
Kehidupan Jean yang semula baik baik saja kini mulai berubah.
Dengan kepergian ayahnya 3 hari yang lalu, pukulan berat ini mempengaruhi mentalitasnya.
Semakin memikirkannya, Jean menjadi sangat ambisius dalam perjalanan sepak bolanya.
Dirinya tahu bahwa ibunya akan mendukung untuk biaya hidup saat ini, Jean tidak ingin ibunya terlalu keras bekerja.
Jadi dia juga sudah memikirkan beberapa jalan yang cepat untuk menghasilkan uang nanti.
Dengan kepergian ayahnya ini, jelas bahwa Jean masih dalam kondisi yang tidak baik baik saja.
Rekan rekan kelas dan teman tim nya juga datang melayat setelah tahu ayah Jean meninggal.
Mereka memberikan banyak semangat pada Jean agar tidak terlalu terpuruk dan terbawa ke jalan yang berbahaya.
Apalagi Noel selaku kapten tim dan pemikiran dewasanya sudah berjalan, dia memberikan banyak masukan kepada Jean.
Jean juga dengan tulus berterima kasih karena sudah datang melayat dan memberikan banyak dukungan.
Entah itu kepada teman kelas nya atau teman teman di tim sepak bolanya.
Meski kepergian ayah nya mempengaruhi mental Jean, Jean tetap kukuh untuk bersekolah setelah izin selama 3 hari.
Hari ini, dia memulai kembali sekolahnya.
Menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya, namun Jean merasakan banyak teman lagi kali ini.
Teman teman di sekolah yang berbeda kelas juga mengetahui berita kepergian ayah Jean memberikan dukungan.
Jean juga sangat berterima kasih karena memiliki teman teman sekolah yang sangat perhatian dan peduli.
Akhirnya setelah menjalani kehidupan biasa di sekolah, tibalah pada tanggal pertandingan lagi.
15 Oktober 2027,
Di pertandingan ke 8 Liga Sekolah, SMA Pasundan akan bertandang ke lapangan sepak bola milik SMA Tunas Bangsa.
SMA Tunas Bangsa saat ini berada di urutan ke 3 klasemen Liga Sekolah.
Ini juga akan menjadi pertandingan yang sangat berat bagi SMA Pasundan.
Dengan tim papan atas mereka bermain tandang, apalagi pertandingan ini Jean tidak ikut pergi ke pertandingan.
Pelatih Maha Pudra memberikan hak khusus kepada Jean mengingat Jean telah kehilangan ayahnya tepat seminggu saat ini.
Jean juga berterima kasih atas kepedulian dan persetujuan pelatih atas hal ini.
Jean juga yang tinggal di rumahnya tidak bersantai, dia menyalakan televisi.
Karena pertandingan SMA Pasundan melawan SMA Tunas Bangsa akan di siarkan di saluran.
Apalagi mengingat ini juga pertandingan besar.
Dan lainnya adalah SMA Pasundan yang di juluki sebagai kuda hitam yang tiba tiba merangsek ke puncak klasemen secara mengejutkan.
Ini tentu menjadi perhatian banyak orang dan pihak saluran juga tentunya memberikan penonton pertandingan menarik ini.
Menonton pertandingan melalui saluran televisi secara serius karena pertandingan telah di mulai.
Jean bergumam setiap beberapa saat untuk mengomentari pertandingan tersebut.
Dengan pandangan yang lebih jelas melalui saluran televisi, Jean juga menjadi lebih yakin dan mengagumi Elvin yang memiliki visi sangat hebat.
Di saat Jean bergumam untuk mengoper ke sisi yang kosong, Elvin dengan cepat memberikan operan ke sisi yang di gunakan Jean.
Jean tak henti hentinya memberikan acungan jempol pada sahabat barunya ini.
Akhirnya pada menit ke 24, Jean melihat Elvin melakukan umpan panjang yang membelah di atas kepala lawan.
Mendapatkan bola, Deva langsung menggiring sesaat bola ke dalam kotak penalti.
Saat penjaga gawang lawan memilih untuk menyerang maju, Deva dengan santai menjentikkan bola ke sisi sebelah kirinya dimana Adrian berlari dengan sangat kencang dari berlari.
