
Istana Presiden,3 Januari 2110
Setelah menangkap Andi dan mendapatkan bayaran dari Presiden, Pandawa pun pergi ke kamar mereka masing masing untuk istirahat. Esoknya Mereka dikumpulkan di aula oleh Presiden. Karena Presiden belum datang, Mereka pun akhirnya menunggu sejenak. Setelah beberapa menit, Presiden pun datang bersama wakilnya.
"Selamat. Kalian sudah bisa menyelesaikan tiga misi secara berturut turut. Agar tidak stress, empat hari kedepan, Kalian Saya ijinkan pulang untuk bertemu dengan keluarga Kalian."ucap Presiden.
Seulas senyum menghiasi wajah para anggota pandawa kecuali Marsel. Setelah cukup bicara, Presiden pun membubarkan Mereka. Karena melihat Marsel yang tampak biasa saja dengan berita yang seharusnya membuat ia senang ini, Bima pun menghampirinya.
"Lo kenapa Sel?"tanya Bima."Kok nggak seneng?"tambahnya.
"Sebenarnya gue lebih suka disini bersama Kalian."ucap Marsel.
"Lho kenapa?Lo kan bisa bertemu dengan keluarga lo."tanya Bima.
"Mereka sudah nggak ada. Sekarang gue hanya tinggal bersama paman gue yang seorang pemilik sirkus."jawab Marsel.
"Maaf."ucap Bima sambil menunduk.
"Nggak apa apa kok."ucap Marsel tersenyum.
Bima pun mengajak Marsel untuk bertemu para anggota Pandawa yang lain untuk membahas hal ini. Apakah ada yang mau menemani Marsel disini. Para anggota Pandawa pun terdiam. Mereka ingin menemani Marsel, tapi Mereka juga kangen kepada keluarga dirumah.
Melihat anggota Pandawa yang lain yang hanya terdiam, Marsel pun tersenyum.
"Kalian pulang aja nggak apa apa."ucap Marsel sambil menyenderkan bahunya ke tembok.
"Maaf ya sel."ucap para anggota yang lain.
Marsel pun keluar lalu menuju kamarnya. Esoknya, Para anggota yang lain berpamitan kepada Marsel dan Mereka pun pulang kerumah Mereka masing masing. Setelah beberapa menit ditinggal oleh yang lain, tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar.
"Gue temenin lo sel."ucap Toni.
"Lo kok nggak pulang Ton."tanya Marsel.
"Nggak apa apa. Males aja. Lagian gue kan nggak bakal ninggalin temen gue."ucap Toni sambil melemparkan tasnya ke kasur.
Setelah meminta izin kepada Presiden, Toni dan Marsel pun keluar Istana untuk menikmati Kota Jakarta.
Semarang
tinnn..tonggg..
"Iya, sebentar."kata Viona si pemilik rumah.
Setelah membuka pintu, Viona pun langsung memeluk pria yang sedang bertamu kerumahnya, yaitu Bima. Papanya.
"Kita masak dulu habis itu kita pergi jalan jalan ke kota tua ya."bisik Bima.
Viona pun mengangguk tanpa melepaskan pelukannya. Dada Bima pun terasa basah karena air mata Viona yang menetes membasahi bajunya lalu tembus kedadanya.
Jakarta
Arya pun melirik kearah argo lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada sopir taksi.
"Permisi."ucal Arya dengan maksud memberi kejutan kepada Istrinya.
Setelah pintu terbuka, Mereka pun berpelukan. Arya pun mencium kening istrinya.
"Aku kangen Kamu yang."ucap Istri Arya.
Arya hanya memberikan sebuah senyuman kepada Istrinya. Ia pun masuk lalu terdengarlah suara lembut dari anak kecil.
"Papa."ucap anak itu sambil merangkak kearah Arya.
Arya pun menggendongnya lalu menciumnya.
Bandung
Dimas pun keluar dari bus yang ia tumpangi lalu berjalan kedalam sebuah gang yang cukup sempit. Diperjalanan, Ia pun disapa oleh tetangga tetangganya. Dimas pun tersenyum lalu mengangguk.
Melihat suaminya telah pulang, istri Dimas pun meninggalkan ibu ibu yang sedang asik bergosip dengannya lalu berjalan menghampiri suaminya.
"Akang kangen neng."ucap Dimas.
"Neng juga."ucap istri Dimas lalu mencium tangan Dimas dan mengambil tas yang Dimas bawa.
"Ibu ibu lanjut nanti aja ya gosipnya."ucap Istri Dimas lalu berjalan kedalam rumah.
"Mari bu."ucap Dimas.
Jakarta
Karena bukan orang asli jakarta, Toni dan Marsel pun bingung akan kemana untuk mengisi waktu liburan Mereka yang cukup berharga ini.
"Sumpah Gue nggak tau tempat wisata di Jakarta."ucap Marsel.
"Gue tau. Kita ke Monas aja gimana?"usul Toni.
"Lo kayak orang kampung aja Ton ton, kalau liburan ke Jakarta pasti ke Monas."ucap Marsel tertawa.
"Lha trus kemana dong?"tanya Toni.
"Hmm yaudah deh, Kita ke Monas aja."ucap Marsel.
"Dasar."ucap Toni