A Butterfly That Can'T Fly

A Butterfly That Can'T Fly
Druid kuno 2



"Kalau begitu berarti Emma bisa saja selamat kalau saja paman tukang kayu membawaku ke sini dan bukannya ke Ras Batu"


Paman tukang kayu menggeleng, kematian bukanlah sesuatu yang bisa dicegah bahkan jika Alurra tidak ke Ras Batu, para Divs akan tetap pergi ke sana dan menyerang Ras Batu.


"Bahkan jika kamu pergi ke sini, Ras Batu akan tetap diserang oleh kaum Divs. Emma akan tetap meninggal"


"Pada akhirnya semua akan terjadi dan tidak akan ada yang berubah kan? Lalu kenapa kamu tidak membawa kami ke sini saja dari awal"


Paman tukang kayu tersenyum, lalu dia meletakkan tangannya di atas bola kristal yang ada di meja. Terlihat gambaran-gambaran di mana mereka berada di sini, lalu terlihat juga bahwa banyak Ras Batu yang terluka lalu muncul gambar dimana Kepala suku yang penuh dengan darah, para Divs menyerang dimana-mana.


"Kejadian sekecil apapun akan merubah takdir, jika kalian ke sini lebih awal akan ada lebih banyak korban di Ras Batu"


Iron dan Alurra terdiam, mereka tidak akan menyangka dengan pemandangan yang telah paman tukang kayu tunjukkan pada mereka. Dia merasa beruntung bahwa paman tukang kayu mengirim mereka ke Ras Batu terlebih dahulu.


"Nyawa mereka tidak terlalu penting Grok, mereka hanya sekumpulan semut yang tidak akan banyak membantu dalam perang kali ini. Seharusnya Alurra sudah harus berada di sini setahun yang lalu dan mengembangkan kekuatannya"


Mendengar seorang pria tua dengan topi merah berbicara, Alurra merasa sangat marah. Begitu juga dengan Iron yang berada di sampingnya, api ditangan Iron sudah muncul dan siap menyerang pria tua itu, namun paman tukang kayu menghentikannya.


"Apa maksudmu dengan sekumpulan semut? Mereka juga makhluk berakal seperti kita, jaga bicaramu itu Seric! Semakin banyak orang yang selamat semakin banyak orang yang akan membantu kita dalam peperangan kali ini"


Paman tukang kayu berbicara dengan marah sambil menggebrak meja, suasana di ruangan itu sangat tegang semenjak Seric berbicara, pria tua itu selalu saja begitu. Dia tidak pernah menganggap kaum lain di matanya.


"Berhenti bertengkar, sekarang kita harus membicarakan hal yang penting"


Salah satu pria tua yang berada di ujung meja yang sepertinya adalah pemimpin diantara mereka berbicara, semua orang menjadi tenang. Tidak ada satupun yang berani mengangkat suaranya, sudah berapa kali Alurra melihat kejadian seperti ini, setiap kali ketua berbicara mereka pasti akan diam, seperti itu juga yang terjadi di Ras Batu saat dia pertama kali datang.


"Karena Alurra dan Iron sudah berada di sini maka semuanya sudah selesai, tugas Grok untuk membawa mereka juga sudah selesai. Tidak ada yang perlu diributkan"


"Sekarang yang terpenting adalah Alurra dan Iron akan tinggal di sini untuk sementara waktu untuk memperkuat kekuatan mereka, Grok yang akan melatih mereka" suasana di ruangan itu kembali berisik, banyak orang yang tidak setuju dengan Grok yang akan melatih mereka.


"Ketua, bukannya sebaiknya mereka dilatih oleh Seric saja, dia yang bisa melatih mereka dengan baik"


"Jangan membantahku nyonya Rose, Grok yang akan melatih mereka"


Tidak ada yang berani membantah, semua orang diam dan menyetujui perintah 'Ketua' meskipun di dalam hati mereka tidak setuju, menurut merek Seric adalah Druid terbaik yang bisa melatih kekuatan Alurra dan Iron.


