(NOT) Your Ordinary Lab Girl

(NOT) Your Ordinary Lab Girl
Oh, Sera



“Bagaimana ini Remi? Itu Sera! Sera menghilang!”


“Tenang, Meha. Bisa saja ia hanya memutar dan petugas itu selip memperhatikan Sera.”


“Oh, Remi. Kali ini aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Firasatku buruk mengenai ini Remi.”


Polisi tua penguntit kami tadi melompat ke ruang kemudi dan membunyikan sirine menuju alamat terakhir Sera terlihat, bergabung dengan petugas yang menunggu di sana.


“Hey, kita berputar sebentar ya. Teman kalian hilang dari radar.”


“Pak! Apa tadi maksudnya teman saya – Sera Ramirez hilang dari pantauan? Apakah kalian mengamatinya?”


“Ya, tidak hanya dia. Kami memang mendapat tugas untuk memantau satu-satu dari kalian. Aku seharusnya memantaumu juga. Lihatlah apa yang terjadi saat kau menghilang! Satu lagi pembunuhan terungkap! Sangat ganjil untuk dibilang kebetulan. Apakah kau kena kutukan, atau kau adalah pelakunya?” lirik tajam sang detektif tua padaku yang mengintip dari jeruji yang memisahkan kami.


“Sepertinya aku hanya berada di waktu dan tempat yang salah saja, Sir. Aku anggap ini justu kesialan.”


“Berasumsilah, sampai terbukti sebaliknya.”


“Aku tak akan khawatir, KARENA PELAKUNYA BUKAN AKU.” Tegasku pada detektif tua sok tahu ini. Awas saja kalau mereka menuduhku yang tidak-tidak!


Remi menepuk punggungku, menyebarkan rasa tenang. Meredam amarah, aku duduk melipat tangan dan menarik napas panjang agar tak menambah beban emosiku yang sudah darurat dari tadi.


Aku dan Remi menunggu dengan harap-harap cemas. Malam semakin pekat menuju pagi. Tapi rasanya hariku sejak kemarin panjang sekali. Kejadian mengerikan terjadi bertubi-tubi tak memberi jeda.


Mobil tahanan ini menepi di depan bangunan asramaku. Dari jendela yang berjeruji yang sempit, aku dan Remi memperhatikan 5 orang anggota polisi sedang berdiskusi. Radio panggil di ruang kemudi sibuk melaporkan beberapa pelanggaran dan permintaan bala bantuan di bagian kota lain, namun sepertinya bukan panggilan mendesak.


 Para polisi itu berpencar dengan mengokang senter dan senjata yang siap ditembakkan kapan saja. “Ada apa? Bukankah mereka hanya berniat mencari Sera saja? Apa situasi sudah berubah menjadi waspada?”


“Sepertinya begitu. Mengingat keadaan kedua temanmu – maaf, mereka mungkin menaikkan level kewaspadaan pada orang-orang di lingkaran kita, Meha.”


“Lingkaran-ku, mungkin yang kamu maksud.”


Remi tak menjawab, membuang muka. 


“Semoga saja Sera baik-baik saja.” Bisikku pelan meremat-remat tangan dengan gugup.


“Hey, kemarilah.” Remi menawarkan dadanya yang bidang, kali ini aku tak melawan dan bersandar di sana sembari memejamkan mata.


Aku sampai hapal betul jika sedang bermimpi, karena tubuhku terasa lelah sekali, berlipat-lipat kali lebih lelah dibanding saat terjaga.


Kali ini mimpi membawaku ke sebuah labirin dari lorong yang tak kukenal. Bentuknya seperti sebuah rumah sakit bekas dengan banyak pintu. Namun aku melihat emblem Universitas Elephas di salah satu pintunya, kesanalah aku melangkahkan kaki.


“Hallo??” sapaku dan termenung saat menyadari di mana kini aku berada. Ini kafetaria kampus, walau tampilannya seperti tempat tak terurus dan ditinggal lama tapi aku hapal betul. Jendela kacanya yang tinggi, membuatku betah menghabiskan makanan sembari memandang tingkah mahasiswa lain dengan kehidupan normal dan tanpa bebannya.


Aku senang mengandaikan diriku berada di posisi mereka, bagaimana rasanya? Apakah mereka merencanakan hidup mereka 10 tahun kedepan dengan begitu detail seperti aku? Apakah mereka, sibuk mengatur jadwal agar tak berbenturan dengan kerja paruh waktu di sela-sela tugas perkuliahan dan asistensi yang menggunung?


Apakah mereka tidur nyenyak di malam hari? Bagaimana rasanya berjuang sembari mengemban harapan orang-orang tersayang? Apakah lebih berat, atau lebih ringan?


Begitulah perdebatan batinku saat duduk di bawah salah satu jendela besar itu. Makanya aku yakin jika ruangan ini adalah kafetaria yang biasa kudatangi. Mengapa mimpi membawaku kesini?


Duk duk duk. 


