5 Boys to 1 Story

5 Boys to 1 Story
Misi ke empat



Istana Presiden,8 Januari 2110


Presiden yang sedang meeting bersama wapres dan mentri mentrinya, tiba tiba dikejutkan dengan informasi bahwa rakyat Padang telah mengalami sebuah krisis. Rumah rumah mereka telah dirampok, hasil perkebunan juga dijarah. Rakyat Padang juga sudah banyak yang kelaparan karena ulah perampokan ini.


Tanpa pikir panjang, Presiden pun meminta ajudannya untuk memanggil anggota Pandawa meskipun liburan mereka belum selesai.


Semarang


"Vi, papa harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan misi selanjutnya dari Presiden."ucap Bima.


"Kapan papa akan kembali lagi?"tanya Viona resah.


"Kalau ada waktu, papa akan pulang."ucap Bima sambil berdiri dan mengambil tasnya.


"Hati hati pa."ucap Viona.


"Iyaa. Kamu juga hati hati dirumah ya"ucap Bima sambil mencium kening Viona lalu berjalan menuju pintu depan. Ia membuka lalu berjalan keluar dan menutupnya.


Jakarta


"Sayang, masakannya sudah matang."ucap istri Arya.


"Iya sebentar."ucap Arya sambil menutup telponnya.


"Telpon dari siapa?"tanya istrinya.


"Dari Istana. Aku disuruh datang secepatnya karena ada sebuah misi yang harus segera dituntaskan."ucap Arya sambil berjalan mengambil tasnya.


"Bentar yang."ucap istrinya sambil menaruh makanan buatannya kedalam kotak bekal."jangan lupa dimakan ya."ucap istri Arya.


"Tolong jaga anak kita ya."ucap Arya.


Bandung


"Mau kemana?"tanya istri Dimas.


"Akang harus segera balik ke Istana. Ada misi kata Presiden."ucap


"Sekarang?"tanya Istrinya.


"Iya. Sekarang."ucap Dimas.


Istana Presiden


Setelah melihat semua para anggota Pandawa berkumpul, Presiden pun membeberkan apa misi selanjutnya untuk mereka. Namun dimisi ini, Oliv tidak diikut sertakan oleh Presiden atas usul Wapres.


"Saya mendapatkan informasi bahwa rakyat Padang mengalami krisis. Rumah mereka dirampok, hasil perkebunan mereka pun dijarah oleh orang tak dikenal."ucap Presiden.


"Namun Kita tidak tau siapa dalang dibalik masalah ini."tambah wapres.


"Jadi besok siang Kalian akan Saya kirim kesana tapi kalian harus menyamar karena mungkin si perampok ini siang juga berkeliaran untuk mengintai calon korbannya. Jika Kalian Saya kirim malam hari, juga akan sulit karena mungkin si perampok sudah beraksi."ucap Presiden.


"Menyamar?"tanya Bima.


"Betul. Tapi tenang Kalian akan selalu Kami berikan senjata sesuai kemampuan Kalian."ucap Presiden.


Dirasa cukup, Mereka pun dibubarkan oleh Presiden. Dikamar, anggota pandawa pun bercerita mengenai liburan singkat mereka.


"Gue ama Marsel disini sini aja tuh."ucap Toni sebal.


Anggota pandawa yang lain pun tertawa.


"Kenapa Gue dapet penyamaran sebagai pengemis sih."ucap Toni sebal.


"Lo mending Ton."ucap Marsel yang disambut tawa oleh anggota Pandawa yang lain.


Menjadi wanita merupakan penyamaran yang dilakukan oleh Marsel.


Menjadi pedagang merupakan penyamaran Bima.


Menjadi pembeli merupakan penyamaran Arya dan Dimas.


Mereka pun berjalan bergantian untuk memasuk sebuah pasar. Mereka pun berpencar dan sebisa mungkin mencari informasi dari penduduk asli sana mengenai perampokan itu. Setelah dirasa cukup, Mereka pun kembali menuju tempat janjian mereka. Marsel pun diikuti oleh sekelompok preman pasar karena tampilannya sebagai wanita yang begitu menyakinkan.


