
..."Ah, bukankah aku kanibal? Aku babi yang memakan babi!"...
...🌞🌞🌞...
Sebulan Yeoreum menghabiskan liburan musim panas yang bisa saja digunakan bersantai atau berjalan-jalan ke pantai untuk latihan pementasan drama. Meski lebih banyak menjadi 'babu' daripada berlatih adegan, Yeoreum tetap sennag karena hari ini dia tetap bisa mewujudkan impiannya untuk tampi di depan banyak orang.
Kini, Yeoreum tenganh berada di ruang ganti yang telah dipenuhi para pemain dan properti penampilan. Para pemain sibuk berdandan. Meja rias berderet, berjarak satu depa. Kursi tanpa sandaran di depan meja adalah penanda teritori setiap orang. Lampu bohlam mengelilingi bingkai cermin, menambah penerangan agar tidak ada bagian riasan yang terlewatkan.
Yeoreum memoles wajahnya dengan bedak, sangat tipis, hampir tidak berjejak. Kulit gadis itu memang sudah seputih kulit pangsit, tidak perlu perona pipi untuk membuat wajahnya kemerah-merahan. Rambut panjangnya sudah tersanggul rapi. Yeoreum akhirnya menyewa hanbok karena tidak ada properti kostum yang sesuai dengan ukurannya.
Jarum jam menunjuk angka enam. Kyungmin masuk ke ruangan. Dia bertepuk tangan, memberi kode perhatian. Semua berhenti melakukan aktivitas dan mendatanginya. Mereka melingkar walau bentuknya berantakan.
“Hari ini adalah penantian kita. Aku tahu kalian sudah berlatih dengan baik. Sekarang, rangkul teman di samping kalian dan pejamkan mata,” ujar Kyungmin. Meski sedikit berdesak-desakkan, mereka tetap melakukan instruksi. Yoora baru saja datang, berdiri di tempat yang cukup lengang, di sebelah Yeoreum. Alih-alih mengikuti ritual klub drama, dia justru menghempas tangan Yeoreum dari pundaknya.
“Jangan sentuh aku!”
Yeoreum menghela napas. Dia tidak ingin merusak suasana, memilih mundur. Kini, justru tangan Hyunseok yang merangkulnya. Mereka saling melempar senyum, lalu memejamkan mata. Keduanya hanyut dalam doa hingga Kyungmin kembali bersuara.
“Aku punya kabar baik,” ucapnya di sela-sela keriuhan. “Hari ini senior Jeon Jungwoo, salah satu pencari bakat dari agensi BigStar Entertaiment akan menonton pementasan kita. Mungkin saja, senior Jeon akan menawari salah satu dari kalian menjadi artis di agensinya.”
Mata Yeoreum berbinar bersama satu tarikan dari kedua sudut bibirnya. BigStar memang terkenal menghasilkan artis papan atas yang selalu memenangkan penghargaan. Karier sang artis bahkan melejit hingga ke luar negeri. Menjadi artis BigStar adalah jaminan kesuksesan di dunia akting dan modeling.
“Bersiap-siaplah dan tunjukkan kemampuan kalian!” seru Kyungmin.
Para pemain membubarkan diri bersama iringan tepuk tangan. Yoora berjalan ke arah Yeoreum, sengaja menyenggol bahu gadis itu.
“Senior Jeon tidak akan melirikmu,” ucap Yoora.
Yeoreum bisa merasakan dengkusan Yoora menerjang tengkuknya sebelum meninggalkan ruangan. Tangannya mengepal, berusaha mengontrol kesal atas perkataan gadis itu.
Mata Hyunseok mengekori pergerakan Yoora, begitu tajam seperti silet yang mampu menggores penggunanya. Namun, tatapan itu berhenti kala melihat wajah memerah Yeoreum.
“Kau ... baik-baik saja?” tanya Hyunseok.
“Tentu. Aku akan mementaskan drama dari novel yang kusuka. Apa ada alasan untuk tidak baik-baik saja?”
Hyunseok mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu isi hati gadis itu. Dia berjalan menuju tempat tunggu pemain di belakang panggung.
Tirai terbuka setelah pewara menyelesaikan salam pembuka. Pementasan dimulai dari kisah masa kanak-kanak Raja Lee Hwon dan Yeonwoo. Adegan demi adegan tersaji hingga tiba saat Yeoreum naik ke panggung. Dia berada satu set dengan Yoora. Dalam adegan tersebut, Yeoreum mendampingi Yoora berjalan ke pasar untuk bertemu Raja Lee Hwon.
