
Aku berlari ke luar dari ruangan berpendingin itu menahan rasa shock, rasa menggigil di badan akibat suhu ruangan yang ekstrem tak terasa lagi.
“Meha. Bagaimana? Tak ada?”
Dengan mata berkaca-kaca aku menatap Remi, tanganku menunjuk dengan gemetar ruangan tersebut. “Sera... Sera di sana, dalam plastik hitam...”
Remi gantian masuk dengan berlari, langsung membuka plastik hitam yang kumaksud. Sama sepertiku, ia keluar dengan wajah pias kehabisan kata-kata. Kami duduk termenung berdua di depan ruangan berpendingin itu hingga suara petugas berlarian mencari kami.
“KALIAN!! Menyusahkan sekali!!” petugas tua yang belakangan kutahu bernama Sir George itu berang menatap kami.
Aku dan Remi tak mengindahkan amarah detektif tersebut.
“Great! Sekarang kalian bertingkah seperti patung. Ayo kembali ke mobil sebelum masa pensiunku ditangguhkan gara-gara kalian.”
“Kami menemukan Sera.”
Petugas itu menatapku sangsi dan bertanya dengan kalimat menyepelekan. “Sekarang kalian ingat menaruh mayatnya di mana?”
“Apakah menurut Anda kami sedang bercanda?”
“Mm-kay, dimana kalian menemukannya?” ia menyoroti kami dengan lampu senter, membuat mata kami menyipit silau.
“Di dalam sana, Sir. Tolong singkirkan cahaya senter anda Sir, itu menyakitkan mata.”
“Di dalam sana? Apa kalian hendak menjebakku? Rory! Segera ke sini! Aku butuh backup!”
Seseorang datang setengah berlari, kutaksir usianya masih muda, mungkin setara denganku dan Remi. Tubuhnya kurus dan mengokang senjata dengan kikuk, sepertinya petugas junior yang baru pertama turun ke lapangan.
“Yes, Sir. Ada apa?”
“Jaga dua orang itu, dan tahan pintu ini juga agar tak menutup.”
“Baik, Sir.” Petugas muda yang bernama Rory itu mengacungkan senjatanya pada kami.
“Hey, itu tidak perlu,” Remi menegur Rory.
“Diam, tetap di tempatmu Sir, aku gampang gugup. Kau pasti tak mau pelatukku tak sengaja terpencet bukan?”
Kami salah menilainya, tingkah kikuk itu hanyalah kamuflase.
“Fine. Tapi jangan kau arahkan ke wanita-ku jika kau tak ingin berurusan denganku.”
“Kenapa? Karena uangmu bisa membeliku juga?”
Remi sudah terpancing emosi, aku sigap menahan tangannya yang terkepal hendak disarangkan pada rahang Rory.
“Dia tak seberharga itu menerima amarahmu.” Bisikku padanya.
“Hey, RORY!! Panggil petugas lain ke sini! Kita menemukan Sera!!”
Menggunakan radio panggil di bahunya, Rory memanggil rekan-rekannya yang masih membantu mencari Sera.
Tak lama, 5 orang petugas itu sudah berada di depan ruang pendingin. Detektif George melakukan panggilan darurat pada unitnya di markas, mengabari penemuan mereka. Jenazah Sera belum dipindahkan dari sana.
“Sekarang, apakah ada dari kalian yang mau buka suara bagaimana kalian secara “ajaib” nya menemukan nona Sera Ramirez?” detektif George menginterogasi kami.
“Tidak, sebelum kalian memberi tahu kami apa maksud dari perintah untuk memata-matai kami?”
“Apakah serangkaian kejadian ini tidak cukup jelas?”
“Dan bagaimana bisa seorang polisi terkecoh oleh Sera sehingga ia harus membayar mahal dengan nyawanya?”
“Kalian harusnya menjaganya!! Karena kelalaian kalianlah kini ia tew4s!!”
“Hey, jaga omonganmu nona muda.”
“Jika saja kalian melakukan tugas kalian dengan benar!”
“Okay, that’s it. Rory, borgol wanita itu dan seret ia ke mobil.”
“Siap. Tuan.”
