5 Boys to 1 Story

5 Boys to 1 Story
Sebuah Rencana



Raja Ampat, 27 Februari 2110


"Hai para pandawa. Bagaimana liburan kalian selama di Raja Ampat? Seru? Sampai sampai kalian lupa dengan orang disebelahku ini. Lihatlah orang ini. Tanpa kalian, Dia hanya orang tua biasa saja. Paspampres? Mereka semua telah mati ditangan anak buahku. Lihatlah semua ini wahai PANDAWA!!,"ucap seorang pria melalui video yang dikirimkannya ke pandawa sambil melihatkan keadaan Istana Negara yang telah berantakan. Pria itu adalah sang Wapres sendiri.


"BR*NGS*K," umpat Toni yang sedari tadi sudah menahan emosinya. Pantas saja mereka disuruh wapres untuk tidak membawa senjata saat kesini. Pengkhianat.


Setelah Bima menutup video itu, Ia bersama anggota yang lain bergegas untuk pulang kembali ke Jakarta, lebih tepatnya ke Istana Negara. Namun setelah Bima berpikir bahwa anak buah wapres pasti sangat mahir dalam menggunakan senjata, Ia pun mengajak anggota yang lain untuk pergi ke semarang terlebih dahulu.


Semarang, 28 Februari 2110


Bima pun mengajak mereka ke sebuah toko senjata langganannya di Semarang. Setelah memasuki toko, sang pemilik toko pun langsung menyambut mereka dengan hangat, terutama Bima. Setelah Bima memberikan keterangan mengenai senjata apa yang mereka butuhkan, pemilik toko pun mengajak mereka untuk masuk ke sebuah ruangan dibawah tanah. Setelah lampu dinyalakan, sang pemilik toko pun mempersilahkan mereka untuk memilih senjata apa yang cocok untuk mereka bawa.


Setelah mereka memilih, mereka pun membayarnya lalu membawanya ke rumah Bima untuk mendiskusikan sebuah strategi untuk menyerang Istana Negara yang telah dibajak oleh wapres dan anak buahnya.


"Bim, menurutku sih wapres pasti sudah mengetahui kalau Kita akan kesana, jadi mungkin disana sudah banyak penjaga dan perangkap yang menunggu kita,"ucap Arya sambil menunjuk denah Istana Negara.


"Mungkin akan ada banyak penjaga di gerbang sebelah selatan dan barat,"tambahnya.


"Kalau gitu kita bisa menyerangnya malam hari"ucap Marsel.


"Kalau siang hari mungkin energi mereka masih banyak, tapi beda kalau sudah malam hari,"tambahnya.


"Sepertinya mereka dibagi menjadi dua shift. Malam dan siang. Jadi peluang kita untuk menyerang mereka saat malam hari karena mengira mereka sedang kelelahan atau energi mereka sudah habis, sepertinya akan percuma kalau menurutku,"ucap Bima.


"Lagipula, Selain para anak buah wapres, mungkin juga ada paspampres atau orang dalam istana yang juga menjadi pengkhianat Presiden. Mereka sekarang punya ketua atau orang yang mewakili keresahan mereka selama diperintah oleh Presiden yang sekarang, jadi mereka akan membela wapres untuk merebut kursi kepresidenan,"tambahnya.


"Tapi mengapa mereka tidak membunuh Presiden saja? toh nantinya wapres akan diangkat menjadi Presiden,"tanya Dimas.


"Mungkin sebenarnya ini hanya perangkap saja. Mungkin wapres akan membuat skenario seolah olah kita lah yang membuat Presiden terbunuh, Karena menurutku, wapres sangat ingin menggulingkan Presiden namun Dia juga tidak ingin dibenci oleh rakyatnya,"ucap Bima.


"Jadi bagaimana kita menyelamatkan Presiden?"tanya Marsel.


"Gue ada sebuah ide, namun sangat beresiko. Bagaimana kalau kita dibagi menjadi dua tim, Gue sama Dimas menyerang di siang hari, nah kalian menyerang saat malam hari,"ucap Arya.


"Idemu bagus sebenarnya Ya, tapi apa nggak lebih baik kita bersama saja memasuki Istana? tapi idemu untuk membagi menjadi dua tim, bukan ide yang buruk,"ucap Bima.


"Gini aja, Dimas sama Toni, Kalian masuk terlebih dahulu kedalam Istana. Sebisa mungkin kalian buat pertahanan mereka sedikit jebol, lalu Arya sama Marsel masuk menyusul kalian, Gue akan masuk setelah keadaan sudah mulai kacau. Nanti Kita tetap pakai earphone untuk berkomunikasi,"ucap Bima sambil bangkit dari sofa.


Setelah sepakat dengan ide Bima, mereka pun akhirnya beristirahat di rumah Bima.


Esok paginya, Mereka pun bersiap siap dengan membawa senjata yang mereka beli kemarin, memakai rompi namun tetap ditutupi dengan setelan jas warna hitam.


"Vin, Papa nggak tau akan bisa kembali atau tidak. Jika papa tidak kembali, tolong ingat kalimat papah ini, Papa sayang sama kamu Vin,"ucap Bima sambil mencium kening dari putrinya itu.


Viona pun tak bisa membohongi hatinya, dan tangisannya pun mulai pecah. Ia pun memeluk Bima dengan erat.


"I love you,"ucap Viona.


"I love you, and your mom too,"ucap Bima.


Setelah Viona melepaskan pelukannya, Bima pun berpamitan lalu menyusul rekan rekannya yang sudah menunggunya di luar rumah.


"Oke tim, ayo kita selamatkan Presiden."