A Butterfly That Can'T Fly

A Butterfly That Can'T Fly
Druid kuno 4



Suasana ramai pasar Druid kuno membuat mereka merasa sedikit senang, hidup di dunia asing yang sama sekali tidak pernah mereka sangka sebelumnya ternyata sangat sulit. Mereka beruntung bahwa para Druid kuno mau membantu mereka, jika tidak, Alurra tidak tau apa yang akan terjadi padanya.


Mungkin saja sudah lama dia ditangkan oleh para Divs dan diambil jantungnya. Paman tukang kayu yang selama ini selalu berinteraksi dengannya ternyata adalah Druid kuno, ini malah membuktikan bahwa Druid kuno telah meramalkan hal ini jauh sebelum Alurra datang ke negeri Elves.


"Kakak, kue di sini tidak enak. Sangat keras, padahal banyak nenek-nenek dan kakek-kakek di sini, bagaimana bisa mereka memakan makanan keras ini?"


Ucapan Marco membuat Alurra langsung menutup mulutnya, anak ini sangat asal bicara. Bagaimana kalau ada yang mendengar perkataannya lalu sakit hati? Bahkan jika kuenya tidak enak, dia tidak perlu mengatakannya di tempat ramai seperti ini.


"Marco, kita beli permen saja ya. Ayo!"


Untung saja pria kecil itu mengangguk, Iron terkekeh saat melihat interaksi di antara mereka berdua, Marco yang selalu menyampaikan apa yang dia rasakan, dan Alurra yang merasa tidak enak.


Mereka pergi ke toko manisan yang berada di ujung pasar, toko itu sepi, sangat sepi malah. Tidak ada seorangpun di sana, tapi tulisan 'buka' di pintu dan suara musik menunjukkan kalau toko itu bukanlah toko yang terbangkalai.


Mereka membuka pintu toko dan memasuki toko tersebut, tidak ada orang, namun manisan-manisan tersusun rapi di rak-rak. Iron masuk duluan memastikan bahwa tidak ada hal aneh lalu disusul oleh Alurra yang menggandeng tangan Marco.


Tiba-tiba bahu Alurra dipegang oleh seseorang yang membuatnya menjerit terkejut, "Apa yang kalian cari? Di sini ada banyak manisan dari yang rasanya manis asin, manis pahit, manis asam, dan sangat manis"


Seorang wanita tua dengan gigi yang ompong beberapa di depannya, rambutnya keriting dan tubuhnya kurus. Iron sudah mengeluarkan apinya dan menarik tangan Alurra waspada, wanita tua itu mundur saat melihat api ditangan Iron, tapi senyum di bibirnya tidak juga luntur.


Melihat bahwa wanita tua ini bukan orang yang jahat dan sepertinya adalah Pemiliki toko ini, Alurra menghela nafas lega, Marco yang berada di pelukannya mengintip melihat apa yang terjadi. Alurra memegang bahu Iron menyuruhnya untuk mematikan api.


"Maaf telah mengejutkan pelanggan, aku hanya sedikit bersemangat karena ada yang datang ke toko"


Alurra mengernyitkan dahinya, apa memang toko ini selalu sepi seperti ini biasanya? Sampai-sampai wanita tua ini sangat bersemangat hanya dengan melihat pelanggan yang masuk?


"Apa toko ini biasanya sepi? Kenapa?"


Penjaga toko menunduk lalu berjalan ke depan menunjuk ke arah berbagai manisan yang terletak di dinding, dia merentangkan tangannya seperti ingin berpidato.


"Mereka orang-orang tua yang sangat membosankan tidak menyukai manisan, para Druid kuno hanya memiliki sedikit anak kecil karena mereka sulit untuk mendapatkan keturunan. Inilah yang terjadi pada tokoku sekarang"


Wanita tua itu mulai menangis sesenggukan, dia mengatakan bahwa orang tua itu tidak mengerti betapa manisnya rasa manisan, Alurra ingin tertawa jika saja pemilik toko tidak menangis. Rasa manisan tentu saja manis. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya dia berhenti dan mempersilahkan kami untuk melihat-lihat.


