
Pada menit 49, pertandingan babak kedua antara SMA Pasundan melawan SMA Jaya Sakti Bandoeng, gol kembali tercipta.
Gol tersebut menjadi penambah kedudukan bagi SMA Pasundan di pertandingan ini dan menjadikan kedudukan menjadi 3 : 0.
Gol yang tercipta ini di ciptakan oleh umpan terobosan dari Elvin yang sangat cuek dan elegan.
Dimana dia menatap dan menghadap ke arah kanan dimana posisi Reval berada, tapi bola yang di kirimkan justru malah sebaliknya.
Dimana itu di arahkan pada posisi Jean yang berlari melalui bagian belakang pemain lawan.
Jean yang berlari tanpa pengawalan juga membawa bola ke dalam kotak penalti dan langsung melakukan finesse shoot ke gawang.
Penjaga gawang lawan meski melompat untuk menyelamatkan bola, tapi itu tidak bisa di selamatkan karena bola yang melengkung dengan sangat lembut.
Jean yang mencetak gol juga lupa melakukan selebrasi dan hanya buru buru mengambil bola di gawang dan berteriak pada teman temannya bahwa dia lupa berselebrasi.
Dia juga berteriak menjelaskan bahwa pertandingan harus di mulai kembali.
Melihat ini, para pemain di tim Jean hanya menggelengkan kepalanya.
Berbeda dengan Fadli sang komentator.
Dia sudah berdiri dan bersiap tapi melihat Jean seperti ini dia hanya kembali diam dan kemudian tertawa.
Pertandingan di mulai kembali setelah gol dari Jean di menit ke 49.
Pressing tinggi langsung di lakukan para pemain SMA Pasundan setelah pertandingan kembali di mulai.
Para pemain SMA Jaya Sakti Bandoeng benar benar di bawah tekanan saat ini.
Meski pelatih mereka memasukkan pemain, ini tidak berdampak karena mereka baru saja masuk dan tidak ada waktu untuk beradaptasi.
Pelatih Maha Pudra di pinggir lapangan juga sudah menyiapkan pergantian pemain untuk Adrian dan akan memasukkan Bintang yang benar benar akan aktif di lini pertahanan lawan dan membuat kekacauan semakin kacau.
Namun sebelum pergantian di lakukan, di lapangan, bola terebut oleh Deva di sisi kanan.
Deva langsung melakukan umpan silang ke dalam kotak penalti.
"Adrian menerima umpan silang, sundulan!!"
"Tidak kena."
"Oh peluang terbuang..."
"Tidak, ada Jean di sana." Teriak Fadli sangat bersemangat dan Jarot yang di samping Fadli hanya terdiam melihat Fadli begitu bersemangat sampai bangkit dari duduknya.
Tapi gemuruh juga terjadi dari sorakan para penonton SMA Pasundan.
"Jean, posisi voli!"
"Tembak!"
"Gooool!"
"Penjaga gawang tidak bisa menyelamatkan bola ini sama sekali, dia hanya bisa berdiam di sana dengan canggung."
Fadli bersemangat menjelaskan situasi gol dan melihat Jean berlari ke tribun penonton semakin bersemangat lagi.
Para penonton juga tahu ketika Jean berlari ke tribun akan melakukan apa.
Segera Jarot melihat Jean mengambil suatu benda yang tak lain adalah mahkota kecil di dekat tribun dan memakainya di kepalanya.
Kemudian Jarot melihat Jean menunjuk ke arah tribun dan saat ini Fadli yang berada di samping nya sudah menggebu gebu dan berteriak sangat keras.
"PRINCEEE!!!"
"JEANN!!"
"PRINCEE!!"
"JEANN!"
Jarot di buat gemetar melihat aksi Fadli di sampingnya dengan para penonton yang berinteraksi dengan aksi perayaan Jean.
Jarot melihat Jean melepas mahkotanya dan menyimpannya lagi lalu ada tepuk tangan meriah dari penonton.
Dia benar benar tercengang dengan aksi perayaan ini.
Suara dari 500 orang yang sangat keras benar benar membuatnya merinding.
Para penonton di sebrang yang tak lain adalah siswa dari SMA Jaya Sakti Bandoeng dan warga sekitar juga di buat kaget dan tercengang.
Mereka padahal belum pulih oleh gol yang tercipta dengan tendangan voli tadi tapi mereka segera teralihkan karena teriakan Fadli dan melihat aksi perayaan Jean.
