(NOT) Your Ordinary Lab Girl

(NOT) Your Ordinary Lab Girl
Skenario Yang Rapi



Decit suara roda brankar yang didorong bergesekan dengan ubin menyakitkan telingaku dan membuatku menyerah pada mimpi sunyi yang lebih memikat. Saat mataku membuka, aku mendapati diri sudah berada di ruangan yang tak kukenal. Namun dari tampilannya yang bersih, mesin dan infus di tangan, juga bau obat-obatan, aku menyimpulkan jika sedang berada di rumah sakit.


Kenapa tiba-tiba aku di sini? Aku mencoba mengingat-ingat kembali. Ah, ledakan! Mengingat suara memekakkan telinga dan bumi berguncang setelahnya membuatku terbangun dari posisi tidur secara tiba-tiba.


Clang! Tanganku tertahan oleh borgol di tangan kanan yang mengikatku ke ranjang pasien. Seorang perawat datang membuka tirai yang memisahkan bilikku dengan bilik yang lain.


“Oh, kamu sudah sadar, ada keluhan?” ia bertanya ramah.


“Oh, Mm- aku di mana?”


“Anda sedang dirawat di Rumah Sakit Elephas, unit kesehatan paling dekat dengan Tempat Kejadian Perkara.”


“Aku, tadi bersama dengan seorang teman, apakah anda tahu dimana dia?”


“Tuan Remi?”


“Ya.”


Perawat itu lalu menyibak tirai di sebelah kiriku, menampakkan Remi yang melambaikan tangan padaku dengan cengiran usilnya. Syukurlah ia tak papa.


“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”


“Bagaimana dengan borgol di tangan saya?” aku menunjukkan borgol itu.


“Oh, maaf kami hanya mengikuti prosedur, karena kami mendapati anda berdua tadi di dalam mobil tahanan yang terkunci, jadi beginilah penanganan yang anda terima. Hingga ada pihak berwajib yang menyatakan kalian berdua aman, borgol itu akan tetap di tangan anda, nona...?”


“Meha.”


“Baik, nona Meha. Saya tinggalkan anda untuk mengurus yang lain dulu. Karena rumah sakit ini sekarang sedang sangat kacau untuk pertama kalinya. Aku tak pernah menemukan begitu banyak mayat. Oh maaf, aku bicara terlalu banyak jika sedang gugup.”


Saat perawat itu bersiap pergi, aku mengingat hal lain lagi.


“Maaf, suster. Apakah selain kami, ada yang selamat?” Sejujurnya aku takut-takut mendengar jawaban dari pertanyaanku ini.


“Sayangnya, yang beruntung hanya kalian. Begitulah yang kubaca di laporan. Bersyukurlah kalian terlindung oleh body mobil yang anti peluru itu. Karena mobil biasa di sekitarnya saja kacau, sungguh kacau.”


Aku dan Remi saling pandang. 


“Daniel... juga tew4s?” aku berkata lirih, kini resmi sudah tinggal aku saja yang tertinggal diantara mahasiswa laboratorium mikrobiologi. Apakah pembunuh mengincar seluruh anak mikro atau semua insiden ini hanya kebetulan saja menargetkan mereka?


“Meha, ada yang tak suka kartunya dibuka.”


“Benar, bagaimana mereka tahu jika kita sudah menemukan tempatnya menyimpan jasad Sera? ATAU, atau kita tertipu. Justru itu adalah panggung sebenarnya, dan lihat saja Daniel ikut jadi korban. Killing two birds with one stone.”


Remi melirikku.


“Apa itu artinya, AKU yang telah masuk dalam perangkapnya dan mengikuti permainannya tanpa kusadari? Kini setelah kupikir-pikir lagi, pertama penemuan Nina di alat Lab-ku, pembunuh ini jelas-jelas memancingku. Lalu sang pembunuh tahu aku akan mengaitkan kematian Nina dengan David, alih-alih menemukan David, justru mendapati sisa-sisa dari Alice. Penemuan Alice itu bisa jadi pengalih yang membuatnya bisa beraksi menyingkirkan Sera dari pengamatan petugas yang memata-matainya.”


“Well, kalau benar apa analisismu itu, artinya seluruh rangkaian pembunuhan ini bersifat personal. Apakah ada orang yang pernah kau usik hidupnya, Meha? Selain aku?”


“Aku rasa, tidak. Aku tak pandai bersosialisasi, bahkan cenderung tak mau cari-cari masalah dengan orang.”