Sepatu tipis Yeoreum mengetuk lantai, melangkah dalam derap teratur. Dia hanya berjarak empat langkah kecil dari Yoora. Gadis itu menikmati setiap tarikan udara yang terhirup di atas panggung, mengulas senyum pada penonton. Dia tidak sadar Yoora berhenti dan menjulur kaki, membuatnya tersandung dan menghantam lantai.
Lampu sorot menerangi panggung, terarah pada Yeoreum. Penonton terpaku. Semula suasana begitu hening, lalu beganti bisik-bisik yang makin nyaring. Yoora menyeringai seraya menjulurkan tangan.
“Kau harus berhati-hati. Jalanan di sini memang banyak batu. Apa ada yang sakit? Tapi, kurasa tubuhmu bisa menahannya dengan baik.”
Yeoreum berhenti bernapas beberapa detik. Dia sadar bahwa Yoora sengaja membuat dialog improvisasi untuk mempermalukannya. Tawa-tawa kecil saling menyahut dari setiap sudut kursi penonton dan makin membesar. Wanita-wanita menutup mulut agar tidak terbuka lebar saat tertawa, sedangkan pria-pria bisa lebih bebas sambil menepuk-nepuk gagang kursi. Namun, di antara carut-marut manusia tanpa simpati itu, hanya Jeon Jungwoo yang berekspresi datar. Dia mengambil kacamata hitam dari saku celana dan memilih keluar gedung pertunjukan.
Seharusnya Hyunseok masuk ke set, menampilkan raut terpesona pada Yoora, tetapi dia benar-benar kehilangan fokus. Dia bisa melihat Yeoreum terus menunduk, meski mulutnya tetap melafalkan dialog. Tidak tahan, otak Hyunseok mencari akal untuk membalas Yoora.
“Maaf, tadi saya melihat Anda terjatuh. Apa Anda baik-baik saja?”
Yeoreum mengangguk, meski wajahnya terlihat sedikit bingung.
“Saya sangat bersyukur karena Nona ...,” Hyunseok menjeda kalimatnya, tersenyum pada Yoora.
Gadis itu seakan-akan mengerti maksudnya, kemudian menjawab dengan intonasi rendah. “Yeo-Yeonwoo, Yang Mulia,” jawab Yoora sedikit terbata-bata.
“Ya, Nona Yeonwoo. Dia begitu peduli pada Anda. Sekarang sangat banyak orang yang ingin menghancurkan temannya sendiri dengan cara-cara licik. Dan, saya tidak melihat itu dari perilaku Nona Yeonwoo.”
Yoora membeliak. Dia tidak mungkin meluapkan kemarahan dalam pementasan. Gadis itu hanya bisa tersenyum dan melanjutkan dialog yang seharusnya dimainkan. Dalam alam sadar Yeoreum, adegan itu berlalu begitu cepat. Satu-satunya babak saat dia bisa berdialog dan menunjukkan kemampuan akting hancur oleh kebencian seseorang yang tidak bisa dipahami.
Turun dari panggung, Yeoreum bergegas ke ruang ganti, terdiam di kursi hingga pementasan berakhir.
Semua pemeran naik ke panggung setelah adegan raja Lee Hwon memeluk Yeonwoo berakhir. Riuh tepuk tangan menggema seisi aula. Tirai menutup dan mereka kembali ke belakang panggung. Kostum-kostum menggantung di lemari. Ruang ganti makin sepi. Satu per satu pergi menyisakan dua orang gadis yang terpisah dua petak meja rias. Yoora membersihkan sisa lipstik, sedangkan Yeoreum menatap datar pantulan wajahnya. Bibir gadis itu menyuarakan kalimat yang teralamat jelas.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” kata Yeoreum dengan nada rendah.
Tidak ada jawab. Yoora membuang sisa kapas pembersih, membuat Yeoreum mengentak meja. “Hya! Apa kau tuli?”
Yoora meneleng. Matanya memicing tajam. “Hya, Gadis Gendut! Kau berani padaku?”
Napas Yeoreum makin tidak teratur saat Yoora berjalan ke arahnya. Tatapan gadis itu mengintimidasi, seakan-akan dia adalah kucing jalanan yang pantas dibuang.
“Aku tidak pernah melakukan hal buruk padamu, tapi kau seperti setan yang selalu mengganggu. Apa kau iri padaku?”
Yoora terbahak-bahak. Bayang-bayang seorang gadis yang tengah meringkuk di sisi tempat tidur menarik memorinya. Lebam menghiasi tubuh gadis itu. Seorang pria berbadan tegap menarik sabuk dari celana, mengayun ke arah sang gadis hingga teriakannya memekakkan liang pendengaran. Yoora menggeleng, menutup kupingnya rapat-rapat.
