
Saat Iron membakar kertas yang diberikan Ketua suku kepada mereka, mereka langsung menghilang dan kemudian kembali muncul di rumah kayu tempat pria tua itu berada. Iron melihat Alurra yang sedang memeluk Marco dengan erat, pria kecil itu sama sekali tidak menangis bahkan setelah melewati kejadian itu.
"Marco, apa kami baik-baik saja sayang? Apa ada yang sakit?"
Marco hanya menggeleng lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Alurra, dia tampaknya sedang tidak ingin diajak berbicara sekarang, Alurra yang mengerti juga hanya diam dan menepuk-nepuk punggung Marco untuk memberikannya ketenangan.
Seorang pria tua muncul dari balik pintu lalu dengan cepat berjalan ke arah merek, Iron yang melihat pria tua itu langsung menarik kerah baju pria tua itu namun akhirnya berhasil dihentikan oleh Alurra.
"Berhenti Iron, kita bicarakan baik-baik, aku yakin paman tukang kayu memiliki alasan lain kenapa dia tidak memberitahu kita tentang hal ini"
Iron akhirnya diam dan duduk di kursi kayu meskipun suasana hatinya tidak juga berubah, dia masih terlihat kesal dan memandang paman tukang kayu dengan pandangan tajam.
"Maafkan aku, semua ini tentu saja bukan rencanaku, semua adalah takdir yang memang seharusnya kalian jalani. Jika aku memberitahumu dan membuatmu tidak menjalani takdirmu, maka masa depan akan kacau dan kami para Druid tidak akan bisa membantu kalian lagi"
Alurra mengerti, tapi tetap saja dia merasa sedih karena tidak bisa menyelamatkan Emma. Jika saja dia bisa datang lebih cepat, Emma pasti bisa selamat sekarang, dia memeluk Marco yang ada di pangkuannya dengan erat, dilihatnya wajah Marco yang sudah tertidur lelap.
Alurra merasa kasihan dan merasa bersalah pada Marco, dia berjanji akan melindungi Marco dengan sekuat tenaganya untuk membalas kebaikan Emma selama ini.
"Tidak bisakah kita menyelamatkan Emma?"
Paman tukang kayu menggeleng, Alurra menunduk sedih, ternyata memang tidak bisa ya. Jika saja mereka bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Emma maka dia akan melakukannya.
"Bahkan dengan menggunakan buku ini? Aku bisa melakukannya dengan kekuatan kayuku kan?"
"Alurra!"
Bentakan dari Iron membuatnya terkejut, selama dia berada di dekat Iron tidak pernah sekalipun Iron berbicara dengan nada yang tinggi. Iron juga memasang wajah sedih lalu mendekati Alurra, dia duduk di lantai lalu menggenggam tangan Alurra.
"Jangan pernah melakukan hal itu, berjanjilah padaku jangan pernah melakukan hal itu"
Iron memandang Alurra dengan pandangan memohon, Alurra sebenarnya tidak tau bagaimana cara menghidupkan orang yang telah mati menggunakan buku peninggalan ibunya ini. Dia bahkan belum pernah meminta satupun permintaan dari buku ini.
"Bahkan jika kamu menyelamatkan Emma, akan ada orang lain yang lebih penting dihidupmu jika kamu menyelamatkan Emma. Begitulah takdir berjalan Alurra"
Alurra akhirnya berhenti bicara, dia berharap bahwa tidak ada satupun korban. Tapi dia bukanlah orang yang bisa merubah takdir.
"Mari pegang tanganku, para tetua Drudi kuno ingin menemui kalian"
Iron dan Alurra memegang tangan paman tukang kayu, dan Marco yang berada di gendongan Alurra masih tertidur dengan nyenyak. Mereka seperti ditelan oleh lubang hitam saat paman tukang kayu membacakan mantra yang tidak bisa mereka mengerti.
Saat membuka mata, Alurra melihat bahwa mereka masih berada di rumah kayu tempat mereka berdiri tadi, dia menatap paman tukang kayu heran. Apakah dia sedang mempermainkan mereka?