“Tapi kudengar kamu galak.”


“Ah, itu. Apakah karena itu?”


“Hey, aku hanya bercanda.”


“Hey, hey. Kamu memikirkannya? Sudah kubilang hanya bercanda, kamu terlalu kaku Meha.”


“Entahlah, tapi kan tak ada salahnya untuk mencari semua kemungkinan. Remi, waktu kamu melihat jenazah Sera, apakah kamu sempat memindahkannya?”


“Tidak, aku hanya melihat dari plastik yang sudah kau buka.”


“Hm, akupun sama, yang kulakukan hanya membuka ikatannya tanpa memindahkan posisinya. Jika pemicu ledakan ada di bawah kantong plastik Sera, bisa saja tidak perlu orang dalam untuk mengetahui jika jenazah Sera ditemukan. Aku tak sanggup membayangkan jika korbannya adalah rakyat sipil. Kafetaria itu tak pernah sepi jika siang hari. Pembunuh ini tidak main-main.”


“Tapi apakah itu masuk akal? Menurutmu pembunuhan ini tanpa pesan sama sekali? Jika tak ingin ketahuan, dia harusnya menyimpan jenazah Sera di kotak pendingin rumahnya. Atau di tempat yang lebih privat.”


“Ya, memang terlalu ganjil jika disebut kebetulan. Pembunuh ini terlalu presisi dalam membuat plot.”


“Kurasa targetnya memang kamu, Meha.”


“Kenapa? Aku tak ingat pernah membuat perkara besar dengan orang.”


“Kau pernah menolak cinta psikopat gila?”


“Ha?! Berpacaran pun aku tak pernah. Hidupku terlalu sibuk untuk memutar otak memikirkan hari esok. Mana sempat memikirkan hal remeh macam itu.”


“Maaf, aku pernah menuduhmu yang tidak-tidak.”


“Hm, no big deal. Aku tak pernah ambil pusing hal remeh macam itu, ingat?”


“Kau benar-benar misteri bagiku, Meha.”


“Hahaha. Buat apa, hidupku biasa saja tu-an Re-mi, tak ada yang istimewa.”


“Berkebalikan dengan itu, justru disitulah daya tarikmu.”


“Pemikiran orang kaya memang aneh.”


“Kenapa kau juga selalu mengaitkanku dengan itu? Uang itu milik orang tuaku, bukan aku.”


Aku termenung mendengar pembelaan Remi, tak pernah terpikirkan olehku jika anak orang berada bisa tak pongah seperti dia? Karena mengenal mahluk bernama David Brown itu membuatku menilai semua anak orang kaya sama tingkahnya seperti dia, gemar mengeksploitasi harta orang tua.


Beberapa petugas polisi datang dengan raut muka berang ke arahku dan Remi dipimpin oleh detektif Tom Hiddlestone berkumis. 


“Nona Meha, Tuan Remi. Kami harus menahan kalian sekarang guna proses investigasi.”


“Sebentar, apakah saya boleh menghubungi seseorang?” Remi menimpali.


“Silahkan, petugas Arthur akan mengawalmu ke telepon umum di lorong. Nona Meha, aku yakin kau tak punya orang penting untuk dihubungi kan?”


“Sayangnya tidak, Sir.”


“Sayangnya, SUDAH tidak ada, nona. Apakah tidak aneh, jika yang menjadi korban dari seluruh pembunuhan ini adalah teman-temanmu? Dan dari informasi yang kukumpulkan, semuanya pernah berselisih denganmu atas satu dan lain hal? Menarik sekali bukan? Berselisih denganmu, lalu setelah itu ditemukan meninggal.”


“Terserah apa kata anda, Sir. Tapi saya rasa itu saja bukan alasan kuat bagi anda untuk menuduh saya sebagai tersangka.”


“Oh, setidaknya sampai terbukti sebaliknya, kami akan tenang karena tidak akan ada pembunuhan.”


Bagaimanapun inginnya aku membalas perkataan sang detektif, akupun meragu. Karena, walaupun bukan aku pembunuhnya, namun aku merasa sang pembunuh memang menginginkanku sebagai pesakitan, dan aku sudah masuk dalam jaring laba-laba yang disebarkannya dengan rapi.


Aku menyaksikan Remi meninggalkan ruangan untuk menghubungi seseorang, ia menyampaikan pesan dengan gerakan bibir padaku yang berisi kata “semua akan baik-baik saja”. Well, akupun ingin berharap demikian.