
“Jaga mulutmu, Leah, tak ada yang meminta pendapatmu di sini.”
“Tsk! Mentang-mentang ada barang baru ya Remi, kau berlagak ketus padaku.”
Remi tak terima ucapan Leah dan menyudutkannya ke dinding, punggung Leah membentur dinding itu keras, tampak ia mengaduh tapi tak dihiraukan oleh Remi. “Sudah kukatakan untuk tak mengusikku, jangan membuat drama padaku, aku tak seperti Langdon yang gampang tertipu olehmu.”
“Remi, lepaskan.” Aku dan Ray berusaha melerai mereka.
“Ouch Remi, kau menyakitiku.” Leah memasang tampang memelas pura-pura. Remi melepaskan jeratannya pada leher Leah yang lalu terbatuk-batuk.
“Kau hanyalah istri Langdon, bukan keluargaku, kuingatkan jika kau lupa akan hal itu. KAU tidak pernah kuanggap sebagai keluarga, pendapatmu tak penting. Simpan untuk dirimu sendiri.”
“Sst... Remi, Remi. Ayo, tinggalkan saja dia.” Ray menepuk-nepuk pundah Remi.
“Aku sudah cukup sabar selama ini, dia jadi tak tahu tempat.”
“I know. Sudahlah, jangan hiraukan, dia semakin suka jika mendapat perhatianmu.”
Tampak senyum sinis dari Leah ke arah kedua laki-laki itu, lalu seakan tak pernah ada yang terjadi, dengan berlenggak lenggok ia pergi dari tempat kejadian menuju ruangan yang akan kami tuju.
Setibanya di ruangan yang kuperkirakan adalah ruang kerja itu, aku terkejut karena tak menyangka jika bukan hanya Mr Langdon yang menunggu, namun juga Pak Rektor, Wakil Rektor, Dekan, dan juga Mr Andrew kepala laboratoriumku. Perasaanku langsung tak enak, aku dan Remi sama-sama memandang Ray, ia tak menyebutkan soal ini tadi!
Namun ternyata yang terkejut bukan hanya kami namun juga Ray, Mr Langdon rupanya mengerjai kami bertiga.
“Well, good evening gentleman. Mengejutkan sekali ternyata kita punya penonton tambahan.” Ray mengirim tatapan tajam pada Sir Langdon yang duduk tenang dan malah balik tersenyum ke arahnya mengabaikan sindiran yang dilayangkan Ray.
“Aku yang mengundang mereka, karena ini berkaitan dengan nama baik kampus. Langkah-langkah yang akan kita ambil ke depannya agar nama kampus tidak tercoreng.”
“Baik kalau begitu, ijinkan saya berbicara terlebih dahulu dengan klien saya untuk berkoordinasi, karena saya adalah perwakilan dari mereka, jika mereka tak setuju maka pertemuan ‘dadakan’ ini batal.”
Aku senang sekali mendengar tanggapan Ray yang tak gampang tunduk pada orang-orang “besar” ini.
“Ayolah Ray, tak perlu formal begitu!” Rektor menimpali.
“Maaf Sir, saya hanya memikirkan kesejahteraan klien saya.” Ray mengangguk sopan.
“Tidak bisa begitu! Mereka harus bekerjasama!” Kali ini Dekan berteriak tak terima. Huh, so much for “tak perlu formal” dari pihak mereka.
“Tidak ada ketentuan yang mengharuskan itu, hingga terbukti sebaliknya mereka masih berstatus terduga, bukan tersangka. Jadi mari kita tidak membuat kesimpulan terlebih dahulu Sir, mendahului investigasi dari pihak berwajib.”
“Baiklah, silahkan berdiskusi dahulu. Akan kami tunggu.” Mr Langdon menengahi, ia dari tadi menghindar dari tatapan Remi yang mengirimkan tatapan tajam padanya sejak kami memasuki ruangan. Beruntung Leah tahu diri duduk diam meminum sampanye-nya dengan sikap pongah.
Ray lalu mengajakku dan Remi ke ruang perpustakaan untuk berdiskusi.
“Mereka tidak datang kesini untuk mendengarkan kejadian sebenarnya, mereka hanya membutuhkan kambing hitam untuk disalahkan demi nama baik Universitas.” Remi berbicara lebih dulu.
“Hmm... Begitukah?”
“Benar. Lalu, apakah kalian mau menemui mereka?”
“Langkah yang bijak dan aku menyetujuinya. Tapi Meha, aku harus menekankan di sini, mengingat latar belakangmu, mungkin mereka lebih menitikberatkanmu sebagai tumbal. Kamu harus berani melawan.”
“Okay. Ngomong-ngomong Ray, aku tak mendengar kau bertanya pada kami apakah aku bersalah atau tidak.”
“Tugasku adalah menyelamatkan kalian, hal-hal di luar itu bukan urusanku.”
“Jadi kau tak peduli apakah aku benar atau tidak?”
“Sayangnya, tidak.”
“Baiklah, cukup adil.”
“Apakah kau siap?”
Aku mengangguk, Remi mengirim sinyal pada Ray untuk meninggalkan kami sebentar dan Ray pun menurut.
“Jangan lama-lama, orang-orang tua itu tak sabaran.”
“Okay.” Remi menutup pintu dan mendekatiku. “Meha, kau yakin? Mereka lebih licik dari sekawanan Hyena.”
“Kurasa aku bisa mengatasinya.”
“Kau tahu, aku akan selalu di sampingmu.”
“Remi, walaupun kau tak pernah meragukanku, tapi yakinlah. Pelakunya bukan aku.”
“Aku percaya.”
“Baiklah, selama kau mempercayaiku, tak ada lagi yang kubutuhkan.”
Aku dan Remi keluar dari perpustakaan dan menemui Ray yang setia menunggu kami di depan ruang kerja.
“Kau siap?”
“Siap!”
Baru saja kami memasuki ruangan, saat Langdon kemudian mengumumkan keputusan sepihak dari mereka.
“Well Ray. Kami sudah membuat keputusan, walau keputusan ini akan sulit diterima namun kami harap kalian mengerti bahwa ini bukan hanya soal kalian, tapi demi melindungi kehidupan banyak orang.”
“Tapi Sir,”
“.... Untuk itu kami meminta Remi untuk meredam suara-suara sumbang di luar.”
‘Ha? Siapa?’