“Hey, kalian tidak berhak melakukan itu,” Remi mencoba membelaku, namun dua orang polisi yang lain menahannya dan juga memborgol tangannya, rupanya upaya kami dalam menemukan Sera menjadi senjata makan tuan.
“Apa yang terjadi pada Mr Langdon jika ia tahu anaknya menjadi tersangka kasus pembunuhan?”
“DIAM KAU, RO-RY, jika tak ingin menyesal.”
“Atau apa? Apakah aku akan berakhir seperti mereka?” Rory menunjuk ke dalam dengan anggukan dagunya.
“Begitulah harapanku.”
“Hati-hati di sana tu-an Re-mi. Dalam profesiku, kata-katamu itu bisa dijadikan alasan untuk menjebloskanmu ke dalam penjara. Ancaman pada pihak berwajib.”
Aku melirik Remi, walau petugas bernama Rory ini memang bermental pembully, namun jangan sampai Remi masuk dalam perangkap yang disebar Rory itu.
“Kenapa? Kau tak pernah memiliki seorang ayah, petugas Rory? Apakah kau berkubang kemiskinan seumur hidupmu hingga begitu salty padaku?” Remi tak hendak menyerah, dan aku menarik napas lelah. Biarlah, dia toh tak pusing memikirkan hari esok.
“DIAM KAU! ANAK MANJA! Uangmu tak bisa membeli apa-apa.”
“Kita lihat saja.” Remi terkekeh dengan sengaja, senang karena berhasil memancing si pembully.
Situasi antara mereka berdua semakin tegang, beruntung salah satu petugas menyikut lengan Rory, dan ia yang akhirnya menggantikannya membawa kami kembali ke dalam mobil tahanan.
“Maaf Nona, aku harus mengambil ini, cukup sudah main-mainnya.” Petugas itu mengambil bobby pin di atas kepalaku, membuatku menyengir. Ia menyuruh kami memasuki mobil tahanan, membuka pintu lebar-lebar. Aku sempat melihat pandangan tajam dari petugas Rory pada Remi.
BAM! Ceklek!!
Petugas itu menutup pintu mobil dan sekali lagi menguncinya. Di luar, mobil-mobil yang lain datang lagi hingga meramaikan halaman kafetaria. Petugas forensik juga datang membawa peralatannya. Aku mengenal salah satunya, salah satu mahasiswa penelitian juga di laboratoriumku, seangkatan dengan Sera.
“Oh, itu Daniel. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya mengidentifikasi temannya sendiri.”
“Daniel? Yang kita temui di pub?”
“Ya, itu.”
“Hey, apa menurumu tak ganjil? Rentang waktu kematian Sera? Mereka tak mungkin akan mengaitkannya dengan kita. Karena kita ada di kediaman David.”
“Benar. Namun, melihat tempat penyimpanan itu. Artinya kematian Nina dan juga Alice bisa di manipulasi. Ah, tunggu. Dari bau busuknya, Alice meninggal lebih dulu, lalu bisa jadi setelah itu Nina, jeda antara 3 hari setelah aku meninggalkannya itu bisa dipangkas dengan menyimpan mayat Nina di ruang pendingin itu. Bisa jadi skenario kematian Sera juga akan dimanipulasi untuk mengecoh waktu dan tempat kematian.”
“Kali ini pembunuhnya mungkin tak menyangka jika Sera bisa ditemukan.”
“Dan bisa jadi tim forensik bisa menemukan petunjuk lebih banyak dari kasus Sera ini karena TKP-nya yang masih raw.”
“Ya, semoga saja. Mereka tampak bekerja terlalu lambat. Yang sangat ganjil menurutku keberadaan David, kemana dia? Apakah masih hidup, atau juga sudah tiada?”
“Ya. Dia juga menghilang bagai di telan bumi. Semua petunjuk mengarah pada pesta di apartemennya seminggu lalu, tamu terkenal yang ia maksud, sangat misterius, tak ada yang pernah membicarakannya setelah itu, aneh bukan?”
BUUUMM!!
Suara ledakan yang sangat besar dari dalam kafetaria, membuatku dan Remi terlempar dari kursi karena mobil tersebut berguling-guling terkena efek ledakan.