
"Keluargamu pasti akan baik-baik saja Al, negeri langit memiliki pertahanan yang sangat kuat. Para Divs tidak akan berani menyerang mereka secara gegabah"
Alurra menghela nafas lega, untung saja keluarganya aman, melihat selama ini dia selalu dalam bahaya sangat baik baginya untuk menjauh dari keluarganya untuk saat ini. Dia beruntung waktu itu dia tidak pergi ke negeri langit dulu dan memilih pergi ke tempat Ras Batu, dia tidak tau takdir apa yang akan dibawanya ke negeri langit.
Iron terus menyuapi Alurra, pria kecil di pelukan Alurra tetap tidak ingin melepaskan pelukannya seolah-olah dia akan pergi jika dilepas. Marco mungkin terlalu takut karena dia melihat ibunya mati dengan kedua matanya sendiri, dan Alurra sangat memahaminya.
"Marco, kamu lapar?"
Pria kecil itu menggeleng dan tetap menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alurra, dia tidak mau memperlihatkan wajahnya. Alurra terus mengelus punggung pria kecil itu, beberapa saat kemudian punggung kecil itu bergetar kecil. Dia menangis.
"Marco sayang, maafkan kakak"
Tangisan Marco membuat Alurra panik, air mata yang selama ini ditahan oleh pria kecil itu akhirnya jatuh juga, Isak tangisnya membuat Alurra juga bersedih, dia menatap Iron memintanya untuk membantu menenangkan Marco.
"Aku masih memiliki permen, kamu mau?"
Sangat tidak membantu, Marco tetap menangis terisak, Alurra membiarkannya dan tetap mengelus punggungnya untuk menenangkannya, dia memeluknya untuk memberinya kehangatan.
"Kamu tau, aku juga kehilangan kedua orang tuaku saat aku masih kecil" ucapan Iron membuat tangisan Marco berhenti, dia akhirnya mengangkat wajahnya yang telah dibasahi oleh air mata, menatap Iron dengan rasa ingin tau.
"Saat itu aku masih berumur 5 tahun, sama seperti kamu. Divs menyerang kerajaan Elves dan menculik Putri dari kerajaan Elves, orang tuaku ikut berperang melawan Divs tapi mereka terbunuh pada saat itu"
Iron mendekatkan wajahnya untuk menatap Marco dalam, dia memegang bahu pria kecil itu, "Jadi saat ini aku sangat ingin membalas dendam atas kematian orang tuaku, aku akan membunuh para Divs itu. Itu yang harus kamu lakukan"
Sepertinya perkataan Iron membuat apo balas dendam di dalam diri Marco berkobar, matanya menunjukkan keyakinan, dia mengangguk dan menatap Iron dengan penuh keyakinan.
"Bagus"
Alurra tersenyum melihat Marco yang berhasil ditenangkan oleh Iron, dia kembali memeluk pria kecil itu dan mengelus rambutnya. Marco mulai menampilkan senyumnya pada Alurra dan mencium pipi Alurra. Aksinya itu membuat Iron memelototinya, Marco tertawa saat melihat Iron yang marah.
"Nakal, kamu mau makan? Masakan Kakak Iron sangat enak"
"Ya, aku lapar kak"
"Anak pintar"
****************
"Kak, mau ke mana?"
Marco dan Iron melihat Alurra berjalan dengan hati-hati merasa bingung, Alurra awalnya ingin pergi melihat kota Druid kuno ini sendiri, tapi melihat bahwa Marco dan Iron yang telah bangun sepertinya rencananya tidak akan bisa dilaksanakan.
"Aku hanya ingin jalan-jalan pagi"
Iron menatapnya curiga, dia mendekati Alurra lalu memandang wajahnya serius. Tingkah Iron membuat Alurra gelisah, seolah-olah rencananya telah terlihat.
"Jangan berbohong padaku Al, ayo pergi bersama" Iron mencubit hidung Alurra lembut, lalu tersenyum geli melihat wajahnya yang malu karena rencananya telah terlihat. Benar, dia tidak bisa berbohong dihadapan Iron.
