A Goat'S Journey

A Goat'S Journey
10.



Lapangan sepak bola milik sekolah Pasundan.


Dengan 2 tribun yang terbangun di dua sisi, membuat lapangan menjadi semakin lengkap.


Meski jauh dari kata mewah karena hanya memiliki 2 tribun, tapi itu sudah sangat cukup.


Dengan kapasitas 1000 orang dimana setiap 1 sisi tribun hanya bisa menampung 500 orang.


Tribun sisi kanan yang merupakan posisi paling dekat dengan lorong pemain kini di isi oleh para siswa yang berdatangan seperti ombak.


Mereka ingin melihat pembentukan tim ekstrakulikuler sepak bola mereka.


Mereka yang terpilih akan menjadi pejuang dan pahlawan bagi sekolah mereka sehingga mereka sangat bersemangat.


Dengan banyak siswa yang berdatangan, pelatihan juga di mulai seperti biasanya.


Para pemain juga tidak merasakan gugup sama sekali.


Mereka justru harus terbiasa.


Dan memang kelihatan nya, para pemain ini tidak gugup sama sekali karena sudah sering merasakan suasana seperti ini.


Ini juga berlaku untuk Jean dan siswa kelas 1 lainnya.


Karena ada liga yang berjalan di tingkat SMP, mereka juga sudah terbiasa dengan adanya penonton.


Namun mereka tidak menyangka bahwa pembentukan tim saja akan menghadirkan penonton dari para siswa di sekolah.


"Kelas 1 sekarang menurutmu siapa saja yang masuk ke dalam tim?" Obrolan terjadi di tribun yang di isi oleh para siswa.


Mereka ingin menebak siapa saja yang bisa masuk tim sepak bola sekolah mereka.


"Menurutku untuk kelas 1 sudah pasti bahwa Jean dan Elvin pasti masuk."


"Iya, dengan kemampuan keduanya saat di tingkat SMP, pelatih juga tidak mungkin mengabaikannya."


"Semoga saja tim yang di bangun tahun ini akan lebih kuat di banding tahun sebelumnya sehingga sekolah kita bisa bersaing di 3 teratas."


"Semoga saja."


"Apakah akan ada uji coba juga setelah pembentukan tim ini?"


"Pasti ada, tahun kemarin juga ada kan, sekolah kita melakukan uji coba melawan tingkat mahasiswa, hanya saja hasilnya sangat memalukan."


Obrolan yang terjadi di tribun tidak membuat suasana latihan para pemain terganggu.


Mereka masih fokus untuk melakukan latihan sesuai dengan instruksi dari pelatih Maha Pudra.


"Pritt." Suara peluit terdengar, para siswa di tribun juga mengalihkan pandangan mereka ke lapangan.


Para pemain yang berlatih juga menyudahi latihan mereka.


"Kumpul, sudahi semuanya!"


Para pemain akhirnya berkumpul di depan pelatih Maha Pudra.


"Saya akan mengumumkan tim yang akan ikut dan berpartisipasi di Liga Sekolah nanti."


"Masih ada waktu setelah selesai pengumuman ini, jadi saya juga berencana untuk melakukan tanding dengan tim yang di bentuk ini di bagi menjadi 2 kubu."


Para pemain bersemangat mendengar perkataan coach Maha Pudra.


Suara ini juga terdengar ke bagian tribun karena posisi pelatih Maha Pudra berada di lintasan lari tidak di dalam lapangan.


"Yah akhirnya yang ditunggu tunggu."


"Mari kita lihat siapa saja pejuang dan pahlawan sekolah kita ini."


Suara suara terdengar di tribun.


Di trek lari, para pemain yang berkumpul di depan pelatih Maha Pudra memiliki rasa gugup selain semangat.


Mereka takut diri mereka tak masuk daftar tim dan tentu harus menunggu tahun depan untuk bisa berpartisipasi.


"Saya umumkan untuk pemain pemainnya, saya akan mulai dari posisi penjaga gawang."


Para pemain yang berposisi penjaga gawang langsung gugup.


Mereka mengepalkan tangan mereka sendiri.


Segera sebuah suara langsung terdengar, dimana suara ini tidak lain adalah suara pelatih Maha Pudra.


"Penjaga gawang adalah Fahri dan Adnan."


