
Setelah pandawa menangkap Jaka Pradana,Jaka pun hanya di penjara namun penjara seumur hidup tentunya.
"Malam ini malam yang melelahkan"ucap Toni
"Bener lo Ton,gue mau makan dulu"ucap Bima sambil berjalan menuju ruang makan.
"Ternyata asrama ini cukup luas juga ya"batin Arya
"Kalian nggak makan?"tanya Bima
"Lo aja dulu Bim"
"Gimana ar?udah nggak sakit tangan lo?"tanya marsel
"Nggak sel kalo tangan lo?"
"Ini udah agak mendingan"ucap marsel
"Kayaknya kita kurang latihan deh ini,soalnya teman kuta ada yang kena tembak"ucap Toni
"Gue juga mikir gitu sih,gimana kalau besok kita latihan?"tanya Bima
"Gass lah"ucap Arya
Esoknya mereka pun berlatih di lapangan istana.Mereka pun berlatih sesuai kemampuan mereka masing masing.Setelah merasa mereka bisa menguasai keahlian masing masing,mereka pun berkumpul untuk membahas tak tik penyerangan
"Kita harus lebih kompak lagi"ucap Bima
"Saat kita dah tau apa misi selanjutnya,kita akan buat formasi penyerangan"imbuhnya.
Seminggu kemudian
"Oke Pandawa,misi selanjutnya adalah kalian harus membawamenangkap orang ini kepada Saya"ucap Presiden dan keluarlah hologram dari mejanya
"Ini adalah Rico Fernando.Ia seorang yang suka menjual organ tubuh manusia dan menjualnya di pasar gelap,sudah banyak warga Bali yang menjadi korban dari perilaku bejatnya.Saya harap kalian mampu membawa orang ini hidup hidup,bisa?"tanya presiden.
"Ini merupakan denah rumahnya yang saya dapat dari ahli IT saya"imbuhnya
"Lumayan simple ya"batin Bima
"Tapi kalian harus tetap berhati hati karena misi ini cuku penting dan Saya ingin kalian membawa Rico dalam keadaan bernyawa"
"Kapan kami akan melaksanakan misi ini?"
Bali,27 November 2109
"Jika dilihat dari denahnya,rumah ini cukup simple bila dibanding dengan rumah si gendut Jaka itu"ucap Bima
"Tapi disini ditulis bahwa mereka punya meriam di bawah tanah"ucap Marsel
"Dan ranjau di sekeliling rumah"imbuh Arya
"Bagaimana kita bisa masuk tanpa memicu ranjaunya?"tanya Toni
"Kita harus manjat sih kayaknya"ucap Bima
"Manjat?caranya"tanya Dimas
"Sebelum kita datang ke sini,gue udah bawa tali dan sebuah panah tembak untuk memanjat rumah ini"ucap Bima.
"Mantep lo Bim"
"Oke let's do it"ucap Bima
Setelah mereka berjalan beberapa langkah,dari balik tanah liat terlihatlah sebuah ranjau
"Sepertinya dimulai dari sini ranjaunya"
Mereka pun mulai melepaskan tembakannya satu persatu dan mulai berayun untuk menghindari ranjau dan mulai memanjat tembok pertahanan milik Rico.
"Ini panah apaan?"ucap anak buah Rico
"Jangan pegang itu boy"ucap Bima sambil memberikan pukulan yang telak kepadanya
Mereka berlima pun mulai menghajar anak buah Rico yang menjaga diluar satu persatu dan sebisa mungkin mereka tidak membuat suara sedikitpun.Setelah selesai dengan penjaga yang di luar,nereka pun akhirnya masuk ke Rumah Rico melalui atap dengan teknik yang sama saat mereka melewati dinding pertahanan milik Rico.
Cessss..
Suara dari alat Dimas yang digunakan untuk melubangi atap Rumah Rico.
"Oke tim,sebisa mungkin jangan ada suara ya"ucap Bima kepada yang lain sambil terus mengawasi sekitar.
"Kok gelap bener sih"gerutu marsel
Mereka berlima pun akhirnya terbagi menjadi 2 kelompok,kelompok pertama diisi oleh Bima dan Marsel sedangkan kelompok kedua diisi yang lain.Mereka pun akhirnya membagi tugas yaitu menangkap Rico dan membebaskan para tawanan yang akan di jual oleh Rico.
"Sepertinya ruang tahanannya ada di bawah deh"ucap Arya sambil melihat denah berbentuk hologram dari arlojinya.
"Kalau gitu Kita harus segera kesana"ucap Dimas.
"Segera kemana?"sela anak buah Rico sambil menodongkan pistol ke arah Arya dan Dimas.
"Segera ke kuburan"ucap Toni sambil memukul kepala anak buah Rico dari belakang.
"Maaf telat"
"Tepat waktu lo Ton"ucap Arya.
Mereka bertiga pun akhirnya berjalan menuju ke ruangan bawah tanah milik Rico yang digunakan untuk menahan para tawanan.Tidak lupa mereka terus memukul,mencekik bahkan membunuh para anak buah Rico yang mendapati mereka sedang menuju area bawah tanah.
"Sepertinya ini pintunya"ucap Toni
"Tenang boys,biar gue buka sama alat pelebur besi milik gue"ucap Dimas.
"Jika dari kayu,dah gue hajar nih pintu"batin Toni kesal.