Adrian yang berlari juga melihat bola datang langsung mendorong bola dengan kaki bagian dalam ke arah gawang.
Gawang yang tanpa penjagaan itu akhirnya kosong dan bola masuk dengan mudah.
Jean yang menonton melalui televisi memberikan tepuk tangan untuk umpan Elvin dan kepekaan Deva karena bisa melihat kehadiran Adrian juga Deva tidak egois.
Kembali fokus pada saluran televisi pertandingan di mulai kembali.
Sorakan penonton benar benar terdengar dan Jean bisa merasakan antusiasme para penonton di lapangan.
Meski komentator televisi secara berulang berkomentar tapi itu tidak menutupi suara sorakan para penonton yang sangat keras dan tersadap oleh mic di lapangan.
Akhirnya selang beberapa menit setelah SMA Pasundan mencetak gol pertama, SMA Tunas Bangsa mendapatkan peluang melalui tendangan bebasnya.
Dimana Ian melakukan perebutan bola akan tetapi sikut tangannya tak sengaja di ketahui oleh wasit ketika masuk ke dalam wajah lawan.
Dengan tendangan bebas yang jaraknya sangat dekat, Jean cemas.
Dia tidak ingin timnya kebobolan di awal awal seperti ini.
Apalagi pertandingan tandang melawan tim papan atas dan terbalas di babak pertama, ini akan menjadi pertandingan yang sulit di babak kedua.
Akhirnya Jean melihat sang kapten lawan melakukan eksekusi tendangan bebas.
Dengan mudahnya bola melewati pagar pemain, penjaga gawang Fahri melakukan aksi penyelamatan dengan melompat ke sisi kirinya.
Tangannya yang terulur juga bisa di lihat oleh Jean untuk mencegah bola masuk karena sudut yang di tuju oleh kapten lawan benar benar sangat pojok.
Jean hanya bisa menghela nafas setelah melihat Fahri tidak bisa menyentuh bola dan melakukan penyelamatan sehingga bola masuk ke dalam gawang.
Dengan begitu kedudukan pertandingan juga menjadi 1 - 1.
Di rumah, Jean menonton melalui televisi melihat pertandingan yang di mulai kembali menjadi semakin sengit.
Dengan kedudukan yang berimbang ini, para pemain bermain dengan sangat cepat.
Intensitas sangat tinggi.
Ini benar benar membuat Jean terpana karena operan operan yang di lakukan dan pressing nya lebih tinggi di bandingkan ketika dia bermain.
'Inilah perbedaan pertandingan papan atas.' Gumam Jean sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya sampai turun minum, kedudukan tidak berubah.
Jean tidak memindahkan salurannya dan memilih mendengarkan komentator televisi berpendapat.
Dia ingin tahu menurut pandangan para pakar sepak bola ini tentang pertandingan tim sekolahnya.
"Ketidakhadiran Jean sang bintang dari SMA Pasundan dan rookie superstar Liga Sekolah tingkat SMA ini mempengaruhi kualitas permainan SMA Pasundan."
"Kualitas serangan menjadi sedikit kurang tajam, mengingat umpan umpan Elvin yang di lakukannya di babak pertama benar benar sangat berbahaya semuanya."
"Jika kita melihat Jean bermain di lapangan, umpan tersebut akan di maksimalkan olehnya."
"Baiklah, karena pertandingan ini tidak ada orangnya maka kita harus lebih menganalisis secara mendetail pertandingan ini." Ucap komentator lainnya yang memotong karena merasa topik sedikit teralihkan.
Jean mendengarkan ini hanya menggelengkan kepalanya saja tapi dia mengacungkan jempol pada komentator pertama yang memberikan pendapat tentangnya terhadap umpan umpan Elvin.
Jean tahu bahwa umpan umpan Elvin tadi merupakan kualitas yang sangat baik, dia juga tahu bahwa Elvin yang sudah terbiasa melakukan operan untuknya mungkin lupa bahwa tidak ada dirinya di pertandingan.
Meski begitu, Jean dengan percaya diri menyetujui pendapat komentator dimana umpan umpan Elvin tadi bisa dia memanfaatkan nya dengan sangat maksimal.