Mendengar ini, Fahri dan Adnan langsung melakukan selebrasi dengan mengayunkan tinjunya dengan pelan.


Para siswa yang ada di tribun mendengar ini juga bertepuk tangan memberikan dukungan dan apresiasi.


Pelatih Maha Pudra juga tak langsung berbicara dan menunggu tepuk tangan selesai.


"Tapi Adnan kan tahun kemarin tidak masuk tim."


"Iya tahun kemarin hanya Fahri dan siswa di kelas 3."


"Berarti pelatih masih melakukan hal yang sama seperti tahun kemarin."


Di trek lari, pelatih Maha Pudra menatap para pemain yang masih gugup dan tak kuasa menahan senyum.


"Selanjutnya, untuk posisi pemain bertahan, entah itu pemain bertahan dengan posisi center back atau full back. Saya akan sebutkan semuanya secara langsung."


Mendengar ini, hal yang sama terjadi lagi.


Para siswa yang berposisi di bagian bertahan merasa gugup dan mengepalkan tangan mereka dengan erat.


Ini tidak hanya untuk siswa kelas 1 saja, tapi kelas 2 dan 3 juga sama.


"Untuk pemain bertahan dengan posisi center back, Noel, Luffy, Zamrun dan.."


Pelatih Maha Pudra berhenti sesaat dan menatap para siswa di depan.


Tatapannya tertuju pada salah satu siswa di kelas 1.


"Ikram."


Ikram yang merupakan murid kelas 1 langsung melompat setelah mendengar namanya di sebutkan.


Tepuk tangan dark tribun kembali di berikan, apalagi sekarang sedikit lebih kencang.


Karena mereka mengapresiasi siswa kelas 1 tersebut.


"Kelas 1 nya sudah ada 1, aku tidak tahu berapa banyak siswa kelas 1 yang sekarang terpilih."


"Tahun kemarin hanya 2 kan yang terpilih?"


"Iya 2 kalau tak salah Valeron dan Deva."


Pelatih Maha Mudra tersenyum melihat Ikram yang sangat eksplosif ketika mendengar namanya di sebut.


Dia memilihnya karena kemampuannya dalam duel udara sangat bagus, itu di topang dengan tubuhnya tinggi dan besar.


Kemampuan ini di butuhkan olehnya.


"Selanjutnya, pemain bertahan di posisi fulback, Radit, Valen, Dino dan Hilal."


Para siswa di tribun memberikan tepuk tangan.


Untuk pemain di posisi ini ternyata di isi oleh kelas 2 dan 3 semua.


Tidak ada kelas 1 sama sekali.


Mungkin karena pelatih Maha Pudra memberikan kesempatan dan sudah melihat perkembangan dari Dino dan Hilal yang tahun sebelumnya tidak terpilih, bukan karena alasan keduanya masih kelas 1 tapi kemampuannya juga kurang memuaskan.


Dino dan Hilal yang namanya di sebut juga merasa lega.


Mereka merasa semuanya sudah terbayarkan.


"Selanjutnya, saya akan mengumumkan pemain di posisi tengah atau gelandang."


Elvin yang di beri julukan sama seperti Jean yaitu seorang superstar di tingkat SMP masih merasakan gugup.


Dia juga tidak jelas dengan perasaannya.


"Ian, Zidane, Barik, Valeron, Aldi, dan..."


"Elvin."


Elvin langsung melompat dan bersorak tertawa.


Hal ini membuat pelatih Maha Pudra juga meniupkan peluitnya.


Sehingga siswa lainnya juga tertawa.


"Oh sekarang sudah ada 2 pemain dari kelas 1, sepertinya tahun ini bertambah 1 ya."


"Iya, Jean sudah di pastikan masuk tim."


Obrolan para siswa di tribun terjadi.


Mereka sebelumnya sudah membicarakan bahwa siswa kelas 1 tahun kemarin hanya ada 2 tapi ternyata sekarang menjadi 3 atau mungkin lebih.


Para siswa di tribun memberikan tepuk tangan yang meriah karena Elvin masuk daftar tim dan mereka juga tertawa ketika melihat Elvin yang begitu bersemangat.


Sekarang hal terakhir yang belum di umumkan adalah pemain dengan posisi penyerang.


Entah itu pemain di winger atau penyerang depan.


Para pemain siswa kelas 2 dan 3 melirik Jean satu persatu.