Setelah terbuka mereka pun mendapati para rakyat Bali yang banyak menjadi tawanan Rico.Buka hanya rakyat Bali,namun juga para turis asing yang datang berkunjung ke Bali.Mungkin para turis itu adalah turis yang tersesat/terpisah dari rombongan tur.
"Ayo kita buka gemboknya"ucap Dimas.
Tanpa basa basi,Mereka bertiga pun mulai membuka gembok satu persatu,karena kecerobohan Mereka hingga tidak sadar bahwa sudah banyak anak buah Rico yang sudah menanti mereka di bawah sambil menodongkan senjata mereka.
"Menyerahlah"
"Menyerah,nggak salah denger gue?"ucap Arya sambil memainkan trik sulapnya untuk mematikan lampu penjara bawah tanah.
"Lho kok mati lampunya?"tanya salah satu dari anak buah Rico.
"Bukan cuma lampunya yang mati,Kalian juga akan mati"ucap Arya yang langsung disambung oleh permainan pedang Dimas.
Mereka bertiga pun asik bermain maindi dengan para anak buah Rico yang berada di sana.
"Tembak...tembak aja secara acak"ucap Ketua mereka
Para anak buah Rico pun saling menembakkan senjatanya dan mereka pun saling terbunuh karena mereka tidak sengaja menembak satu samasama lain karena mereka tidak dapat melihat karena gelap.
Kemudian beberapa selang waktu,Suasana menjadi sepi.Para anak buah Rico pun akhirnya mati konyol karena ulah mereka sendiri.
"Kuat juga tameng lo Dim"puji Arya.
"Gue di Bandung juga disebut Tony Stark bro"ucap Dimas dengan bangga.
"Serah lo Dim,yok Kita lepaskan para tawanan"ucap Toni sambil membuka gembok penjara bawah tanah untuk mengeluarkan para tawanan Rico.
"Para tawanan sudah bebas"ucap Arya melalui earphone kepada Bima.
"Cepet juga kerja Kalian"ucap Bima.
"Iya lah,cepet tangkap Rico Bim"
"Siap"
Kemudian Bima dan Marsel berjalan terus ke lantai tiga dan akhirnya menemukan ruang kerja Rico.
Mendengar langkah kaki yang masuk keruang kerjanya,Ia pun menahan tangannya untuk memotong daging para korbannya.
"Nggak sopan,ucap salam dulu sebelum masuk"ucap Rico tanpa menoleh keke arah mereka.
"Selamat malam"ucap Marsel.
"Ada apa kalian kesini?mau jadi korban selanjutnya?"ucap Rico sambil memutar tubuhnya ke arah Bima dan Marsel.
"Anjrit nih orang kumisnya tebel bener"batin Marsel.
"Gue minta lo berhenti dari kerja bejat lo"ucap Bima.
Mendengar ucapan Bima,Rico pun tertawa terbahak bahak dan muncul lah para anak buahnya dan mulai mengepung Bima dan Marsel.
"Kalian terlalu terburu buru.Kenalkan mereka semua anak buahku yang akan membawamu padaku untuk menjadi korban selanjutnya"ucap Rico dengan optimis.
"Nih kenalin rekanku,Marsel.Emang satu sih tapi Dia punya keahlian yang tidak dimilik oleh para anak buahku"ucap Bima sambil menepuk pundak Marsel.
Rico pun kembali tertawa yang diikuti oleh semua anak buahnya.
"Dan sebenarnya,bukan hanya Dia rekanku,tapi juga mereka"
Kemudian lampu pun mulai mati dan membuat Rico dan para anak buahnya kaget.
Kemudian terdengarlah suara pukulan dari balik kegelapan.Namun tidak ada yang tau siapa pelaku dan korbannya.Suara itu pun terus berlanjut sampai lampu kembali hidup dan memperlihatkan para anggota Pandawa yang sudah mulai menghabisi anak buah Rico.
"See"ucap Bima
Kemudian Rico pun mengambil pedang yang berada di sampingnya dan menantang para pandawa untuk one on one
"Biar gue aja Bim"ucap Dimas.
Kemudian Dimas pun maju untuk menghampiri Rico untuk menerima tantangan one on one dari Rico.
Tanpa basa basi,Dimas pun mengayunkan pedangnya ke arah Rico namun masih bisa ditahan oleh Rico.
"Belajar lagi bro"ucap Rico sambil terus menahan serangan Dimas.
"Breng**k,sini lo,biar gue pisahin kepala dari tubuh lo"teriak Dimas sambil berlari menuju Rico.
Namun lagi lagi Rico masih mampu menahan serangan demi serangan yang diberikan oleh Dimas.Kemudian Dimas pun mengambil sebilah pedang yang lebih kecil namun lebih tajam dari pedang sebelumnya.
Dimas pun mulai melakukan trik kesukaannya saat bermain pedang,yaitu trik dari bawah.Trik ini berpusat pada serangan ke araharah kaki yang merupakan pusat kekuatan kedua saat bermain pedang.
Dan benar saja,Rico pun tak sanggup menahan serangan yang mengarah ke arah kakinya dan Ia pun terjatuh.
"Cukup Dim.Jangan sampai Ia terbunuh"ucap Bima.
Mendengar ucapan Bima,Dimas pun menahan serangannya yang terakhir.
"Pengecut.Dasar sampah kalian"umpat Rico
"Berisik"ucap Toni sambil menendang kepala Rico.
"Lah pingsan nih bapak"ucap Dimas.
Mereka punpun membawa Rico ke Istana dan para tawanan pun dibebaskan