A Goat'S Journey

A Goat'S Journey
29.



Masih di Pasundan Ground, tempat berlangsungnya pertandingan Liga Sekolah yang mempertemukan SMA Pasundan melawan SMA Pancasila Bandung.


Pertandingan yang berjalan di lapangan sudah memasuki babak kedua.


Kedudukan di pertandingan ini juga 1 - 0, dimana tuan rumah yaitu SMA Pasundan unggul dari tamunya SMA Pancasila Bandung.


Dengan gol dari Jean di babak pertama, SMA Pasundan berhasil unggul lebih dulu sampai turun minum.


Di lapangan yang saat ini sedang berlangsungnya babak kedua, para pemain bermain dengan sangat sengit.


Apalagi SMA Pancasila Bandung yang tak mau memberikan poin penuh pada SMA Pasundan.


Jean menerima bola setelah di berikan operan oleh Valen.


Hanya bergerak sedikit saja, penjagaan ketat padanya kembali terasa.


Jean hanya bisa kembali dan mengoper pada pemain lainnya di lini tengah.


Sampai menit ke 64, Jean di gantikan oleh pelatih Maha Pudra.


Meski Jean sudah berhasil mencetak gol dan membuat tim unggul, tapi karena Jean yang tidak bisa berbuat apa apa lagi akan membuat rekan lainnya redup dan kebingungan.


Jean juga hanya bisa menghela nafas kecewa, dia merasa kemampuannya masih kurang.


Jika dia memiliki kemampuan yang kuat, dia yakin bahwa penjagaan seperti itu tidak akan menganggu nya sama sekali.


Setelah Jean di gantikan, pertandingan di lapangan menjadi semakin seru.


Apalagi para pemain SMA Pancasila benar benar merasa bebas sekarang karena pengawalan untuk Jean tidak ada pagi.


Mereka mulai bermain dengan berani dan mulai keluar untuk menyerang.


Hasilnya pada menit ke 73, Adrian mendapatkan operan dari Deva di sisi kanan.


Dia langsung melakukan tembakan tanpa melakukan kontrol terlebih dulu.


Dia sangat percaya diri ketika berada di kotak penalti, jadi dengan tendangan yang sangat keras itu, bola menuju ke gawang lawan.


Penjaga gawang lawan beraksi tapi masih tidak bisa menyelamatkannya.


Tertinggal 2 gol oleh tim tuan rumah, pelatih Maha Pudra melakukan pergantian lagi karena masih memiliki sisa kuota pergantian.


Pelatih lawan yaitu pelatih SMA Pancasila sangat kesal.


Mereka padahal sudah berani keluar dan menyerang, tapi hasilnya malah mereka di bobol lagi.


Melakukan pergantian untuk mencapai hasil yang diinginkan, pertandingan di mulai kembali.


Benar saja, efeknya sangat terlihat.


Pergantian SMA Pancasila hampir hampiran membuahkan hasilnya dari beberapa serangan.


Tapi pelatih mereka harus menyalahkan penyerangnya yang sangat kurang dalam penyelesaian.


Jika tidak, 2 gol sudah di cetak dan skor pun akan imbang.


Menyerang secara gila gilaan, pada menit tambahan sebelum waktu berakhir, SMA Pasundan melancarkan serangan balik yang sangat cepat.


Dimana Noel berhasil memotong bola dan langsung memberikan bola pada Reval di sisi kiri.


Reval berlari menggiring bola melewati garis tengah.


Adrian, Deva dan Valeron juga berlari maju untuk membantu dan memaksimalkan peluang yang ada.


Hanya beberapa pemain tersisa di pihak lawan, Reval yakin bahwa keputusan nya akan sangat tepat.


Sebelum sampai di dekat ujung lapangan, dia melakukan umpan silang mendatar kedalam kotak penalti.


Adrian akan melakukan tembakan tapi tahu bahwa dia di ikuti dan merasa bahwa dia tidak bisa memaksimalkan peluang pin membiarkan bola lewat saja.


Pemain yang mengikutinya juga tertipu, segera berbalik dan menemukan Deva sudah melakukan tembakan ke arah gawang.


Penjaga gawang lawan tidak bisa berbuat apa apa karena dia mati langkah oleh gerakan yang di buat Adrian tadi.