“Tidak ada hal bagus apa pun yang ada dalam dirimu. Aku tidak iri padamu! Tidak! Tidak pernah!”
“Lalu, apa alasanmu yang sebenarnya? Katakan padaku!” teriak Yeoreum, meluapkan seluruh emosi yang selama ini dia pendam.
Yoora tertawa sinis. “Karena aku tidak ingin kau mendapatkan kebahagiaan!”
Yeoreum kehilangan kontrol. Dia menarik rambut Yoora, menghempas tubuh gadis itu hingga membentur lantai.
“Aku benar-benar membencimu, Choi Yoora!”
“Hentikan!” Intonasi tinggi Hyunseok tetap tidak mampu menghentikan Yeoreum. Gadis itu terus memberontak. Dia terpaksa menguatkan cengkeraman hingga pergerakan sang gadis melemah.
“Sakit ...,” ucap Yeoreum lirih. Hyunseok melepas tangannya, mengusap keringat yang mulai memenuhi wajah gadis itu.
“Ayo, kita pulang,” ujar Hyunseok. Lelaki itu keluar, membawa Yeoreum melewati pria yang masih setia berdiri di depan pintu menyaksikan drama mereka.
Hyunseok memutar kemudi, membelah jalan menuju Seocho. Tidak ada kata yang terucap sepanjang perjalanan. Kelap-kelip lampu dari bangunan-bangunan megah di kota terlihat seperti cahaya kunang-kunang. Mobil mereka berhenti di belakang garis penyeberangan jalan. Yeoreum menatap kosong muda-mudi yang lewat sembari bergandengan tangan. Pikiran Yeoreum carut-marut. Namun, tidak ada hal yang mampu meluruskan kepalanya lagi. Dia rasa hanya makan dan 'minum' yang mampu menyembuhkan lukanya hari ini.
Tersisa sepuluh detik sebelum lampu hijau menyala dan Yeoreum membuka suara. “Aku mau ke restoran Bibi Min.”
Hyunseok menengok Yeoreum sesaat. Dia menghela napas, lalu menginjak pedal gas setelah mobil di belakang membunyikan klakson. Mereka menempuh jarak 500 meter sebelum memarkir mobil di depan restoran. Aroma daging panggang menguar, menyambut kedatangan dua sahabat itu. Yeoreum tersenyum pada sang pemilik yang sudah dikenalnya sejak awal kuliah. Wanita tua yang tengah menyusun botol soju mengerling, menunjuk meja kosong di pojok sisi kiri. Gadis itu tidak perlu repot meminta menu, pemilik restoran sudah begitu hafal. Yeoreum selalu memesan hal yang sama; soju dan samgyeopsal.
Pemanggang datang bersama satu nampan daging. Lemak yang menyelimutinya begitu menggoda. Yeoreum buru-buru menyalakan panggangan. Dia makan dengan lahap, memasukkan daging dan nasi bergantian ke mulut tanpa jeda. Sesekali tangannya yang kosong menuang soju ke gelas bening kecil, lalu menjadikan cairan itu sebagai pendorong makanan agar cepat melewati kerongkongan. Hyunseok sudah tidak tahan lagi melihat keadaan Yeoreum. Dia menggeser gelas ketujuh gadis itu sebelum sempat terteguk. Wajah Yeoreum memerah seperti potongan daging di hadapannya. Gadis itu mulai meracau. Lima iris daging masuk ke mulutnya, terus bertambah sebelum benar-benar selesai terkunyah.
“Kau benar-benar ingin cepat mati, ya!” seru Hyunseok.
Yeoreum terkikik-kikik, menghabiskan soju-nya yang sempat tertunda. “Mati? Bilang saja kau ingin mengataiku seperti babi.”
“Kita pulang sekarang, kau sudah mabuk!” kata Hyunseok.
“Mabuk? Tidak mungkin!”
“Jangan membuat kesabaranku habis, Han Yeoreum!” Suara tenor itu mengudara dengan intonasi yang lebih tinggi. Dia menggenggam tangan Yeoreum, tetapi dengan cepat sang gadis menghempas.
“Kau pasti tidak tahan melihat seorang gadis yang makan seperti babi, tubuhnya seperti babi, dan ... dia juga makan daging babi!” Gadis itu tertawa keras sembari menepuk-nepuk pipi. Beberapa detik kemudian, dia membelalak dengan mulut terbuka lebar. Dia memasang wajah pura-pura terkejut, lalu berkata, “Ah, bukankah aku kanibal? Aku babi yang memakan babi!”