Segera pertandingan di mulai kembali.
Permainan benar benar menjadi semakin membosankan karena pelatih SMA Jaya Sakti Bandoeng melakukan pergantian pemain lagi.
Dia memasukan pemain bertahan dan mengganti semua pemain depan.
Ini sudah jelas bahwa mereka akan bertahan sampai akhir dan tidak ingin gol bertambah lagi.
Pada menit 61, Jean melakukan aksi terobosannya dan berhasil melewati 2 pemain, saat akan melanjutkan kembali aksinya dan masuk kotak penalti, dia dengan cepat di halangi oleh pemain bertahan lawan.
Karena tak mau membuang peluang, dia memberikan operan ke sisi kanan dimana Deva berada.
Penjaga gawang lawan benar benar menyedihkan.
Dia tidak sempat melompat sama sekali karena dirinya terhalang dan tidak bisa melihat Jean mengoper.
Pada menit 73, Bintang mencetak gol melalui sundulan dari umpan sepak pojok Elvin.
Dengan gol ini kedudukan juga menjadi 6 : 0.
Elvin di pertandingan ini juga mencatatkan namanya dalam daftar assist dengan jumlah 3 assist.
Dengan umpannya pada Adrian di babak pertama, pada Jean, dan sekarang pada Bintang.
Para pemain lawan benar benar sudah terkena mental.
Mereka bermain secara acak acakan.
Mendapatkan bola dan buru buru membuangnya ke depan.
Para penonton SMA Pasundan sudah berteriak sekencang kencangnya.
Akhirnya pada menit 81, dimana waktu tambahan terakhir.
Bintang menahan bola dari operan Valeron.
Dengan tubuh bagian belakang yang menahan pemain lawan, dia tidak bisa berbalik.
Melihat Jean mendekat, dia segera mengoperkan bola ke samping.
Jean juga tidak mengontrol bola dan langsung melakukan tembakan ke arah gawang dengan tendangan melengkung nya.
Benar saja, bola dengan sangat tipis hampir bersentuhan tiang gawang tapi bola tetap masuk.
Jean tidak melakukan selebrasi apapun dan hanya menangkupkan tangannya sebagai tanda maaf pada penonton SMA Jaya Sakti Bandoeng.
Tapi bagi penonton SMA Jaya Sakti Bandoeng, tidak ada maaf seperti ini.
Ini kejam dan pembantaian.
Segera pertandingan juga berakhir dengan kedudukan 7 : 0.
Dimana SMA Pasundan unggul sangat signifikan.
Ini jelas pembantaian brutal.
Adrian mencetak 2 gol.
Bintang 1 gol dan 1 assist.
Deva 1 gol dan 1 assist.
Jean 3 gol dan 1 assist.
Elvin 3 assist.
Ini benar benar sangat mendominasi di pertandingan pertama SMA Pasundan.
Ini juga akan menjadi awal yang baik.
Dengan dia hattrick terjadi di pertandingan ini, 1 hattrick gol dan 1 assist.
Keduanya juga merupakan siswa kelas 1 dan merupakan superstar.
Keduanya benar benar sudah menaklukan hati para siswa di tribun.
Mereka bahagia memiliki keduanya di tim sepak bola sekolah mereka.
Usainya pertandingan, para pemain juga bersalaman.
Tapi saat Jean bersalaman, para pemain lawan menatapnya dengan sangat aneh.
Ada yang ganas, ada rumit dan ada yang aneh.
Ganas karena dia marah atas aksi Jean di pertandingan.
Masuk babak ke 2 dan merubah segalanya menjadi semakin buruk.
Rumit karena tak menyangka ada pemain di tingkat SMA yang sama dengan nya tapi tingkat dan kualitas permainannya jauh berbeda.
Tapi jelas semua itu tak bisa di pikirkan sekarang, mereka hanya bisa bersalaman dengan Jean.
Para pemain di pimpin oleh Noel untuk berkumpul di depan tribun dan berterima kasih atas dukungan yang telah di berikan sepanjang pertandingan hari ini.
Para pemain juga mendapatkan respon dengan tepuk tangan meriah para penonton.
Guru juga yang hadir hanya bisa menatap rumit pada siswa di depan yang sudah berjuang di lapangan.
Sekolah mereka dengan jelas melakukan pembantaian, dan hal ini tidak terjadi tahun kemarin.
Bahkan untuk menang harus benar benar berjuang keras, tapi sekarang? oh tidak.
Terasa mudah.