Melihat Marsel yang diikuti preman pasar membuat Toni tertawa terbahak bahak. Bima pun memberi pukulan telak kepada preman preman itu.


"Oke Apa yang kita dapatkan dari pasar."ucap Bima.


"Si perampok ini ternyata selalu mencari korban orang kaya, orang yang memiliki perkebunan yang luas namun tidak ada penjagaan yang ketat."ucap Marsel.


"Katanya biasanya perampokan terjadi di tiga tempat sekaligus dalam satu malam."ucap Dimas dan Arya.


"Terkadang mereka juga membunuh para korban korbannya yang melawan."ucap Toni.


"Jadi Kita harus berkeliling untuk mencari sebuah perkebunan dan seorang yang kaya."ucap Bima.


Mereka pun berkeliling padang mencari sebuah perkebunan yang sekiranya akan dijarah oleh perampok ini. Mereka juga mencatat alamat alamat rumah yang sekiranya akan dirampok malam ini.


Malamnya..


"Oke tim. Tiga tempat sekaligus kan?jadi kita bagi tugas. Gue mengawasi perkebunan A, Dimas dan Marsel mengawasi perkebunan B dan Toni dan Arya mengawasi rumah dijalan merak nomer 6."ucap Bima.


Mereka pun berpencar sesuai arahan Bima. Tak lupa mereka pun memakai earphone untuk berkomunikasi satu sama lain.


Perkebunan A


Bima pun mengintai dari atas sebuah gedung kosong di seberang perkebunan. Ia pun memakai Sniper dan scope mode malam untuk mengetahui pergerakan musuhnya. Sudah lebih satu jam Bima mengintai namun tidak ada tanda tanda pergerakan musuh. Namun Ia melihat seseorang sedang berjalan memasuki perkebunan dengan membawa sebilah pedang. Ia pun masih mengarahkan snipernya kepada orang itu.


Di arah yang lain, terdapat dua orang lagi yang sedang berjalan dan tetap membawa sebilah pedang ditanganya.Ketika salah satu orang itu mengayunkan pedangnya, Bima pun menembak kedua kaki orang tersebut.


Melihat temannya terluka, orang itu pun mencoba mengawasi sekitar lalu mengayunkan pedangnya lagi dan..


Darrr


Bima masih sempat menembak kaki orang itu. Satu orang yang berada ditempat lain pun tak lolos dari tembakan Bima yang mengarah ke kakinya.


Perkebunan B


Dimas dan Marsel pun berpencar berkeliling perkebunan B. Mereka pun berkomunikasi sambil terus mengawasi sekitar. Mendengar suara kaki mendekat, Dimas pun bersiaga dengan pedangnya. Ia pun mencari sumber suara langkah kaki itu. Mendengar suara tebangan, membuat Dimas yakin kalau orang ini akan menjarah kebun ini. Ia pun melihat empat orang yang sedang mengangkut hasil kebun ke sebuah pick up. Dimas pun melukai mereka dengan pedangnya.


Disisi yang lain, Marsel pun memukul semua orang yang menyerangnya. Karena kalau sipemilk akan melakukan panen, ia tidak akan memanen dimalam hari.


Jalan Merak nomer 6


"Rumah ini gede juga ya."ucap Toni.


"Nggak kaget sih kalau bakal dirampok."ucap Arya.


Mereka pun berpencar. Toni disisi depan dan Arya disisi belakang. Namun mereka tetap bersembunyi. Melihat beberapa orang mendekati rumah itu dengan gerak gerik yang mencurigakan, Toni pun melemparkan batu kesalah satu dari mereka dan mulai memukul mereka satu persatu. Arya dibelakang pun berhasil menghipnotis perampok yang lain agar mereka menyerang satu sama lain.


Selama sebulan Pandawa menetap di Padang untuk membereskan masalah ini. Hasilnya pun memuaskan. Masalah ini semakin hari semakin berkurang bahkan sudah tidak ada lagi. Presiden pun senang lalu meminta para Pandawa kembali ke Istana saat masalah di Padang itu benar benar sudah selesai.