"Menyebalkan"
Iron terkekeh, dia langsung menggandeng tangan Marco lalu mereka pergi berkeliling kota bersama. Kota Druid kuno benar-benar persisi seperti Inggris pada abad pertengahan, sesuai dengan namanya, kuno.
"Kak, di sini tidak ada yang jual permen ya? Tidak ada pasar tempat menjual kue"
Marco berbicara sambil mendongak menatap ke arah Alurra, benar, bangunan-bangunan di sini sangat kuno dan sepi membuat suasana di sini sangat menyeramkan. Saat Alurra akan menjawab pertanyaan Marco, sebuah suara menyela terlebih dahulu.
"Kata siapa tidak ada, kalian salah jalan. Di sini kebanyakan hanya bangunan kosong tidak berpenghuni dan banyak penjahat, jadi berhati-hatilah. Lebih baik kalian pergi ke arah Utara, di sana bagian ramai dan ada pasar juga"
Seorang pria tua dengan tongkat di tangannya berbicara, wajahnya sudah keriput dan pakaiannya sudah Kumal. Persis seperti seorang pengemis, tapi Alurra mengenyahkan pikirannya itu, tidak baik jika kita berprasangka buruk pada orang lain.
"Benarkah? Terima kasih kalau begitu"
Mereka pergi, tidak pergi ke pasar dan malah kembali ke rumah, percuma saja mereka pergi ke pasar, mereka tidak punya mata uang Druid kuno.
Paman tukang kayu datang saat hari sudah siang, dia mulai melatih Alurra dan Iron seperti yang dia katakan. Caranya melatih mereka sangat berbeda dengan cara Kepala suku Ras Batu melatih mereka. Caranya lebih cepat dan efisien sehingga kekuatan Alurra dapat tumbuh dengan cepat.
Marco melihat Alurra dan Iron berlatih, dia mengikuti gerakan-gerakan mereka yang membuatnya terlihat lucu.
"Kakek aku juga ingin jadi kuat, aku juga mau berlatih!" Marco berbicara dengan lantang kepada paman tukang kayu, sedangkan paman tukang kayu hanya tersenyum dan mengelus puncak kepalanya.
"Ayolah kakek, aku juga ingin berlatih, ajari aku"
"Belum sekarang, tunggu sebentar lagi ya"
Perkataan paman tukang kayu membuat Alurra dan Iron mengernyit bingung, apa maksudnya itu? Apa mungkin Marco juga bisa berlatih nantinya? Apa mungkin Marco mewarisi kekuatan batu dari Ras Batu?
Marco setuju saat paman kayu membujuknya, dia akan menunggu hari dimana dia bisa berlatih bersama Alurra dan Iron. Dia akan menjadi kuat dan membalaskan dendam ibunya, dia juga harus melindungi kakak cantik.
"Sudah cukup untuk hari ini"
Paman tukang kayu menyerahkan tas serut kecil pada Alurra yang ternyata isinya adalah Koin dengan gambar-gambar kuno.
"Itu diberikan pada Ketua Druid kuno kepada kalian"
"Kenapa dia memberikan ini?"
Iron selalu berhati-hati, salam keadaan seperti ini sangat sedikit orang yang dapat dipercaya. Ketua Druid dan mereka tidak saling mengenal sebelumnya, sangat mencurigakan jika dia memberikan uang ini kepada mereka.
"Kalian pasti tidak memiliki mata uang Druid bukan? Di sini tidak ada tempat untuk menukar mata uang. Jadi terima saja"
Alurra mengambilnya, meskipun Iron ingin protes dia tetap akan mengambilnya, mereka butuh makan dan perlengkapan lainnya untuk bertahan hidup, tidak mungkin dia menyia-nyiakan uang yang telah diberikan secara gratis padanya.
"Terima kasih paman, sampaikan ucapan terima kasih kami untuk Ketua Druid"
Hari sudah sore dan paman tukang kayu akhirnya pergi, Marco melirik ke arah tas serut yang diberikan paman tukang kayu pada Alurra tadi.
"Kakak, jadi besok kita bisa beli kue?" Sangat menggemaskan! Tatapan matanya sangat lucu bagi Alurra, sedangkan Iron menatap Marco dengan jijik.