Dia sudah menutup celah di dekat tiang dekat tapi bola di tembak oleh orang lain dan ke arah yang sebaliknya.


Sampai wasit meniupkan peluitnya, SMA Pasundan kembali meraih kemenangan dan meraih poin penuh lagi.


Mereka menancapkan posisinya di puncak dengan sangat kuat dan mendominasi.


Jean yang tidak bermain full juga tak merasa kecewa, justru senang karena timnya menang.


Dia juga merasa bahwa dirinya masih kurang, jadi jika ingin terus bermain full dirinya harus memiliki kemampuan yang lebih baik lagi.


Kembali ke rumah, Jean membersihkan tubuhnya seperti biasa.


Turun ke bawah untuk makan dan mengobrol dengan ibunya.


Tapi melihat ibunya memiliki wajah pucat dan memegang ponsel ditangannya, Jean juga menjadi panik.


Dia langsung mendekat dan bertanya ada apa.


"Ayahmu.." Suara ibunya sangat lemah dan tubuhnya seperti akan jatuh kapan saja.


Jean juga membantunya dengan cepat membawa ke sofa di dekatnya.


"Ada apa Bu? Ayah kenapa?"


"Ayahmu kecelakaan, sekarang berada di rumah sakit."


Mendengar ini, Jean langsung mematung.


"Ibu serius?" Tanya Jean lagi memastikan, takutnya ada penipuan yang melakukan panggilan pada ibunya.


"Mana mungkin ibu berbohong, tadi temannya yang menghubungi ibu."


"Kalau begitu ayo berangkat sekarang."


Jean kembali berlari ke kamarnya untuk bersiap dan mengambil jaket.


Dia memesan taksi online karena dirinya belum di perbolehkan untuk mengemudi.


Menunggu ibunya yang sedang bersiap di kamarnya, Jean jelas merasa sangat khawatir mendengar kabar ayahnya ini.


Jelas bahwa dia baru saja dalam keadaan senang karena timnya menang, tapi kembali ke rumah dan ada kabar seperti ini, ini sungguh tidak enak untuk di rasakan.


"Aku sudah memesan taksi online Bu, jadi tunggu saja sebentar." Ucap Jean melihat ibunya keluar dari kamarnya.


Ibunya hanya mengangguk lemas.


Jean tahu bahwa ibunya juga tak percaya mendengar kabar seperti ini.


Melihat ke jendela berulang kali memastikan mobilnya sudah datang atau belum.


Segera 3 menit kemudian, mobil datang.


Jean dan ibunya langsung masuk ke mobil dan bergegas ke rumah sakit yang sudah di kirimkan alamatnya oleh teman ayahnya tadi.


Di jalan, Jean selalu memperhatikan raut wajah ibunya.


Segera, keduanya sampai di rumah sakit.


Berjalan mencari ruangan yang sudah di beritahukan.


Ketika menemukan teman ayahnya, ibunya Jean langsung mendekat tapi segera di hentikan dengan wajah yang sangat bersalah.


Jean melihat ini langsung lemas, ibunya Jean langsung jatuh.


Setelah menenangkan Jean dan ibunya, teman ayahnya Jean itu langsung menjelaskan kejadian kecelakaan.


Dimana ayahnya Jean terjatuh dari lantai 5 ketika memasang sebuah peralatan.


Awalnya tidak kenapa kenapa, maka dari itu langsung di bawa ke rumah sakit.


Tapi setelah 10 menit, dia tidak bertahan.


Jean mendengar ini benar benar tidak tahu harus bagaimana.


Dia merasa sangat kehilangan ayahnya.


Pagi tadi baik baik saja, dengan senyum cerah menyemangati dirinya untuk pertandingan hari ini.


Tapi hari ini sore hari, dia melihat wajah pucat ayahnya.


Berbalik meninggalkan ruangan, Jean menangis.


Dia tidak tahu harus bagaimana.


Ibunya Jean melihat Jean pergi seperti ini juga sangat sakit.


Kehilangan suaminya jelas merupakan sebuah pukulan yang sangat berat baginya.


Melihat kepergian anaknya ke luar ruangan, dia langsung fokus lagi pada wajah suaminya dan sesekali melirik ke teman suaminya.


Akhirnya 1 jam lebih, Jean dan ibunya menyelesaikan berbagai prosedur untuk ayahnya dan kembali pulang dengan sebuah ambulance.