"Kak, nenek itu kenapa?" bisikan kecil yang berasal dari Marco membuat Alurra terkekeh lalu mengusap kepalanya lembut. Alurra hanya mengatakan bahwa dia juga tidak tau.


"Ayo cepat beli sesuatu lalu pulang"


Mereka akhirnya memilih permen dengan bungkus warna-warni dan cokelat apel yang berada di rak paling atas, "Pilihan yang bagus, mereka semua enak, rasanya manis"


Mereka pergi dari toko manisan itu setelah membayar beberapa koin Druid, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang karena Marco yang sudah kelelahan dan meminta gendong pada Alurra, namun Iron dengan cepat menggendongnya karena takut Alurra terlalu kelelahan.


"Kalau ingin minta gendong padaku saja, jangan pada kakak cantik"


Marco cemberut lalu menggigit bahu Iron, yang digigit hanya diam saja dan membiarkan Marco melakukan apapun yang dia inginkan, seolah-olah gigitan itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.


"Dasar anak kecil"


Hanya itu yang dia ucapkan, dia memandang Marco dengan pandangan jijik. Mereka akhirnya sampai di tempat tinggal mereka 'sekarang' hari sudah sore dan mereka perlu membersihkan diri. Marco turun dari gendongan Iron, dia langsung memalingkan kepalanya tidak mau melihat Iron, seperti orang yang sedang merajuk.


Alurra hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua pria beda usia ini, Marco yang masih kecil dan Iron yang kekanak-kanakan sangat serasi.


"Istirahatlah Al, besok kita akan berlatih lagi. Jangan sampai kelelahan"


Alurra mengangguk, dia pergi ke kamarnya dan membersihkan dirinya, lalu berbaring sebentar di tempat tidur. Sudah berapa lama dia mencoba untuk tertidur tapi tidak juga berhasil, pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dan terlihatlah sosok Marco dengan mata merah memasuki kamarnya.


Matanya merah dan berair, lalu air mata turun dari sana. Marco berjalan ke arah Alurra, menaiki tempat tidur Alurra lalu menangis di pelukannya. Alurra yang bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa mengusap punggung Marco.


"Kenapa sayang? Apa kamu mimpi buruk?"


Marco mengangguk, hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak ingin mengangkat wajahnya untuk melihat Alurra, pelukannya pada Alurra semakin kuat.


"Ibu" gumaman itu membuat Alurra mengerti, sepertinya pria kecil ini memimpikan ibunya. Alurra memandang Marco dengan sedih, rasa bersalah tidak juga hilang dihatinya, bahkan jika dia berhasil menyelamatkan Marco, dia tetap tidak berhasil menyelamatkan Emma.


"Maafkan kakak sayangku Marco"


Setelah lama menangis akhirnya Marco tertidur di pelukan Alurra, tapi Alurra belum juga bisa tidur. Bahkan sampai tengah malam dia belum juga bisa tidur. Entah firasat atau apa, Iron tiba-tiba memasuki kamar Alurra lalu meletakkan secangkir teh hangat di meja didekat kasurnya, hal ini membuat Alurra tersenyum. Iron selalu bisa diandalkan.


"Belum bisa tidur? Aku akan menemanimu begadang"


Sangat manis, bahkan lebih manis daripada manisan di toko wanita tua itu tadi. Perlakuan Iron padanya membuat jantungnya tidak berhenti berdetak, kepekaan Iron membuatnya jatuh lagi dan lagi padanya.


"Terima kasih"


"Berhenti mengucapkan terima kasih, Al. Aku senang melakukannya"


Alurra tersenyum mendengar perkataan Iron, sejak awal Iron selalu melakukan sesuatu untuknya seolah-olah hal itu memang kewajibannya, dia tidak mau menerima ucapan terima kasih apapun darinya. Beruntung, dia beruntung karena Iron menyelinap ke rumahnya waktu itu.