Mata Yeoreum terpejam bersama cairan bening yang membasahi pipi. Dia tergugu-gugu, menelungkup hingga suara tangisnya makin samar-samar. Gerakan tanpa tempo bahunya telah berubah menjadi embusan napas teratur. Suara dengkuran halus terdengar saat satu per satu lampu restoran padam. Pelayan mulai membalik kursi ke atas meja. Tidak ada lagi pelanggan restoran yang tersisa, kecuali Hyunseok yang tengah menatap Yeoreum lekat. Dia mengusap pelipis sang gadis dengan sorot sendu.
“Kau adalah gadis paling berarti dalam hidupku.”
...🌞🌞🌞...
Yeoreum memijat kepala yang terasa berdenyut. Dia mengedip beberapa kali hingga pandangan kaburnya makin terang dan mendapat titik fokus. Sang ibu sudah duduk di sisi tempat tidur.
“Ibu sudah membuatkan sup penghilang mabuk untukmu.”
Kesadaran Yeoreum belum sepenuhnya kembali. Dia berusaha merangkai ingatan semalam. Dia membelalak, terduduk dengan cepat setelah semua memorinya kembali. “Apa semalam aku mabuk?”
“Iya. Hyunseok yang mengantarmu pulang. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Gadis itu menghela napas, lalu memeluk ibunya. Lama dia menikmati usapan lembut di rambutnya. Bukan kali pertama Saerin menghadapi kondisi Yeoreum seperti itu. Wanita itu pun membuka pembicaraan.
“Apa gadis dari klub drama itu lagi yang mengganggumu?”
Yeoreum mengangguk.
“Ibu memang sudah tidak suka dengannya sejak pertama kali mengantar bekal untukmu.”
“Ibu ...,” panggil Yeoreum lirih. “Apa aku harus menurunkan berat badan?”
"Apa tujuanmu menurunkan berat badan?" tanya Saerin lembut.
"Aku tidak ingin direndahkan lagi," kata Yeoreum jujur.
Saerin tersenyum tipis, lalu mencium kening sang putri. "Pertama, jika kau ingin melakukan sesuatu, motivasinya harus datang dari sini." Saerin mengarahkan telunjuknya ke dada Yeoreum. "Dirimu sendiri. Karena jika alasannya dari luar, ketika hal tiu tidak lagi jadi motivasimu, semua akan hilang."
"Tapi, aku lelah, Bu ...," ucap Yeoreum.
"Ibu paham. Ibu senang kau tumbuh dengan baik sampai hari ini. Tidak pernah memilih-milih makanan. Kalau memang kau ingin mengurangi berat badanmu, lakukanlah dengan tujuan untuk membuat hidupmu lebih baik dan dirimu percaya diri."
Mata Yeoreum berbinar. Namun, sang ibu segera menambahkan nasihatnya.
"Tapi, ingat! Lakukan dengan benar. Tidak ada diet ekstrem! Sabar dan nikmati prosesnya."
Yeoreum tersenyum dan kembali memeluk Saerin dengan erat. “Terima kasih, Bu.”
Saerin mengambil tas di sisi ranjang, memberikan pada Yeoreum. “Sebaiknya kau hubungi Hyunseok dan ucapkan terima kasih padanya.”
Saerin mengecup kening sang putri dan beranjak keluar. “Jangan lupa habiskan supmu di meja makan.”
Yeoreum tersenyum tipis hingga bayangan sang ibu menghilang. Dia mengeluarkan novel-novel sastra dari tasnya. Novel itu sering kali menjadi peneman saat berada di transportasi umum. Ponselnya telah berada dalam genggaman, tetapi perhatian Yeoreum tertuju sampul buku Eternal Love yang sedikit terangkat. Sebulan sejak acara penulis Seonhwa, Yeoreum belum pernah membuka kembali buku itu. Padahal, dia memiliki kebiasaan membaca berkali-kali semua karya penulis favoritnya.
Ada bisikan kecil yang mendorong sang gadis untuk membuka buku tersebut. Nyeri kecil merayap di area dadanya, seperti digigit semut merah. Tidak begitu sakit, tetapi bisa membuat siapa pun menjengit. Matanya berkaca-kaca melihat goresan tinta hitam pada halaman pertama.
...Aku akan menjadi penonton pertama aktris Han Yeoreum....
...-So Seonhwa...
Yeoreum lekas-lekas menekan tombol panggilan cepat, nomor delapan, angka kesukaan Hyunseok. Suara berat dan serak terdengar dari ujung telepon. Gadis itu tahu sosok di seberang panggilan masih mencari kesadaran. Namun, dia tidak akan menunda untuk menyuarakan isi hati.
"Hyunseok-ah, aku akan menjadi aktris terkenal. Kau harus membantuku menurunkan berat badan!"