
“Maaf, Sir. Anda tak bisa menahan saya dan Meha tanpa ada surat penangkapan resmi. Jika kalian melakukannya, maka pengacara saya yang akan berbicara.” Remi datang dengan kabar yang membuat rasa bahagiaku naik.
“Remi, semua ini akan mudah jika kau mau bekerjasama.”
“Saya menolak.”
Rahang detektif Tom – yang lucunya ternyata bernama Tommy – mengeras, ia yang tadinya jumawa bisa membawa kami berdua dan sudah memikirkan publikasi besar-besaran di depan mata yang akan dia dapat karena berhasil memojokkan anak Sir Langdon yang terkenal itu, menjadi buyar. Dengan anggukan kepala, ia mengajak anak buahnya untuk pergi dari tempat itu.
“Hey, detektif. Tolong lepaskan borgolku.” Aku menunjukkan tangan yang masih terikat di ranjang.
“Well, nona Meha. Bukankah anda mahir melakukannya sendiri?”
“Maaf, bagaimana maksudnya?”
“Tidak ada, Lucas! Lepaskan borgol nona muda ini.”
“Terimakasih.”
“Jika aku jadi kalian, aku tak akan kemana-mana membuat kekacauan, karena aku tak akan segan-segan langsung meringkus kalian di tempat.”
“Apakah saya mendengar ancaman, Sir?” Remi menjulang di depanku, menghadapi detektif arogan itu dengan tangan berlipat di depan dada.
“Haha, Remi. Aku berkata jujur, jika aku jadi kau, aku akan menjauhi nona muda cantik ini, dia problematik. Orang-orang tak akan mengaitkan semua peristiwa ini dengan anda jika anda tak bersamanya.”
“Itu adalah urusan saya.” Remi tak meninggalkan celah argumen sedikitpun pada sang detektif. Namun apa yang dikatakan oleh Tom itu masuk juga ke pikiranku.
“Baiklah, saya menyingkir, untuk sementara. Nona Meha, kau dengar bukan kata-kataku tadi, kau beruntung tuan muda ini ada di pihakmu, layani ia dengan baik.” Dengan tak tahu malunya sang detektif mengedipkan satu matanya padaku melalui bahu Remi. Aku menatap Tom tajam, apa urusannya! Dia tak berhak berkata begitu!
“Jaga mulutmu, detektif. Kau tak ingin kumis lele-mu itu hilang separuh, bukan?”
“KAU yang harus jaga mulut, REMI. Ckck, aku tak sabar melihatmu mencoreng muka papamu, sang Mr Langdon yang terkenal itu.”
“Kita lihat saja. Siapa yang mencoreng siapa.”
“Haha.” Tom tertawa meremehkan atas ucapan Remi lalu masih dengan sikap arogan pergi dari ruangan kami.
“Kamu tak papa, Meha?”
“Ya.”
“Jangan kau pedulikan ucapan si kumis lele itu.”
“Haha, kupikir aku saja yang berpikir mereka mirip.”
“Bwahaha.” Tawa kami berbarengan.
“Ngomong-ngomong, terimakasih atas bantuanmu barusan, Remi.”
“Tenang saja, setelah ini Raymond akan datang menjemput kita.”
“Raymond?”
“Sahabatku, sekaligus pengacara keluargaku.”
“Oh, diakah yang membantu kita tadi?”
“Ya. Meha, kita harus atur strategi dengannya jika kau bersedia.”
“Mengenai apa?”
“Kau tahu, apa yang terjadi pada kawan-kawanmu itu akan menjadi berita nasional. Salah berbicara atau bertindak sedikit akan menyudutkanmu dari banyak sudut.”
“Kau SUDAH terlibat Meha. Well, maksudku, KITA.”
“Aku mau bilang maaf, tapi aku merasa ini bukan kesalahanku. Jadi, huuft. Aku baru sadar jika tak lagi bermimpi tentang Nina, mungkin kepalaku sudah terlalu banyak beban. Oya, penelitianku, apa yang harus kukatakan pada Mr Andrew, ia pasti mencariku sepagian ini, sebentar lagi akan ada audit pusat juga dan aku belum membuat lapo-, hmpph...”
Remi membungkam mulutku dengan kecup4n yang dalam dan lembut, tak seperti gayanya biasa yang menuntut dan panas, otakku yang sebelumnya penuh tiba-tiba kosong terhapus oleh hanya kecup4n dari Remi itu.
