
“Excuse me?!” Ray berteriak mewakili keterkejutanku, tentu saja ia tak terima klien sekaligus sahabatnya dijadikan bidak catur seenak jidat mereka.
“Bagaimana, Remi? Kau pasti lebih tahu mengapa aku memintamu.” Langdon tak memedulikan rasa keberatanku dan Ray, kali ini memandang Remi tepat di mata.
PRAANG!! Suara gelas pecah di lempar ke lantai membuat beberapa orang berjingkat terkejut.
“Kau gila Langdon! Mengapa kau umpankan putramu sendiri! Biarkan wanita kampungan itu bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri!!” Leah berdiri dari duduknya dengan tampang murka sembari menunjuk wajahku, detik kemudian ekspresinya berubah yaitu dengan wajah memelas berjalan ke arah Remi dan menyentuh pundak Remi yang membuatnya berjengit jijik. “Remi, sayang. Jangan dengarkan daddy-mu, kau berhak menolaknya.” ia berakting seperti seorang ibu yang baik.
“Singkirkan tanganmu, atau kupatahkan.” Remi mengancam Leah yang beruntungnya langsung sadar diri dan menarik tangannya kembali.
“Langdon, Sir. Saya mewakili klien saya menyatakan keberatan. Mereka berdua tak harus menyetujui apapun. Alangkah bijaknya jika kita membiarkan investigasi dari kepolisian berjalan seperti seharusnya tanpa diinterupsi.”
“Aku tak meminta pendapatmu, Ray. Aku menunggu anakku yang menjawab.”
“Remi, kau tak harus mendengarkan mereka.”
“Aku setuju.”
Semua mata langsung membulat, begitu juga denganku dan Ray mendengar keputusan Remi. Tanganku menarik ujung belakang bajunya dan mendesis dari balik punggungnya.
“Remi! Jangan bercanda!”
Remi berbalik dan memandangku. Dan aku menemukan dari tatapannya yang tajam ke arahku, ia tak sedang bercanda. “No ... Kita berdua tahu kau tak bersalah, ini konyol.”
“Meha, publik dan pencari berita hanya butuh martir untuk meredam rasa penasaran mereka. Jika itu KAU yang ditangkap, maka orang-orang tetap akan mencari tahu tentangku, mereka menganggap bahwa kau tak lebih hanya sekedar tumbal karena posisiku yang punya uang. Suasana akan menjadi kacau karena amarah warga.”
“Bagaimana jika kita berdua menolak?”
“Mereka akan menutup paksa universitas karena publik tak tenang masih ada pembunuh berantai yang berkeliaran.”
“Bagaimana jika, setelah kau pun di tahan tapi pembunuhan tetap terjadi?”
“Maka publik akan tahu jika pembunuhnya bukan kita berdua, win-win solution.”
“Aku tetap tidak terima, Remi.”
“Sssh, Meha. Aku melakukan ini untukmu, aku percaya kau akan bisa melakukannya, temukan pembunuh itu. Sementara itu, tinggallah dengan Ray, ia akan menjagamu. Jangan berkeliaran sendirian di malam hari walau aku tahu itu keahlianmu.” Walau ia mengatakannya sembari tersenyum, tapi hatiku menjadi sakit.
“Bagaimana, Remi? Jika kau setuju, kita bisa mengkoordinasikan ini dengan detektif Tom.”
“Baiklah, akan kuusahakan. Sementara itu, kau dan nona Meha boleh keluar. Ray, tetaplah tinggal, kita perlu merumuskan hal-hal yang perlu dikoordinasikan nanti dengan pihak berwajib.”
Aku dan Remi keluar meninggalkan para politikus itu sedang merumuskan hidup kami kedepannya, namun ternyata Leah ikut mengekor di belakang. Wajah berangnya tak disembunyikan, layaknya banteng mengamuk hembusan keras keluar dari kedua lobang hidungnya, Remi sudah siaga dengan menjadi tameng di depanku.
“Leah, jika kau membuat drama, aku akan mengadukan perbuatan busukmu pada Dad. Aku punya rekaman CCTV kelakuanmu di Miami bersama “sopir” pribadimu itu.”
Kata-kata itu mampu menjinakkan Leah, ia ber”oh” pelan dan berlalu layaknya tak pernah terjadi apa-apa, aku lupa jika dia dulunya seorang “model”, pasti gampang baginya untuk berganti ekspresi.
Remi menuntunku ke sebuah ruangan yang tampak seperti kamar laki-laki remaja, poster pemain bola era 2000-an tertempel di dindingnya, beberapa musisi rock terkenal di era yang sama juga melengkapi. Tak lupa sebuah ring basket yang sedikit miring karena sering digunakan pada jamannya.
Kamar ini pasti telah melewati masa-masa paling berkesan bagi pemiliknya, walau tampak sederhana. “Remi, ini kamar siapa?” aku bertanya-tanya, karena atmosfirnya sungguh sangat berbeda dibandingkan dengan keseluruhan isi rumah yang dipenuhi barang-barang mewah dan antik, ini adalah kamar anak laki-laki biasa dari keluarga menengah, bukan sultan seperti dia, itu sebabnya aku bertanya.
“Ini kamarku,”
“No way, dan selama ini kau masih tinggal di kamar ini?” aku terkekeh geli membayangkan hidupnya yang seolah terperangkap di mesin waktu.
“Tidak, aku tidak tinggal di sini Meha. Aku tinggal dengan Ray, kami menyewa apartemen 3 kamar di dekat kampus.”
“Benarkah? Aku tak pernah tahu.”
“Karena kau tak pernah mencari tahu tentang aku, Meha.” Ia menjawil hidungku gemas. Aku duduk di ranjangnya yang empuk, semua barang-barang di sini tampak terawat baik.
“Remi, aku tak merasa kau harus melakukan ini karena aku.”
“Sssh, Meha. Bukan karena kamu, well karena kamu sih, but it’s all worth it.”
“Aku tidak setuju.”
“Dengar, Meha. Kamu yang paling mengenal teman-temanmu, kamu yang bisa mencari celah dari hasil penyelidikan polisi, temukan pembunuh itu Meha. Dan, berhati-hatilah. Sudah tak ada aku yang menjagamu.”
“Entahlah, Remi. Pikiranku berkabut, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Apalagi dengan posisimu sekarang, aku tak yakin bisa.”
Remi menutup kedua telingaku dengan tangannya, ia melafalkan kata “pejamkanlah matamu”. Sesuai arahannya, aku memejamkan kedua netra, tangan Remi mampu meredam suara ramai dan memerangkapku dalam ruangan selayaknya bunker dalam tanah yang dalam. Hanya ada aku dan pikiranku sendiri di sana.
Saat itulah, aku melihat celah terbuka.