan buku dengan titel penjualan terbaik. Rak tersebut telah berpindah ke sisi pojok kiri. Karena acara belum dimulai, Yeoreum meminta Hyuseok menemaninya ke deretan buku fiksi. Gadis itu mencari novel Haruki Murakami, salah satu sastrawan kontemporer dunia yang dia kagumi. Matanya sibuk membaca uraian singkat di belakang sampul IQ84 jilid kedua.


“Kenapa para perempuan senang dibohongi dengan kisah roman picisan?”


Yeoreum meneleng. "Roman picisan?"


Hyunseok memajukan dagu ke arah depannya, terpisah satu rak dari tempat mereka. Dua gadis tengah tertawa, saling menepuk bahu sembari membuka halaman novel. Samar-samar Yeoreum bisa melihat sampul buku tersebut, cerita romansa nomor satu di Korea saat ini. Kisah seorang CEO yang harus menikah dengan gadis miskin karena perjodohan.


“Mana ada kisah seperti itu di dunia. Gadis-gadis remaja hanya berkhayal menunggu lelaki kaya yang mau menikahi mereka. Kisah-kisah itu hanya mempersulit lelaki sepertiku.”


Tawa Yeoreum meledak. "Tidak ada kasta dalam karya seni. Kau seharusnya mengerti itu."


“Ya, ya, ya. Tapi, di dunia ini tidak ada lelaki yang kawakan, mapan, dan rupawan secara bersamaan. Kau hanya bisa memilih dua dari tiga, ingat itu!”


Tawa Yeoreum makin kencang, memancing gadis-gadis yang mereka perhatikan menoleh. Yeoreum bisa merasakan aura permusuhan. Anehnya, kedua gadis itu tersenyum kala melihat Hyunseok, sesekali melirik. Mereka berbisik-bisik, lalu salah seorang gadis berjalan ke arah Hyunseok dan Yeoreum.


“Sepertinya aku pernah melihatmu,” ujar gadis itu.


Hyunseok mengernyit. “Mungkin itu orang lain. Saya tidak mengenal Anda.”


Si gadis tersenyum, makin merapatkan tubuhnya pada Hyunseok. “Aku tidak pernah salah, apalagi soal pria tampan.”


Hyunseok mendengkus lemah, menjauh dari sang gadis. “Saya yakin Anda salah orang.”


“Kenapa kau terlalu formal. Aku yakin kita seumuran. Atau, mungkin kau lebih tua sedikit dariku ... Oppa.”


Rasa dingin mengalir di area tengkuk Hyunseok saat mendengar panggilan itu. Dia ingin segera pergi. “Maaf, saya harus mengikuti acara penulis So Seonhwa. Mungkin, lain kali kita bisa bicara.”


Hyunseok menarik tangan Yeoreum yang sejak tadi diam. Namun, langkah mereka terhenti oleh perkataan si gadis. “Ya! Kau mengabaikanku karena wanita mirip babi itu? Memang apa bagusnya dia? Kau benar-benar pria tidak punya selera!”


Hyunseok berbalik, mendengkus, lalu menyeringai. “Apa kau merasa cantik, Nona?” tanyanya dengan nada sarkatis. “Kuakui kau memang cantik. Sayangnya, aku lebih suka wanita yang punya etika.”


Gadis itu membelalak bersamaan dengan gerakan tangan mengepal. “Menghina fisik adalah jalan terakhir yang bisa dilakukan saat kau tidak menemukan kekurangan lawanmu.” Hyunseok kembali menyeringai. “Jadi kau sudah kalah, Nona.”


Hyunseok berlalu, mengabaikan teriakan gadis itu. Yeoreum tidak bersuara. Dia hanya mengikuti Hyunseok hingga duduk di deretan kursi yang sudah ramai.


Pewara membuka acara. Gema pengeras suara perlahan mengecil hingga tidak lagi menggetarkan gendang telinga Yeoreum. Dia menoleh, menatap lama wajah Hyunseok dari samping. Garis wajah lelaki itu begitu tajam dengan tulang hidung menjulang. Badannya cukup berisi. Urat-urat lengannya menonjol, menambah kesan jantan. Cekungan kecil di pipi yang muncul setiap kali tersenyum menambah daya tarik. Yeoreum baru menyadari bahwa sahabatnya telah tumbuh menjadi pria dewasa yang luar biasa.


“Kau masih memikirkan gadis tadi?” tanya Hyunseok, menyadarkan Yeoreum. “Lupakan. Mereka hanya iri padamu.”


“Aku baik-baik saja.” Yeoreum tersenyum tipis. “Lagi pula, yang dia katakan benar.”


Mereka kembali diam beberapa saat, lalu Hyunseok berkata, “Aku tidak pernah malu bersamamu. Aku berteman denganmu karena sifat, bukan fisik.”


“Terima kasih,” ucap Yeoreum pelan. Meski, bukan itu yang ingin dia dengar dari Hyunseok. Yeoreum terus berpikir, seburuk itukah dirinya hingga Hyunseok tidak menyelipkan kata 'cantik' untuk membelanya?


“Kau harus berani melawan orang-orang yang menghinamu. Tidak setiap saat aku berada di sampingmu.”


Yeoreum memproses setiap kata itu. Dia terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak sadar bahwa acara bincang-bincang telah selesai. Semua pertanyaan yang gadis itu siapkan akhirnya mengambang. Dia hanya mendapat kesempatan meminta tanda tangan Seonhwa. Setelah nomor urutnya dipanggil, Yeoreum berdiri, mengambil novel dari tas.


Seonhwa menyunggingkan senyum dan menyapa Yeoreum. “Terima kasih sudah membaca novelku.”


Yeoreum mengangguk, menyerahkan bukunya. Namun, mata gadis itu terlihat kosong, membuat Seonhwa curiga. “Sepertinya kau sedang ada masalah.”


“Ah, tidak. Saya hanya tidak percaya bisa bertemu Anda.” Yeoreum menarik paksa sudut bibirnya dan Seonhwa tidak lagi menginterogasi.


“Kau ingin aku menulis pesan apa?”


Tanpa sadar Yeoreum menyuarakan isi hati terdalam, bergumam kecil, tetapi dapat ditangkap Seonhwa. Wanita itu sempat mengerut dahi. Namun, beberapa detik kemudian dia memutuskan untuk menulis kata-kata yang berbeda.


...Aku akan menjadi penonton pertama aktris Han Yeoreum....


...-So Seonhwa...


“Sudah,” ujar Seonhwa, menyadarkan lamunan Yeoreum. “Terima kasih. Aku harap kita bisa berjumpa kembali.”


Yeoreum membungkuk dan Seonhwa membalas dengan anggukan. Gadis itu turun dari panggung, memasukkan novelnya ke dalam tas tanpa membaca pesan Seonhwa.