Bunyi benturan teratur yang teredam oleh sesuatu yang tebal. Aku celingukan mencari sumber bunyi.


“Halloo?! Siapa di sana?” sapaku lagi.


Duk duk duk duk duk. Bunyi itu terdengar lagi kali ini seperti serampangan.


“Halloo?? Nina?!” 


“To- tolong. Meha!!” Itu bukan suara Nina.


“Seraa!! Kamu di mana?!!”


“Di- dingin, Meha!”


‘Dingin?’ aku ingat lagi mimpiku sebelumnya, tubuh Sera yang tertutup bunga es, sekujur tubuhku ikut menggigil. Ruang kafetaria itu tiba-tiba tertutup salju setinggi dadaku, rasanya terhimpit oleh salju yang begitu banyak.


“Hm? Kenapa?” 


“Kau mengigau dan tiba-tiba menggigil Meha. Ada apa? Apakah kau sakit? Tapi kau tak demam.”


“Aku bermimpi lagi soal Sera. Aku tahu ini akan terdengar gila, tapi kurasa Sera sedang dalam bahaya.”


“Entahlah, Meha.”


“Aku tahu, tapi tak ada salahnya mencoba kan? Aku tak ingin ada penyesalan, Remi.”


“Kau seperti sedang menjalankan misi bunuh diri, Meha.”


“Remi, kau ikut atau tidak?”


“Pertama-tama, apa kau lupa kita sedang berada di mana? Bagaimana caranya kita keluar dari sini? Apakah tiba-tiba kau memiliki kemampuan ninja? Pufff, menghilang dalam kepulan asap?”


“Kau meremehkan kemampuan seseorang yang dibesarkan di beberapa foster care ini, Remi.” Setelah mengatakan itu, aku melepaskan bobby pin yang tersemat di rambutku, membuatnya terurai.


Menirukan gaya penjahat yang sedang membobol rumah di film yang sering ku tonton, aku membuka kunci pintu mobil dengan mudah.


“Kenapa tak kau lakukan dari tadi?” Remi melihatku dengan tampang tak percaya, kugelung lagi rambutku ke atas dengan bobby pin tadi.


“Aku tak punya alasan?”


“Baiklah, lalu setelah ini bagaimana?”


“Jika menuruti ‘petunjuk’ dalam mimpiku, kita harus mencari Sera di kafetaria.”


Maka kesanalah aku dan Remi pergi dengan mengambil langkah seribu, sebelum ketahuan oleh para petugas. Dibandingkan reputasiku, keselamatan Sera lebih penting!


Lapangan kampus yang kami seberangi saat ini biasanya penuh oleh mahasiswa yang sedang mengobrol atau mengerjakan tugas. Kini sepi seperti kuburan.


Tiba di kafetaria yang terkunci, tanpa pikir panjang aku melancarkan aksiku tadi. Krieet! Suara pintu kayu berat yang dibuka olehku dan Remi padahal kami sudah hati-hati.


“Sekarang bagaimana?” Remi berbisik.


“Menurutmu, apakah mereka memiliki lemari pendingin?”


“Seharusnya, memberi makan mahasiswa yang diklasifikasikan khusus sebagai dekomposer itu pasti membutuhkan suplai makanan yang tak sedikit.”


“Petunjukku mengarah ke situ?”


“Kenapa kau terlihat ragu?”


“Seluruh peristiwa ini masih terasa asing bagiku.”


“Fair enough.”


Kami berjalan pelan ke area dapur dan menemukan sebuah ruangan yang tertutup sangat rapat dengan roda putar. Terdapat panel suhu digital di dindingnya yang merujuk angka -25 oC. 


Remi memutar roda pintu itu dan terbuka, angin yang membekukan tulang keluar dari pintu itu, Remi yang tak memakai sweater sama sekali langsung ragu dan menahan pintu itu tetap tertutup.


“Sebaiknya kau berjaga di luar, tuan Remi. Tolong jangan pergi kemana-mana, karena pintu ini hanya bisa dibuka dari luar.”


“Oke. Tapi tubuh kurusmu itu juga tak bisa berlama-lama di dalam,”


“Noted.”


Setelah menemui kesepakatan dengan Remi, aku masuk. Ruangan ini benar-benar dingin, bahkan sweater Remi pun tak begitu membantu. Di raknya penuh berisi daging. Aku sempat bergidik karena memikirkan jika benar Sera di sini.


Karena plastik-plastik itu membeku, aku sedikit kesulitan untuk melihat isi di dalamnya. Dengan gigi bergemeletuk aku memeriksa plastik tersebut satu-persatu. Di plastik ke 10 yang terletak di rak paling pojok itulah, aku terkejut luar biasa.


Terbungkus plastik hitam, berbeda dari bungkusan daging yang lain, aku memberanikan diri membukanya. Hal pertama yang menyambutku dari dalam plastik itu. 


Jari jemari dari tangan yang terpotong rapi, dengan cat kuku warna hijau hint biru metalik.