A Butterfly That Can'T Fly

A Butterfly That Can'T Fly
Ras Batu 3



Suara ketukan pintu terdengar membuat obrolan mereka terhenti, Kepala suku mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk. Terlihat seorang pemuda dengan rambut berwarna cokelat dan mata almond yang masuk dan berjalan ke arah mereka.


"Kepala suku, kami izin untuk pergi berburu"


Pria itu melirik Alurra sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke Kepala suku saat bertemu dengan mata Iron yang sedang memelototinya, setelah mendapatkan izin dari kepala suku dia pergi dari sana dengan cepat. Hanya itu, dia hanya meminta izin untuk pergi berburu dan tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya.


Iron kesal saat dia melirik Alurra, meski hanya sebentar. Dia kesal dengan wajah Alurra yang cantik, sehingga banyak sekali orang yang meliriknya. Apakah dia harus mengurung Alurra supaya hanya dia saja yang bisa melihat kecantikan Alurra? Tidak, dia cepat-cepat mengenyahkan pikiran jahat itu, dia tidak tega jika harus melihat Alurra bersedih.


Iron lebih suka melihat Alurra yang bebas seperti ini, dia selalu tersenyum kapanpun dia mau, dia akan cemberut saat dia kesal. Iron menyukainya.


"Baik, kembali pada topik, bagaimana kalian bisa tau bahwa kami Ras Batu berada di tempat ini? Hutan ini berada sangat jauh dari negeri Elves"


Iron sadar dari lamunannya saat suara Kepala suku kembali terdengar, Alurra juga sadar bahwa Iron melamun sedari tadi, dia menggenggam tangan Iron dan memandangnya seolah berkata 'kenapa?' Iron menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak tau dimana ini, pria tua itu yang mengirim kami ke hutan ini, kami hanya berjalan tidak tau arah dan beristirahat di bawah pohon besar karena terlalu lelah dan hari sudah malam"


Ketua suku mengangguk, pria tua itu pasti sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Jelas saja, dia adalah Druid kuno yang bisa meramal. Alurra yang menyadari bahwa Ketua suku mengatakan bahwa hutan ini berada sangat jauh dari negeri Elves pun terkejut, seberapa jauh itu?


"Seberapa jauh hutan ini dari negeri Elves?"


Ketua suku tersenyum, dia mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah peta dunia. Dia menunjuk ke arah 2 tempat yang membuat Alurra langsung tercengang.


2 Negara yang berbeda.


"Negeri Elves berada di Inggris sedangkan Ras Batu berada di Afrika Selatan, tujuan pria tua itu mengantar kalian ke sini mungkin karena kaum Divs tidak akan bisa sampai ke sini dalam waktu dekat"


Iron dan Alurra mengerti sekarang, ternyata alasan paman tukang kayu menyuruh mereka datang ke Ras Batu karena tempat mereka jauh dari negeri Elves dan kaum Divs. Jika mereka ke negeri langit maka para Divs bisa dengan cepat menemukan mereka.


"Pria tua itu sudah mengatakan ramalan tentang peperangan yang akan menentukan kehancuran dunia, jika para Divs dan Imp menang mereka akan menyerang bumi ini dan mencoba menguasainya, dan keseimbangan alam semesta akan hancur"


Alurra dan Iron terkejut mendengar ramalan itu, sepertinya situasi sekarang ini lebih serius dibandingkan dengan yang mereka pikirkan. Alurra mengira, kaum Divs hanya akan menyerang mereka karena kaum Elves adalah musuh mereka.


"Kaum Divs ingin menculik Alurra dan mengambil jantungnya yang telah penuh dengan kekuatan kayu untuk membuka kunci buku permintaan dan mereka ingin menggunakan itu untuk membangkitkan Raja mereka yang telah lama mati"


Alurra sudah pernah mendengar hal itu sebelumnya dari Eirwen, karena itu dia hanya diam dan menurut saja saat banyak ksatria yang menjaga di sekitarnya. Kepala suku sepertinya tidak mengetahui hal tersebut, dia menatap Alurra terkejut lalu menghela nafas panjang.


