
Iro dan Alurra tetap di desa Ras Batu karena Kepala suku menghalangi mereka untuk pergi, padahal sangat bahaya jika mereka tetap berada di sini. Bukan hanya mereka, para warga Ras Batu yang berada di desa juga akan berada dalam bahaya.
Namun Iron mengerti apa maksud dari Kepala suku, jika seandainya mereka keluar dan pergi sekarang, para Divs itu akan sangat cepat menemukan mereka. Para Divs itu pasti sedang berkeliaran di hutan mencari Iron dan Alurra sekarang, jika saja Iron tidak ikut berburu tadi, mereka pasti tidak akan tau jika mereka bersembunyi di desa Ras Batu.
Iron merasa bersyukur Alurra tidak bisa ikut berburu tadi karena jadwal latihan yang bentrokan dengan hari berburu, jika saja Alurra ikut mungkin Divs itu akan dengan sekuat tenaga ingin menangkapnya.
Tapi tinggal di sini dengan lama bukan cara yang benar, nyawa para warga Ras Batu menjadi taruhannya. Meskipun Ras Batu sulit terluka hanya karena sihir, namun jika kekuatan sihir itu kuat mereka tetap akan terluka.
"Emma, apa sebaiknya kami kabur saja ya dari sini? Bahaya Emma, warga Ras Batu akan dalam bahaya jika kami tetap berada di sini"
Alurra terus merasa cemas sejak dari tadi, bahkan setelah malam tiba kecemasannya bertambah, bagaimana jika saat mereka tidur para Divs itu menyerang? Bagaiman jika mereka membahayakan Emma dan Marco?
"Tenanglah Alurra, Kepala suku pasti membuat keputusan itu karena itu adalah keputusan yang paling baik. Bahkan jika mereka membahayakan kami, kalian pasti akan menolong kami kan?"
Emma berusaha menghibur Alurra, dia bahkan bercanda tentang penyelamatan. Tentu saja Alurra akan menyelamatkan Emma jika mereka dalam bahaya! Tapi tetap saja dia khawatir, Bagaimana jika kekuatannya belum cukup untuk menghabisi para Divs itu?
Iron yang sedari tadi memperhatikan Alurra yang cemas langsung menggenggam tangannya lalu mengelusnya. Dia berusaha menenangkan Alurra, tidak bisa begini terus. Iron harus dengan cepat memutuskan kemana mereka akan pergi selanjutnya, mereka tidak bisa pergi tanpa tujuan dan terus menerus di kejar oleh para Divs.
Saat mereka sedang berbincang dan merasa cemas, ketukan pintu berbunyi. Ternyata itu pemuda bernama Sovann yang menjadi ketua dalam berburu adalah orang yang mengetuk pintu, dia menyampaikan pesan bahwa Kepala suku menyuruh mereka datang ke rumahnya.
Setelah mendapatkan pesan itu, Alurra dan Iron langsung bergegas menuju rumah Kepala suku. Sesampainya mereka di sana, Kepala suku langsung menarik tangan mereka masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Bagus kalian cepat datang ke sini, ada sesuatu yang harus aku berikan pada kalian. Tunggu di sini"
Kepala suku langsung berlari memasuki kamarnya lalu keluar lagi dengan membawa sebuah kotak kayu dengan ukiran aneh, dia meletakkan kotak kayu itu di atas meja lalu membukanya. Sebuah kertas, ya, di dalam kotak tersebut ada sebuah kertas yang bertuliskan huruf-huruf yang tidak bisa di mengerti oleh mereka.
"Ini kertas teleportasi, kalian harus dengan cepat membakar kertas ini saat Divs menemukan desa ini. Kalian harus pergi"
Alurra menggeleng, bagaimana bisa dia pergi di saat warga Ras Batu bertarung? Dia tidak akan setuju dengan hal ini! Bukankah dia melatih kekuatannya selama ini agar tidak perlu ada orang yang melindunginya lagi? Jika seperti ini untuk apa dia berlatih dengan keras selama setahun lebih di sini.
"Dengarkan aku, jika kalian tetap di sini dan bertarung bersama kami nyawa yang terancam mungkin akan semakin banyak. Namun jika kalian pergi dan di lihat oleh salah satu Divs mereka pasti akan langsung pergi dari sini dan kembali mencari kalian"
Alurra dan Iron terdiam, Kepala suku benar. Jika saja mereka tetap di sini dan bertarung bersama Ras Batu, mungkin saja nyawa yang terancam akan semakin banyak.
"Darimana anda mendapatkan kertas ini Kepala suku?"
Iron bertanya dengan curiga, Kepala suku terdiam cukup lama. Dia ragu apakah ini boleh di sampaikan atau tidak kepada Alurra dan Iron, namun setelah melihat tatapan curiga Iron dia memutuskan untuk memberitahunya.
"Ini berasal dari pria tua Druid Kuno yang waktu itu pernah berkunjung ke desa kami, dia mengatakan bahwa berikan kertas ini kepada kalian saat Divs telah menyerang. Kertas ini akan membawa kalian ke tempatnya"
Iron berdiri dia sangat marah, hampir saja dia menyerang Kepala suku jika Alurra tidak menghalanginya. Bagaimana bisa hal sepenting ini tidak diberitahukan kepada mereka? Dan bagaimana pria tua itu tidak memberitahu mereka bahwa kejadian seperti ini akan terjadi dan malah memberitahu orang lain. Apa yang sebenarnya pria tua itu rencanakan?