Paman tukan kayu yang melihat keraguan di mata Alurra pun mengerti, dia langsung mengajak Alurra dan Iron keluar dari rumah kayu ini. Saat mereka keluar pemandangan di depan mereka sangat berbeda dengan biasanya, rumah-rumah barat abad pertengahan dan bangunan-bangunan kuno terpampang jelas dihadapan mereka.
"Tempat di mana para Druid kuno bersembunyi selama ini. Ayo ikuti aku, mereka telah menunggu"
Alurra dan Iron berjalan mengikuti paman tukang kayu, Marco yang telah berpindah ke gendongan Iron masih tertidur dengan nyenyak seolah ada sihir yang membuatnya tertidur.
"Marco, apa kamu yang membuatnya tertidur?"
"Dia sedang bermimpi indah sekarang, biarkan dia tertidur sebentar"
Benar dugaan Alurra, paman tukang kayu lah yang membuat Marco tertidur nyenyak, tapi dia berterima kasih, mungkin dengan tidur Marco akan menjadi lebih tenang.
Mereka pergi ke bangunan besar namun bergaya abad pertengahan, mereka memasuki bangunan itu lalu memasuki ruangan yang berada di sebelah kiri pintu masuk.
Terlihat di sana banyak pria tua dan beberapa wanita tua yang duduk di kursi melingkari meja, mengerikan, mereka memandangi Alurra dan Iron dengan pandangan bersemangat seolah menemukan harta Karun yang berharga. Alurra kembali bersyukur karena paman tukang kayu membuat Marco tertidur, jika tidak mungkin dia akan takut saat melihat orang-orang ini.
"Kamu akhirnya sampai juga Grok, sangat lambat"
Pria tua di sudut sebelah kiri dari pintu dengan warna putih memenuhi rambutnya berbicara, dia lalu menatap Alurra dan Iron secara bergantian, kemudian menatap Marco yang sedang berada di gendongan Iron.
"Hai, kalian di sini, akhirnya kita bisa bertemu ya. Aku sudah menyuruh Grok untuk membawa kalian ke sini sejak lama, tapi dia malah membawa kalian ke tempat Ras Batu tinggal"
Alurra dengan heran menatap paman tukang kayu untuk meminta jawabannya, paman tukang kayu malah terbatuk dan tidak membalas tatapan Alurra.
"Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu, banyak hal yang harus di sampaikan"
Kami akhirnya masuk dan duduk di kursi yang tersisa, Alurra duduk di samping Iron yang sudah duduk di samping paman tukang kayu. Ruangan ini tetap diam dan hening tanpa seorangpun berbicara. Suara batuk dari paman tukang kayu akhirnya memecahkan keheningan ini.
"Seharusnya aku mengajakmu ke sini sejak lama, namun karena aku melihat masa depanmu di desa Ras Batu jadi aku mengirim kalian ke sana terlebih dahulu sebelum akhirnya membawa kalian ke sini"
Rahang Iron kembali mengeras, pria tua ini sepertinya menyimpan banyak rahasia dari mereka ya. Alurra yang melihat emosi Iron langsung mengelus tangannya lembut agar emosi Iron tidak semakin menjadi-jadi.
"Lalu kenapa kalian ingin membawa kami ke sini?"
"Tentu saja untuk melatih kekuatanmu, tapi karena pria tua menyebalkan Grok yang malah membawa kalian ke Ras Batu masa latihanmu jadi tertunda selama satu tahun lebih"
Wanita tua dengan hiasan rambut mutiara itu berbicara dengan nada sinis ke arah paman tukang kayu, aku berna-benar belum terlalu memahami tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Memang seperti itulah takdir mereka sebenarnya Dona, kita tidak bisa membawa mereka langsung ke sini"
"Berhenti bicara omong kosong Grok, hal kecil seperti ini tidak akan membuat masa depan berubah"
Paman tukang kayu menggeleng tidak setuju "Hal sekecil apapun akan membuat masa depan berubah"