"Jadi itu alasan kenapa Druid kuno itu mengatakan bahwa dunia akan hancur dan keseimbangan alam semesta akan hancur"


Benar, jika Raja Divs dibangkitkan dari kematian menggunakan kekuatan kayu untuk membuka kunci buku permintaan dan meminta untuk membangkitkan Raja mereka dengan kekuatan yang lebih besar maka jika hal ini terjadi Raja Divs yang jahat itu akan mulai menyerang berbagai tempat untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi.


"Aku mengerti sekarang, kalian harus tetap berada di sini, aku akan menyediakan tempat untuk kalian tinggal"


Mereka mengangguk, semuanya jelas sekarang. Jika mereka berada di sini maka keluarga Alurra juga akan aman untuk sementara waktu di negeri langit.


Kepala suku membiarkan mereka tinggal di rumah salah satu Ras Batu, ini adalah rumah di pohon yang tadi Alurra lihat sebelum mereka pergi ke rumah Kepala suku. Pemilik rumah itu adalah seorang wanita paruh baya yang memiliki seorang anak laki-laki yang masih kecil.


Rumah ini berbeda dengan rumah batu, rumah ini terbuat dari kayu seperti rumah kayu biasanya. Wanita paruh baya itu sangat ramah dan menyambut mereka dengan baik membuat Alurra tidak merasa tidak nyaman sama sekali.


"Ayo masuk, di sini kamar nona yang cantik itu dan di sebelahnya kamar pemuda tampan ini. Ayo lihatlah kamar kalian"


Mereka memasuki kamar yang telah disebutkan oleh wanita paruh baya itu, cukup bagus, setidaknya kasur yang mereka gunakan tidak terbuat dari batu, seperti kasur biasa pada umunya.


Alurra heran, kenapa Ras Batu ada yang memiliki rumah batu dan ada yang tinggal di pohon-pohon besar ini. Kenapa mereka semua tidak tinggal di rumah pohon saja?


Saat selesai melihat kamarnya, Alurra keluar lalu melihat wanita paruh baya itu sedang menyiapkan makanan untuk mereka, Alurra baru sadar bahwa dia lapar. Dia berjalan mendekat.


"Ada yang bisa aku bantu tidak?"


"Tidak, tidak perlu nona cantik. Kamu hanya perlu duduk yang manis di kursi sana. Oh ya, panggil saja aku Emma, semua orang di sini memanggilku begitu"


Benar, mereka belum berkenalan sebelumnya. Saat Kepala suku mengantarkan mereka ke tempat wanita ini, dia langsung senang dan menarik tangan mereka untuk melihat-lihat isi rumah.


"Aku Alurra dan pria yang bersamaku tadi namanya Iron"


"Wah ternyata nama pemuda tampan tadi Iron, sayang sekali aku sudah tua dan harus ingat umur, jika tidak aku pasti akan menggodanya"


Emma tertawa terbahak-bahak, dia menganggap bahwa perkataannya tadi lucu, kerutan di sekitar wajahnya terlihat saat dia tertawa. Alurra hanya tersenyum, lalu dia melihat seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 5 atau 6 tahun berjalan ke arah mereka dengan langkah kecilnya.


"Ibu, aku lapar"


Dia merengek dan memasang raut wajah cemberut, Alurra merasa gemas! Anak ini sangat lucu dan dia ingin mencubit pipinya. Pria kecil itu lalu mengambil tempat di samping Alurra lalu menatap ke arah Alurra.


"Kaka cantik namaku Haris, aku akan menikahi kakak cantik saat aku besar"


Alurra dan Emma tertawa saat mendengar perkataan pria kecil itu, sedangkan Iron yang baru keluar dari kamarnya dan mendengar perkataan bocah tersebut bergegas mendekati mereka dan duduk di samping Alurra, lalu menatap tajam ke arah bocah itu.


"Kakak ini akan menikahi aku, kamu terlalu kecil untuknya"