Remi melepaskan kecupannya diiringi dengan cengiran, “Sorry, aku tak bisa menahan diri, padahal aku sudah berjanji untuk menjauhimu.” Hatiku mencelos mengingat janjinya 2 bulan lalu, kini tanganku yang tak tahu malu menarik kerah bajunya dan melanjutkan cium4n kami tadi. Aku mau lagi!
Remi yang menyadari pancingannya berhasil kini bertindak lebih berani dan tak hanya bibir dan lid4hnya saja yang bergerilya, namun telapak tangannya yang lebar itu juga menyebar ke seluruh ar3a sensitif tubuhku.
Ranjang pasien itu berdenyit saat Remi membaringkan tubuhku masih tanpa melepas cium4n kami, tanganku meremat punggungnya yang liat dan penuh otot, meninggalkan beberapa goresan kuku di sana.
“Hemm, kini aku tahu mengapa para gadis menggilainya. Sepertinya aku harus mengubah permainanku.” Suara orang dari balik Remi yang membuatku berjingkat terkejut, mendorong Remi hingga terjatuh dari ranjang, buru-buru memperbaiki blouseku yang kancingnya sudah terbuka.
Sosok itu mengamati kami dengan seksama, satu tangan tersampir di bawah dagu seperti berpikir, di sampingnya perawatku juga berdiri dengan melipat tangan mengamati kami dengan senyum tersungging. Pria itu, yang ketampanannya tak jauh berbeda dengan Remi namun dengan penampilan yang rapi dan formal.
“Ray! You j3rk! Tak punyakah kau sopan santun?! Ketuk pintu terlebih dahulu!”
“Technically, tak ada pintu di sini, dan ini bukan area peribadimu. Kau nakal sekali Remi, ayo bersikap baiklah dan kenalkan aku dengan nona cantik ini.”
“Uugh, Meha ini Raymond, Ray kenalkan, Meha.”
“Salam kenal nona Meha, senang berkenalan denganmu.”
“Salam kenal juga Mr Raymond,”
“Panggil saja Ray. Dia manis sekali Remi, apakah kebetulan kau punya saudara kembar?”
“Mm, entahlah...?” Orang tua saja aku tak tahu.
“Hey, singkirkan tangan kotormu itu darinya.” Remi melirik tangan Raymond yang menjabat tanganku erat. Kepribadian Raymond yang riang ini susah sekali untuk dilawan, dia pandai mengambil hati orang.
“Ouch, aku tak ingat kau pernah bersikap protektif terhadap perempuan, Remi.”
“Diamlah.”
“Hey, nona, apakah kau single?” Raymond beralih pada susterku yang kini menatapnya dengan cengiran malas.
“Aku tak suka pengacara, mereka bercint4 dengan jam dan tas di tangan, sungguh gil4!”
“Ouch, double kill. Tak bisakah kau membawa hatiku ke dalam genggamanmu nona? Mm, mari kubaca namamu Nona Ka...ren, ups maaf kutarik ucapanku tadi. Aku tak ingin mengeluarkan surat Restraining Order.” Raymond menarik rayuannya saat membaca name tag perawatku, aku dan Remi tertawa geli melihat tingkah Raymond itu. Iya membuatku teringat pada Golden Retriever.
“Whatever boy, baik nona Meha. Kau sudah boleh pulang, this big boy sudah menjaminmu, dan seperti yang kulihat kau sudah cukup sehat untuk mampu melakukan kegiatan nakal dengan tuan Remi.” Karen menatapku dengan kerlingan menggoda, membuat pipiku semerah tomat.
“Mm- thank you miss Karen.” Ucapku padanya yang sedang melepas infus di tanganku. Wanita berusia setengah abad itu memiliki pembawaan yang menyenangkan.
“Sama-sama, dear. Semoga kau selalu sehat, selamat sore, semuanya.”
“Sore.” Balas kami bertiga kompak dan mempersilahkannya berlalu.
“Remi, Meha. Kalian berdua diminta menghadap Langdon.”
“Kamu memberitahunya?!”
“Buat apa? Aku sakit hati jika kau menuduhku sebagai pengadu. Dalam semalam, kalian tak tahu jika sudah menjadi orang terkenal? Wajah kalian berdua berseliweran di berbagai televisi nasional. Lain kali saat melakukan aksi, kau harus mengajakku Remi, tarifku bisa naik.”
“Cr*p.”
“Yups, c*ap...”