
“Hey, kau baik-baik saja?” Remi bertanya padaku yang sedang terpaku di mobil polisi yang membawa kami ke markas mereka.
“Itu...., itu NINA!! NINAAAA!!” histeris kala memutar kembali peristiwa tadi di dalam otakku. Remi memelukku erat, aku tersedu sedan di pelukannya. Sera yang duduk di sampingku termenung menatap ke luar jendela.
Aku terlalu mengenal Nina hingga bagaimanapun mengerikannya kondisi mayat tadi aku masih mengenalinya.
Nina, Nina-ku, mati. Dengan cara keji yang tak dapat kubayangkan.
Apakah aku sedang bermimpi? Siapa yang bisa melakukan kekejaman ini pada Nina? Padahal dia adalah manusia paling lembut dan baik hati yang kukenal.
Tanganku terkepal, rasa marah menguasaiku. Siapapun yang melakukan ini pada Nina, akan kupastikan mendapatkan balasan yang jauh lebih kejam.
“Hey, hey. Tenanglah.” Remi mengelus punggungku membuatku memejam.
“Gila, sangat mengerikan. Aku tak yakin bisa hidup normal setelah ini. Mata itu, mata itu.” lirih Sera seperti bergumam sendiri.
Apa yang dikatakan Sera benar adanya.
“Meha, apakah kau pelakunya? Aku tak mau berada dalam satu ruangan dengan pembunuh!” tuduh Sera tiba-tiba.
“Hey, hey. Diam. Kau tak berhak menuduh seenaknya.” Remi menegur Sera.
“DIAM. Kalian bertiga adalah suspect.” Polisi di depan mengetuk jeruji yang memisahkan bangku pengemudi dan penumpang.
Mendengar itu, kami bertiga saling pandang.
“Akui saja, Meha. Aku melihatmu bertengkar dengan Nina 3 hari lalu.” desis Sera melanjutkan tuduhannya.
“Jika itu dasarmu menuduhku, artinya kau pun juga bisa menjadi tersangka. Nina memergokimu mencontek saat kuis Mr Langdon. Semua juga tahu apa jadinya mahasiswa yang curang di subject Mr Langdon, E minus sepanjang musim.”
“Aku tak membunuhnya! Sialan!”
“Begitulah, lain kali belajarlah untuk menutup mulut besarmu itu jika tak ingin menggigit ekormu sendiri.” Ku akhiri perdebatan konyol ini dengan tegas.
Masih kudengar Sera bersungut-sungut, tapi aku memilih diam. Apa yang dikatakan Sera itu benar, 3 hari lalu aku memang bertengkar dengan Nina.
Namun itu karena rasa sayangku padanya, ia masih saja menerima David setelah berulang kali disakiti. Hubungan mereka toxic! David tahu bagaimana baiknya Nina hingga begitu licik memanfaatkannya.
Bagiku tak termaafkan saat 3 hari lalu mendapati lingkaran ungu di mata Nina. Aku mengkonfrontasinya untuk meninggalkan David, namun ia masih sibuk membela. Ah Nina, aku menyesal tak berusaha lebih keras mempertahankanmu waktu itu.
Aku malah pergi karena terlalu kesal. Aku berharap kepergianku itu membuka pikiranmu, Nin. Aku menyesal melangkah keluar dorm hari itu Nin, padahal bisa jadi itu adalah masa-masa terberatmu. Aku bukan sahabat yang baik. Rasa kecewa terhadap diri sendiri mengalir disetiap hembusan napasku.
Remi masih lekat menatapku. Kali ini aku menangis dalam diam hingga mobil itu tiba di markas kepolisian.
Dua orang detektif membawaku ke ruangan pemeriksaan.
“Meha, benar?” tanya seorang detektif dengan tampang mirip Tom Hiddleton versi berkumis.
“Benar.”
“Bisa kau ceritakan posisimu pada saat kejadian?”
Aku pun menceritakan sudut pandangku dengan lancar tanpa ada yang kututup-tutupi.
“Korban, Nina Smith, adalah teman sekamarmu.”
“So, itu benar dia?”
“Sadly, yes. Maaf untuk kehilanganmu.”
Air mataku kembali lagi, mendengarnya secara resmi dari detektif itu membuyarkan harapanku tentang kemungkinan salahnya penilaianku.
“Mm- ya, dia teman sekamarku,”
“Ada yang melaporkan melihat kalian bertengkar hebat di asrama,”
“Setelah itu, kau di mana? Dan apakah ada yang bisa mengkonfirmasi ceritamu?”
“Aku- tak yakin, karena aku menginap di loteng perpustakaan. Dan di sana tak ada orang.”
Polisi itu saling bertukar pandang dan aku merasa posisiku terancam.