"Aku tidak bisa mempercayai ini! Kenapa hal sepenting ini tidak diberitahukan kepada kami? Bagaimana aku bisa mempercayai kalian jika seperti ini?"
Iron menatap Kepala suku dengan sangat tajam, Kepala suku menghela nafas panjang dan hanya diam saja. Memang seharusnya hal seperti ini diberitahukan kepada orang yang bersangkutan, namun masa depan akan berubah jika mereka tau secepat itu.
"Iron tenanglah, ini bukan salah Kepala suku ataupun paman tukang kayu. Mereka tidak bisa memberitahukan masa depan dengan seenaknya"
Iron kembali duduk, meskipun begitu rasa kesalnya tidak bisa dengan mudah di hilangkan. Suara ketukan pintu yang terburu-buru terdengar saat ini, Kepala suku dengan cepat membukanya.
"Kepala suku, desa di serang oleh para Divs!"
"Bagaimana mungkin para Divs itu bisa mengetahui gerbang desa kita dengan cepat?!"
Mereka bergegas keluar, Alurra langsung berlari dengan cemas saat mendengar kabar itu, Emma dan Marco dalam bahaya! Dia dengan cepat berlari ke rumah pohon dengan Iron yang mengikutinya dari belakang.
Saat sampai di depan pintu rumah Emma yang terbuka, firasat Alurra sudah tidak enak. Dia langsung masuk dan tiba-tiba menerima serangan api hitam yang hampir saja mengenainya, untung dia dengan cepat menghindar. Iron di sampingnya menyuruhnya untuk berhati-hati.
"Alurra cepat pergi dari sini!"
Suara Emma terdengar, Alurra melihat Emma yang sedang bertarung dengan seorang Divs dan Marco yang sedang bersembunyi di bawah meja makan. Namun sepertinya keadaan Emma sedang darurat, pedangnya terhempas oleh serangan Divs itu, lalu api hitam mengenai dadanya dan dia terjatuh.
"Tidak, Emma!"
Alurra langsung bergegas ke arah Emma tanpa menyadari bahwa ada satu lagi Divs yang tadi menyerangnya, Divs itu langsung menembakkan banyak api hitam ke arah Alurra tapi untung saja di halangi oleh Iron. Alurra dengan cepat menyerang Divs yang tadinya menyerang Emma, dia menumbuhkan bunga pemakan manusia dan sulur-sulur panjang untuk mengikat Divs itu, sulur-sulur itu terus di bakar oleh api hitam.
Alurra merasa bahwa serangannya tidak mempan dan dia langsung memikirkan bagaimana caranya mengalahkan Divs ini, serangan api hitam juga terus mengarah pada Alurra. Kekuatan Alurra sudah akan habis, lalu dia tiba-tiba teringat dengan sulur-sulur Tera yang berada di hutan yang kebal akan sihir.
Dia mencoba menumbuhkan sulur sejenis ini namun ternyata kekuatan yang dia gunakan sangat banyak karena membuat tanaman sihir, dia langsung menyerang Divs itu dan berhasil mengikatnya lalu dia menumbuhkan tanaman pemakan manusia raksasa dan berhasil membunuh Divs itu.
Alurra langsung berlari ke arah Emma, kekuatannya hanya tersisa sedikit. Dia memeriksa detak jantung Emma, berhenti, detak jantungnya berhenti. Alurra dengan sekuat tenaga menyembuhkan Emma dengan kekuatan kayunya, tapi jantung Emma tidak juga kembali berdetak.
"Emma, kumohon bangunlah. Bagaimana aku bisa menepati janjiku untuk melindungimu jika kamu tidak bangun. Kumohon bangunlah Emma!"
Alurra terus memasukkan kekuatan penyembuhnya ke tubuh Emma, namun tidak juga mempan, kekuatannya tidak berarti apa-apa. Tentu saja tidak bisa, kekuatan Alurra untuk menyembuhkan seseorang, bukan untuk menghidupkan orang yang telah mati. Tiba-tiba Alurra teringat dengan buku ibunya, dia dengan cepat pergi ke kamar dan menemukan bahwa buku itu masih berada di bawah tempat tidurnya. Sepertinya Divs itu belum sempat mencari buku Alurra.
Saat dia ingin membuka buku itu sebuah tangan menghentikannya, Iron yang telah menggendong Marco menatap Alurra dengan tajam. Dia mengambil buku itu dari tangan Alurra dan memasukkannya ke dalam kantong.
"Apa kamu gila, Al? Jangan melakukan apapun yang kamu pikirkan"
"Tapi aku harus menyelamatkan Emma! Katanya buku itu bisa membantu menghidupkan orang mati, karena itu kan para Divs terus mengejarku?! Berikan padaku Iron, buku itu bisa menyelamatkan Emma!"
Iron dengan cepat menurunkan Marco dari gendongannya, lalu memeluk Alurra yang histeris. Alurra yang dipeluk tiba-tiba mengeluarkan air matanya, dia benar-benar merasa kehilangan. Emma sudah seperti ibunya sendiri, dia merawatnya dengan ketulusan. Alurra menangis sesenggukan dipelukan Iron, Marco yang melihat Alurra menangis juga ikut menangis dan memeluk Alurra.
Sadar bahwa Marco masih selamat, Alurra melepaskan pelukan Iron dan memeluk anak malang itu, Alurra harus menjaga Marco, harus.
Beberapa Divs kembali masuk ke rumah Emma dan melihat mereka yang berada di kamar, dengan cepat Iron memeluk mereka dan membakar kertas itu dengan kekuatan apinya lalu mereka menghilang di hadapan para Divs.