Pertemuan selesai setelah mereka memutuskan bahwa Grok yang akan melatih Alurra dan Iron, mereka akhirnya pergi dari sana dan mengikuti Grok ke salah satu bangunan besar yang ternyata adalah tempat di mana Alurra dan Iron beserta Marco akan tinggal.


"Untuk saat ini kalian akan berada di sini, aku akan datang ke sini setiap hari untuk melatih kalian. Tolong jaga pria kecil ini juga, dia adalah harta karun"


Harta Karun? Apa yang dimaksudnya itu Marco? Kenapa Marco bisa jadi harta Karun? Saat Alurra ingin bicara tiba-tiba paman tukang kayu yang tadinya berada di hadapannya menghilang, dia hanya bisa menghela nafas lalu mereka masuk ke bangunan itu.


Saat dia ingin memasak Iron datang dan menghentikannya, dia menyuruh Alurra duduk di meja makan dan mulai membuat makanan untuknya. Alurra yang bingung hanya mengikutinya saja.


"Kenapa kamu tidak membiarkanku masak saja Iron?"


"Omlet buatanmu waktu itu terlalu asin, Al"


Wajah Alurra tersapu dengan warna merah, benar, pada saat pertama kali mereka bertemu Iron memakan omlet sisanya dan itu memang terlalu asin. Bagaimana bisa Iron masih mengingat semua itu?


"Baik, kalau begitu kamu saja yang masak"


"Memang seharusnya begitu kan? Aku akan melayani Tuan Putri"


Iron berbicara sambil terkekeh, sangat manis. Selalu manis. Alurra selalu suka jika Iron sudah terkekeh, apalagi jika dia tertawa lebar. Alurra menyukainya.


Saat mereka sedang berbincang di dapur, suara panggilan dari Marco terdengar, pria kecil itu menangis sambil memanggil ibunya, Emma. Alurra dengan cepat bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar tempat dimana Marco tadi tidur.


"Ibu dimana kakak?"


Marco yang melihat Alurra langsung menghampirinya lalu memeluknya sambil menanyakan ibunya, Alurra merasa sedih melihatnya, jika saja Emma masih hidup Marco tidak akan bersedih.


"Maafkan kakak Marco, kakak tidak bisa menjaga ibumu"


Mata pria kecil itu merah, dia tersentak seperti baru teringat sesuatu, dia merentangkan tangannya minta digendong oleh Alurra lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Alurra. Pria kecil itu berhenti menangis, atau bisa dibilang dia menahan tangisannya.


Alurra merasa sangat tidak tega, dia mengelus pelan punggung Marco dan membisikkan kata-kata penenang agar dia tidak terlalu bersedih, meskipun Alurra tau bahwa hal yang dia lakukan adalah hal yang percuma.


"Tenang sayang, kakak pasti akan menjagamu"


Dia membawa Marco ke meja makan, pria kecil itu tidak mau melepaskan diri dari gendongan Alurra bahkan ketika Iron ingin menggendongnya dia menggelengkan kepala dan memeluk Alurra erat.


"Tapi kak Alurra ingin makan sebentar Marco, kamu digendong kakak saja dulu"


"Biarkan saja Iron, aku masih bisa makan meski ada Marco di pangkuanku"


Iron menghela nafas, dia mengambil piring yang tadinya dia serahkan pada Alurra, lalu menyukai Alurra dengan telaten. Alurra terkejut melihat aksi Iron lalu tidak lama kemudian dia tersenyum. Selalu ada cara bagi Iron untuk membuat Alurra merasa nyaman berada di dekatnya, saat ada Iron di dekatnya kekhawatirannya selalu saja runtuh.


Iron selalu bisa dia andalkan, tiba-tiba dia teringat dengan keluarganya, apakah mereka baik-baik saja di negeri langit?


"Iron, apa keluargaku akan baik-baik saja?" Iron menatap Alurra lalu kembali menyuapkan makanan ke mulut Alurra yang sudah kosong, dia mengangguk.