“Look, aku dan Nina bertengkar karena kekasihnya yang abusive. Aku menyayanginya, jika kalian mencari tersangka maka kalian curiga pada orang yang salah. Bisa jadi dia sengaja meletakkan mayat Nina di labku dengan niatan mengejekku. Terus terang hubungan kami memang tak baik.”
“Siapa tadi nama pacar Nina?”
“David. David Brown.”
“Baik. Bagaimana dengan kunci akses laboratorium, siapa saja yang memilikinya?”
“Setahu aku, Kepala Jurusan, Dosen Kepala Lab, 3 dosen bidang studi, aku – asisten lab dan empat orang mahasiswa penelitian, Sera salah satunya – yang sedang kalian tanyai juga.”
“Jadi, siapa pun bisa masuk tanpa terdeteksi?”
“Tidak juga. Kunci pintu di lab itu adalah kunci elektronik, cara membukanya adalah dengan memasukkan kata sandi yang sudah didaftarkan ke bagian Tata Usaha Jurusan. Hanya kombinasi yang sudah didaftarkan saja yang bisa masuk. Masing-masing pengguna memiliki kata sandi yang berbeda-beda.”
“Hmm..., dan riwayat pengguna pintu itu dipegang oleh siapa?”
“Seharusnya terdaftar di server jurusan, karena terpusat di sana.”
“Mesin ini, yang kalian sebut sebagai panci presto besar, siapa saja yang bisa mengoperasikannya?”
“Itu adalah alat yang pasti akan digunakan jika bekerja dengan mikroorganisme, untuk mengeliminasi kontaminan. Jadi semua anak lab diharuskan mahir menggunakannya.”
“Siapa yang menggunakannya terakhir kali?”
“Mm, kalian pasti tidak akan menanyaiku seperti ini jika pembunuhnya dengan baik hati menuliskan namanya di log book pemakaian alat,”
“Kau tahu, posisimu sulit, nona.”
“Ya, aku tahu, tapi aku akan bertindak kooperatif.”
“Baik. Terimakasih atas informasimu, nona Meha. Untuk sementara kamu bisa kembali ke asrama. Usahakan tidak keluar kota dalam waktu dekat karena kami bisa memanggilmu sewaktu-waktu.”
“Baik, Sir.”
Sedari tadi, detektif satunya hanya diam mendengarkan kami, tampangnya sedikit seram dan usianya sudah tua, perutnya pun membusung ke depan, mungkin sebentar lagi pensiun.
Aku berjalan kaki hendak kembali ke asrama, hanya beberapa blok dari sini. Ini sudah melewati jam malam, lonceng di katedral berbunyi sebanyak 12 kali.
Angin musim gugur menghembus kencang layaknya siulan anjing hutan. Aku bersedekap menahan energi panas keluar dari tubuhku. D*mn! Aku mengutuk diriku karena lupa membawa mantel kesayanganku tadi saat diciduk polisi. Kini aku harus melawan hawa dingin yang dibawa oleh angin bulan september.
Melewati taman bermain yang lampunya temaram, aku melihat sekelebat bayangan yang sedang bersembunyi saat aku reflek menghadap belakang. Deg! Instingku langsung awas. Adrenalinku naik memacu degup jantung berdetak lebih kencang. Merasa ada yang mengikuti, aku berinisiatif untuk berjalan lebih cepat, namun rupanya penguntitku pun melakukan hal serupa, membayangi langkahku dengan kecepatan yang sama.
Aku memberanikan diri menengok ke belakang sekali lagi, namun kosong, tak ada orang di ruas jalan itu. Saat aku melihat barisan blok di depanku yang sedang dibangun sehingga gelap, tak ada lampu jalannya, aku meragu. Apakah hanya halusinasiku saja? Saat aku melanjutkan langkah, kudengar gemeresek tak wajar dari suara daun yang diinjak.
Tadi bukan imajinasiku saja! Tanpa ancang-ancang, aku berlari cepat! Lalu bersembunyi di persimpangan yang tertutup tembok.
Kudengar penguntitku berlari menyusul dengan panik, saat bayangan orang itu terlihat olehku, aku hendak memergokinya. Namun tangan besar membekap mulutku dan menarikku ke kegelapan lorong. Aku berontak dan memukul-mukul lengan itu.
“Pssst....” bisik pembekapku.
‘Remi!’
“Tenanglah. Kita lihat siapa yang sedang membuntutimu.”
Hatiku tenang mengetahui keberadaan Remi. Di kegelapan itu kami melihat detektif tua tadi menendang tong sampah kesal karena kehilangan jejakku.
Aku dan Remi saling pandang. Apa mau detektif itu?